
Begitu ia memasuki ruangan bawah tanah yang cukup gelap dan lembab, sebuah bayangan hitam seorang wanita yang memakai jubah hitam telah mengangkat pedang ke arahnya. Hawa kekuatan spiritual yang sangat besar, membuat Zhang Xiuzhen merasa sangat waspada dan berhasil menghindari serangan yang dilakukan oleh wanita hitam itu padanya.
Gerakannya sangat cepat dan hawa kekuatan spiritualnya menghancurkan semua benda yang ada di sana. Bahkan ketika ia mengayunkan pedang yang berhasil dihindari oleh Zhang Xiuzhen, ayunan itu menyebabkan sebuah goresan tanah yang sangat besar dan membuat rumah tersebut terbelah menjadi dua.
Zhang Xiuzhen terhempas dan terbawa oleh angin yang dihasilkan dari ayunan pedang lawannya. Bangunan-bangunan yang runtuh, membuat guncangan dan suara keras yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
”Kekuatannya besar sekali! Sebenarnya, kekuatan macam apa yang dimilikinya?” batin Zhang Xiuzhen sambil menghindari beberapa balok kayu yang sedang berterbangan ke arahnya setelah wanita itu menghancurkan beberapa bangunan yang ada di sana.
Setelah ia menghancurkan beberapa bangunan yang ada di sana, wanita itu langsung berdiri di hadapannya sambil meletakkan ujung pedangnya di atas pundak Zhang Xiuzhen yang hanya bisa terduduk memperhatikannya.
"Kau bukan keturunan keluarga Mu. Untuk apa orang asing datang kemari? Kau hanyalah bocah yang berusaha mencuri sebuah pedang yang sudah ditakdirkan untuk orang lain." Ucap wanita tersebut sambil memberikannya sebuah tatapan dingin seolah ia sedang melihat musuh terbesarnya sekarang ini.
”Cih! Sebenarnya siapa orang ini? Hawa spiritualnya benar-benar tidak bisa dilihat!” batin Zhang Xiuzhen kembali sambil merangkak mundur dengan perlahan.
Sebilah pedang yang tersimpan di tangan kanannya, mulai digerakkan dan nyaris saja memenggal kepala wanita tersebut sebelum akhirnya ia menahan gerakan pedang yang dilakukan oleh Zhang Xiuzhen untuk menyerangnya.
"Benar-benar serangan murahan! Kau pikir orang lemah sepertimu bisa menggunakan pedang milik Mu Chou Ran?" Ucap wanita itu kembali sambil mematahkan ujung pedang Zhang Xiuzhen yang sebelumnya telah nyaris saja memenggal kepalanya. "... Bukankah kau anak dari seorang Kaisar yang sangat tidak berguna? Kau sama sekali tidak melihatnya? Orang sepertimu benar-benar terlihat seperti orang sombong yang tidak tahu diri. Jika tidak keberatan, suatu kehormatan bagiku karena bisa membunuhmu. Pangeran ketujuh, Xiuzhen."
...~ Chaos System ~...
__ADS_1
...~ Chapter 63 ~...
"Kau bisa melihat siapa orang yang melakukan pertarungan?" Tanya Mu Chen Xiao sambil berlari menuruni gunung melewati tangga tangga batu yang ada di sana.
"Tidak tahu. Ketika aku sedang berjalan-jalan di sana, aku merasakan adanya guncangan yang besar di sekitaran kediaman keluarga 'Mu'. Aku pikir, mungkin saja terjadi pertarungan di sana." Jawab Lun Quo sambil mengikuti langkah Mu Chen Xiao yang terus berlari menuju kaki pegunungan Jinya.
"Memangnya apa yang mereka incar di sana? Bukankah Ji'an Gege mengatakan kalau itu hanyalah rumah yang sudah bobrok?" Tanya Mu Chen Xiao kembali.
"Itu hanya yang dikatakan oleh orang-orang yang takut dengan kediaman Keluarga Mu. Sebenarnya, tempat itu memiliki banyak rahasia termasuk pedang peninggalan Mu Chou Ran. Itu adalah pedang yang setara dengan pedang milik Raja Xingyue."
Begitu ia selesai mendengar jawaban dari Lun Quo yang membuatnya seketika terkejut, tiba-tiba saja ia terjatuh dari sepuluh anak tangga terakhir karena hilang keseimbangan setelah ia mendengar nama Mu Chou Ran lagi.
"Aduh,... Kenapa semuanya menjadi merah?" Tanya Mu Chen Xiao yang merasa terkejut setelah ia melihat pemandangan di sekitarnya berubah menjadi merah semua.
