Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 10


__ADS_3

Kondisi Nathan semakin melemah. Seiring dengn banyak darah yang terus keluar dari bekas luka di lenganya, yang kena tusuk orang yang sempat berkelahi denganya tadi. Darah membasahi bajunya. Mobil ambulance yang membawanya terus melaju menerobos orang-orang yang berlalu lintas di jalan raya itu, dan juga lampu merah.


Ambulance yang membawa Nathan, memasuki halaman sebuah rumah sakit yang besar dan begitu megah. Berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit tersebut. Beberapa perawat laki-laki datang untuk membantu meurunkan Nathan yang berbaring di ranjang dan mendoronganya masuk segera ke dalam ruang UGD.


Daniel beserta Anye mengikutinya dan menunggu di depan ruangan tersebut. Karena Daniel merasa sangat berhutang budi denganya. Tidak dapat di bayangkan, apa yang akan terjadi, bila tadi Nathan tidak menolongnya. Sedangkan ilmu bela diri saja, ia masih belum begitu menguasai.


Seorang dokter masuk ke ruang UGD tersebut dan pintu tertutup dengan rapat. Tak berapa lama, sang dokter keluar lagi dan menanyakan kepada Daniel yang berdiri dan sesekali mondar-mandir di depan ruangan tersebut.


“Maaf, siapa keluarga dari pasien..?” tanya dokter dengan wajah serius.


“Oh saya dokter.” jawab Daniel.


Mendekat sang dokter. Anye juga mengekorinya di belakang.


“Pasien harus segera di operasi, karena luka tusuk di lenganya sedalam 5 cm. Apakah anda yang bertanggung jawab?”


“Iya Dok, saya yang bertanggung jawab. Silahkan lakukan yang terbaik untuk pasien tersebut, karena saya yang akan menanggung semua biayanya..”


“Baiklah.”


Setelah mendengar jawaban Daniel, dokter kembali masuk ke ruang UGD. Beberapa saat, Nathan di bawa keluar dari ruang UGD, dan di bawa ke ruang operasi detik itu juga.


Daniel mengikuti para perawat yang mendorong ranjang Nathan ke ruang operasi, dan ia tak sadarkan diri.


“Kaya mas Daniel..?” ucap Ken yang sekilas melihat bayangan Daniel melewati depan kamar, di mana Dani tengah berbaring dan di rawat.


Seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat, Ken berdiri dan akan melangkah keluar, untuk memastikan apakah benar yang ia lihat tadi.


Dani hanya diam melihat Ken yang kini hendak keluar kamar dengan tergesa. Sesaat, ia telah hilang di balik pintu.


“Ohh, benar. Itu mas Daniel..!”


Ken membuntuti Daniel. Dan langkah kakinya terhenti, saat ia melihat dari kejauhan, Daniel berhenti di depan ruang operasi.


“Mas Daniel berhenti di depan ruang operasi? Siapa yang ada di dalam ruang tersebut?” gumam Ken yang penasaran, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


“Eh tunggu bentar, mas Daniel sama siapa? Tuh cewek kok nempel terus..?”


Batin Ken makin penasaran. Ia melangkah ingin menghampiri anak majikanya itu. Saat Daniel mengedarkan pandangan, ia menangkap sosok Ken berjalan ke arahnya.


“Gawat..!! Kenapa ada Ken di sini? Situasinya benar-benar nggak tepat..!!”


“Mas Daniel? Sedang apa di sini..?” tanya Ken sedikit mengernyitkan dahinya.


Dasar Daniel, ada saja jawaban yang sudah ia siapakan.


“Ken?” gumam Daniel. Lalu dengan segera ia menjawab sapaan Ken, pengawal pribadi papanya.


“Oh...tadi aku abis nolongin orang yang terluka karena berusaha menolongku dari ancaman perampok. Kenalin ini pacar orang yang sudah menolongku..” ucap Daniel yang mengedipkan matanya kepada Anyelir.


“Perampok? Mas tidak apa-apa kan..?” ucap Ken yang kini raut wajahnya berubah.


