
Suara pedang yang berdentang datang dari sebuah kota mati yang telah dipenuhi dengan hantu-hantu kelaparan. Terdapat dua orang yang sekarang ini sedang mengangkat pedangnya dan membunuh satu persatu hantu yang meresahkan mereka semua.
"Cih! Mengapa mereka semua tidak ada habisnya!" Keluh Yan Fengying saat ia melawan para hantu yang menyerangnya secara bergerombol.
Cahaya merah terus berdatangan dari Desa Yi yang sekarang ini telah berubah menjadi medan pertarungan. Kehancuran telah terjadi dimana-mana dan bahkan suara hentakan kaki para hantu tidak berhenti terdengar.
Jin Mifeng yang pernah berguru pada salah satu Arwah Pegunungan Qunya, telah membelah sebuah tanah dan menghancurkan seluruh rumah-rumah yang masih berdiri di sana. Selama ini, belum pernah ada yang bisa mengalahkannya dan bahkan kemampuannya bisa dikatakan setara dengan Yan Fengying.
Ketika kedua orang ini sedang bertarung menggunakan pedangnya, Shang Ren terdiam di belakang mereka dan hanya bisa menghindari seluruh serangan yang dilakukan oleh para hantu terhadapnya.
Selama bertahun-tahun, Shang Ren adalah seorang yang tidak bisa menggunakan pedang dan hanya bisa menggunakan secarik kertas mantra yang tidak bisa melindungi semua orang.
Itu semua disebabkan karena ia kehilangan dantiannya sendiri.
"Merepotkan sekali. Padahal jumlah mereka tidak sampai seratus dan kedua orang ini sudah kewalahan dalam menghadapi mereka. Haruskah aku yang bergerak maju?" Gumam Shang Ren yang memperhatikan.
Setelah ia terdiam selama beberapa saat, Shang Ren melirik pada sebuah tiang salah satu rumah yang masih berdiri kokoh. Pada permukaan tiang tersebut, terdapat sebuah kertas mantra yang melekat dan mantra itu adalah mantra pemanggil hantu.
"Pantas saja jumlah mereka menjadi tidak terhitung. Ternyata di desa ini telah terpasang beberapa mantra pemanggil."
Setelah Shang Ren memperhatikan tulisan yang terbentuk pada kertas tersebut, ia pun akhirnya mengambilnya dan mengubah tulisannya menjadi mantra yang akan mengusir para hantu.
Mantra yang dituliskan olehnya memiliki hawa spiritual yang sangat kuat hingga membuat beberapa mantra pemanggil lainnya hancur ketika dihadapkan dengan mantra pengusir milik Shang Ren.
Beberapa saat setelahnya, para hantu yang sebelumnya telah menyerang mereka bertiga mendadak hilang dan berubah menjadi debu secara bersamaan.
Yan Fengying dan Jin Mifeng yang melihat hal itu sangatlah terkejut dan tidak menduga bahwa semua hantu yang ada di sini akan hilang secara mendadak.
__ADS_1
"Guru besar Shang Ren, apa yang kau lakukan?" Tanya Yan Fengying setelah ia melihat kondisi tanahnya kembali normal dan tidak ada lagi hantu yang menyerang mereka.
"Tidak ada. Aku hanya menggunakan mantra yang sederhana saja. Sepertinya, di desa ini telah terpasang sebuah mantra pemanggil yang membuat para hantu bertebaran dimana-mana." Jelas Shang Ren sambil menunjuk ke arah salah satu rumah yang telah dipasangi oleh mantra miliknya
Jin Mifeng menatap pada salah satu rumah yang ditunjuk oleh Shang Ren dan kemudian melirik ke arah beberapa rumah lainnya yang memiliki sobekan kertas yang telah tertutupi dengan debu. Sobekan kertas tersebut adalah bekas dari mantra pemanggil yang sebelumnya telah terpasang.
”Ternyata dia benar. Mungkin ada beberapa pengguna sihir gelap yang ada di sini.” batin Jin Mifeng yang memperhatikan.
"Berhentilah berbicara yang tidak tidak! Cepatlah! Aku tidak sabar untuk menikam Kaisar mereka!" Ucap Yan Fengying yang langsung memacu kudanya dan berjalan sangat cepat meninggalkan keduanya di tempat yang sama.
Sementara ini, keadaan di Gurun Gobi yang menjadi tempat peperangan antara negara Yong Fei dan Luoyang terjadi. Tepat saat matahari telah tenggelam, Cheng Xing Xian berjaga di wilayah Utara sedangkan Yong Qi berjaga di wilayah Barat dan kelima wilayah lainnya telah dipimpin oleh para Kultivator terpilih yang akan memimpin seribu pasukan termasuk Du Yang.
