
18 Tahun yang lalu, Kediaman besar keluarga Zhao kota Xuanzhou.
Saat itu adalah pertengahan musim dingin ketika semua orang berlindung di balik api yang menghangatkan. Itu adalah hari dimana Zhao Bingyan baru saja berulang tahun ke lima namun, ia sama sekali tidak menerima ucapan satupun dari keluarganya.
Di dalam hutan yang dipenuhi dengan pepohonan beku tanpa memiliki daun yang menghiasinya, Zhao Bingyan duduk bersandar pada salah satu pohon yang berdiri di sana. Ekspresinya terlihat sedih karena merasa seperti tidak dipedulikan oleh kedua orangtuanya sendiri.
Zhao Bingyan yang masih kecil, selalu sendiri karena ia adalah seorang anak yang sakit-sakitan dan memiliki dantian yang cacat sehingga tidak memungkinkan ia bisa berkultivasi sepenuhnya.
”Ayah dan Ibu bahkan tidak mencariku. Sebenarnya, untuk apa mereka melahirkan ku jika itu bukanlah kemauan mereka?” batin Zhao Bingyan yang merasa kedinginan sambil mengusap-usap kedua bahunya yang terasa menggigil.
Karena perasaan dingin itu, akhirnya membuat Zhao Bingyan tertidur selama beberapa saat. Dan dalam posisi yang sama ketika ia tertidur, tiba-tiba saja ia terbangun karena merasa ada setetes salju yang mendarat di atas kepalanya. Ia juga merasa terkejut karena kaki kirinya mendadak kram dan tidak bisa bergerak untuk beberapa saat kemudian.
”Aku tahu seharusnya aku tidak tidur di sini. Apa mungkin sebaiknya aku pulang saja?” pikir Zhao Bingyan yang kemudian mencoba untuk berdiri meskipun kaki kirinya masih terasa sulit untuk bergerak.
Dan ketika satu langkah meninggalkan tempatnya, Zhao Bingyan tiba-tiba tersandung dan terjatuh karena menabrak sebuah benda keras yang terkubur di bawah salju. ”Aduh,... Duh… siapa yang mengubur benda bulat seperti ini di hutan?” gumam Zhao Bingyan yang terduduk kembali dan melihat ke arah benda bulat yang sebelumnya telah membuatnya terjatuh. ”Jika dilihat dari sini, benda itu terlihat seperti telur yang besar."
Karena merasa aneh dengan benda tersebut. Zhao Bingyan akhirnya mencoba untuk menggalinya dan benar saja, setelah ia selesai menggalinya, benda tersebut adalah sebuah telur besar berwarna putih salju dan ukurannya hampir menyamai ukuran tubuhnya.
”Besar sekali telurnya. Tidak mungkin telur sebesar ini adalah telur burung ataupun telur angsa. Jadi, telur milik siapa ini?" Ucap Zhao Bingyan sambil mencoba untuk mengitari telur tersebut dan mencoba untuk mendengar apa yang ada di dalamnya.
Ekspresinya terlihat senang begitu ia merasakan getaran yang terjadi di dalam ketika ia meletakkan telinga kanannya di atas telur tersebut. Ternyata telur ini masih bisa bertahan meskipun hidup di tengah-tengah hawa dingin yang menusuk. "Pei Gege pasti akan tahu telur apa ini. Mungkin sebaiknya aku menunjukkan telur ini padanya." Ucap Zhao Bingyan sekali lagi sambil menggulingkan telur tersebut menuju tempat Pei Zhuo berada.
__ADS_1
Lalu, ketika ia hampir sampai di halaman depan rumah besar keluarga Zhao, tiba-tiba saja telur yang saat ini dibawa olehnya mulai bergetar hebat dan terlihat ada beberapa bagian yang telah retak seperti ingin menetas. Karena melihat hal itu, Zhao Bingyan akhirnya bergerak menjauh dan membiarkan telur tersebut menetas dengan sendirinya.
Tidak lama setelah ia menunggu, telur tersebut dengan perlahan menunjukkan apa yang disembunyikan di dalamnya. Lalu, sebuah kaki bayi manusia muncul keluar dari dalam kulit telurnya dan disusul dengan sebuah tangan yang muncul hampir berdekatan dengan tempat keluarnya kaki dari dalam telur tersebut.
Selain kaki dan kedua tangan yang mulai keluar dari dalam telurnya, muncul beberapa bayi ular putih yang keluar melewati celah-celah retakan yang terbuka lebar. Dan tidak lama kemudian, seorang bayi laki-laki muncul dari dalam telur tersebut dengan beberapa ular yang masih melingkari tangan dan kepalanya.
Bayi laki-laki itu memiliki rambut putih dan mata yang lebar berwarna kuning seperti sore hari. Ekspresinya yang terlihat bingung dan kulitnya yang terlihat kedinginan, membuat Zhao Bingyan sangat terkejut ketika melihatnya. ”... Ternyata, itu adalah Bayi manusia?!” batin Zhao Bingyan yang dengan perlahan berjalan mendekatinya.
Zhao Bingyan menatap heran ke arah seorang bayi yang baru saja keluar dari sebuah telur yang ditemukan olehnya. Dia menyentuh pipi bayi tersebut dan berkata, "Manisnya,..." Ucapnya dengan hati yang seketika berbunga-bunga begitu ia menyentuh pipi lembut bayi tersebut.
