
Kota Jiangyan, bekas-bekas rumah besar kediaman keluarga 'Mu'.
Seorang anak laki-laki yang berumur sepuluh tahun dengan rambut dikuncir kuda dan sebuah Mahkota yang menghiasi kepalanya, datang ke kediaman keluarga 'Mu' dengan hanya berjalan kaki dari tempat tinggalnya di istana!
Ia adalah Putra Mahkota dari dinasti Zhang, Pangeran terakhir dari keenam Pangeran lainnya bernama Zhang Xiuzhen.
Ketika ia berada di halaman depan rumah besar keluarga Mu, ia bersiap dengan sebuah anak panah yang telah ditarik oleh busurnya. Pandangannya menatap sekitar tempat yang terlihat hancur dan memiliki kayu yang sangat rapuh sehingga mudah saja tempat ini akan hancur dalam satu tebasan pedang martial art.
Karena ada banyak berita yang datang dari penduduk desa hingga terdengar sampai ke istana mengenai kediaman keluarga 'Mu' yang begitu menyimpan banyak rahasia. Dan kebanyakan dari mereka mempercayai bahwa ada sebuah pedang peninggalan Mu Chou Ran yang tersimpan di dalam bekas-bekas kediaman tersebut. Hal itu membuat sebagian para Kultivator dan bahkan golongan bangsawan lainnya merasa sangat penasaran dan berlomba-lomba untuk mendapatkan pedang peninggalan Mu Chou Ran yang tingkatannya setara dengan keempat raja Xingyue.
Zhang Xiuzhen menjadi salah satu golongan bangsawan yang sangat penasaran dengan pedang tersebut. Namun, Sang Kaisar tidak pernah mengizinkannya untuk pergi dari Istana dan terus mengurungnya di dalam kamar dengan dijaga ketat oleh pengawal-pengawal istana. Akan tetapi ketika mereka lengah, Zhang Xiuzhen mengambil kesempatan untuk segera pergi dari tempatnya tanpa sepengetahuan dari siapapun yang saat itu sedang berjaga di Istana. Dan pada akhirnya, setelah ia berjalan selama lima hari, ia pun sampai di kota Jiangyan tepatnya di dalam kediaman keluarga 'Mu' yang telah hancur enam tahun lalu.
"Cih! Lihat saja! Aku pasti akan mendapatkan pedangnya!" Gumam Zhang Xiuzhen setelah ia mengingat perundungan yang dilakukan oleh keenam Pangeran lainnya yang dilakukan terhadap dirinya.
Zhang Xiuzhen mulai berjalan memasuki kediaman tersebut dengan sangat hati-hati mengingat ada beberapa kayu yang telah rapuh yang mungkin saja akan menimpa tubuhnya.
Rumah besar ini terlihat sangat berantakan seperti awal penyerangan yang dilakukan oleh Sekte Yin Lang dan beberapa kelompok lainnya. Di sudut ruangan, terdapat beberapa bilah kayu yang mereka gunakan agar bangunan ini tidak hancur berantakan suatu saat nanti. Dan pedang yang terlihat bergelimpangan dimana-mana, tampaknya mereka sengaja membiarkannya di sana sebagai penanda dimana pemilik pedang tersebut terbunuh oleh lawannya. Meskipun suasananya sedikit agak menyeramkan, tidak ada satupun hantu yang bersembunyi di sana. Hanya ada beberapa bilah kayu yang runtuh akibat termakan usia.
”Kenapa tidak ada satupun yang muncul di sini?” batin Zhang Xiuzhen yang mulai terheran dengan suasananya saat ini.
Tanpa perlu berlama-lama lagi, ia pun akhirnya berjalan kembali menuju ruang bawah tanah yang berada di salah satu kamar yang ada di sana. Ia kemudian membuka tirai-tirai merah yang menggantung pada sebuah pintu dan menemukan sebuah jalan rahasia menuju ruang bawah tanah yang ditutupi oleh sebuah pintu yang terbuat dari kayu halus dan sebelumnya telah tertutupi oleh sebuah karpet biru yang tergelar di sana.