Orang-orang Luoyang tampak sedang berbaris jauh di depan mereka dan juga terdapat beberapa magical beats yang berada di belakang mereka. Ketegangan mulai terjadi saat masing-masing pemimpin pasukan saling berdiri berhadapan dengan kuda perangnya.
Di wilayah barat telah terjadi beberapa keanehan di sana. Yong Qi menatap dingin ke arah jenderal pasukan Luoyang yang baru saja bergerak maju menghadapnya. Ia merasa sangat marah karena orang-orang ini telah berani menentangnya dan membunuh semua pasukan yang telah disiapkan olehnya.
"Huh! Kau pikir aku Permaisuri yang kerjaannya hanya duduk di atas singgasanaku sendiri?" Ucap Yong Qi dengan senyum seringai yang tidak biasa dan membuat Jenderal Luoyang merasa heran melihatnya.
"Hah! Kau tidak seperti biasanya Yang Mulia! Apakah sekarang kau merasa lebih percaya diri karena kau telah mendapatkan pasukan bantuan?!" Ucap Jenderal Luoyang yang mulai meragukan sifat Yong Qi sekarang ini.
"Kau pikir aku tidak tahu kalau kalian bekerja sama dengan wilayah Chuye dan wilayah Lianyu?!" Ucap Yong Qi dengan keras.
Jenderal Luoyang menyeringai dan berkata, "Yang Mulia pintar sekali. Anda benar-benar mempersulit kami untuk mengalahkan Anda."
Setelah ia mengakhiri kalimatnya, Jenderal Luoyang langsung menghunuskan pedangnya di depan leher Yong Qi dengan ekspresi marah dan merasa jengkel begitu ia mengetahui strategi licik yang dilakukan oleh Yong Qi untuk berperang dengannya.
"Kau bukanlah Permaisuri Yong Qi! Kau pikir aku tidak mengetahui siapa kau sebenarnya?!" Ucapnya dengan dingin dan masih memelihara wajah marahnya saat sedang menatap ke arahnya.
__ADS_1
Pada saat itu juga, Yong Qi tersenyum seringai dan menyentuh ujung pedang Jenderal Luoyang yang sedang dihunuskan padanya.
"Kau pikir, aku tidak tahu kalau kau telah mengirimkan pasukan bayangan untuk memata-matai kami dan mengetahui seluruh rencana kami?" Ucapnya yang kemudian berubah menjadi sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan pedang emas yang menggantung pada pinggang kanannya.
Orang ini adalah Jenderal Du Yang!
"Jenderal ternyata memiliki kemampuan sensor yang sangat baik. Kau bahkan bisa membedakan hawa kekuatan spiritual milikku dengan Permaisuri Yong Qi." Ucap Du Yang dengan senyum seringai yang masih terpelihara di wajahnya.
"Aku pikir kau sedang berjaga di wilayah Timur, Jenderal Du Yang." Jawab Jenderal Luoyang saat ia kembali menurunkan pedangnya.
Du Yang menghela nafasnya dan berkata, "Haah,... Aku sudah tahu. Kau tidak ingin membunuh Permaisuri akan tetapi, kau mengincar seluruh pasukan kami agar kami semua kekurangan pasukan dan menyerah pada kalian."
"Oh, ya? Bagaimana kau mengetahuinya?"
Du Yang menunjuk ke arah seluruh pasukan yang ada di belakang Jenderal Luoyang dan berkata, "Dalam barisanmu, tidak ada satupun magical beats yang kalian miliki. Bukankah biasanya kalian menyerang kami menggunakan hewan-hewan itu? Sudah jelas kalau kalian tidak mencoba untuk menyerang Permaisuri akan tetapi, kalian semua hanya menyerang pasukan-pasukan kami."
Jenderal Luoyang menyeringai dan berkata kembali, "Apakah itu artinya, Jenderal Du Yang membuat Permaisuri Anda sendiri dalam bahaya?"
Du Yang sedikit tertawa dan menjawab, "Tentu saja tidak. Kalian pikir, hanya kalian saja yang memiliki hewan Magical Beats?"
Ketika Du Yang mengakhiri kalimatnya, mereka pun dikejutkan dengan suara dentuman besar yang datang dari arah Utara. Setelah suara itu terdengar, hujan salju pun terjadi dan membekukan para prajurit Luoyang yang saat itu sedang berperang di wilayah Utara.
"Hah?! Tidak mungkin! Hewan apa itu?!" Tanya Jenderal Luoyang yang merasa terkejut setelah serangan tersebut terjadi.
Du Yang tersenyum senang ke arahnya dan menjawab, "Kami meminta bantuan pada seorang pemuda yang lahir di pertengahan musim dingin. Pemuda itu kemudian meminjamkan salah satu Magical Beats terkuat miliknya dan juga para arwah yang ada di pegunungannya untuk berperang melawan kalian."
”Pertengahan musim dingin?! Apa orang itu adalah Zhao Bingyan?!”
__ADS_1