
Beberapa saat sebelum keberangkatan. Ketika Zhao Bingyan masih berada di dalam kamarnya dan mengurus beberapa buku yang berjatuhan dari dalam raknya. Seseorang mengetuk pintunya dari luar dan membuat Zhao Bingyan tertegun begitu ia melihat ada seseorang yang mencoba untuk berbicara dengannya padahal sebentar lagi ia akan pergi.
"Siapa itu?" Tanya Zhao Bingyan setelah ia mendengar suara tersebut.
"Xing Ruo ingin berbicara dengan Guru besar." Ucapnya dari balik pintu.
Zhao Bingyan terdiam sejenak sambil memperhatikan pintunya sebelum ia menjawab, "Masuklah."
Tidak lama setelah ia mengakhiri kalimatnya, Xing Ruo membuka pintunya dan memasuki kamarnya dengan memperhatikan situasi sekitar yang tampak sepi dan hening.
"Ada apa? Mengapa kau ingin berbicara denganku?" Tanya Zhao Bingyan setelah ia melihat Xing Ruo yang kembali menutup pintunya.
"Aku dengar, Guru besar akan melakukan penugasan istana bersama dengan Tuan muda Mu dan Nona Ying."
"Lalu kenapa?"
Setelah ia mengakhiri kalimatnya, Xing Ruo segera berjalan menghampirinya dan berlutut di hadapannya seperti ingin memohon sesuatu.
"Guru besar Zhao! Tolong libatkan aku dalam penugasan kali ini!" Ucap Xing Ruo dengan nada memohon.
Zhao Bingyan yang mendengar dan melihatnya berlutut di hadapannya merasa sangat terkejut karena selama ini, tidak ada seorangpun murid yang ingin meluangkan waktunya untuk melakukan penugasan istana. Biasanya ia akan menunjuk orang-orang tertentu dan akan memaksanya jika murid itu menolak.
"Jangan merendahkan dirimu!" Ucap Zhao Bingyan saat ia mencoba membuat berdiri Xing Ruo yang telah berlutut di hadapannya. "... Bagaimanapun juga, aku telah menyuruh Mu Chen Xiao dan Ying Tian dalam penugasan kali ini dan hanya bisa dua orang murid yang terlibat."
Xing Ruo mengangkat kepalanya kembali dan secara spontan ia berkata, "Tapi, Guru besar! Apakah aku tidak bisa menggantikan Nona Ying dalam penugasan kali ini?"
Selama beberapa tahun ini, Xing Ruo tidak pernah jauh dari Mu Chen Xiao. Ia selalu melindunginya setiap saat dan menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Zhao Bingyan bahkan sampai mengira jika Xing Ruo sebenarnya berasal dari keluarga Mu. Karena tidak mungkin ada seseorang yang mengorbankan nyawanya sendiri hanya karena ingin melindungi seseorang yang tidak ada hubungannya.
__ADS_1
"Xing Ruo! Apakah kau berasal dari keluarga Mu?" Tanya Zhao Bingyan dengan wajah prihatin saat menatapnya.
Mendengar pertanyaan itu, Xing Ruo sangat terkejut bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Laki-laki itu pernah bilang agar ia merahasiakan nama keluarganya. Namun, jika ia tidak bisa merahasiakannya orang itu akan segera membunuhnya.
"Tidak, Guru besar! Murid ini bukan berasal dari keluarga Mu." Jawab Xing Ruo dengan nada merendah dan wajah yang terlihat gemetar saat ia mengingat kembali apa yang dikatakan laki-laki itu padanya.
"Lalu, apa rencana mu saat ini? Apakah kau memiliki alasan mengapa kau terus saja melindungi Mu Chen Xiao?" Tanya Zhao Bingyan yang mulai serius menatapnya.
Hal ini mungkin akan bertambah buruk jika saja Xing Ruo mengatakan hal yang sebenarnya. Ia tidak bisa mengatakan alasan mengapa ia selalu saja melindungi Mu Chen Xiao dan selalu berdiri di sebelahnya jika saja ia tidak siap untuk menerima serangan dari musuhnya. Ia melakukan ini karena perintah dari tuannya dan agar ia bisa hidup lebih lama lagi.
"Maafkan atas kelancangan murid ini. Jika Guru besar menolak, maka aku akan segera keluar." Ucap Xing Ruo dengan suara yang terdengar gemetar karena ia terus ditanya hal-hal yang seharusnya tidak dijawab olehnya.
Setelah ia mengakhiri kalimatnya, Xing Ruo segera berdiri kembali dan berjalan keluar kamar Zhao Bingyan dengan wajah yang terlihat pucat.
