
Beberapa menit kemudian,seorang dokter keluar dari ruangan UGD,nampak wajah dokter tersebut terlihat lesu,bahkan ia tak berani menatap semua orang yang ada di sana.
Milka yang melihat itu segera menghampiri dokter.
"bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Milka dengan raut wajah cemas.
Mendapat pertanyaan dari Milka,membuat dokter itu semakin menunduk,bukan karna takut,melainkan ia merasa prihatin.
Setelah menenangkan pikiran yang berkecamuk,ia mengangkat kepala nya menatap semua orang yang ada di sana,dan tatapan nya berhenti ketika melihat wajah sendu Milka.
"maaf."ucapan dokter itu terjeda sambil menggeleng.
"maksud dokter apa,suami saya baik-baik saja kan dok?"tanya Milka masih berusaha tenang,namun air mata nya terus mengalir,Bu Sinta segera menenangkan Milka memeluk nya dari samping.
"nyawa pasien tidak selamat,karna tikaman pisau itu mengenai jantung nya,bahkan pasien banyak mengeluarkan darah."ucap dokter sendu,bahkan ia diam saja saat Milka mencengkram kerah baju nya.
"kau berbohong,tidak mungkin suami ku meninggalkan ku,tidak..tidak mungkin...."teriak Milka histeris.
"sayang,tenanglah..kamu harus ihklas."ucap Bu Sinta terpotong oleh Milka.
"gak..suamiku gak mungkin ninggalin aku,dia udah janji,kalau ia akan selalu menemani ku,ta..tapi..aakh,kalian semua berbohong."teriak Milka sambil menangis dan mendorong Bu Sinta sampai terjengkang ke belakang.
Sedangkan Daddy Adrian hanya diam dengan tatapan kosong,namun tanpa di sadari nya air mata nya mengalir.
"Daddy?"panggil Fika menangis.
Seketika lamunan nya buyar mendengar putri nya memanggil.
"princes."gumam Daddy dengan memeluk Fika yang sudah menangis.
"dad,dokter itu bohong kan dad,kakak gak ninggalin kita kan dad?"tanya fika lirih.
__ADS_1
"maafkan Daddy"gumam Daddy lirih.
Tiba-tiba saja Milka memaksa masuk dengan cara mendorong pintu hingga semua orang terkejut,bukan hanya keluarga nya saja,tapi dokter,suster dan juga orang-orang yang melewati lorong itu.
Tak tega melihat putri nya,pak Rendra berusaha menenangkan Milka,ia menyusul Milka masuk ke ruangan tempat Arion di periksa.
"sayang,bangun,kamu sudah dari tadi tidur,ayo sayang,kita pulang,kamu sudah terlalu lama di sini,bukan nya kamu tak mau lama-lama di tempat ini,ayo sayang bangun."ucap Milka lembut sambil tersenyum,tapi air mata nya tak berhenti mengalir.
"sayang,bangun,ayo pulang,aku lapar,aku ingin kamu yang memasakkan untukku dan anak-anak kita,ayo sayang bangun,,, bangun,kenapa kamu gak dengerin aku,aku mohon bangunlah,bangun"ucap Milka histeris sambil mengguncang-guncang badan Arion yang sudah tak bernyawa.
Melihat keadaan putri nya,tak terasa pak Rendra menitikkan air mata nya,hati ayah mana yang tidak hancur melihat itu.
"sayang."panggil pak Rendra pada putri nya.
"pa,suruh suami ku bangun,pasti dia akan bangun bila papa yang membangunkan nya,bilang pada nya kalau aku lapar,aku ingin dia memasakkan untukku,pa,ayo kenapa papa diam saja,ayo pa."ucap Milka dengan semangat.
"sayang,dengerin papa nak,suami mu sudah pergi,ihklas kan nak,kasian dia."ucap pak Rendra lirih,sambil memeluk putri nya.
Pak Rendra merasa berat, segera memanggil orang yang di luar.
"mah,panggil dokter, Ika pingsan"sontak ucapan itu membuat panik keluarga nya,bahkan Daddy Adrian pun segera berlari menghampiri menantu nya,ia membantu pak Rendra untuk membaringkan nya di brankar.
Baru saja di tidurkan,seorang dokter masuk ke ruangan itu.
"maaf,permisi, tuan-tuan dan nyonya keluar dulu,saya akan memeriksa pasien."ucap dokter itu,dan semua pun keluar.
Sedangkan di luar ruangan,Dani baru saja terlihat,wajah nya pun tak jauh beda,mata nya terlihat merah karna menangis.
"om,Tante,dimana kakak ipar?"tanya Dani lirih.
"tadi dia pingsan,mungkin karna syok."jawab Bu Sinta sendu.
__ADS_1
"oh ya,om,aku tadi udah ngabarin sama keluarga dan juga sahabat tentang kabar ini,dan mungkin sebentar lagi kak Rey bakalan tiba,untuk mengurus semua nya,termasuk untuk pemakaman kak Arion."ucap Dani sambil menahan air mata nya.
"terimakasih nak"ucap Daddy Adrian sedikit tersenyum,di balas anggukan oleh Dani.
Tak lama Rey datang sendiri,ia terlihat ngos-ngosan,karna ia berlari,bahkan ia mengendarai mobil nya seperti pembalap,waktu tempuh yang seharus nya tiga puluh menit dari perusahaan,namun sekarang bisa di tempuh hanya dalam sepuluh menit.
"tuan, sebenarnya apa yang terjadi kenapa jadi begini?"tanya Rey dengan nafas yang masih belum teratur.
Belum terjawab pertanyaan Rey,seorang dokter sudah keluar dari tempat Milka di periksa.
"bagaimana keadaan anak saya dok?"tanya pak Rendra cemas.
"keadaan nya baik-baik saja,hanya saja ia merasa syok,dan saya harap pada keluarga mohon untuk menghibur nya,karna mungkin ini akan berpengaruh pada kandungan nya."ucap dokter itu tersenyum.
"terima kasih dok"ucap pak Rendra,dan dokter itu pun pergi meninggalkan ruangan itu.
"Rey,tolong kamu urus semua nya,termasuk pemakaman untuk Arion."ucap Daddy Adrian sendu.
Rey tak menjawab,namun hanya anggukan kecil,namun tanpa di sadari air mata nya pun menetes,dan terduduk di lantai rumah sakit.
"kenapa secepat ini."gumam Rey sambil tertunduk lemah di lantai rumah sakit.
Saking syok nya,ia sampai terisak,membuat Dani yang masih di sana memeluk Rey,dan Dani pun sama syok nya.
Seketika Rey teringat dengan Milka,ia mendongakkan kepalanya.
"lalu bagaimana keadaan Milka,setelah mendengar kabar ini?"gumam Rey namun masih di dengar oleh Dani.
"kakak ipar terlihat syok dan tertekan,bahkan tadi ia hampir mengamuk,bahkan sekarang masih pingsan."ucap Dani lirih.
"ya tuhan,kenapa kau harus pergi secepat ini,bagaimana kalau sampai ia sudah sadar kembali,aku tak sanggup melihat nya."gumam Rey,dan segera beranjak dari duduk nya untuk mengurus segala sesuatu nya.
__ADS_1