
Perlahan Dani mendekati Daniel.
Plaaakkkkk
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Daniel. Begitu panas terasa. Wajahnya memerah. Dan kini terlihat jelas kalau ia sangat marah.
“Berani ya kamu nampar saya..?” ucap Daniel dengan geram. Lelaki itu menatap tajam kepada Dani.
“Saya akan menampar seribu kali dari ini kalau ucapan tadi keluar dari mulut mas lagi. Apa mas anggap aku ini gadis gampangan? Sungguh picik sekali kamu mas..!!” Daniel tak menyangka, Dani akan berani dan semarah itu kepadanya.
“Terus apa maksudnya tadi bertingkah genit di depan Evan..?”
“Apa mas tak bisa melihat. Evan yang menawarkan bantuan dengan suka rela. Di banding dengan mas, dia jauh lebih baik dari mas..!!”
“Cukupp...!! Aku bilang diam..!! Kamu harus di kasih pelajaran sedikit biar nggak ngelunjak. Setelah Dani berkata seperti itu, ia membopong tubuh Dani dan membawa ke kamarnya. Dani yang di bawa paksa seperti itu berteriak dan meronta.
“Mas Daniel..!! Lepasin..!! Mas Daniiiieeell..!! Lepasiiiinnn...!!” teriak Dani, dan itu di dengar oleh Nathan dan bi Marta.
Nathan berlari dan melihat Daniel menaiki anak tangga membopong Dani, menuju kamarnya. Setelah Daniel masuk ke kamarnya, Nathan berlari menaiki anak tangga. Ia panik, melihat gadis yang ia sukai menjerit-jerit seperti itu. Nathan berhenti di depan kamar Daniel. Bi Marta yang melihat Nathan heran dan bingung. Kenapa Nathan bertingkah seperti itu.
Daniel melempar tubuh Dani dengan kasar di atas ranjangnya. Dani berusaha bangun dan akan beranjak dari ranjang. Namun dengan cepat, kedua tangan Daniel mengunci tangan Dani.
“Tolong lepasin saya mas, Dani mohon..?” ucap dani menghiba.
“Tak akan!! Kamu akan merasakan hukuman dari saya dan tak akan kamu lupakan seumur hidup kamu..!!” ucap Daniel berangasan.
Kreeeeekkkk
Daniel merobek paksa lengan baju Dani. Kini, terlihatlah lenganya yang putih mulus itu. Dani semakin meronta. Saat Daniel lengah, Dani berhasil mendepaknya hingga ia jatuh ke bawah ranjang. Saat itulah Dani bangun dan beranjak dari ranjang. Secepat kilat, Daniel berlari ke arah pintu dan menguncinya.
Kembali Daniel akan menangkap Dani yang masih menghindar darinya.
“Kamu nggak akan bisa keluar. Karena pintunya sudah aku kunci..!!”
Nathan yang berada di luar dan mendengar bunyi gaduh, sangat cemas. Ia menghkhawatirkan Dani, yang saat ini berada di dalam. Ia segera turun ke bawah dan meminta kunci cadangan kamar majikanya kepada bi Marta. Karena mengatakan alasanya dengan tepat, bi Marta memberikan kunci cadangan tersebut.
“Mundur mas, Dani bilang mundur..!!” ucap Dani yang kini ketakutan karena Daniel terus saja maju mendekatinya. Dani mundur, selangkah demi selangkah, akhirnya kaki Dani terpentok pada sebuah meja kecil.
“Jangan melawan jika tak ingin kesakitan. Kamu istri aku kan? Sudah sewajarnya aku minta kamu melayani aku, paham..!!”
“Saya tak mau melayani kamu mas, sampai kapan pun.!! Karena kamu telah tidur dengan Anyelir..!!! Sampai kapanpun Dani tak sudi..!!”
__ADS_1
“Dasar gadis tak tahu diri.." Daniel semakin bersemangat malam itu mendapatkan pelayanan dari Dani, istrinya.
“Aku bilang jangan mendekat mas Daniell..!!” Namun Daniel nekat dan kini semakin dekat.
Pyarrrrrr
Dani yang ketakutan, dan saat itu tanganya meraba sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca, ia pecahkan dengan sengaja.
“Kamu mau apa.!!?” ucap Daniel kaget.
“Kalau mas nekat, Dani juga bisa nekat..!!”
“Silakan saja gadis bodoh..!! Aku nggak peduli..!!” Semakin dekat dan Daniel merebut pecahan kaca yang di pegang oleh Dani. Terjadilah perbutan pecahan kaca dengan sengit.
