Chaos System

Chaos System
Chapter. 28 - Getaran Lembah Dao Xun


__ADS_3

Lembah Dao Xun, reruntuhan istana raja pertama Xingyue, Mu Quan Shi dua ratus tahun lalu, wilayah kekuasaan Sekte Hua Jian.


Sekelompok pasukan berkuda, datang dengan membawa pedang ditangan mereka masing-masing dan seluruhnya memakai baju zirah berlogo dinasti Zhang.


Beberapa hari yang lalu, muncul sebuah kabar yang mengatakan kalau aura kejam Raja Xingyue muncul kembali di lembah Dao Xun. Beberapa pedagang yang melewati jalan ini, mengaku sering kali di serang oleh pasukan-pasukan dari Keempat raja Xingyue yang memiliki bentuk seperti mayat tanpa daging dan darah.


Para pasukan-pasukan ini menyerang tanpa ampun dan melukai beberapa dari pedagang tersebut sebelum akhirnya para pasukan kekaisaran Zhang datang dan membunuh mayat-mayat tersebut.


Kaisar dinasti Zhang, memiliki sebuah nama kecil yang jarang sekali disebut oleh orang-orang dan bahkan keluarganya sendiri semenjak ia menjabat sebagai Kaisar bagi keempat wilayah. Mereka memanggilnya dengan sebutan, Nan Wu dan nama resminya adalah Zhang Shen Long.


Begitu berita tentang lembah Dao Xun tersampaikan padanya, Zhang Shen Long langsung saja memerintahkan sebagian dari bala tentaranya untuk segera mengepung lembah Dao Xun dan menangkap hantu-hantu yang ada di sana termasuk sisa-sisa kesadaran spiritual Raja Mu Quan Shi yang masih ada di singgasananya.


Dan akhirnya, hal ini pun terjadi dengan perginya lima puluh pasukan tentara elit yang dikirim untuk menangkap hantu-hantu yang ada di sana termasuk sisa kesadaran spiritual milik Mu Quan Shi.


"Jenderal Zhu! Mengapa kita tidak menghancurkan reruntuhan istana raja pertama Xingyue agar hal ini tidak terjadi lagi?" Tanya seorang prajurit yang menunggangi kudanya di belakang seorang jenderal yang dia sebut sebagai jenderal Zhu.


Jenderal Zhu terbatuk pelan sambil memperhatikan reruntuhan istana yang terlihat sangat kotor dan tidak terurus selama ratusan tahun. Ia pun memusatkan perhatiannya pada sebuah bangunan besar yang tampak terlihat kokoh meskipun bentengnya terlihat sangat rapuh dan sebagian telah runtuh, mengikis bersama air hujan.


"Dua ratus tahun lalu, para Kultivator hanya memiliki keinginan untuk membunuh keempat raja Xingyue yang menguasai keempat wilayah yang berbeda-beda. Keempat wilayah itu adalah wilayah Gunung Long Yu, Nian Gu, Yin Lang dan Hua Jian. Peperangan itupun akhirnya terjadi dan dimenangkan oleh para Kultivator. Namun, meskipun mereka berhasil membunuh keempat raja Xingyue, mereka tidak bisa membunuh kebencian raja mereka termasuk pada tentaranya yang ikut gugur bersamanya. Alhasil, meskipun reruntuhan ini dihancurkan, apa yang mereka lakukan pasti akan berbuah sia-sia. Mereka hanya akan membunuh material yang mereka miliki namun, kebencian itu tidak bisa mereka lihat namun bisa mereka rasakan. Jika hal itu memang terjadi, para arwah di sini akan marah dan menghantui keempat wilayah." Jelas jenderal Zhu terhadap para pasukannya.


"Lalu, bagaimana dengan reruntuhan istana raja Xingyue yang ada di wilayah lain? Bukankah jika satu saja sudah menunjukkan titik kebencian, ketiga raja lainnya juga akan melakukan hal yang sama?”


Tepat ketika prajurit tersebut mengakhiri kalimatnya, tiba-tiba saja tanah yang mereka injak saat ini mendadak bergetar hebat dan meruntuhkan beberapa reruntuhan yang telah lapuk terkena air. Dan semakin lama, getaran tersebut semakin besar dan semakin terasa hingga membuat kuda tunggangan mereka bergidik ketakutan. Reruntuhan tersebut berada di bahwa bukit-bukit yang saling mengawasi dan sewaktu-waktu akan mengalami longsor dan menenggelamkan orang-orang yang berpijak di bawahnya.


Jenderal Zhu menatap sekitar dan mulai merasa kalau ada sesuatu yang aneh di sini. Firasatnya mengatakan kalau ada hal buruk yang akan menimpa mereka. Getaran tanah terus saja bermunculan dan membuat kuda-kuda tunggangan mereka menghentakkan kakinya berulang kali.