“Seperti yang kamu lihat, Ken..” Ken mengangguk.


Paham dengan situasi itu, Anyelir segera memperkenalkan dirinya kepada Ken. Tak menaruh rasa curiga sedikitpun, Ken mempercayainya.


“Oh nggak perlu Ken. Aku bisa urus sendiri, kamu nggak usah repot-repot.” jawab Daniel berusaha menghentikan pembicaraanya dengan Ken. Karena ada Anyelir di sampingnya, dan belum satu orang pun di rumahnya tau kalau ia tengah menjalin hubungan dengan Anye.


“Kebetulan tuan bentar lagi juga mau datang ke rumah sakit ini.” jelas Ken lagi.


“Kemari? Ada urusan apa papa ke sini, Ken?”


“Nanti mas tanya langsung sendiri saja. Kalau begitu, saya permisi dulu, Mas. Masih ada yang harus saya kerjakan.” tukas Ken kemudian tersenyum tipis dan membungkukan sedikit badanya. Daniel menganggukan kepalanya.


Ken segera kembali, dan kini sudah berada di kamar Dani setelah cukup menyapa tuan mudanya.


“Aa...anda sudah kembali?” ucap Dani dengan pelan saat Ken memasuki kamarnya.


Ken mengangguk. Senyum yang manis juga ia lemparkan ke arah gadis itu. Ia berdiri lalu mendekat ke arah ranjang Dani.


“Anda mau minum nona? Sejak dari tadi, anda belum meneguk air sedikit pun..”

__ADS_1


“Iya tuan..” jawab Dani lupa kalau Ken menyuruhnya memanggil nama saja.


“Ken saja nona, jangan tuan. Saya bukanlah tuan besar.”


“Eh iya tu.., eh Ken. Kalau anda tidak keberatan, tolong ambilkan saya air, saya kehausan.."


Setelah mengangguk, Ken mengambilkan satu botol air mineral berukuran sedang. Setelah membuka tutup botol tersebut, ia bermaksud memberikanya kepada Dani. Dengan susah payah, Dani berusaha bangun dari tempat tidurnya, karena ingin bersandar saat ia minum.Ken yang melihatnya, tak tinggal diam. Sebelum gadis itu berhasil bangun, ia buru-buru membantunya.


“Maaf Ken, aku bisa sendiri kok.." ucap Dani yang canggung karena Ken membantunya bangun.


“Jangan sungkan atau merasa tidak enak nona, biasa saja..”


Biasa bagaiamana, kamu itu masih orang asing bagiku, masak sudah di suruh bersikap biasa? Yang bener saja ihh..


Namun semua penolakan Dani sia-sia. Dengan sigap dan penuh rasa melindungi, Ken berhasil membantu Dani untuk bersandar.


Dani segera meneguk air mineral yang di berikan Ken kepadanya.


Baik banget nih orang. Tapi kalau aku harus panggil namanya, rasanya benar-benar canggung. Secara kan tuaan dia?


Batin Dani yang minum sambil melirik ke arah Ken yang berdiri tepat di samping ranjangnya.


Selesai minum, kembali botol itu ia serahkan kepada Ken.


“Terima kasih..”


Kembali Ken menekuni koranya, dan duduk di sofa. Sedangkan Dani kembali merebahkan tubuhnya karena badanya masih lemah dan butuh istirahat.


Di tempat lain, Daniel menyuruh Anye untuk pulang duluan sebelum ada orang yang mengetahuinya lagi selain Ken, kalau ia dan Aenye berada di rumah sakit itu.


“Pulanglah dulu Anye, sudah ku panggilkan taksi online. Aku tidak mau sampai papa tau kamu dan aku berada di sini bersama. Aku akan secepatnya kembali setelah mengurus orang itu..”


Sebenarnya Anye ingin berada di situ bersama Daniel untuk menemaninya. Namun karena Daniel memintanya untuk kembali duluan dan dengan alasan yang tepat, akhirnya Anye kembali ke resort tempat ia menginap.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2