Melihat Mu Chen Xiao yang terjatuh dari sepuluh anak tangga terakhir, membuat Lun Quo langsung bergerak cepat ke arahnya dan memastikan bahwa kondisinya sekarang baik-baik saja. Namun sepertinya, ia terlalu berharap banyak padanya karena ia sudah terlanjur melihat luka sobek yang ada di dahi Mu Chen Xiao dan darahnya terus mengalir hingga di bawah matanya.
"Oh tidak. Kau terluka! Mungkin sebaiknya kita kembali saja." Ucap Lun Quo setelah ia melihat darah yang ada di sekitar wajah Mu Chen Xiao.
Mu Chen Xiao mengusap dahinya dan terkejut ketika melihat darah yang ada di telapak tangannya setelah ia mencoba untuk memeriksa keadaannya. "... Ini hanya luka sobek saja. Setidaknya, kaki dan tanganku tidak patah. Untuk saat ini aku masih bisa berlari jadi, jangan terlalu mengkhawatirkan ku." Ucap Mu Chen Xiao sambil membersihkan darah yang terus keluar dari atas kepalanya menggunakan lengannya yang terbalut pakaian.
__ADS_1
"Apa kau yakin? Setidaknya hentikan dulu pendarahan di kepalamu itu." Ucap Lun Quo karena ia terlalu mengkhawatirkan keadaan Mu Chen Xiao.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan ku! Aku tidak suka itu!" Ucap Mu Chen Xiao dengan sedikit membentak padanya, "... Sebaiknya kita segera pergi. Hawa kekuatan spiritual mereka semakin terasa. Sepertinya, kediaman keluarga 'Mu' sudah hancur lebur."
Keduanya pun akhirnya kembali berlari menuju tempat tujuan tanpa harus melewati keramaian kota Jiangyan karena Lun Quo mengetahui ada di mana jalan pintas menuju kediaman tersebut. Mereka berlari melewati hutan dengan pohon-pohon besar dan bebatuan yang menumpuk di sekitar mereka. Dan tempat ini adalah makam para keluarga Mu yang saat itu mati karena pembunuhan besar-besaran.
Namun, ketika mereka melewati tempat pemakaman tersebut, tiba-tiba saja kepala Mu Chen Xiao mendadak sakit begitu ia berjalan melewati mereka semua yang sudah mati. Rasa sakit itu bahkan lebih parah dibandingkan saat segel api Liu kembali menyala.
”Hawa kebencian yang sangat besar! Mereka semua mati secara sia-sia dan menyimpan dendam terhadap siapapun bahkan salah satu dari mereka yang masih hidup. Orang-orang yang telah mati di sini, sepertinya sangat membenci keberadaan ku di sekitar mereka.” batin Mu Chen Xiao yang langsung tertunduk lesu sambil memegangi kepalanya sendiri.
Lun Quo yang menyadarinya, langsung berjalan kembali menghampirinya dan bertanya, "Kau tidak apa-apa? Apakah tempat ini membuatmu teringat pada masa lalu mu?"
"Ah, tidak. Aku hanya merasa pusing sedikit saja." Jawab Mu Chen Xiao yang kemudian berjalan pergi dari tempat tersebut dengan terburu-buru.
"Memangnya ada apa? Apakah kau merasakan keberadaan arwah yang tidak berbentuk di sini?" Tanya Lun Quo sambil berjalan menyusulnya.
Mu Chen Xiao berhenti berjalan dan menjawab, "Ya. Mereka yang sudah mati, tidak terima jika hanya aku yang hidup di sini. Mereka semua, ingin aku segera mati dan bergabung bersama dengan mereka." Ucapnya sambil melepaskan tangannya yang sejak tadi terus memegangi kepalanya.
"Itu wajar saja karena orang yang sudah mati, biasanya akan merasa iri pada seseorang yang masih hidup. Sebaiknya abaikan saja keberadaan mereka. Itu akan lebih baik daripada kau terus memperhatikannya." Ucap Lun Quo sekali lagi.
__ADS_1
"Benar juga. Sebaiknya aku lupakan saja mereka semua." Mu Chen Xiao menjawab sesaat kemudian dan kembali berlari menuju kediaman keluarga 'Mu' yang kembali menimbulkan suara getaran hebat seperti ada beberapa bangunan yang telah roboh karena sebuah serangan yang cukup besar. ”... Sebenarnya, pertarungan apa yang mereka lakukan sampai menimbulkan suara mengerikan seperti ini?”