
Tiga Tahun Berikutnya.
Seorang pemuda yang memakai pakaian merah dengan rambut yang dikuncir kuda, sedang berdiri di samping sebuah lubang besar yang telah ada sejak tiga tahun yang lalu. Ia memegang sebuah mantra pemanggil di tangan kanannya dan pandangannya tidak teralihkan pada lubang besar yang telah tercipta di hadapannya.
Begitu ia memulai mantranya, sebuah cahaya merah datang dari empat arah yang berbeda-beda. Cahaya tersebut muncul dari bawah kakinya dan hawa kekuatan spiritual tercipta berkat adanya pemuda tersebut yang sedang berusaha untuk mengisi lubang ini dengan air.
Pemuda tersebut mulai membaca mantranya dan ketika ia selesai membacanya, tidak lama kemudian muncul sebuah air mancur yang mengalir dengan deras keluar dari kertas mantra yang dibuat olehnya.
Ia sangat terkejut dan senang begitu ia melihat mantranya berhasil dilakukan. Lubang besar itu akhirnya penuh dengan air dan tidak lama kemudian kertas itupun akhirnya berhenti mengalirkan air yang entah darimana asalnya.
"Wah! Apakah aku benar-benar melakukannya? Aku sedikit tidak percaya kalau akhirnya aku bisa menyempurnakan mantra ini selama tiga tahun lamanya." Gumam pemuda tersebut karena ia tidak percaya akan selama ini peningkatannya.
"Xiao Xiao! Kau hebat sekali!" Teriak seorang pemuda lainnya yang saat ini sedang berlari menghampirinya dengan wajah sumringah karena merasa takjub dengan kekuatannya padahal hal itu bukanlah apa-apa.
Pemuda itu langsung menoleh ke arahnya dan menunjukkan wajahnya secara keseluruhan. Pemuda ini adalah Mu Chen Xiao yang saat ini telah berumur sepuluh tahun dan sudah berguru pada Hao Shu selama tiga tahun lamanya.
"Yang Mulia?" Seru Mu Chen Xiao sambil menoleh ke arah Zhang Xiuzhen yang sekarang ini telah berdiri di sebelahnya. "... Ada apa? Mengapa Yang Mulia kemari?" Tanya Mu Chen Xiao karena seharusnya Zhang Xiuzhen sekarang ini sedang bersama dengan Hao Shu di ruangannya.
"Ada yang ingin tetua Hao Shu katakan padamu. Dia bilang ini sesuatu yang cukup penting." Jawab Zhang Xiuzhen yang membuat Mu Chen Xiao penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Hao Shu padanya.
Sementara ini, di dalam Paviliun Fu Yang. Hao Shu terlihat sedang menata beberapa tumpukan buku yang sebelumnya telah menumpuk di sekitar meja-meja yang tersusun rapi di sana. Tumpukan ini muncul karena ada beberapa dari penghuni kediamannya yang merasa perlu mempelajari tentang ilmu Kultivasi yang mungkin saja akan bisa membantu mereka ketika berada dalam bahaya. Mereka juga tidak ingin kejadian tiga tahun lalu kembali terulang dan menyebabkan mereka semua terpuruk hanya karena tidak bisa melakukan apapun.
"Orang-orang ini begitu bersemangat ketika melihat Mu Chen Xiao dan Pangeran Zhang berlatih bersama. Apakah benar orang-orang biasa di sini akan tekun mempelajarinya dan memiliki kualitas tulang yang cukup bagus?" Gumam Hao Shu sambil memasukkan salah satu buku yang menumpuk ke dalam raknya kembali.
Tidak lama setelahnya, pintu yang semula tertutup mendadak terbuka karena seseorang telah mendorongnya dari depan. Pintu tersebut menunjukkan dua orang pemuda berumur sepuluh dan tiga belas tahun, sedang berdiri di sana sambil memperhatikannya sedang mengembalikan buku ke dalam raknya kembali.
"Tikus tua! Eh, maksudku Guru Hao Shu! Aku dengar kau ingin berbicara denganku." Ucap Mu Chen Xiao saat mencoba untuk menyapa Hao Shu yang sekarang ini sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
"Sudah sepuluh tahun tapi kau masih saja seperti ini. Sebenarnya apa maumu?!" Tanya Hao Shu yang telah mendengar Mu Chen Xiao menyebutnya sebagai tikus tua.
Mu Chen Xiao tertegun dan berkata kembali, "Bukankah Guru yang ingin mengajakku berbicara? Mengapa sekarang ini Guru malah bertanya balik padaku?"
"Baiklah, Baiklah! Duduklah di depan meja yang ada di sana." Ucap Hao Shu yang merujuk pada meja yang terpasang di depan sebuah singgasana besar seperti yang biasa ada di Sekte.
