
Wilayah perbatasan kota Xuanzhou.
"Yah, sayang sekali ya Xiao Xiao! Aku tidak bisa menunggangi kuda dan kau juga sepertinya tidak bisa menungganginya karena masih terlalu kecil." Ucap Xun Ji'an dengan riang gembira meskipun sebenarnya dia sendiri tidak tahan lelah dan akan berubah menjadi ular besar jika itu terjadi padanya.
”Aku seperti sedang ditawan oleh predator anak.” batin Mu Chen Xiao yang merasa jengkel karena melihat Xun Ji'an yang sepertinya benar-benar tidak berguna untuknya. Ia bahkan tidak bisa menunggangi kuda dan tidak bisa menggunakan pedang sebagai bentuk perlindungan diri. Jika saja sesuatu yang buruk terjadi, apa yang mungkin Xun Ji'an lakukan untuk mengalahkan mereka.
"Xiao Xiao! Ngomong-ngomong, aku belum terlalu mengerti tentangmu jadi, kau mungkin tidak keberatan untuk menjawabnya, bukan?" Tanya Xun Ji'an yang membuat Mu Chen Xiao terdiam sambil memperhatikannya. "... Jika, Yan-Yan bukan Ayahmu, apakah kamu mengetahui siapa Ayah dan Ibumu? Darimana kamu berasal?"
Mu Chen Xiao tertegun dan ia pun menundukkan kepalanya sedikit. Selama ini, ia tidak pernah melihat wajah Ayah maupun Ibunya. Yang diingatnya sekarang ini adalah, sosok seorang kakek tua penjual kayu bakar yang menemukannya di sungai Luobing dan mengurusnya hingga ia berumur lima tahun. Ia juga tidak pernah menemukan seseorang yang memiliki marga keluarga 'Mu'. Mungkin saja dia satu-satunya yang masih hidup di sini.
"Aku tidak pernah melihat mereka berdua. Sejak bayi aku sudah diasuh oleh seorang penjual kayu bakar dan hidup terlantar selama dua tahun." Jawab Mu Chen Xiao setelah beberapa saat ia terdiam karena mengingat-ingat semua tentang masa lalunya.
Xun Ji'an terdiam dan menatapnya dengan heran. Ia bahkan awalnya tidak menduga kalau masih ada puing-puing keluarga 'Mu' yang dibiarkan hidup oleh Zhao Bingyan dan orang-orang di Sekte Yin Lang. Ternyata hanya kepala keluarga mereka yang tidak waras. Dan karena penyerangan itu, Mu Chen Xiao menjadi yatim piatu dan dia juga kehilangan semua keluarganya.
Xun Ji'an menepuk kepala Mu Chen Xiao dan menatapnya serius ketika ia melihat Mu Chen Xiao yang menunjukkan ekspresi sedihnya. "... Mengapa wajahmu sedih begitu? Bukankah seharusnya kau bersyukur karena tidak menjadi rakyat biasa?" Ucap Xun Ji'an yang mengejutkan Mu Chen Xiao ketika ia mendengarnya.
Mu Chen Xiao melihat ke arah Xun Ji'an yang sedang memberikan tatapan serius dan ia pun mulai merasa kalau Xun Ji'an bisa sedikit waras sedikit meskipun Mu Chen Xiao sedikit aneh ketika mendengarnya. "... Sebenarnya, Gege ini berasal dari mana? Mengapa Gege bisa mengenal Guru besar?" Tanya Mu Chen Xiao yang mulai sedikit penasaran mengapa ia disebut-sebut sebagai leluhur ular.
__ADS_1
^^^哥哥 \= Gege \= Kakak Laki-laki.^^^
Xun Ji'an sedikit tertawa sebelum ia menjawab pertanyaannya, "... Jika aku memberitahukannya, kau juga pasti tidak akan percaya kalau aku ini berasal dari telur ular yang ditemukan oleh Yan-Yan delapan belas tahun lalu."
Mu Chen Xiao terkejut dan hanya bisa terdiam sambil berpikir dalam benaknya. Ia mencoba untuk bertanya-tanya dalam benaknya, ”Apakah ada manusia yang berkembang biak dengan cara bertelur? Bukankah telur ular menetas di dalam tubuh induknya? Lalu kenapa, orang ini lahir dari sebuah telur?”
"J- jika Gege lahir dari sebuah telur lalu, apakah Gege lahir dari perkawinan antara manusia dengan ular? Dan juga, apakah yang Gege alami sejak dulu, juga pernah dialami oleh leluhur Sungai?" Tanya Mu Chen Xiao yang mulai kebingungan dengan orang-orang seperti Xun Ji'an dan para leluhur Sungai yang bisa merubah wujudnya menjadi manusia dan hewan.
