Chaos System

Chaos System
Chapter. 71 - Firasat Tajam


__ADS_3

Karena perasaan khawatir yang datang dalam semalam, membuat Zhao Bingyan segera keluar dari kediamannya menuju pegunungan Jinya ketika semua orang masih tertidur di malam harinya. Ia kembali menunggangi kuda putihnya dan pergi tanpa mengganggu siapapun dengan meninggalkan secarik kertas yang menjelaskan kemana ia akan pergi.


Setidaknya butuh waktu seharian untuk sampai ke pegunungan Jinya dengan menunggangi seekor kuda perang. Berbeda jika seseorang memilih untuk berjalan, ia akan membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk sampai ke sana. Namun, karena firasatnya yang tajam dan memprediksi telah terjadi kekacauan di tempat mereka, Zhao Bingyan segera memilih untuk pergi tanpa mengucapkan salam pada siapapun.


"Kau mau kemana malam-malam begini?" Tanya Zhao Wei Lu ketika ia melihat Zhao Bingyan yang akan pergi meninggalkan Sekte.


Zhao Bingyan yang masih menggiring kudanya, menoleh ke belakang dan melihat Zhao Wei Lu yang saat ini telah berdiri menunggu jawaban darinya. "... Kenapa kau belum tidur? Bukankah sekarang masih tengah malam?" Tanya Zhao Bingyan yang berbalik arah menghadapnya.


Zhao Wei Lu menggertakan giginya dan berkata, "Berhenti bertanya padaku! Jawab saja pertanyaanku!" Ucapnya dengan wajah yang tampaknya sedang marah padanya.


Meskipun wajahnya terlihat sangat marah padanya, Zhao Bingyan tetap menunjukkan ekspresi seperti biasanya. Ia berjalan mendekatinya dan mengelus kepala Zhao Wei Lu sambil berkata, "Aku pergi sebentar. Master Chu Yi dan Cheng Xing juga telah kembali. Jadi, kau tidak perlu memikirkan bagaimana keadaan perguruan ini nanti. Jadilah anak baik selama aku pergi." Ucapnya sambil menunjukkan senyum ramahnya Dan ia kemudian berjalan kembali menghampiri kudanya dan meninggalkannya di sana.


Zhao Wei Lu cukup terkejut ketika Zhao Bingyan meletakkan telapak tangannya di atas kepalanya. Dan bahkan karena perasaan terkejutnya itu, Zhao Wei Lu sampai-sampai tidak ingin Zhao Bingyan pergi meninggalkannya di sini. Ia ingin ikut dengannya namun, ia masih tidak sanggup untuk mengatakannya. Pada akhirnya, ia hanya bisa membiarkan Zhao Bingyan pergi tanpa mengatakan sesuatu padanya.


”Apa yang terjadi di kepalanya? Tidak biasanya dia melakukan itu padaku. Apa dia hanya bersandiwara agar aku bisa menerima Mu Chen Xiao di keluarga ini?” batin Zhao Wei Lu yang menatapnya dengan dingin karena merasa telah dibohongi olehnya.


Selama perjalanan malam menuju pegunungan Jinya, Zhao Bingyan melihat suasana kota Xuanzhou yang tampak sepi dan tidak terlihat seorangpun yang berdiri di depan rumah mereka. Para penduduk di sini merasa takut dengan ancaman yang datang dari hutan perbatasan yang mungkin akan mengeluarkan semua hantu-hantunya.


Meskipun suasananya memang terlihat sepi, Zhao Bingyan tetap menjalankan kudanya dengan kencang tanpa menghiraukan apa yang ada di sekitarnya.


Lalu, ketika ia sampai di hutan perbatasan dan langit masih tidak menunjukkan mataharinya. Desiran angin besar semakin menghambatnya untuk berjalan maju meskipun ia sudah tidak takut untuk melawan semua hantu-hantu yang berkemungkinan besar akan muncul di tengah-tengah perjalanannya.


Seekor kuda yang terus berlari kencang, tiba-tiba saja terhenti begitu ia melihat segerombolan hantu yang telah berdiri di depannya. Mereka adalah hantu-hantu penduduk desa yang mati tidak wajar di tempat ini dan sebagian dari mereka ada yang sudah dimakan oleh hantu-hantu yang kelaparan.