Setelah ketiganya duduk di tempatnya masing-masing, Hao Shu tampak sedang memikirkan sebuah keputusan yang akan dipilih olehnya nanti. Suara tetesan air yang datang dari luar sana karena sudah hampir memasuki musim dingin, semakin membuat sunyi ruangan ini karena tidak ada seorangpun yang berbicara.
__ADS_1
Tikus tua ini sebenarnya sedang memikirkan apa? Mengapa dia lama sekali untuk berbicara lebih dulu? Apakah harus aku yang memulai pembicaraan ini dengan berantakan dan penuh penghinaan?
”....”
"Baiklah. Aku juga akan memulangkan Mu Chen Xiao kembali ke Sekte asalnya." Ucap Hao Shu yang membuat Mu Chen Xiao seketika terkejut ketika mendengarnya. "... Karena Pangeran Zhang juga telah dipanggil untuk kembali ke istana dan tugas-tugas ku yang masih menumpuk di luar sana, aku juga akan mengembalikan Mu Chen Xiao ke tempat asalnya."
”Jika tikus tua ini terus menyuruhku untuk kembali, apa yang akan dikatakan oleh murid-murid di sana kalau selama tiga tahun aku berguru di sini, aku hanya bisa mencapai Young Master level lima?” batin Mu Chen Xiao yang membayangkan suasana di Sekte ketika melihatnya kembali.
"Mu Chen Xiao!" Teriak Hao Shu yang berhasil membuat Mu Chen Xiao sangat terkejut ketika mendengarnya dan langsung menatap ke arahnya. "Apakah kau keberatan jika keluar lebih awal?" Lanjut Hao Shu kembali.
Mu Chen Xiao berkedip beberapa kali dan wajahnya menampilkan ekspresi tidak percaya. "... Kenapa harus keberatan?! Aku bahkan tidak sabar untuk pergi dari sini!" jawab Mu Chen Xiao yang langsung berlari keluar dengan terburu-buru.
”Bocah ini! Sifatnya masih sama saja seperti dulu!” batin Hao Shu sambil meremas kipas lipatnya. "... Besok akan ada beberapa prajurit yang akan menjemput Yang Mulia. Sebaiknya kau segeralah bersiap-siap." Ucap Hao Shu pada Zhang Xiuzhen yang masih duduk di hadapannya.
Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, Zhang Xiuzhen kembali bertanya, "Kenapa Guru Hao tidak membiarkan Xiao Xiao lebih lama di sini? Bukankah Guru bilang kalau dia itu sangat sulit untuk berkultivasi?"
"Ya, memangnya kenapa? Dimana letak kesalahan ku?" Tanya Hao Shu sesaat kemudian.
"Aku dengar di Sekte Hua Jian, mereka memiliki murid-murid yang sangat pandai dan hampir menyamai Sekte Yin Lang. Dia masih berada di level lima alam bumi jadi, mengapa Guru Hao tidak mengajarinya saja selama beberapa tahun lagi?"
Hao Shu mengangkat alisnya dan menjawab, "Aku sudah tidak tahan dengan pembuat masalah seperti dia. Bisa-bisa seluruh penghuni tempat ini akan babak belur olehnya." Ucap Hao Shu yang ingat kalau beberapa tahun sebelumnya Mu Chen Xiao pernah menghajar wajah orang-orang biasa yang telah berani memalak uangnya.
Hao Shu melebarkan kipas lipatnya dan beranjak dari tempat duduknya menuju suatu tempat yang ada di depannya. "... Aku akan segera memikirkan itu baik-baik. Yang Mulia sebaiknya segeralah bersiap. Prajurit Istana pasti sudah sampai di kaki gunung." Ucapnya sambil berjalan keluar ruangan.
Zhang Xiuzhen menjawab sesaat kemudian, "Baik Guru Hao!"
...~ Chaos System ~...
...~ Chapter 77 ~...
Ketika Mu Chen Xiao akan menuruni sebuah tangga panjang yang mengarah pada kaki gunung, langkahnya seketika terhenti ketika ia melihat Xu Wuya yang telah berdiri tidak jauh di depannya, sedang menatapnya dengan dingin dan menunjukkan hawa kekuatan spiritualnya yang bisa membuat semua orang melemah.
”Masalah apa lagi ini? Aku hanya ingin pulang!” batin Mu Chen Xiao.
Ia mencoba untuk tidak memperhatikan tatapan dingin Xu Wuya dan terus berjalan tanpa harus menghiraukan keberadaannya saat ini. Langkahnya terus bergerak maju dan sedikit bergeser ketika ia berpapasan dengan Xu Wuya. Ketika berpapasan, Xu Wuya tidak juga mengalihkan pandangannya dari Mu Chen Xiao dan terus memperhatikannya dengan tatapan yang mengerikan.
