
Karena istana sedang ada sedikit kekacauan di sana, pihak Istana mengadakan sebuah perjamuan di kedai makanan Tanhua. Dengan alasan yang tidak jelas, penjagaan di sana dijaga sangat ketat dan tidak ada seorangpun yang boleh memasukinya tanpa izin dari Kaisar.
”Itu benar-benar alasan yang tidak masuk akal. Memangnya kekacauan apa yang terjadi di sana? Bukankah mereka memiliki banyak istana dan banyak tempat tersembunyi? Apakah mereka sedang merendahkan kami karena kami bukan golongan bangsawan seperti mereka?” batin Mu Chen Xiao saat ia telah duduk di tengah-tengah barisan meja makan yang telah dipesan oleh istana.
Ia benar-benar tidak memikirkan dimana tempat duduknya saat ini sehingga ia lupa jika ia harus tetap berada di sebelah guru besarnya seperti yang lain.
Mu Chen Xiao yang awalnya mengira ia sedang duduk di sebelah Zhao Bingyan, merasa sangat terkejut setelah ia melihat sebuah jubah hitam yang diletakkan di sebelah kanannya.
Rasanya, Zhao Bingyan tidak pernah memakai pakaian hitam seperti ini. Apakah aku telah salah duduk?
Karena melihat hal itu, Mu Chen Xiao langsung menoleh ke kanan dan ia pun sangat terkejut ketika melihat laki-laki yang duduk di sebelahnya adalah Shang Ren?!
”Oh tidak! Sepertinya aku salah duduk. Lalu, siapa yang ada di kiri?” batin Mu Chen Xiao yang langsung menoleh ke kiri. ”Kenapa semakin kacau saja? Lalu, dimana Zhao Bingyan dan Ying Tian?” Ia hanya menatap datar setelah ia melihat seseorang yang berada di sebelah kirinya adalah Gu Qiaomei dan Yun Qing!
"Bocah to—! Kau salah duduk!" Bisik seorang gadis yang sekarang ini sedang duduk tepat di hadapannya pada meja yang sama dengannya.
Orang ini adalah Ying Tian dan Zhao Bingyan!
”......”
"Biarkan dia duduk dimana saja asalkan dia tidak membuat keributan lagi di sini." Ucap Zhao Bingyan setelah ia meneguk minumannya.
”Apakah aku seburuk itu.” batin Mu Chen Xiao saat ia mengambil makanannya kembali. Namun, ketika ia baru saja mengangkat makanannya dengan sumpit, tiba-tiba saja Shang Ren memakannya padahal ia sama sekali tidak menawarkannya!
”.....”
”Guru besar Shang Ren! Bukankah kau bisa mengambilnya sendiri? Mengapa harus mengambil bagian ku?" Tanya Mu Chen Xiao setelah ia terdiam dengan wajah datarnya saat ia melihat Shang Ren memakan makanannya.
__ADS_1
"Aku hanya menguji apakah makanan ini sehat atau tidak." Jawab Shang Ren saat ia sedang menyeka bibirnya yang terlihat kotor karena bekas makanan.
"Hah? Memangnya apa pedulimu jika makanan yang aku makan ini tidak sehat? Aku yakin guru besar Shang Ren tidak akan melakukan apapun jika aku keracunan." Celetuk Mu Chen Xiao dengan ekspresi tidak pedulinya.
"Kata siapa?" Tanya Shang Ren setelah ia mendengar jawaban dari Mu Chen Xiao. "... Apakah kau mengira kalau aku adalah seseorang yang hanya diam saja ketika terjadi sesuatu? Apakah kau melupakan apa yang telah aku lakukan untuk—"
Shang Ren berhenti mendadak saat ia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakannya sekarang. Ia pun terdiam selama beberapa saat dan membuat Mu Chen Xiao bingung ketika sedang memperhatikannya.
Tidak lama setelahnya, Shang Ren menaruh kembali makanannya dan segera beranjak pergi dari tempat tersebut tanpa sepatah kata apapun.
”Apakah aku salah bicara?” batin Mu Chen Xiao saat melihat Shang Ren berjalan keluar dari kedai tersebut.
Tatapan Zhao Bingyan berubah menjadi dingin saat ia melihat Shang Ren berbicara dengan Mu Chen Xiao tepat di hadapannya. Sebagai kerabat dekatnya, wajar saja jika Zhao Bingyan merasa sedikit waspada terhadap Shang Ren yang telah menyusahkan Mu Chen Xiao untuk berkultivasi seperti murid lainnya. Namun, ia belum mengatakannya pada Mu Chen Xiao dan tetap merahasiakannya hingga saat ini.
"Biarkan saja." Ucap Zhao Bingyan saat ia melihat Mu Chen Xiao yang terus melihat ke arah Shang Ren yang telah berada di luar kedai tersebut.
”Bukankah itu sedikit aneh? Kami berdua memang tidak memiliki hubungan darah apalagi hubungan antara Guru dengan murid. Tapi, sejak dulu dia selalu mendekatiku seperti ini dan apalagi dia pernah melindungiku setiap saat. Apakah dia termasuk salah satu dari sisa keluarga Mu seperti Xing Ruo?” batin Mu Chen Xiao yang memikirkannya.
"Kau jangan berpikir jika Shang Ren berasal dari keluarga Mu. Mereka sudah hancur 13 tahun lalu." Celetuk Zhao Bingyan seolah ia telah membaca seluruh pikiran Mu Chen Xiao saat ini.