Kemudian seorang laki-laki tiba-tiba muncul di hadapannya dan menghalangi pemandangannya ketika ia sedang menyentuh kulit bayi di depannya. Laki-laki ini tampak seperti seorang pelayan dengan pakaian biasa yang tidak tampak seperti anggota keluarga besar lainnya. Orang ini adalah Pei Zhuo yang diberikan tugas untuk terus menjaga Zhao Bingyan sejak ia masih bayi.
"Tuan muda Zhao. Saya sudah mencari Anda kemana-mana. Ternyata, Anda sedang berada di sini ya? Bayi siapa itu?" Tanya Pei Zhuo yang merasa heran dengan bayi yang sekarang ini sedang dipeluk oleh Zhao Bingyan.
"M-maksud Tuan muda?" Tanya Pei Zhuo yang mulai kebingungan.
"Qian Yue pernah bercerita kalau ada arwah pegunungan berjenis ular putih yang mati dua ratus tahun lalu demi rajanya. Ular putih itu menjadi simbol kekuatan dari Raja ketiga Xingyue karena dia selalu melindunginya setiap saat. Meskipun ia terdengar mengerikan karena ia selalu membunuh lawannya, dia memiliki sifat lembut terhadap anak-anak yang mencoba untuk mendekatinya. Dan sekarang aku yakin kalau yang diceritakan oleh Qian Yue ternyata benar terjadi. Bayi ular ini adalah reinkarnasi dari Xun Ji'an yang mati dua ratus tahun lalu." Jelas Zhao Bingyan sambil memeluk bayi tersebut dengan lembut.
"Jadi, Tuan muda ingin merawatnya? Jika kepala keluarga mengizinkanmu, Anda ingin memberikan nama seperti apa?" Tanya Pei Zhuo sambil mengelus kepala Zhao Bingyan.
Zhao Bingyan berpikir sebelum menjawab, "... Tentu saja aku akan memberikannya nama Xun Ji'an. Dan aku harap, ia bisa menjadi seorang pelindung yang berhati lembut seperti Qian Yue." Jawabnya dengan senyum kekanak-kanakannya sambil terus memeluk bayi ular tersebut.
__ADS_1
...~ Chaos System ~...
...~ Chapter 52 ~...
18 Tahun kemudian, Paviliun Yu'an Sekte Hua Jian.
Xun Ji'an yang lama tidak bertemu dengan Zhao Bingyan selama tiga tahun lamanya, menjadi sangat senang begitu ia bertemu kembali dengannya. Ia tidak pernah menjauh darinya dan terus mendekatkan dirinya pada Zhao Bingyan yang sudah merasa sangat risih dengan keberadaannya sekarang ini.
"Yan-Yan! Kau sama sekali tidak merindukan anakmu yang telah lama pergi?" Tanya Xun Ji'an yang tentunya membuat Zhao Bingyan semakin jijik mendengarnya.
"Pergilah! Aku tidak pernah memiliki anak ular seperti mu!" Ucap Zhao Bingyan dengan dingin dan berhasil membungkam mulut Xun Ji'an yang menatapnya dengan heran dan membiarkan Zhao Bingyan pergi mendahuluinya.
Setelah ia berjalan sendiri di sepanjang jalan menuju paviliun Yu'an, tiba-tiba saja Xun Ji'an melompat dan memeluk kaki kanan Zhao Bingyan sehingga membuatnya sangat sulit untuk berjalan karenanya. "... Hei! Apa yang kau lakukan! Berhentilah melakukan hal memalukan seperti ini!" Ucap Zhao Bingyan yang berusaha untuk melepaskan kaki kanannya dari kedua tangan Xun Ji'an yang seolah-olah menempel padanya.
"Xun'er tidak akan pergi sebelum Yan-Yan mengizinkan ku untuk berjalan di sebelahmu!" Teriak Xun Ji'an yang membuat Zhao Bingyan merasa dipermalukan di hadapan murid-muridnya sendiri yang sekarang ini sedang memperhatikan mereka dari balik tiang-tiang kokoh.
"Bangunlah! Jangan mempermalukan dirimu sendiri di hadapan mereka!" Ucap Zhao Bingyan yang membujuk Xun Ji'an agar ia berhenti memeluk kakinya.
"Apa aku boleh berjalan di sebelah Yan-Yan?" Tanya Xun Ji'an sambil menunjukkan wajah memelasnya hingga membuat Zhao Bingyan merasa ingin muntah ketika mendengarnya.
Dengan perasaan terpaksa, Zhao Bingyan akhirnya menjawab, "Baiklah, baiklah. Setidaknya jangan mempermalukan mu di sini."
__ADS_1
Ekspresi Xun Ji'an seketika terharu dan langsung berdiri di sebelahnya sambil mencoba untuk mengajaknya berjalan bersama. Lalu, ketika ia sedang mencoba untuk berjalan bersamanya, tiba-tiba saja seseorang menabrak Xun Ji'an dari belakang yang akhirnya mengakibatkan orang tersebut terjatuh begitu ia menabraknya.
Xun Ji'an begitu penasaran siapa yang sebelumnya telah menabraknya. Dan benar saja dengan apa dugaannya saat ini. Dia hanyalah seorang anak kecil yang sedang tersesat dan mencari seseorang sebagai petunjuknya. Anak ini adalah Mu Chen Xiao yang sudah seharian ini dikejar-kejar oleh Baixue yang sangat kelaparan.