__ADS_1
"Mu Chen Xiao!"
Mendengar Xu Wuya yang menyebut namanya, membuat Mu Chen Xiao sangat terkejut dan merasa kalau ia baru saja tersambar petir yang sangat besar. Ia pun dengan perlahan menoleh ke belakang dan berharap tidak ada hal buruk yang akan menimpanya nanti.
"Ada apa nona Xu?"
Mu Chen Xiao bertanya dengan wajah yang sedikit ketakutan melihatnya. Itu karena Xu Wuya memiliki wajah yang mengerikan dan mirip sekali dengan hantu yang seringkali muncul dari balik jendela.
"Sebelum kau pergi, ada beberapa hal yang harus kau ketahui." Ucap Xu Wuya yang membuat Mu Chen Xiao terpaku dengan ucapan yang akan dikatakan olehnya. "... Musim dingin sebentar lagi akan datang. Akan ada banyak masalah yang akan terjadi. Seseorang yang ada dalam kehidupanmu sedang dalam bahaya di musim itu. Aku harap kau berhati-hatilah ketika bersamanya."
"Pada siapa aku harus berhati-hati?"
"Seseorang yang sangat dekat denganmu dan sangat dekat dengan Xun Ji'an juga dengan Hao Shu."
Setelah Xu Wuya mengatakan kalimatnya, ia segera pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali menaiki tangga meninggalkan Mu Chen Xiao yang masih tidak mengerti apa yang dikatakannya tadi.
Memangnya siapa yang harus aku waspadai? Bukankah aku tidak dekat dengan siapapun? Apa dia hanya bergumam saja agar aku tidak pergi ke Sekte dan pergi ke tempat lain?
Setelah ia memandangi tangga cukup lama dan berpikir di sana, Mu Chen Xiao akhirnya mencoba untuk mengabaikannya saja dan tetap berjalan menuju Sekte dengan berjalan kaki. Ia berjalan karena di kediaman Jinya, mereka tidak memiliki kuda atau keledai karena mereka tidak pernah berdagang ataupun mengunjungi sebuah tempat.
”Musim dingin dan seseorang yang sangat dekat denganku. Rasanya ada sesuatu yang sempat aku lupakan.”
Ketika ia masih menuruni tangga, Mu Chen Xiao terus memikirkan seseorang yang sempat dilupakan olehnya. Ia pun melihat kepingan salju pertama yang jatuh dan mendarat tepat di atas kepalanya. Itu adalah kepingan salju pertama sebagai awal mula dari musim dingin yang sebenarnya.
”Salju yang membekukan seluruh air. Mata Es? Bingyan?! Apakah yang dimaksud Xu Wuya adalah Zhao Bingyan?"
^^^~ 冰眼 ~ Bīng yǎn ~ Mata Es^^^
Mu Chen Xiao baru saja teringat tentang Zhao Bingyan yang lahir pada pertengahan Musim Dingin. Semua itu terbongkar ketika ia sedang menjalankan tugas Istana, memburu hantu di lembah Dao Xun.
”Tunggu! Mengapa aku harus peduli padanya? Bukankah sejak awal, rencanaku hanya untuk membunuhnya? Mengapa tiba-tiba saja aku memikirkannya? Benar-benar membuang-buang waktu!” batin Mu Chen Xiao ketika ia merasa terlalu peduli pada Zhao Bingyan.
Dan ketika ia berjalan kembali menuruni tangga, ia tidak sengaja menginjak sebuah mantra teleportasi yang melekat pada salah satu anak tangga dan karena hal itu, sebuah cahaya biru muncul ketika ia menginjaknya.
Mantra tersebut menghubungkannya antara dirinya dengan seseorang yang sengaja membuatnya. Benar saja dugaannya, ketika ia berteleportasi menggunakan mantra yang tidak sengaja diinjak olehnya, Mu Chen Xiao tiba-tiba saja berada di wilayah barat di kota Xuanzhou dan sedang berpapasan dengan seekor kuda putih.
__ADS_1
Namun, ketika ia berpapasan dengan kuda putih di sebelahnya, seseorang yang sedang menungganginya mendadak jatuh dan hampir menimpa Mu Chen Xiao sebelum akhirnya ia menangkap laki-laki tersebut meskipun sedikit terjatuh menyentuh tanah.
"Apakah ini mantra teleportasi?!" Gumam Mu Chen Xiao dan setelah itu ia sangat terkejut ketika melihat sosok laki-laki yang sekarang ini sedang diam dalam pangkuannya. "Orang ini memiliki darah di mulutnya. Tidak mungkin! Dia adalah Zhao Bingyan?!"