"Jangan-jangan, para pedagang itu berbohong. Kami belum menemukan satupun mayat yang ada di sini. Semua hanya berbentuk tumpukan batu. Apakah Yang Mulia sengaja menjadikan kami sebagai umpan?" Gumam Jenderal Zhu yang tidak henti memperhatikan sekitar.


"Jenderal Zhu! Bukit yang ada di kanan Anda!" Teriak seorang prajurit sambil menunjuk ke arah sebuah bukit yang ada di sisi kanan Jenderal Zhu.


Selama getaran terjadi, bukit-bukit yang ada di sisi kanan dan kiri mereka, keduanya saling menghancurkan satu sama lain. Dan bukit yang ada di sayap kanan pun, akhirnya runtuh dan terjadi sebuah longsor yang membawa material bebatuan besar yang akan menimpa mereka.


"Pergi! Tinggalkan tugas!" Teriak Jenderal Zhu yang langsung menarik kudanya kembali dan pergi dari tempat tersebut sambil menggiring beberapa pasukannya yang masih hanya diam di sana.


Seluruh pasukan akhirnya bergerak mundur dengan jenderal mereka yang masih berada di barisan paling belakang, mengawasi setiap gerak-gerik yang mencurigakan.


Dan ketika mereka hampir sampai di luar, tiba-tiba saja salah satu prajurit berhenti melangkah. Ia seolah-olah membatu di tempat yang sama sambil memandangi wajah seorang gadis remaja yang saat ini sedang berdiri di atas sebuah gundukan batu, sedang memainkan sebuah sitar dengan merdu.

__ADS_1


Gadis itu terlihat cantik dengan rambut putih yang melayang indah terbawa hembusan angin lembut. Sorot matanya begitu menggoda dan kulitnya memiliki warna yang setara dengan salju, membuat siapapun laki-laki yang melihatnya akan merasa tergoda padanya.


”Dia adalah hantu Lembah Dao Xun, Su Lingyu! Jangan menatap matanya!" Teriak Jenderal Zhu yang langsung menarik tangan prajurit tersebut menjauhi hantu Su Lingyu yang masih memainkan sitarnya.


”Yi (satu), Erl (dua),... San (tiga). Waktu eksekusi dimulai." Ucap Su Lingyu yang suaranya terdengar serak dan samar-samar di telinga mereka.


Setelah dia mengakhiri kalimatnya, Su Lingyu memainkan sitarnya lebih keras dan lebih tinggi. Jari jemarinya begitu terampil dalam memindahkan senarnya dan hembusan energi spiritual yang jahat pun mulai menyebar ke seluruh tempat di lembah tersebut.


"Darah dibalas dengan darah, mata dibalas dengan mata dan nyawa dibalas dengan nyawa. Rajaku telah berjuang untuk menyeimbangkan wilayah dan bertarung dengan ketiga raja Xingyue lainnya demi melindungi rakyatnya. Kau pikir aku akan membiarkan kalian pergi setelah kalian mengganggu makam rajaku?!”


Semakin keras permainan sitar Su Lingyu, semakin kacau pula lembah Dao Xun. Bebatuan besar jatuh dari puncak lembah dan tanah-tanah yang mereka pijak berubah menjadi merah dan tulang belulang manusia pun muncul dari dalam tanah! Para pasukan-pasukan mayat hidup ini, langsung saja menyerang para pasukan Istana dengan pedang yang mereka bawa di tangannya masing-masing.


"Temui lah rajaku dan minta maaflah padanya!"


...~ How To Survive A Prospective Corpse ~...


...~ Chapter 28 ~...


Keesokan harinya, air terjun Sungai Rongye.


"Fokuslah sedikit! Jangan banyak berpikir ketika kau sedang membentuk titik awal Kultivasi mu!" Bentak Zhao Bingyan setelah dia memukul punggung Mu Chen Xiao menggunakan sebatang kayu yang ia temukan di dalam hutan.


"Aduh duh,... Bisakah memperlakukanku dengan baik lagi? Bisa-bisa punggung ku akan patah sebelum membentuk titik awal." Ucap Mu Chen Xiao sambil memegangi punggungnya yang terasa panas setelah dipukuli sebanyak lima kali.


Zhao Bingyan melipat tangannya dan berkata, "Kamu masih beruntung karena akulah yang mengajarimu. Jika saja kamu tahu bagaimana rasanya diajari oleh arwah pegunungan, pasti kau akan bersyukur karena kau hanya dipukul menggunakan kayu dan bukan ditusuk dengan bara api."


”Zhao Bingyan tidak diajari dengan si tua bangka itu?!” batin Mu Chen Xiao yang tertegun mendengarnya dan langsung menoleh ke arah Zhao Bingyan sebelum dia bertanya, "Mengapa Guru besar memilih untuk diajari oleh arwah pegunungan dan tidak pada manusia?"


Zhao Bingyan menundukkan ekspresinya dan menjawab, "Karena dulu adalah tempat peperangan dan bukannya tempat pelatihan."


