
Sore hari di kediaman Rendra,pak Tomi datang untuk menyerah. kan berkas yang harus di tanda tangani.
"bagaimana keadaan perusahaan.?"tanya Rendra.
"sudah mulai stabil tuan,bahkan ini lebih cepat."ucap pak Tomi serius.
"baguslah."ucap Rendra sambil menghela nafas panjang.
Pak Tomi melihat itu pun mengerut kan kening nya.
"ada apa tuan,seperti nya ada yang sedang di pikirkan.?"tanya pak Tomi.
"entahlah,seperti nya satu bulan ini,saya merasa lelah...lelah hati dan pikiran."ucap Rendra lemah.
"mungkin tuan harus segera pensiun,agar tuan tidak terlalu lelah."ucap pak Tomi.
"hmm,tapi apakah putri ku mau menerima nya,aku ragu ia mau menerima nya."ucap Rendra sendu.
Pak Tomi yang mendengar itu pun merasa ragu,apalagi kalau melihat suami nya.
Bahkan,ia bisa memberikan apa saja untuk istri nya itu.Kalau perlu seluruh dunia pun akan ia berikan.
Ceklek
ke dua orang yang mendengar pintu di buka pun menoleh kearah suara.
"apa aku mengganggu.?"tanya Sinta lembut.
Mendengar itu pak Tomi berdiri,dan memberi salam pada istri tuan nya.
"selamat sore nyonya."ucap pak Tomi sopan.
"sore pak Tomi."balas Sinta sopan.
"baiklah,kalau begitu saya permisi dulu,ada yang harus saya urus."ucap pak Tomi sambil membungkuk kan badan nya.
"silahkan."ucap Sinta dan Rendra berbarengan.
Setelah pak Tomi keluar dari ruangan tersebut.
Rendra berdiri dan berjalan perlahan ke arah Sinta.
__ADS_1
Walau masih harus di bantu dengan tongkat..
Iya,semenjak terungkap kejahatan Jenny,kesehatan Rendra semakin membaik,dan mengganti semua obat-obatan yang mengandung racun tersebut.
Dan beruntung nya racun tersebut,berjalan lambat jadi masih bisa di cegah dengan cepat.
Namun,berbeda dengan Sinta,wanita tersebut merasa sangat bersalah dengan apa yang di lakukan anak nya itu.
Bahkan sekarang Sinta,sering merasakan pusing karna banyak pikiran,bahkan sebulan ini sudah dua kali di rawat di rumah sakit.
"bagaimana keadaan mu,apa sudah lebih baik.?"tanya Rendra sambil duduk di sofa.
"sudah,bahkan setiap malam rasa nya tidur ku selalu nyenyak."jawab Sinta sambil menunduk.
Rendra melihat itu pun,segera menyentuh pundak Sinta.
Rendra mengerti apa yang di rasakan istri nya tersebut.
Bahkan sejak Vidio yang menunjukkan kalau Jenny mengakui kejahatan nya,sampai detik ini mereka belum melihat nya lagi,entah dimana ia berada pun tidak ada yang tau..
Seakan hilang di telan bumi,tak ada berita bahkan nama nya pun tak terdengar dimana-mana.
"sudah lah,jangan terus merasa bersalah,lupakan semua nya,kita harus bisa memulai semua nya dari awal."ucap Rendra lembut,menarik Sinta ke dalam pelukan nya.
"ssstt,sudah ini bukan salah mu,semua ini sudah takdir."ucap Rendra menenangkan Sinta.
Sinta semakin sesegukan menangis.
"sudah,bagaimana kalau kita mengunjungi anak ku hmm,seperti nya aku sudah lama tidak bertemu."ajak Rendra.
"bukan anak mu,tapi anak kita."ucap Sinta dengan mata merah akibat menangis.
"iya,,iya anak kita,ayo segera bersiap."ucap Rendra.
"ayo...hati-hati."ucap Sinta berdiri dan menuntun Rendra.
Sementara di kediaman Arion,Rey dan Arion berada di ruang kerja nya.
"bagaimana proyek yang kita jalani sekarang?"tanya Arion.
"untuk sekarang masih,berjalan dengan lancar,namun kemarin pegawai kita melihat ada yang memcuriga kan."ucap Rey,sedangkan Arion mengangkat alis nya sebelah.
__ADS_1
"iya,kemarin ada seseorang yang seperti sedang mengamati tempat itu...bahkan anak buah kita berusaha mengejar nya,kehilangan jejak."ucap Rey.
"kalau begitu,tambah pengamanan,jangan sampai kecolongan."ucap Arion masih sibuk dengan berkas di tangan nya.
Rey menjawab dengan anggukan,setelah beberapa saat terdiam.
"bagaimana keadaan mu?."tanya Rey.
"aku?..aku baik-baik saja...entahlah."ucap Arion.
"aku heran saja,setiap pagi-pagi kau selalu muntah-muntah,tapi ketika siang hari kau baik-baik saja,bahkan tidak seperti orang yang sakit."ucap Rey heran.
"entahlah aku juga tidak tau,apa yang terjadi pada diri ku ini."ucap Arion sambil menatap kearah Rey.
Namun,terbesit ide jail di otak Rey,untuk mengerjai sahabat nya ini.
"jangan,,,jangan..kau mengidap penyakit berbahaya."ucap Rey dengan mimik wajah yang serius.
"kau,menyumpahi ku.?"bentak Arion.
"bukan,hanya saja kenapa kamu bisa seperti itu.aku kan penasaran."ucap Rey dengan senyum jail nya.
"kau jangan menakuti ku ya.."ucap Arion dengan wajah gelisah nya.
"aku tidak menakut-nakuti mu,hanya saja sebaik nya di periksa dokter,supaya kita tau kau sakit apa."ucap Rey meyakinkan.
"aku tidak mau."ucap Arion.
"ish kau ini,bagaimana bisa tidak mau,bagaimana kalau kamu tau-tau sudah tidak bernyawa,apa kau tega melihat istri mu itu bersedih."ucap Rey serius.
Arion mendengar perkataan Rey,hanya diam mencerna setiap kata yang di ucap kan Rey.
"bagaimana kalau setelah kamu meninggal,istri mu menikah lagi dengan orang yang lebih tampan dan lebih kaya dari diri mu."ucap Rey semakin menjaili Arion.
Brak
Rey yang terkejut pun mengusap dada nya pelan.
"apa kau ingin membuat ku mati.?"teriak Rey,namun tidak di tanggapi oleh Arion.
"tidak,,tidak boleh,istri ku hanya milik ku,tidak ada yang bisa memiliki nya selain aku,walau aku sudah tiada.,kalau perlu dia ikut bersama ku."ucap Arion berbicara ngawur.
__ADS_1
"hahaha...mana mungkin bisa begitu,dari pada dia ikut bersama mu,mending dia jadi istri ku saja."ucap Rey sambil berlari keluar dari tempat itu,sebelum singa mengamuk.
"Rey,kau berani mengerjai ku,sialan kau Rey."teriak Arion,bahkan suara nya sampai terdengar keluar ruangan,dan Rey hanya tertawa puas.