Chaos System

Chaos System
Chapter. 134 - Pertarungan Antar Saudara


__ADS_3

"Sudah kubilang aku tidak akan pernah mempelajarinya! Lagipula apa untungnya untukku?" Ucap Mu Chen Xiao saat ia masih berada di dalam rumah kumuh tempat ia menemukan sebuah buku sihir gelap.


[[ Jika Anda tidak mempelajarinya, Anda tidak akan bisa mengalahkan karakter utama Zhao Bingyan ]]


"Katakan alasannya mengapa aku harus menggunakan sihir gelap untuk membunuhnya? Apakah ada semacam jurus rahasia yang dia pelajari agar aku tidak akan bisa membunuhnya?" Tanya Mu Chen Xiao dengan malas.


[[ Anda tidak lagi berada di dalam sistem transmigrasi. Sistem kekacauan sudah dimulai sejak Anda menemui karakter utama Mu Chou Ran ]]


[[ Sistem ini mengharuskan Anda untuk mempelajari sihir gelap dan mengacaukan segalanya yang ada di sekitar Anda ]]


"Hah? Kau menyuruhku untuk menjadi seorang penjahat?" Tanya Mu Chen Xiao dengan terkejut setelah ia mendengar hal itu.


[[ Karena sejak awal Anda memiliki tujuan untuk membunuh karakter utama Zhao Bingyan ]]


[[ Kata kunci : Anjing Penjilat Zhao Bingyan ]]


Mu Chen Xiao terdiam selama beberapa saat setelah ia melihat hal tersebut terjadi. "... Ya! Aku memang mengatakannya tapi, apakah aku tidak bisa menggunakan cara baik-baik untuk membunuhnya?"


[[ Seharusnya Anda akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan. Apakah Anda sudah melupakan tujuan Anda saat berada di tempat ini? Karakter Mu Chen Xiao yang asli pasti akan sangat membenci Anda ]]


”Kenapa aku bisa dinasehati oleh teknologi yang dibuat oleh manusia?” batin Mu Chen Xiao yang merasa telah dinasehati oleh sistemnya.


Diwaktu yang bersamaan. Seseorang yang tidak sanggup berdiri, bertahan dengan sebuah pedang yang tertancap di atas tanah yang menggenang. Dia memiliki darah kering yang sebelumnya telah mengalir di bawah bibirnya. Pemuda ini memiliki luka di sekujur tubuhnya dan kaki kanannya telah patah karena pertarungan yang terjadi sebelumnya.


”Aku tidak menyangka akan bertarung dengannya seperti ini! Orang ini, benar-benar ingin membunuh keluarganya sendiri!” batin Zhao Wei Lu dengan kesal saat ia melihat kondisinya lebih parah dibandingkan dengan Zhao Bingyan yang telah berdiri tidak jauh di depannya.


Setelah pertarungannya itu, Zhao Wei Lu tanpa sengaja menghancurkan pedangnya yang diberikan pada keluarganya sendiri. Alhasil ia bertarung dengan menggunakan sebuah pedang yang tinggal setengah melawan Zhao Bingyan yang kemampuannya sangat jauh dari miliknya.

__ADS_1


"Ada apa adik Zhao? Apakah kau akan menyerah di titik ini? Lihatlah! Bagaimana kau bisa memenangkan pertarungan ini dengan hanya menggunakan pedang yang tinggal setengah?!" Cibir Zhao Bingyan saat ia melihat keadaan Zhao Wei Lu yang sedang berdiri timpang.


"Bagaimana dengan dirimu sendiri?! Apakah kau tidak akan kembali ke Sekte dan mengurus murid-murid yang tidak pernah kau pedulikan?!" Tanya balik Zhao Wei Lu dengan ekspresi marah karena sangat ingin menampar wajah Zhao Bingyan yang terlihat lebih menyebalkan dibandingkan dengan yang lain.


Zhao Bingyan tersenyum seringai saat ia sedang menutupi pandangannya. "... Tentu saja aku akan kembali. Tapi, setelah aku membunuh anak yang telah menghantuiku selama ini." Jawabnya dengan dingin sehingga membuat Zhao Wei Lu merasa terkejut dengan perkataannya.


"Kau benar-benar ingin membunuhnya? Bukankah kau sendiri yang telah menyelamatkannya dan kau juga telah berhutang nyawa padanya?!" Bentak Zhao Wei Lu yang sangat marah.


Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba saja Zhao Bingyan kembali merasakan sakit kepala yang sangat luar biasa dibandingkan dengan biasanya. Ia pun terduduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.


”Yan'er,... Tidak ada yang bisa menghalangimu untuk berjalan maju.” bisik seorang hantu wanita di belakangnya.


"Berisik! Berhentilah menggangguku!" Teriak Zhao Bingyan di hadapan Zhao Wei Lu sehingga hal itu membuatnya khawatir saat melihatnya.


"Yan Gege! Berhentilah melawan dan kembalilah ke sekte!" Bentak Zhao Wei Lu saat ia sedang berlari menghampiri Zhao Bingyan yang sedang terpojok karena bisikan wanita tadi.