”Jika diingat lagi, sekarang adalah tahun ke-15 dinasti Zhang. Itu artinya, lima belas tahun lalu adalah tempat peperangan antara keluarga Zhang dengan keluarga Yan. Mereka berperang karena memperebutkan takhta kerajaan.” batin Mu Chen Xiao yang mencoba untuk mengingat-ingat kembali.


"Hei! Kenapa kamu malah mewawancarai ku padahal aku sedang melatihmu. Lakukan dengan benar dan aku tidak akan memukulmu!" Ucap Zhao Bingyan secara tiba-tiba mengatakan hal itu padanya.


"Guru besar! Ini lebih sulit daripada sebelumnya. Kemarin-kemarin, rasanya aku bisa dengan mudah membentuk titik awal Kultivasi ku sampai level dua alam bumi bahkan tanpa bantuan siapapun. Tapi, kenapa sekarang rasanya sangat sulit dilakukan?" Ucap Mu Chen Xiao yang mencoba untuk mencari alasan agar ia bisa pergi dari tempat berlatihnya saat ini.


"Bagaimanapun kamu harus segera membentuk kembali titik awal Kultivasimu yang hancur itu. Jika tidak, aku terpaksa menjadikanmu pelayan di rumah besar keluarga Zhao."

__ADS_1


”Pelayan rumahan?! Apa yang dia maksud adalah pembantu rumah tangga?” batin Mu Chen Xiao yang terlihat pasrah mendengarnya.


"Guru besar Zhao! Ada seorang utusan Istana yang meminta agar Guru besar segera menemuinya!" Ucap seorang pemuda yang berlari dengan terburu-buru untuk menemuinya di sungai Rongye.


"Wah, kalau begitu aku terpaksa menunda pelatihannya." Ucap Zhao Bingyan kembali sambil melihat ke arah pemuda yang saat ini sedang berlari menghampirinya.


”Kesempatan bagus untuk kabur!” batin Mu Chen Xiao yang mendadak gembira begitu berita bagus ini terdengar di telinganya.


Zhao Bingyan mengambil sesuatu dari balik pakaiannya dan menunjukkan sebuah mantra kertas yang biasa ia gunakan untuk menahan seseorang. Ketika ia hendak pergi, Zhao Bingyan melepas mantra di tangannya dan membuat sebuah dinding penghalang transparan yang membuat Mu Chen Xiao tidak bisa pergi dari tempat tersebut.


”Eh,...?”


Zhao Bingyan yang telah selesai melepaskan mantranya, melirik ke arah Mu Chen Xiao yang masih diam dengan ekspresi kebingungannya. "Aku tahu kamu akan pergi dari tempat ini selagi aku menemui utusan Istana. Jadi, aku sudah memasang mantra penghalang agar kamu tidak kabur dari sini."


"Tapi Guru! Aku tidak bisa di sini terus! Aku punya kehidupan!"


Zhao Bingyan mengabaikan perkataannya dan pergi bersama dengan pemuda yang sebelumnya telah repot-repot menemuinya seolah-olah, dia sedang menganggap Mu Chen Xiao ini sebagai angin yang berhembus.


"Zhao Bingyan sial—! Beg—! To—! Ku bunuh kau!" Teriak Mu Chen Xiao ketika Zhao Bingyan sudah pergi menjauh dari tempatnya.


"Hei, siapa anak itu? Aku baru pertama kali melihatnya."


"Sepertinya dia bukan anak yang baik-baik."


Mendengar suara ini, membuat Mu Chen Xiao merasa heran karena seharusnya, tidak ada seorangpun yang saat ini sedang bersamanya. Dia hanya bersama dengan sungai yang ada di belakangnya dan sejak tadi, ia tidak bersama siapapun selain Zhao Bingyan yang sedang melatihnya tadi.


Dengan cepat, Mu Chen Xiao menoleh ke belakang namun, ia tidak melihat ada seorangpun yang ada di belakangnya. Hmm, itu aneh. Rasanya tadi ada yang sedang berbicara di sana. Mungkinkah hanya imajinasiku saja yang ketinggian?


"Hei nak! Lihatlah kemari! Bagaimana kau bisa mengenal Yan'er sedekat itu?"


Suara ini kembali terdengar dan membuat Mu Chen Xiao semakin penasaran siapa yang saat ini sedang mencoba untuk berbicara dengannya. Ia pun menoleh ke arah hutan dan ke puncak air terjun, namun ia masih belum menemukan siapapun sampai pada akhirnya, ia menundukkan kepalanya ke arah sungai.


Dua ekor ikan biasa yang saat ini berada di permukaan, sedang melihat ke arahnya. Mu Chen Xiao menatap bingung dan merasa heran mengapa, dia bisa berbicara dengan ikan-ikan yang ada di sungai.


"Ah, aku pasti sudah gila. Sebaiknya, aku abaikan saja mereka berdua.” batin Mu Chen Xiao yang langsung berbalik arah meninggalkan kedua ekor ikan yang berusaha untuk berbicara dengannya.


"Hei tunggu! Kami ingin berbicara denganmu!"

__ADS_1


__ADS_2