"Eh? T,... Tidak. Aku bukan memikirkan hal itu." Ucap Mu Chen Xiao saat ia merasa Zhao Bingyan telah membaca seluruh pikirannya.
Keduanya pun terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya, Zhao Bingyan kembali bertanya, "Apakah kau merindukan keluargamu?" Tanyanya yang membuat Mu Chen Xiao merasa sangat terkejut setelah mendengarnya.
Mu Chen Xiao terdiam sambil terus menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat suram ketika Zhao Bingyan bertanya tentang hal itu. Sebenarnya ia sudah tidak sabar untuk kembali ke sekte dan bertanya pada Xing Ruo apakah masih ada anggota keluarga Mu yang berada di luar sana.
"Aku rasa itu tidak akan terjadi. Bukankah aku pernah mengatakan kalau aku tidak pernah melihat keluarga ku sendiri? Jadi, untuk apa Guru besar bertanya lagi? Sudah jelas jawabannya tidak." Jawab Mu Chen Xiao dengan wajah yang terlihat asam.
__ADS_1
Sementara ini, malam harinya di gurun Gobi tempat terjadinya peperangan antara Yong Fei dengan Luoyang. Yong Qi, Du Yang dan Cheng Xing Xian langsung menyerang tiga wilayah berbeda yaitu Chuye, Lianyu dan Luoyang. Dalam sekejap mereka langsung melumpuhkan seluruh pergerakan dan membuat ketiga wilayah ini berjanji tidak akan menyerang mereka lagi termasuk terlibat apapun yang membuat negara Yong Fei dalam bahaya.
"Ini terlalu mudah! Rasanya mereka tidak mungkin asal menyerah begitu saja. Pasti akan ada perlawanan yang mereka lakukan." Gumam Cheng Xing Xian yang saat ini berada di wilayah Chuye bersama dengan dua ribu pasukan miliknya.
"Lapor Jenderal Cheng Xing!" Seru seorang prajurit yang langsung berlutut di hadapannya dan menyerahkan sebuah surat gulung untuknya. "... Pemimpin wilayah Chuye telah menuliskan surat darah untuk negara Yong Fei. Mereka berjanji tidak akan membuat Yong Fei berada dalam bahaya."
Cheng Xing Xian mengambil surat tersebut lalu membacanya sebentar. Pemimpin wilayah Chuye tampaknya serius akan mengabdi kembali pada negara Yong Fei. Ia benar-benar menggunakan darahnya sendiri untuk menuliskan surat pernyataannya dan tidak menggunakan darah hewan untuk menggantikannya.
"Hmm,... Baiklah. Kita akan segera kembali ke istana Yong Fei dan perketat seluruh penjagaan di sini." Ucap Cheng Xing Xian yang kemudian berjalan meninggalkan tempatnya.
Sementara ini, keadaan di wilayah Luoyang ketika Yong Qi sedang menginterogasi beberapa penduduk yang masih hidup di sana. Ia menatap dingin pada semua orang di sana dan pedangnya ia gantungkan pada pinggang kanannya seperti saat ia akan menebas kepala orang-orang yang berlutut di depannya.
"Katakan padaku mengapa kalian semua berperang dengan kami?! Apa yang kalian inginkan sebenarnya sampai-sampai membuat kami terpojok?!" Ucap Yong Qi dengan tegas dan tatapan dingin yang sepertinya tidak akan lepas dari wajahnya.
"Kami tidak mengetahuinya Yang Mulia! Kami hanya menuruti apa yang pemimpin kami katakan." Jawab salah seorang penduduk yang masih memelihara wajah ketakutannya.
"Lalu? Dimana pemimpin kalian?" Tanya Yong Qi kembali.
"Dia,... Pemimpin kami telah dibunuh oleh seseorang. Tapi, sebelum dia terbunuh, pemimpin kami memberikan surat pernyataan ini untuk Anda." Jawab salah seorang penduduk di hadapannya sambil memberikan sebuah surat darah yang ditulis langsung oleh pemimpin mereka.
Yong Qi menerimanya dan langsung membaca seluruh isi surat tersebut. Rupanya para penduduk Luoyang tidak tahan jika terus mengabdi pada negaranya. Mereka merasa tidak memerlukan seorang pemimpin untuk wilayah mereka. Lalu, terselip sebuah kata yang menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi menyerang mereka dan berjanji bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi.
"Lalu, dimana pemimpin kalian? Bawa aku ke sana!" Perintah Yong Qi yang langsung membuat salah satu dari mereka berdiri dari duduknya dan mengarahkan Yong Qi dan pasukannya menuju tempat pemimpin mereka terbunuh.
Sebuah tempat yang cukup besar dibandingkan dengan bangunan-bangunan lainnya adalah tempat dimana pemimpin mereka berada. Semua penduduk Luoyang bergidik ketakutan saat melihat Yong Qi melintas di depan mereka. Dan saat itu juga, di depan sebuah ruangan yang terbuat dari kayu halus dan batuan marmer, mereka semua berhenti dan penduduk tersebut mengatakan bahwa ini adalah tempat pemimpin mereka.
Setelah ia melihatnya, Yong Qi langsung saja membukanya dan benar saja dengan apa yang dikatakan oleh penduduk tadi. Pemimpin mereka yang tidak lagi memiliki tangan kanan, telah tewas terbunuh dengan luka sayatan besar yang ada pada lehernya.
__ADS_1