"Apakah ini jalan menuju tempatnya?"
Karena merasa ini adalah pintu yang benar, Zhang Xiuzhen akhirnya membuka pintu tersebut dan melihat sebuah tangga yang langsung menghubungkannya ke ruang bawah tanah.
__ADS_1
"Gelap sekali di sana. Apakah benar Mu Chou Ran menyembunyikan pedangnya di dalam ruangan ini?"
Zhang Xiuzhen mengeluarkan mantra pemuncul api yang akhirnya keluar dari kedua jarinya untuk menerangi setiap jalan yang akan dituju olehnya. Ia pun akhirnya turun dari tangga tersebut menuju ruang bawah tanah, tempat Mu Chou Ran menyembunyikan pedangnya.
Meskipun ruangan yang berada di atas terlihat sangat berantakan namun, tempat ini terlihat sangat rapi dan bersih seperti masih dihuni oleh seseorang yang bertahan hidup di ruangan tersebut. Dan setelah ia melewati beberapa puluh anak tangga, ia pun akhirnya melihat sebuah lantai yang terbuat dari bebatuan halus yang tampaknya sama sekali tidak ada yang rusak dan terdapat sebuah obor yang telah menyala di sana.
”Tempat ini sepertinya jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang berada di atasnya. Apakah ada seseorang yang tinggal di tempat seperti ini?” batin Zhang Xiuzhen sambil berjalan menuruni tangga dengan sangat hati-hati.
Dan setelah ia melangkah tepat di atas lantai ruangan tersebut, Zhang Xiuzhen bersembunyi dibalik dinding dan mencoba untuk memeriksa apa yang ada di sekitarnya namun sepertinya, tidak ada seorangpun yang berada di sana untuk menyerangnya karena ia telah menjadi tamu yang tidak diundang di tempat mereka.
"Sepertinya tidak ada seorangpun yang berada di sini. Tapi, kenapa tempat ini terlihat sangat rapi?" Gumam Zhang Xiuzhen yang kemudian keluar dari tempat persembunyiannya tanpa melihat ancaman yang mungkin saja berada di sekitarnya.
Lalu, setelah ia pergi dari tempat persembunyiannya tiba-tiba saja sesosok wanita yang memakai jubah dan tudung hitam, datang dari arah belakangnya sambil mengayunkan sebuah pedang yang bercahaya merah yang tampaknya sangat berbahaya apabila seseorang terkena serangannya!
...~ Arc 4 : Berguru Pada Arwah Pegunungan ~...
Saat ini di dalam pegunungan Jinya, Mu Chen Xiao berjalan melewati beberapa pohon-pohon yang tumbuh besar di sana meskipun sebenarnya ia tahu kalau ada beberapa arwah berwujud tidak jelas sedang bersembunyi di balik bayangannya.
"Aku tahu kau bersembunyi di balik bayanganku sendiri. Keluarlah!" Ucap Mu Chen Xiao sambil melihat bayangannya sendiri.
Tidak lama setelah ia berbicara, muncul sebuah bayangan hitam lainnya yang keluar dari balik bayangan milik Mu Chen Xiao. Benda hitam itu tidak memiliki bentuk dan wujudnya bisa berubah menjadi apa saja. Dan untuk kali ini saja, benda hitam itu berusaha untuk meniru wujud aslinya yang sebenarnya adalah seorang anak berusia tujuh tahun.
"Aku pernah mendengar syair tentang seseorang yang selalu bersembunyi di balik bayangannya. Jadi, seperti inikah wujud aslinya? Tidak terbentuk dan hanya mengikuti bentuk apa yang dilihat olehnya?" Jelas Mu Chen Xiao setelah ia melihat arwah hitam tersebut telah mencoba untuk meniru bentuknya.
