
Setelah banyak drama terjadi di kedai makanan yang ada di kota. Ketiganya pun kembali ke Sekte meskipun mereka terlihat sangat berantakan. Mu Chen Xiao kembali dengan wajah yang memiliki banyak memar karena kedatangan Zhao Wei Lu yang langsung menendang wajahnya dan ditambah lagi, ia juga harus menggendong Zhao Bingyan yang tertidur di kedai saat mereka saling baku hantam.
"Kenapa tidak kau saja yang membawanya?!" Ucap Mu Chen Xiao pada Zhao Wei Lu yang sedang berjalan di sebelahnya.
"Kenapa harus aku yang melakukannya untukmu? Bukankah Yan Gege yang memintamu untuk membawanya?" Jawab Zhao Wei Lu dengan tatapan tidak peduli terhadapnya.
”Adek Lucnut!” batin Mu Chen Xiao yang memperhatikan Zhao Wei Lu yang begitu tidak peduli terhadap Zhao Bingyan kakaknya sendiri dan sebenarnya, orang ini hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada Mu Chen Xiao yang telah membawa Zhao Bingyan dalam bahaya. Padahal, Zhao Yuan tidak mengatakan apapun dan hanya menyuruhnya untuk menjaganya dengan baik.
"Kenapa Guru besar Zhao terus saja memanggilku dengan nama A-Yue? Bukankah itu nama perempuan? Dan mengapa dia begitu ingin dekat denganku padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti ini." Tanya Mu Chen Xiao saat ia melirik ke arah Zhao Bingyan yang berada di atas punggungnya.
"Apakah tetua Guan Long tidak mengatakan apapun padamu? Bukankah dia pernah bilang kalau Yan Gege telah kembali di usianya yang kelima tahun? Sudah jelas kalau ingatannya terulang 21 tahun yang lalu." Jelas Zhao Wei Lu saat ia melipat tangannya.
"Lalu siapa yang dia panggil A-Yue? Bukankah kau adalah adiknya? Seharusnya kau tahu siapa wanita itu."
"Dia—" Zhao Wei Lu seketika berhenti berbicara karena ia tidak ingin mengakui kalau Mu Chen Xiao adalah anak dari kakak tertuanya dan ia sendiri adalah pamannya. Bisa-bisa, ia akan diremehkan karena usianya yang tidak beda jauh dengannya.
"Hah? Apa yang kau katakan?" Tanya Mu Chen Xiao setelah ia mendengar Zhao Wei Lu yang sengaja mengakhiri kalimatnya.
"Tidak. Aku tidak mengenal siapa dia. Yan Gege tidak pernah mengatakannya padaku." Zhao Wei Lu langsung menjawab karena ia tidak ingin terlibat dalam pembicaraan ini lagi.
"Mengapa ia tidak menceritakannya? Bukankah kalian berdua sangat dekat?"
Zhao Wei Lu tertegun dengan pertanyaan Mu Chen Xiao dan ia pun memilih untuk terdiam selama beberapa saat.
"Aku dan dia tidak terlalu dekat. Aku sangat jarang berbicara akrab dengannya. Dia bahkan lebih dekat denganmu dibandingkan dengan adiknya sendiri." Jawab Zhao Wei Lu dengan ekspresi kecewa setelah ia mengingat-ingat hal yang dulu pernah terjadi.
"Jadi kau cemburu?" Tanya Mu Chen Xiao setelah ia melihat ekspresi Zhao Wei Lu yang tampaknya sangat iri dengannya karena ia terlihat sangat dekat dengan Zhao Bingyan.
BUKK!!
"Jangan memulainya lagi denganku." Ucap Zhao Wei Lu dengan dingin saat ia memukul kepala Mu Chen Xiao kembali hingga membuatnya hampir saja terjatuh.
__ADS_1
"Aduh,... Duh,... Kau ingin membuat Guru besarmu terbunuh?!" Bentak Mu Chen Xiao setelah ia menahan kembali tubuh Zhao Bingyan yang hampir saja terjatuh dari atas punggungnya.
"Memangnya siapa yang memulainya lebih dulu?!" Balas bentak Zhao Wei Lu ketika ia merasa telah disalahkan.
"Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk menceritakannya semua padaku?!"
"Berhenti di sana!" Bentak seorang laki-laki yang seketika muncul di hadapan mereka dengan membawa dua orang anak buahnya yang sekarang ini telah berdiri di belakangnya.
Ketiga laki-laki ini memakai pakaian serba hitam dan sebuah cadar yang menutupi sebagian wajah mereka. Ketiganya sangat mirip dengan prajurit bayangan namun, mereka berada di pihak lain yang sangat berlawanan dengan mereka.
”Cih! Kenapa harus ada masalah baru lagi?!” batin Zhao Wei Lu saat ia menyiapkan kembali pedangnya untuk melawan ketiga orang ini.
"Serahkan Guru besar kalian dan kami tidak akan melukai kalian berdua!" Ucap salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah Zhao Bingyan yang sekarang ini sedang dibawa oleh Mu Chen Xiao di belakang punggungnya.
"Haah? Untuk apa?" Tanya Mu Chen Xiao sambil menatap bingung ke arah ketiga prajurit bayangan yang berusaha untuk mengambil Zhao Bingyan darinya.
”....”
Prajurit bayangan yang berada di barisan depan menatap bingung dan mencoba untuk mencari jawaban dari pertanyaan Mu Chen Xiao yang membuat mereka terdiam selama beberapa saat.