Xun Ji'an berpikir sebelum menjawab, "... Sebenarnya kami lahir karena tidak diinginkan. Jika saja ada seekor ular di salah satu rumah penduduk, mereka pasti akan segera mengusirnya ataupun membunuhnya karena dianggap akan mendatangkan marabahaya di sekitar mereka. Karena itulah, aku terlahir untuk mematahkan semua perkataan yang mereka duga-duga. Dan aku juga sangat berbeda dari para leluhur Sungai. Mereka memiliki tempat tinggal dan sangat diberkahi. Sangat jauh berbeda denganku yang tidak memiliki tempat dan sangat dibenci banyak orang."
Karena situasinya yang semakin serius, membuat Xun Ji'an merasa malu setelah menceritakannya. Ia pun memukul punggung Mu Chen Xiao hingga membuatnya goyah dan berkata dengan wajah kegirangan, "Sudahlah! Lupakan apa yang aku katakan tadi! Itu bukan masalah besar karena aku masih memiliki Yan-Yan dan kau juga!"
”Hah? Kenapa namaku juga tersebut olehnya?” batin Mu Chen Xiao yang hanya diam setelah Xun Ji'an memukul punggungnya cukup keras.
[[ Karakter Xun Ji'an mulai tertarik dengan Anda.]]
[[ Sistem memberikan poin C+50 ]]
__ADS_1
[[ Sisa poin akhir +3050 ]]
”Oh, iya. Aku ingat kalau Xun Ji'an hanya karakter pembantu. Sepertinya, selama tahun-tahun ini aku hanya akan mendapatkan poin C dibandingkan saat aku mendapatkan poin dari Zhao Bingyan.” ucap Mu Chen Xiao yang saat ini sedang berbicara dengan sistem yang muncul di depan wajahnya.
...~ Chaos System ~...
...~ Chapter 56 ~...
Jalan Guanya yang ada di pegunungan Jinya. Jalan tersebut ditutupi oleh hutan dengan pohon-pohon besar dan hantu-hantu yang banyak bersembunyi di sana. Seekor burung gagak yang berubah menjadi seorang wanita dengan rambut panjang berwarna hitam dan gaun yang memiliki warna yang sama dengan rambutnya. Kedua bola matanya, memancarkan cahaya kekuatan berwarna ungu dan warna bibir yang sangat merah, membuatnya tampil menyeramkan dibandingkan dengan wanita-wanita yang seumuran dengannya.
Wanita dengan rambut dan pakaian hitam ini, termasuk salah satu arwah pegunungan Jinya berjenis burung gagak dan namanya adalah Xu Wuya.
Saat itu, ketika ia sedang berjaga di gerbang depan pegunungan Jinya. Ia melihat sesosok bayangan hitam yang tiba-tiba memasuki pegunungan mereka dan pastinya orang itu akan membawa masalah bagi kelompok mereka. Dan karena perasaan curiga itulah yang membuat Xu Wuya langsung mengejar bayangan hitam tersebut namun, ia kehilangannya ketika mereka berada di jalan bercabang yang memiliki pohon-pohon besar di sana.
Belakangan ini, kota Jiangyan sering kedatangan hantu-hantu yang kelaparan yang membunuh sebagian dari penduduk kota dan melukai mereka. Hal itu disebabkan karena terhapusnya keluarga 'Mu' dari kota mereka dan pada akhirnya, kota Jiangyan sudah tidak memiliki keluarga besar yang akan melindungi mereka dari serangan hantu-hantu yang berada di luar sana. Istana juga tidak pernah mengurusi mereka karena telah dianggap sebagai kota mati yang sudah lama di tinggalkan padahal, masih ada beberapa orang yang berani hidup di sana. Mereka itu adalah orang-orang yang meminta bantuan pada arwah pegunungan untuk membunuh semua para hantu yang menyerang kota mereka.
Xu Wuya sekarang ini sedang berdiri pada salah satu dahan pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan Guanya yang menghubungkan antara kota Jiangyan dengan kediaman keluarga 'Mu' yang hanya tinggal puing-puingnya saja. Ia begitu memperhatikan sekitar dan berjaga-jaga jika ada sesosok hantu yang mencoba untuk menyerang mereka. ”Hantu-hantu liar itu masih berada di sekitar sini. Jumlah mereka tidak terlalu banyak akan tetapi, kebencian mereka sangatlah besar. Xun Ji'an, aku harap kamu berhati-hati ketika melintas di jalan ini.”
__ADS_1