
Seminggu telah berlalu,Milka,ke dua orang tua nya dan Daddy Adrian sedang berada di ruang keluarga.Di karena kan hari Minggu jadi semua nya terlihat santai.
Terlihat Rey dan Lina datang,Milka yang melihat itu merasa ada sesuatu yang penting,terlihat dari wajah kedua sejoli itu.
Baru saja duduk,Milka sudah ber suara membuat Rey dan Lina semakin gugup.
"ada apa?"tanya Milka dingin.
Membuat semua orang yang ada di situ menatap ke arah pasangan itu.
"se_sebenar nya aku,,euh kami ingin minta izin"ucap Rey gugup,bahkan tatapan mereka membuat nyali Rey menjadi ciut.
Tak ada yang bersuara,mereka menanti kata yang akan di keluarkan oleh dua orang itu.
Sedangkan Rey,ia sudah keluar keringat dari kening nya,tak beda juga dengan Lina,ia terus saja memilih ujung gaun nya,pertanda gugup.
Waktu terus berjalan,namun Rey dan Lina tak ada yang bersuara,mereka malah terus menunduk,membuat para orang tua gemas,sedangkan Milka sudah menghembuskan nafas nya kasar.
"sebenar nya kalian ini akan bicara apa mengheningkan cipta,..."belum juga selesai Milka berbicara,Rey dan Lina berbicara berbarengan.
"kami akan menikah"ucap mereka serentak.
Langsung saja suasana di sana hening,tak ada yang bersuara sedikit pun,hingga suara Daddy Adrian mengakhiri keheningan tersebut.
"kapan?"tanya nya tegas.
Sedangkan Rey dan Lina di tanya begitu semakin gugup saja.
"du_dua Minggu lagi"cicit Rey sambil menundukkan wajah nya.
"tapi,jika kalian tidak mengizinkan,kami akan menunda nya sampai kali.."ucapan Rey terpotong oleh Milka.
"laksana kan lah,kami pasti akan datang,,huft,dan kalian ikut aku"ucap Milka di iringi perintah.
Kedua nya hanya mengangguk mengiya kan,sebenar nya,mereka masih berkabung,namun ayah Dimas terus saja mendesak,karna tak ingin jika mereka sampai melewati batas,karna ia sendiri mengalami itu.
Sampai nya di ruang kerja Milka,mereka duduk saling berhadapan,Milka di kursi kerja nya sedangkan Rey dan Lina di sebrang nya.
"katakan!"ucap Milka datar.
__ADS_1
"se_sebenar nya kami akan menunda nya,hanya saja ayah Dimas menyuruh kami,dan kami tidak bisa menolak nya"jelas Rey dengan gugup.
"ck,kalian ini,aku bukan menyuruh kak Rey mengatakan itu,justru aku ingin,bertanya kalian ingin hadiah apa dari ku"ucap Milka dengan tersenyum miring.
"ooh,kami tidak meminta apa-apa,justru kami ingin minta maaf"ucap Rey sendu.
"untuk?"tanya Milka mengerutkan kening nya.
"maaf karna,kami harus menikah dengan keadaan yang seperti ini"ucap Rey pelan menundukkan wajah nya,bahkan mata nya menyiratkan kesedihan.
Milka yang paham itu,hanya bisa menganggukan kepala nya.
"tidak apa-apa,pasti ia juga senang bisa melihat saudara nya bisa menikah"ucap Milka dengan senyum luka nya.
Lina melihat itu segera berdiri menghampiri Milka dan memeluk nya.
"maaf kan kami,bukan bermaksud kami bahagia di atas kesedihan mu,hanya saja ayah sudah memerintah,dan kami tidak bisa membantah nya."ucap Lina lirih.
"aku mengerti kak,bahkan aku senang,karna kakak sudah menemukan kebahagian kakak sendiri,hanya saja setelah kakak menikah kakak harus masih bekerja untukku,mungkin sampai aku melahirkan."ucap Milka berusaha menutupi kesedihan nya.
"tentu saja,bahkan sampai seumur hidup pun kakak rela,asal kamu selalu bahagia,dan kakak juga berharap kamu segera melupakan kesedihan mu"ucap Lina menasehati Milka dengan lembut.