Ketika pedang tersebut menancap di tubuhnya, Zhao Wei Lu kembali memuntahkan darah dari dalam tubuhnya. Kedua kakinya juga ikut melemas dan pandangannya semakin menghitam ketika Zhao Bingyan melepaskan kembali pedangnya.


Ketika rasa sakitnya semakin menghilangkan kesadarannya, Zhao Wei Lu meremas pundak Zhao Bingyan dengan kuat.


"J~ jangan sakiti Mu Chen Xiao. Kau akan mati jika melakukannya." Ucap Zhao Wei Lu dengan nada terbata-bata sebelum akhirnya ia kehilangan semua kesadarannya.


Setelah ia menusuk Zhao Wei Lu, pandangan Zhao Bingyan tetap mengarah ke depan tanpa sedikitpun melihat ke arah Zhao Wei Lu yang ada di bawah kakinya. Dan lagi-lagi, bayangan wanita itu kembali terlihat di hadapannya. Orang itu, sedang tersenyum seringai seolah-olah ia sangat menyukai apa yang dilakukan Zhao Bingyan tadi.


”Tidak ada yang bisa menghalangimu.” ucap wanita tersebut dengan dingin dan tawa sinisnya saat sedang menatapnya.


Tidak lama setelahnya, ia pun berdiri kembali dan meninggalkan Zhao Wei Lu dalam posisi yang sama seperti tadi. Zhao Bingyan membiarkan seekor kuda milik Zhao Wei Lu tetap berada di tempatnya dan ia pun kembali pergi meninggalkan tempat tersebut menuju kota Qianlu yang jaraknya tidak jauh lagi.

__ADS_1


Sementara ini, di waktu bersamaan di kediaman keluarga Mu, kota Qianlu. Mu Chou Ran terlihat sedang mengawasi beberapa anggota keluarga luas yang melakukan pelatihan secara bersamaan. Selama ia berpura-pura menjadi Shang Ren yang berperan sebagai Guru besar sekte Yin Lang, ia mendapatkan begitu banyak perubahan yang dialami olehnya. Mu Chou Ran yang awalnya tidak mempedulikan anggota keluarganya, berubah menjadi seseorang yang perhatian terhadap mereka.


"Sudah cukup! Berlatihlah lebih baik lagi!" Ucap Mu Chou Ran saat ia telah selesai memperhatikan mereka semua berlatih di hadapannya.


Tidak lama setelahnya, ia pun pergi meninggalkan tempat duduknya menuju ruangannya kembali. Namun, saat ia akan kembali ke ruangannya tiba-tiba saja Xing Ruo berlari dan menghentikannya berjalan.


"Ada apa?" Tanya Mu Chou Ran saat berhadapan dengan Xing Ruo di depannya.


"Apakah Tuan besar akan membebaskan Tuan muda untuk melakukan apa saja yang diinginkannya? Bagaimana jika Tuan muda berniat untuk pergi dari kota ini?" Tanya Xing Ruo dengan wajah yang tampaknya sangat mengkhawatirkan Tuan mudanya.


Mu Chou Ran berkedip selama beberapa saat dan menjawab, "Aku sudah memasang mantra penghalang agar dia tidak pergi kemana-mana. Memangnya apa yang membuatmu ketakutan seperti itu?"


"Jika menurut Tuan besar aku seperti sedang mengkhawatirkannya. Bisakah aku kembali menjadi pelayan untuk Tuan muda agar aku bisa melindunginya dari dekat?" Celetuk Xing Ruo sambil berlutut di hadapan Mu Chou Ran yang keheranan saat melihatnya.


"Kenapa? Apakah kau tidak menginginkan kebebasan yang aku berikan padamu?" Tanya Mu Chou Ran kembali.


Xing Ruo terdiam selama beberapa saat sebelum ia berkata kembali, "Karena Tuan besar telah menyelamatkanku berulang kali maka, sebagai balasannya aku akan menjadi pelayan setia untuk tuan muda dan melindunginya."


Mu Chou Ran tidak berekspresi saat ia mendengar jawaban tersebut. "... Tidak perlu melakukannya lagi. Aku yakin dia sudah bisa melakukannya sendiri. Jika dia terus berlindung di belakangmu, kau pikir dia tidak akan menjadi pribadi yang selalu mengandalkan orang lain?" Tanyanya yang membuat Xing Ruo tersentak saat mendengarnya.


"Pelayan ini mengerti. Aku akan melakukan apa yang Tuan besar inginkan." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Lalu, dua hari kemudian. Seorang pemuda berpakaian putih, sedang berdiri di depan pintu masuk menuju kota Qianlu yang sudah ada di hadapannya. Ia datang dengan pakaian yang berlumuran darah dan pedang yang masih sangat tajam meskipun sebelumnya telah berbenturan dengan batu.


Pemuda ini telah melakukan perjalanan panjang selama empat hari tanpa berhenti dan ia pun akhirnya sampai di tempat tujuannya. Dia tersenyum seringai saat ia mengetahui bahwa targetnya sedang berada di dekatnya dan ia hanya harus menghancurkan mantra penghalang yang sebelumnya telah dipasang oleh Mu Chou Ran.


"Sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal." Ucap Zhao Bingyan dengan senyum seringai dan tawa sinisnya saat ia masih berdiri di tempat yang sama.

__ADS_1


__ADS_2