"Hawa kebencian yang sangat besar. Mereka semua adalah orang-orang yang mati secara tidak wajar dan meminta mayat mereka dikembalikan. Sepertinya aku membutuhkan banyak waktu dan banyak tenaga untuk menenangkan mereka semua." Gumam Zhao Bingyan sambil mengeluarkan pedangnya kembali.


"Jangan takut dan tetaplah berjalan maju. Mereka bukan apa-apa melainkan hama yang sangat mengganggu. Berlarilah sampai tidak ada seorangpun yang bisa mengejarmu." Ucap Zhao Bingyan pada kuda tunggangannya yang terlihat ketakutan. Dan tidak lama setelah ia menyiapkan diri, kuda perangnya kembali berlari dengan cepat membantu Zhao Bingyan untuk membunuh semua hantu yang telah mengganggunya.

__ADS_1


Sebilah pedang es, diayunkan secara bersamaan ketika ia sedang melaju menggunakan kudanya. Cahaya biru muncul pada logam pedangnya dan membekukan semua hantu-hantu yang ada di sekitarnya hingga memecahkan mereka semua sampai berkeping-keping. Seketika, hawa dingin muncul dari dalam hutan ketika kembali mengeluarkan hawa kekuatan spiritualnya.


Pertarungan mereka terus terjadi sampai matahari terbit dan akhirnya semua hantu yang ada di hutan perbatasan menghilang seketika.


"Benar-benar hama yang menyusahkan. Meskipun aku merasa tidak kesulitan ketika melawan mereka, aku masih harus membuang-buang banyak tenaga." Gumam Zhao Bingyan sambil mengatur kembali nafasnya yang terasa berantakan.


Ia kemudian kembali berlari menuju pegunungan Jinya yang hanya tinggal melewati satu desa kecil saja bernama Jin Yue dan setelah itu ia akan melihat air terjun Sungai Luobing yang akan menghubungkannya pada pegunungan Jinya.


Ketika ia berjalan melewati desa Jin Yue disaat matahari sudah berada di atas kepalanya, dua orang berjubah hitam berjalan melewatinya. Ia merasa ada kekuatan yang sangat besar begitu mereka melewatinya. Mereka adalah pasangan perempuan dan laki-laki yang berjalan membelakangi arah menuju pegunungan Jinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi akan tetapi, firasatnya benar-benar buruk.


Begitu Zhao Bingyan menatap keduanya dengan serius, ia langsung menunggangi kudanya dengan cepat dan segera bergegas menuju pegunungan Jinya dan memeriksa keadaan di sana. Langkah kudanya perlahan berhenti begitu ia melintas di depan kediaman keluarga Mu yang telah hancur dengan hanya menyisakan satu bangunan yang berdiri di tengah puing-puing tersebut.


"Ada yang tidak beres di sini! Banyak yang telah terjadi diluar sini semenjak Mu Chen Xiao pergi dari Sekte." Gumam Zhao Bingyan yang kemudian melihat seorang kakek tua penjual kayu bakar yang sedang beristirahat di dinding besar kediaman Mu yang telah rapuh.


"Maaf, bisakah aku bertanya?" Ucap Zhao Bingyan yang telah turun dari atas kudanya dan menghampiri si kakek tua tadi.


"Tidak perlu dipikirkan tentang hal itu. Aku hanya ingin bertanya, apa yang terjadi di kediaman keluarga Mu sampai-sampai semuanya hancur seperti ini?"


Kakek tua itu berkedip beberapa kali dan berhenti melihat ke arah Zhao Bingyan sebelum ia menjawab, "Tiga hari yang lalu, terjadi pertarungan besar di sini. Wanita berjubah hitam, mengayunkan pedangnya pada seorang anak laki-laki dan memporak-porandakan semuanya yang tersisa. Dan setelah pertarungan mereka selesai, ada seorang anak laki-laki lainnya yang datang dari arah menuju pegunungan Jinya bersama dengan sesosok bayangan hitam, membawa seseorang yang baru saja melakukan pertarungan di sini."


