
Setengah jam kemudian,mereka sampai di rumah sakit tanpa ada nya Daddy Adrian.
Arion yang panik langsung menggendong Milka,sedangkan pak Rendra berteriak memanggil dokter.
Bu Sinta hanya berjalan cepat mengejar langkah Arion.
Sampai nya di depan ruang UGD,dokter mempersilahkan Arion membaring kan Milka di brankar.
Setelah itu,Arion memandang wajah dokter itu tajam,mendapatkan tatapan itu membuat dokter itu menciut,bahkan ia hanya menundukkan wajah nya.
"apakah di sini tak ada dokter wanita?"bentak Arion,membuat Milka yang di samping nya memegang tangan Arion,mencoba menenangkan suami nya.
Di rasa sudah tenang,Milka melihat ke arah dokter yang menunduk.
"bisa kah panggil dokter Siska,dokter obgyn di sini!"ucap Milka tegas sambil menahan sakit.
"bi,,bisa"jawab dokter itu gugup,karna tak kuat berada lama di sana,sedetik kemudian dokter itu pun segera keluar,dan segera memanggil nama dokter yang di sebutkan Milka.
Tak berapa lama,dokter itu datang bersama dokter wanita,nyaitu dokter Siska.
Melihat kondisi Milka,dokter Siska segera mendekat,untuk memeriksa Milka.
__ADS_1
"maaf tuan,saya mau memeriksa istri anda"ucap dokter itu ramah.
"hm"Arion hanya berdehem,dengan tatapan melihat Milka,yang sudah banyak keluar keringat dingin.
Setelah mendapat izin,dokter Siska segera memeriksa jalan lahir,untuk melihat pembuakaan berapa.
"maaf nyonya"ucap dokter Siska,segera ia membuka sel******Ngan Milka.
"baru pembukaan 2,tapi..saya sebagai dokter yang menangani anda,saya menyarankan,agar dilakukan cs saja,saya khawatir dengan keadaan anda,bila tetap memaksa lahiran normal."ucap dokter Siska,dan di balas anggukan oleh Arion.
"tapi dok.."ucapan Milka terpotong oleh Arion.
"baiklah,lakukan yang terbaik untuk istri dan anak anak ku"ucap Arion tegas tak ingin di bantah,bahkan Milka pun tak dapat membantah nya.
"tak.perlu sus,saya ingin berjalan saja"ucap Milka,Arion mendengar itu merasa khawatir.
"tapi sayang kamu kan lagi kesakitan"ucap Arion dengan wajah khawatir nya.
Saat di ruang ruangan,terlihat Daddy baru saja datang,ia menanyakan keadaan Milka.
"son bagaimana keadaan putri Daddy?"tanya Daddy dengan wajah khawatir.
__ADS_1
Belum menjawab pertanyaan Daddy nya,pak Rendra dan Bu Sinta,terlihat menghampiri mereka,mereka baru selesai menyelesaikan administrasi nya.
"bagaimana keadaan putriku?"tanya pak Rendra.
"Ika akan di bawa ke ruang operasi,karna dokter menyarankan untuk melakukan itu,karna khawatir dengan keadaan ibu nya,apa lagi,ia akan melahirkan bayi kembar"ucap Arion membuat para orang tua mengangguk mengerti.
"itu lebih baik,kalau begitu kita ke sana"ucap Bu Sinta bergegas pergi.
Sampai nya di depan ruang operasi,terlihat suster keluar,ia mananyakan suami Milka,dan menyuruh nya untuk masuk ke dalam,karna Milka yang menginginkan nya.
Satu jam berlalu,namun nampak nya operasi belum selesai,para orang tua sudah menanti dengan cemas,bahkan Daddy Adrian terlihat gelisah,bahkan ia sedari tadi sudah mondar mandir di depan ruangan operasi,Bu Sinta melihat itu sangat paham bagaimana perasaan kakak nya itu.
Tak tega melihat nya,Bu Sinta memegang tangan Daddy,ia membujuk nya agar duduk,namun Daddy selalu saja menolak.
Namun,lama kelamaan Bu Sinta berhasil membujuk nya,namun tetap saja,wajah cemas itu masih terlihat.
"tenanglah kak"ucap Bu Sinta lembut.
"tapi,aku takut"ucap Daddy saat mengingat dulu istri nya melahirkan Fika,dan di sana juga istri nya meninggal,itu membuat nya kembali cemas,apa lagi di dalam sana menantu nya sedang berjuang,untuk melahirkan cucu nya.
"kak,kakak harus yakin,kalau putri kita pasti kuat,apa kakak meragukan itu,bukan kah kakak sudah melihat itu semua,bagaimana dulu ia melawan musuh-musuh nya,bahkan ia sampai kritis,bahkan koma,tapi ia kembali bangun,dan sehat sampai sekarang."jelas Bu Sinta,berharap kakak nya tenang,sedangkan pak Rendra mendengar itu hanya mendengarkan saja.
__ADS_1
Karna,ia sudah tau,siapa Milka sebenar nya,dan bagaimna kehidupan nya,setelah jauh dari diri nya,tepat nya setelah orangtua nya bercerai.
Tapi,tetap saja,sebagai ayah nya ia juga merasa khawatir,namun ia tak memperlihatkan nya pada semua orang.