
"Gadis itu memiliki rambut putih dan selalu memainkan sitarnya ketika ia melihat mangsanya. Sebaiknya, kalian jauhi gadis itu jika bertemu dengannya." Itulah yang terakhir kali dikatakan oleh Cheng Xing Xian sebelum ia pergi bersama dengan pasukan-pasukan lainnya untuk kembali ke istana dan melaporkan kejadian hari ini.
Zhao Bingyan masih terdiam di tempat yang sama dan berpikir bagaimana cara mengatasi semua masalah ini. Mendengar kata gadis berambut putih yang selalu memainkan sitarnya, membuat Zhao Bingyan merasa sedikit teringat dengan masa lalunya ketika ia masih berguru pada seseorang yang belum dikenalinya. Namun, hingga sampai saat ini Zhao Bingyan tidak mampu mengingat siapa yang dulu pernah menjadi Gurunya. Yang ada di dalam ingatannya saat ini, hanyalah masa lalunya bersama Pei Zhuo yang berperan sebagai pengganti kedua orangtuanya ketika mereka sibuk mengurusi Sekte.
"Kenapa Guru besar diam saja?" Tanya Mu Chen Xiao yang merasa heran dengannya karena ia sama sekali tidak berbicara sejak tadi.
Zhao Bingyan tersentak dan langsung menjawab, "Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan masalah yang terjadi sekarang."
”Memangnya apa yang menjadi masalah di sini? Bukankah dia cukup kuat untuk bertarung melawan hantu yang kemampuannya tidak ada apa-apanya?” batin Mu Chen Xiao yang menatap heran. "Guru besar Zhao bilang kalau malam ini adalah waktunya para hantu untuk mencari makan? Mengapa kita tidak juga berjalan? Bagaimana keadaan kedua kakak tadi setelah mereka tahu kalau sekarang sudah malam?"
Zhao Bingyan menunjukkan wajah lembutnya dan menjawab, "Xiao'er benar. Mungkin mereka sedang dalam masalah. Kita akan berjalan sekarang." Ucapnya sambil menarik kudanya kembali dan berjalan cepat menuju arena perburuan para hantu.
...~ Chaos System ~...
...~ Chapter 41 ~...
__ADS_1
Derap langkah seekor kuda hitam yang terus berlari melewati pohon-pohon besar yang terlihat menyeramkan. Pemuda yang saat ini sedang menungganginya, tampaknya sama sekali tidak merasa terganggu dengan pemandangan saat ini. ”Sudah saatnya bagi para hantu untuk makan malam. Akan tetapi, tidak ada satupun yang muncul di hadapan ku saat ini.” batin Yan Fengying yang sudah sejak tadi menunggangi kudanya dan mengelilingi hutan namun, ia belum bertemu dengan satupun hantu yang ada di sana.
"Apakah mereka menganggap aku ini takut dengan mereka?" Gumam Yan Fengying yang mendengar suara desiran dari arah kanan tempat berdirinya.
Tidak lama setelah ia mendengar desiran tersebut, tiba-tiba saja sebuah getaran besar muncul di hadapannya, seperti sebongkah batu yang mendarat di depannya. Cahaya bulan purnama yang sebelumnya memberikan cahaya untuknya, seolah-olah tertutupi oleh sebuah benda besar yang saat ini telah berdiri di hadapannya. Dan karena ia merasa penasaran, makhluk apa yang sebenarnya saat ini telah berdiri di hadapannya, membuat Yan Fengying langsung saja melihat ke arah makhluk besar ini.
Sebuah tubuh yang kokoh dan tidak akan hancur meskipun sudah di hantam pedang berkali-kali. Dagingnya sekeras batu dan kulitnya terasa sangat kasar seperti kulit landak. Dia adalah seorang manusia yang memiliki tinggi lima kali lipatnya dari tinggi manusia dewasa.
"Aku pernah mendengar tentang kisah seorang jenderal yang dibunuh oleh rajanya sendiri. Jadi, kau adalah orangnya? Jenderal Sha Mo." Ucap Yan Fengying sambil menatap dingin ke arah Jenderal Sha Mo yang telah berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah gada yang ada di tangan kanannya.