”Apakah yang dimaksud olehnya adalah Mu Chen Xiao dengan hantu penunggu kediaman Mu?” batin Zhao Bingyan yang terkejut setelah mendengar ceritanya. Ia pun segera berdiri kembali dan berkata, "Terima kasih karena telah menceritakan semuanya padaku." Ucapnya sambil memberikan salam padanya dan mengeluarkan sekantung keping emas yang kemudian diberikan pada kakek tua tadi.


"Apa ini anak muda?" Tanya kakek tua yang merasa bingung dengan apa yang diberikan oleh Zhao Bingyan padanya.


"Ada desa kecil di ujung sana. Kau bisa membeli makanan dengan uang ini." Ucapnya sambil berjalan menuju kudanya kembali.


Kakek tersebut merasa sangat terkejut dan langsung berkata dengan senyum simpul di wajahnya, "Terima kasih anak muda."

__ADS_1


Tidak lama setelahnya, Zhao Bingyan kembali menunggangi kudanya menuju pegunungan dengan harus menaiki ratusan anak tangga yang telah menunggunya untuk sampai di puncak.


Dan ketika ia sampai di puncaknya, ia sangat terkejut ketika melihat gerbang depan kediaman mereka hancur berantakan dan ada beberapa anak tangga yang rusak di sana.


"Mengapa gerbangnya hancur seperti ini? Aku tidak bisa masuk jika harus membawa seekor kuda." Gumam Zhao Bingyan yang kembali turun dari atas kuda dan memperhatikan tumpukan batu yang ada di depannya.


Tumpukan batu tersebut seperti telah diserang dengan pedang yang memiliki kekuatan besar. Mungkinkah dia adalah orang yang dibicarakan oleh kakek tadi? Atau jangan-jangan, laki-laki dan perempuan yang baru saja melewati ku di desa Jin Yue?


Tanpa perlu memikirkannya lebih jauh lagi, Zhao Bingyan segera melompati tumpukan batu yang sempat menutupinya dan melihat pemandangan yang sekarang ini terjadi di kediaman Jinya.


Setidaknya ada satu rumah yang hancur dan beberapa rusak akibat ulah pedang yang sama. Suasananya sangat sepi karena saat itu hari kembali malam dan semua orang sedang tertidur di tempat mereka masing-masing. Sejak pertarungan kemarin, mereka semua terluka dan petinggi mereka juga mengalami luka yang lebih parah lagi. Aktifitas di sini seolah-olah telah mati karena tidak ada seorangpun yang bergerak di sana.


"Ternyata benar. Tempat ini telah menjadi arena pertarungan."


"Tuan muda Zhao!" Ucap seorang wanita yang sekarang ini sedang berjalan ke arahnya.


Zhao Bingyan tertegun dan langsung menoleh ke belakang. "Xu Wuya? Bisa katakan apa yang telah terjadi di sini sebelumnya?" Tanya Zhao Bingyan ketika ia ingat kalau wanita hitam ini adalah Xu Wuya.


"Tiga hari yang lalu, kami mendapatkan serangan dari dua orang asing yang sangat kuat. Mereka memblokir pintu keluar dan melukai semua orang-orang kami. Bahkan tetua Hao Shu tidak bisa mengalahkan mereka berdua dan sekarang, keadaannya lebih parah dari kami." Jelas Xu Wuya.


Zhao Bingyan terkejut mendengarnya dan bertanya kembali, "Lalu, bagaimana keadaan Mu Chen Xiao sekarang?"


"Dia juga melakukan pertarungan dengan kedua orang itu. Akan tetapi, keadaannya hampir sama seperti keadaan tetua Hao Shu sekarang."


"Antarkan aku ke tempat Mu Chen Xiao berada!" Ucap Zhao Bingyan setelah Xu Wuya membuatnya merasa sangat khawatir.


Xu Wuya tertegun dan menjawab sesaat kemudian, "Dia, sedang tidak berada di kamarnya. Aku sudah mencarinya kemana-mana akan tetapi, aku masih belum menemukannya." Jelas Xu Wuya setelah ia merasa ragu untuk menjawabnya pada Zhao Bingyan yang wajahnya terlihat sedang mengkhawatirkan semua yang telah terjadi di sini.

__ADS_1


__ADS_2