"hmm,Kakak percaya dengan kemampuan mu"ucap Lina tersenyum.
Beberapa detika kemudian pelukan mereka terlepas,seketika Milka menatap Rey tajam.
"dan untuk kak Rey"Milka menjeda ucapan nya,membuat Rey menelan Saliva nya gugup.
"a_apa?"utanya Rey gugup sedangkan Lina yang melihat itu hanya tersenyum kecil.
"kakak jangan pernah membuat nya menangis,kalau sampai itu terjadi,kakak akan berhadapan langsung dengan ku"ucap Milka dingin.
"ba_baiklah aku tidak akan membuat nya menangis,bahkan aku akan menjaga nya dengan sepenuh jiwa raga ku"ucap Rey dengan begitu yakin.
"aku percaya"ucap Milka tersenyum,ia merasa sudah lega,karna bisa melihat Lina bahagia,karna selama ini ia selalu melihat Lina terlihat murung,bahkan terkadang menangis saat sedang sendiri,tapi sekarang ia lega,karna bagaimana pun ia sudah menganggap Lina saudara nya sendiri.
"baiklah sekarang kita keluar,sudah waktu nya makan siang"ucap Milka sambil berdiri,namun susah karna perut nya sudah makin membesar.
Dengan sigap Rey dan Lina membantu Milka berdiri.
__ADS_1
"terima kasih"ucap Milka tulus di balas anggukan oleh Rey dan Lina.
"kalau saja kamu ada di sini,mungkin yang membantu ku adalah kamu,suami ku,aku merindukan mu"batin Milka sambil berjalan.
Di rumah sakit tempat Danu di rawat,terlihat ia sedang merenung dengan tatapan kosong nya,entah kenapa ia menjadi seperti ini,namun saat ia tersadar dari lamunan nya ia akan memanggil- manggil namun Aline,sambil meneteskan air mata nya.
Bahkan Jenny yang melihat itu,tak sanggup menahan air mata nya,bahkan ia sampai meminta ibu nya untuk menemui Danu,namun ibu nya selalu menolak,dengan alasan belum siap.
Berbeda dengan di rumah sakit tempat ibu nya Harlan di rawat,nenek itu sudah sadar dari masa kritis nya.
Bahkan keadaan nya sudah stabil,dan sekarang sedang mengobrol dengan anak dan menantu nya.
Saat sedang berkumpul anak dan menantu nya,mereka kedatangan tamu,yang tak di undang.
Orang itu datang dengan wajah dingin dan datar nya,bahkan tak ada raut ramah sedikit pun,ia langsung nyelonong masuk.
Tak suka basa basi orang itu melemparkan maf yang berisi bukti kejahatan.
Harlan yang penasaran pun membuka maf itu,seketika ia syok bahkan sampai menggeleng berkali-kali,seakan itu tidak mungkin.
"bagaimana,,ini pasti bohong,tidak mungkin."gumam nya tak percaya bahkan sesekali ia melihat ke arah ibu nya yang juga melihat ke arah nya.
Dengan berusaha berdiri,ia menghampiri ibu nya,bahkan ia meneteskan air mata nya.
"katakan Bu,kalau ini semua bohong,ibu tidak mungkin melakukan ini"ucap nya dengan lirih.
Namun,yang di tanya hanya diam dengan air mata mengalir.
"maaf"hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
"kenapa ibu melakukan ini,bahkan kematian alice tak ada sangkut paut nya dengan mereka,bahkan ibu tau itu,tapi kenapa ibu melakukan ini?"ucap Harlan dengan bentakan di akhir nya.
"maaf"ucap ibu nya menangis.
"kenapa ibu melakukan ini,bahkan sekarang pun anakku yang menjadi korban dari ke egoisan ibu."ucap Harlan dengan tetesan air mata yang tak berhenti.
Istri Harlan yang melihat itu pun tak bisa menahan air mata nya lagi.
Sedangkan orang yang masuk ke sana mulai muak melihat drama keluarga itu,ia pun memilih keluar dan pergi dari sana.
__ADS_1