"Ma~~ ka~~ nan. A~~ a ~~ ku sa~~ ngat, la~par!" Ucap Jenderal Sha Mo dengan nada patah-patah dan kemudian ia pun berteriak "Aku sangat lapar!" Sambil mengangkat gadanya kembali dan membantingnya di atas tanah hingga membuat tanah tersebut bergetar.
"Ma~ka~nan!! Kemana perginya!" Teriak Jenderal Sha Mo yang mulai kehilangan kendali karena rasa lapar yang merasukinya.
”Dia memiliki daging sekeras batu dan kulit yang sangat kasar! Jika bertarung menggunakan pedang, rasanya itu sangat percuma! Elemen apa yang bisa mengalahkan sebongkah batu besar dalam sekali serangan?” pikir Yan Fengying. ”... Benar juga! Elemen petir! Itu pasti akan membunuhnya!”
__ADS_1
”Ke~te~mu,...” ucap jenderal Sha Mo yang tiba-tiba saja berdiri di sebelah Yan Fengying dan berhasil mengejutkannya hingga membuatnya lengah dalam satu serangan yang dilakukannya.
Jenderal Sha Mo yang berhasil menemukan mangsanya, kembali menghantam tanah menggunakan gadanya hingga membuat pohon-pohon besar yang ada di sekitarnya tumbang dan menimpa segala sesuatu yang ada di bawahnya. Sementara, Yan Fengying berhasil menghindar dari serangan tersebut meskipun sebongkah batu sempat menimpa perutnya.
”Aku harus segera membentuk formasi! Tapi sepertinya, makhluk ini tidak akan memberikanku waktu lebih!” batin Yan Fengying sambil memegangi perutnya yang sedikit tergores karena sebongkah batu besar yang menimpanya.
Melihat Jenderal Sha Mo yang berjalan kembali menghampirinya, membuat Yan Fengying semakin waspada dan pada akhirnya, ia pun memulai langkah pertama untuk mengalahkan Jenderal Sha Mo yang sangat sulit dikalahkan.
Yan Fengying bergerak cepat melintasi beberapa pohon yang kokoh dan meletakkan sebuah mantra kertas pada keempat pohon yang masih berdiri mengelilingi jenderal Sha Mo.
Melihat Yan Fengying yang terus saja berlari mengitarinya, membuat jenderal Sha Mo menjadi sangat bingung dan sangat marah karena ia tidak mendapatkan makanannya. Ia pun akhirnya memukul tanahnya kembali hingga membuat getaran yang hampir merobohkan keempat pohon yang telah dipasang sebuah mantra miliknya.
Setelah ia berhasil menyelesaikannya dengan cepat, Yan Fengying berdiri kembali di hadapan Jenderal Sha Mo dengan jarak yang cukup jauh darinya. Ia menepuk kedua telapak tangannya dan mencoba untuk memulai sebuah mantra yang akan menghancurkan tubuhnya dalam sekali serangan.
"Hama yang menjengkelkan! Matilah dengan tenang!" Yan Fengying berteriak padanya dan langsung memulai sebuah mantra petir yang akan menghancurkan tubuh Jenderal Sha Mo dalam satu serangan meskipun ini sangatlah membuang-buang tenaganya.
__ADS_1
Ribuan petir itu muncul dari masing-masing mantra yang telah dipasang pada keempat pohon yang sebelumnya. Petir itu langsung menyambar tubuh Jenderal Sha Mo hingga membuatnya teriak kesakitan karena petir yang terus membakarnya. Dan tidak berselang lama setelahnya, tubuh kokoh Jenderal Sha Mo akhirnya hancur dan berubah menjadi setumpuk abu mayat yang langsung terbawa angin.
”Huh,... Dia masih berada di tingkat Master level lima dan sudah berani melawanku yang kemampuannya sudah jelas lebih tinggi darinya. Aku tidak menyangka, mudah sekali mengalahkan makhluk seperti dia yang memiliki tinggi lima kali lipatnya dari manusia dewasa.” gumam Yan Fengying sambil menendang-nendang abu milik Jenderal Sha Mo hingga bertebaran dimana-mana.