Masih membawa Zhao Bingyan di belakang punggungnya, Mu Chen Xiao berjalan ke arah pemimpin mereka dan langsung menarik kerah pakaiannya dengan menatap mereka dengan ekspresi marah.
"Lalu untuk apa kalian harus membawa Guru besar kami?! Apakah kalian sangat membutuhkan uang sehingga kalian harus mematuhi perintah atasan kalian?!" Bentak Mu Chen Xiao yang membuat laki-laki tersebut terdiam seribu kata.
"T- tapi kami harus segera membawanya!" Ucap laki-laki pertama dengan canggung setelah dia melihat wajah sangar Mu Chen Xiao yang sangat jarang diperlihatkan pada orang banyak.
"GOB BLOK! KALIAN MAU SAJA DIPERBUDAK ORANG LAIN!" Teriak Mu Chen Xiao saat ia mendekatkan dahinya dengan dahi laki-laki itu.
"Sungguh! Kami benar-benar harus membawa Guru besar kalian!" Ucap laki-laki kedua yang sebelumnya telah berdiri di belakang laki-laki pertama yang telah dihajar habis-habisan oleh Mu Chen Xiao menggunakan kata-katanya yang tajam dan menghina.
"Dia benar! Kami harus membawanya agar kami tidak dibunuh oleh atasan kami!" Ucap laki-laki ketiga yang langsung menghampiri laki-laki kedua dan pertama.
__ADS_1
"Eh? Buset! Nyo lot sekali kalian! Tentu saja kami tidak akan menyerahkannya!" Bentak Mu Chen Xiao sekali lagi saat ia melempar laki-laki pertama dari cengkraman tangannya.
[[ Keunggulan Meningkat ]]
[[ Sistem memberikan poin B +50 ]]
[[ Sisa poin akhir +700 ]]
”Aku tidak percaya kalau melakukan hal ini mudah sekali!” batin Mu Chen Xiao yang membangga-banggakan dirinya sendiri di dalam benaknya.
”Benar-benar bakat sejak lahir.” batin Zhao Wei Lu yang memperhatikan saat Mu Chen Xiao mampu menaklukkan ketiga prajurit bayangan ini hanya dengan perkataannya yang pedas.
"Nah! Bagaimana? Kalian masih ingin membawa Guru besar kami?!" Bentak Mu Chen Xiao sekali lagi yang membuat ketiga prajurit bayangan ini merasa gemetar melihatnya.
Laki-laki pertama tiba-tiba saja menyeringai dan berkata saat ia sedang menunduk di hadapannya, "Tentu saja, kami harus membawanya demi menyelamatkan nyawa kami!" Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah belati yang tersimpan di balik pakaiannya.
Ketika ia mengakhiri kalimatnya dan mengeluarkan sebuah belati dari balik pakaiannya, laki-laki pertama langsung mengayunkannya ke arah Mu Chen Xiao dan berhasil dihindari olehnya dengan sangat baik.
Serangan pertama mereka dilanjutkan dengan laki-laki kedua dan ketiga yang langsung menyerangnya dari belakang dengan menggunakan senjata yang sama.
Namun, ketika ia telah mengindari serangan laki-laki pertama dan ketiga, laki-laki kedua seketika muncul di belakangnya dan akan menusuk punggungnya jika saja ia tidak segera menghindar dari tempatnya.
Lalu, ketika ia hampir saja terpojok. Zhao Wei Lu muncul di belakangnya dan langsung menebas tangan laki-laki kedua menggunakan pedang yang ada di tangan kanannya.
Orang itu akhirnya hanya meringis kesakitan, menyadari pergelangan tangannya yang telah terluka dan mengucurkan darah yang tidak berhenti.
"Aku sudah menduga kau tidak bisa menyelesaikannya sendiri!" Ucap Zhao Wei Lu yang sekarang ini telah berdiri di belakangnya dengan saling membelakangi satu sama lain.
"Huh! Apakah aku pernah mengatakan kalau aku bisa menyelesaikannya seorang diri?!" Jawab Mu Chen Xiao setelah ia mendengar kalimat Zhao Wei Lu yang mungkin sedang menggunjingnya.
Laki-laki pertama, menghunuskan pisau belatinya kembali ke arah mereka dan berkata, "Beraninya kalian melawan kami! Jangan salahkan kami jika kami berbuat kasar!" Ucapnya yang langsung berlari ke arah mereka dengan sambil membawa pisau belatinya yang terlihat tajam dan bercahaya.
__ADS_1
Lalu, ketika laki-laki pertama dan ketiga telah berlari ke arah mereka secara bersamaan dengan membawa senjata yang sama. Tiba-tiba saja dari atas mereka muncul seekor naga Guan Long yang langsung menyapu bersih ketiga laki-laki tersebut ke dalam hutan menggunakan ekornya yang panjang. Ketika Guan Long sedang mengayunkan ekornya, beberapa pohon yang ada di sekitar mereka tumbang seketika begitu angin besar menerpa pohon-pohon yang ada di sana.
”Eh? Ini beneran terjadi?” batin Mu Chen Xiao saat memperhatikan sekitar yang tampak seperti hutan gundul akibat ayunan ekor panjang Naga Guan Long yang seketika muncul di atas mereka. ”... Kenapa dia bisa tahu kalau kami sedang dalam kesulitan? Bukankah seharusnya para murid-murid Sekte merahasiakan kalau Guru besar mereka sedang berada di luar Sekte?"