"Padahal kau baru di sini selama tiga hari. Ternyata, kau sudah tahu tentang kami." Ucap benda hitam tersebut yang sekarang ini telah menyerupai bentuk tubuh Mu Chen Xiao. "... Aku adalah arwah dari syair yang sangat dibenci oleh orang-orang. Sebutan ku adalah Lun Quo, orang yang selalu berlindung dibalik bayangan atau sama artinya seperti seorang pengkhianat."
__ADS_1
"Syair tentang seorang pengkhianat? Lalu, apakah kau juga bersikap seperti pengkhianat?" Tanya Mu Chen Xiao setelah ia tahu arwah Lun Quo yang sebenarnya.
"Aku hanya menyerupai wujudnya saja akan tetapi, sifat ku sangat berbeda dari apa yang dikatakan oleh syair itu." Ucap Lun Quo yang sepertinya sedang mencoba untuk menyakinkan Mu Chen Xiao bahwa ia bukanlah Arwah yang selalu berkhianat.
"Baiklah, aku percaya itu." Jawab Mu Chen Xiao secara langsung tanpa perlu memikirkannya baik-baik.
Lun Quo menjadi sangat terkejut begitu ia bertemu Mu Chen Xiao yang langsung saja percaya padanya tanpa harus melakukan sebuah pembuktian untuknya. Seketika, warna hitam yang sebelumnya telah memenuhi bentuk arwah Lun Quo tiba-tiba saja warnanya berubah menjadi merah muda dan tumbuh beberapa bunga di sekitarnya.
Mu Chen Xiao menatap bingung karena ini adalah pertama kalinya ia melihat Arwah Pegunungan yang bisa merubah warnanya dengan sesuka hatinya. "Ada apa dengan warna mu? K-kenapa bisa berubah menjadi merah muda dan tumbuh bunga di sana?" Tanya Mu Chen Xiao yang kebingungan.
Lun Quo tersentak kaget dan langsung menjawab, "... Maaf jika aku membuatmu bingung. Aku akan berubah warna menjadi merah muda ketika sedang merasa senang dan jika dalam keadaan normal, aku akan kembali berwarna hitam."
Mu Chen Xiao berpikir sebelum menjawab, "Seperti pencerminan suasana hati? Lalu, jika kau dalam keadaan marah, seperti apa wujudmu?"
"Jika marah, aku akan berubah merah dan jika aku sedang bersedih, aku akan berubah menjadi biru."
"Lalu, jika kau merasa canggung? Warna apa yang kau tunjukkan?"
Tiba-tiba saja, Lun Quo berubah menjadi hijau karena ia merasa canggung untuk menjawab semua pertanyaan Mu Chen Xiao untuknya.
"Oh! Aku mengerti! Kau akan berubah hijau jika merasa canggung!" Ucap Mu Chen Xiao yang langsung menyimpulkan.
Lun Quo tertegun dan terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali berkata, "Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengejutkan mu karena telah datang secara diam-diam. Akan tetapi, aku memiliki hal yang harus segera disampaikan padamu."
Mu Chen Xiao tertegun dan bertanya kembali, "Apa yang terjadi? Coba katakan padaku."
__ADS_1
Lun Quo menjawab sesaat kemudian, "Kota Jiangyan, bekas-bekas kediaman keluarga 'Mu'. Aku merasa telah terjadi sebuah pertarungan tunggal yang mengakibatkan kerusakan dimana-mana. Akan tetapi, tidak ada seorangpun di sana yang ingin terlibat dan mereka hanya berpura-pura tidak mengetahuinya."
Mu Chen Xiao sangat terkejut mendengarnya dan ia pun berkata sesaat kemudian, "Itu adalah rumahku dan aku harus pergi ke sana. Aku tidak tahu dimana tempatnya jadi, tolong tunjukkan dimana lokasinya."