
Melihat suami nya menghajar orang itu dengan membabi buta,membuat Milka khawatir,ia khawatir jika suami nya lepas kendali.
"b******k,ba*****n,si*LAN."umpatan kata-kata kasar keluar dari mulut Arion.
Entah kenapa emosi nya begitu meledak-ledak melihat orang itu,bahkan ia sudah lama mencari keberadaan nya,tapi tidak pernah membuahkan hasil.
Milka mendengar umpatan suami nya,hanya bisa mengerutkan kening nya,ia merasa suami nya begitu membenci bahkan seakan ingin membunuh nya saat itu juga.
Namun,ia segera tersadar setelah mendengar suara benda terjatuh,dan ia terkejut melihat nya.
Ia tak ingin suami nya,jika sampai membunuh orang itu,apalagi sekarang ia sedang mengandung,jika saja kalau keadaan nya ia sedang tidak mengandung,ia akan membiarkan nya.
"stop."teriak Milka dingin,namun Arion yang sudah di kuasai amarah tidak menggubris perkataan Milka.
Melihat suami nya tak terkendali,mengharuskan Milka menghampiri nya.
"sayang"panggil Milka lembut,tanpa di duga,seketika Arion berhenti dengan nafas memburu,karena emosi yang tadi nya meledak-ledak seakan menguap entah kemana.
"sayang"panggil Arion parau,ia seakan ingin meluapkan emosi nya di pelukan istri nya.
"ssstt,tenanglah."ucap Milka menenangkan,Milka segera membawa nya ke luar dari gedung itu menuju mobil nya.
Sebelum itu Milka,memerintahkan Jack untuk membawa orang itu ke tempat biasa.
Setelah masuk ke dalam mobil,ia melihat suami nya sedang melamun,bahkan wajah nya terlihat menyedihkan.
Milka yang melihat itu tak tega,ia mencoba menggenggam tangan Arion lembut.
"jangan di pendam sendiri,ceritakan semua nya,supaya tenang."bujuk Milka supaya suami nya dapat mencerita kan masalah nya.
Mendengar itu membuat Arion menyandarkan kepala nya di bahu Milka,dengan tangan nya memeluk pinggang Milka.
Tak berapa lama terdengar,suara Isak tangis Arion,Milka yang mendengar pun merasa sakit hati nya,entah kenapa,,entah karna sedih mendengar nya,atau memang sedang sensitif karna lagi mengandung.
"sst,ada apa hm,coba bicara pelan-pelan"Milka terus saja membujuk Arion agar mencerita kan sesuatu.
"sebentar saja,aku ingin seperti ini."ucap Arion dengan suara serak nya.
"hmm,baiklah"ucap Milka lembut,sambil tangan nya mengusap kepala Arion lembut.
__ADS_1
Tak lama,mereka sudah sampai di mansion,terlihat ada Fika sedang sesegukan di pelukan Daddy Adrian.
"ada apa ini.?"tanya Milka.
Ada suara seseorang yang bertanya membuat ke dua orang itu menoleh ke arah suara.
Namun tiba-tiba,dengan refleks,Fika berdiri dan berlari memeluk Arion,kakaknya.
"ada apa hmm?"tanya Arion lembut.
Hiks
Hiks
"kenapa kakak gak bilang kalau Daddy masih hidup,dan kenapa kakak gak ngasih tau aku kalau Daddy udah pulang.?"tanya Fika dengan masih sesegukan.
Mendengar pertanyaan adik nya,membuat Arion tersenyum kecil,ia meregangkan pelukan nya,dan mengusap air mata dari pipi adik nya.
"kenapa menangis hmm,bukan nya harus nya senang nya,karna udah ketemu sama Daddy?,,bukan nya kamu dulu bilang,pengen banget ketemu sama Daddy,walau dalam mimpi?,,tapi sekarang malah nangis,padahal gak lagi mimpi loh?""ucap Arion dengan nada meledek.
"hiks,iih kakak,tapi kan gak mendadak gini,aku terkejut tau kak."ucap Fika sambil memukul dada kakak nya.
Setelah dari kemarin sore ia pergi,karna ada kegiatan di kampus nya,pagi ini ia kembali dengan wajah lelah nya.
Bahkan kantung mata nya terlihat nampak,karna ia kurang tidur.
"sudah sampai nona."ucap sopir yang menjemput Fika.
"hoam,terimakasih pak."ucap Fika keluar dari mobil nya,dan melenggang ke dalam mansion.
"ya Alloh,ngantuk banget."gumam Fika.
Entah efek ngantuk atau apa,ia merasa mendengar suara seseorang yang ia kenal,bahkan sangat ia rindukan.
"putri Daddy,sudah pulang?"tanya Daddy lembut,namun Fika hanya menganggap itu hanya halusinasi nya saja.
"gak mungkin."gumam nya kembali.
Saking lelah nya ia tak langsung memasuki kamar nya,ia malah langsung duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"lelah nya,hoam,,aku ngantuk banget."gumam Fika dengan mata terpejam.
Namun,saat akan memasuki alam mimpi nya ia merasa ada yang mengelus kepalanya.
Bahkan,ia merasa kening nya di kecup begitu lembut.
"kamu sudah besar,bahkan kamu sangat mirip seperti mommy mu masih muda."ucap Daddy dengan pelan.
Bukan nya semakin terlelap,namun setelah mendengar kata itu,ia seakan tak percaya,ia merasa kan sangat nyata dengan sentuhan dan ucapan itu.
Karna tak ingin terbuai dengan semua itu,Fika membuka mata nya.
Deg
Air mata nya seketika luruh,ia merasa semua ini mimpi,ia mencoba mencubit lengan nya sendiri.
"akh,sakit."lirih nya.
Belum habis keterkejutan nya,ia semakin terkejut karna orang yang mirip Daddy nya ini berkata dengan lembut.
"ada apa princess Daddy,kenapa kau mencubit diri mu sendiri.?"tanya Daddy heran,melihat tingkah Fika.
Namun yang di tanya hanya diam memperhatikan nya,dengan air mata yang tak berhenti keluar.
"ya ampun sayang,kenapa menangis hmm,apa Daddy mengatakan hal yang menyakiti mu.?"tanya Daddy kembali,dengan mengusap air mata Fika.
"Daddy?"panggil Fika pelan.
"yes,princess."saut Daddy sambil tersenyum.
Tak di sangka,Fika menubruk kan tubuh nya,pada sang Daddy, sampai-sampai hampir terjengkang.
"Daddy,ini benar Daddy kan,aku gak mimpi kan,tapi kenapa begitu terasa nyata,bahkan pelukan ini terasa hangat."ucap Fika sambil memeluk Daddy erat.
"tentu saja,princess,ini nyata.."ucap Daddy sambil merenggangkan pelukan nya dan mencubit hidung Fika lembut.
Seketika tangis nya pecah,ia tak menyangka bahwa semua nya ini nyata,ia semakin terisak di pelukan Daddy nya.
"hiks,,Daddy."tangis Fika,namun di balas pelukan oleh Daddy.
__ADS_1
Flashback off.