"Tunggu! Xing Ruo!" Seru Zhao Bingyan yang berhasil membuat Xing Ruo berhenti berjalan saat ia akan membuka pintunya. "... Kau tidak diperbolehkan keluar dari Sekte sampai aku kembali dan jika kau memiliki masalah yang besar atau ada seseorang yang mengancam mu, kau bisa menceritakannya padaku." Ucap Zhao Bingyan kembali.
Xing Ruo terdiam dan tidak berekspresi saat Zhao Bingyan mengatakan hal itu padanya. Ia sama sekali tidak terlihat senang ketika mendengar Zhao Bingyan yang mencoba untuk mempedulikannya padahal, sebenarnya ia tidak pernah mengkhawatirkan keadaan murid-muridnya yang banyak itu.
Setelah Xing Ruo pergi meninggalkan kamarnya, Zhao Bingyan yang masih memandangi pintunya terus memikirkan tentang hubungan keduanya. Mungkin saja selama ini ia tidak mengetahui rencana apa saja yang sudah disiapkan oleh pihak lawan untuk menghancurkannya. Ia juga sangat yakin jika Xing Ruo terpaksa melakukan itu semua karena seseorang telah mengancam nyawanya.
”Mungkinkah Shang Ren yang telah merencanakan semuanya?”
...~ Chaos System ~ ...
...~ Chapter 109 ~ ...
Gerbang Utara Sekte Hua Jian.
__ADS_1
"Lama sekali! Mau sampai kapan aku menunggunya di sini?!" Keluh Mu Chen Xiao di atas kudanya setelah menunggu Zhao Bingyan selama 30 menit.
"Hah! Menyebalkan sekali! Mengapa aku harus terlibat dengannya?!" Ucap Ying Tian dengan kesal setelah ia mendapatkan kabar bahwa ia akan melakukan penugasan bersama Mu Chen Xiao dan Zhao Bingyan.
"Hah? Kau tidak senang jika harus melakukannya dengan Guru besar?" Tanya Mu Chen Xiao setelah ia mendengar Ying Tian berbicara yang ucapannya merujuk pada seseorang.
Ying Tian menatap tajam ke arahnya dan berkata, "Kenapa tidak mati saja sana!" Ucapnya yang berhasil membuat Mu Chen Xiao terdiam tidak berekspresi menatapnya.
"Tuan muda Mu!" Seru seorang pemuda yang sekarang ini sedang berada di sebelah kuda tunggangannya.
Mu Chen Xiao menoleh ke kanan dan ia melihat Xing Ruo yang sekarang ini telah berdiri di sebelahnya dengan tangan kanan yang menggenggam sesuatu.
"Ruo Gege? Ada apa? Apakah kau mencariku?" Tanya Mu Chen Xiao setelah ia melihat Xing Ruo yang telah berdiri di sebelahnya.
Xing Ruo tersenyum ramah menatapnya dan menjawab, "Tidak ada. Aku kemari hanya untuk memberikan sesuatu untuk Tuan muda." Ucapnya sambil menaruh sebuah kantong kecil di atas tangan Mu Chen Xiao.
Kantong kecil yang diberikan olehnya, mirip sekali dengan sebuah jimat pelindung yang biasa dikalungkan pada seorang bayi yang baru lahir. Tujuannya adalah untuk melindungi si bayi dari gangguan arwah-arwah jahat yang berusaha mempengaruhinya.
"Benda apa ini?" Tanya Mu Chen Xiao dengan heran setelah Xing Ruo memberikan kantong tersebut padanya.
Xing Ruo tersenyum gemetar dan menjawab, "Bukan apa-apa. Tapi, aku berharap benda itu bisa melindungi Tuan muda."
Mu Chen Xiao merasa bingung setelah Xing Ruo menjelaskan hal itu padanya. Ia hanya bisa memikirkan bagaimana sebuah kantong kosong yang ringan seperti ini dapat melindunginya di sepanjang jalan nanti.
"Ahh,... Tidak perlu!" Ucap Mu Chen Xiao yang langsung menolak pemberian Xing Ruo. "... Aku pasti baik-baik saja di sana."
Namun, ketika ia mencoba untuk mengembalikannya, Xing Ruo menolaknya kembali dan berkata, "Tolong Tuan muda menerimanya. Aku akan merasa senang jika Tuan muda menerimanya."
__ADS_1
Karena Xing Ruo begitu memaksanya untuk tetap menerimanya, Mu Chen Xiao akhirnya menyimpannya di balik pakaiannya dan berkata, "Baiklah, aku akan menyimpannya. Tapi, mengapa Ruo Gege memberikannya padaku? Apa yang tersimpan di dalam kantong kecil ini?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin Tuan muda mau menerimanya." Jawab Xing Ruo yang terlihat tersenyum pahit saat ia memberikannya.