Sreeeettttttt
Suara sayatan yang tak sengaja di lakukan oleh Daniel. Ia yang berniat hanya merebut saja, tanpa sengaja menyayat urat nadi Dani, istrinya sendiri. Dani membelalak, dan menghentikan rebutan pecahan kaca dengan Daniel. Darah segar mengalir dari tangan kiri Dani. Gadis itu roboh di hadapan Daniel. Merasakan peeih dan sakit.
“Dani...!?” ucap Daniel lirih. Ia mematung melihat darah segar dan menetes di lantai.
Nathan yang berhasil meminta kunci cadangan kamar Daniel, dengan segera membuka pintu tersebut. Ia terkejut, melihta Dani duduk di lantai dan tangan kananya memegang tanga kirinya yang banyak mengeluarkan darah segar.
“Non Dani..!!” teriak Nathan yang melihat darah terus menetes dari tangan kirinya.
“Nathan..?? Bagaimana kaa....” ucapan Daniel belum selesai. Nathan langsung membopong tubuh Dani dan akan membawanya keluar dari kamar itu.
“Nathan.., jelaskan semua ini..!!”
“Minggir...!!” jawab Nathan dengan garang. Nathan melewati Daniel, kemudian berlari sambil membopong Dani, menuruni anak tangga. Dengan cepat ia membawa Dani ke rumah sakit dengan mobil Daniel. Sedangkan Daniel masih berdiri mematung, mencoba mengerti dengan sikap Nathan barusan.
Brengsek kamu Daniel, kenapa non Dani sampai begini.
“Sabar ya non, bentar lagi kita akan sampai, non Dani tahan dikit..”
Nathan tak peduli dengan Daniel. Saat ini baginya yang terpenting adalah menyelamatkan Dani. Darah membasahi celana panjang yang di pakai Dani. Gadis itu semakin lemah. Terlalu banyak darah yang ke luar.
Brukkk
Akhirnya Dani pingsan disamping Nathan.
“Non Dani..!!! Bangun non..!! Nathan bilang bangun...!!” Nathan panik melihat Dani pingsan di sampingnya. Ia melajukan mobilnya dengan cepat. Tak berapa lama, sampai juga Nathan di rumah sakit. Dengan cepat ia keluar dari mobil dan berlari untuk membuka pintu di samping Dani. Ia membawa tubuh Dani segera ke ruang UGD.
__ADS_1
Beberapa suster segera memberikan pertolongan kepada Dani. Nathan duduk menunggu Dani yang tengah di rawat di dalam ruang UGD. Setengah jam berlalu. Pintu UGD terbuka. Seorang dokter dan dua orang suster keluar. Nathan buru-buru menghampiri dokter tersebut.
“Dokter, bagaimana keadaan gadis yang ada di dalam..?” tanya Nathan cemas.
“Anda tenang saja. Kami sudah menanganinya. Pasien harus di rawat inap di sini. Beruntung anda cepat membawa pasien ke sini, karena darah yang keluar terlalu banyak..”
“Syukurlah. Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuknya.”
Dari dalam ruang UGD, Dani yang terbaring tak sadarkan diri, dan berada di ranjang, di dorong oleh dua orang suster.
“Mau di bawa ke mana sus pasienya?” tanya Nathan yang berjalan menghampiri suster tersebut.
“Mau di pindahkan ke kamar rawat, mas.”
“Owhh iya, Sus..”
Nathan mengikuti ke mana sang suster membawa Dani. Sang suster berhenti di kamar kelas 2, dan akan segera masuk.
“Tunggu, sus..!”
“Iya, kenapa mas?”
“Jangan di ruangan kelas ini. Tempatkan gadis ini di ruang VVIP.”
“Baiklah mas, jika itu permintaan anda..”
Sang suster kembali medorong ranjang Dani menuju tempat di mana ruang yang di mau oleh Nathan. Sesaat setelah sampai di ruang VVIP, Dani segera di tempatkan, dan kedua suster tersebut segera pergi. Kini, tinggalah Nathan yang menunggui Dani. Beberapa saat kemudian, Nathan mengirimkan pesan kepada Daniel.
Tiiinggggg
Satu pesan masuk ke hp Daniel.
“Mas, sekarang saya dan non Dani berada di rumah sakit..” pesan dari Nathan dan ia juga menuliskan alamat rumah sakitnya.
Daniel tak bergeming, dan pesan dari Nathan hanya di bacanya, berniat membalasnya pun tidak. Ia masih duduk termenung memikirkan sikap Nathan kepada Dani barusan. Daniel baru tau sisi lain dari sikap Nathan.
Malam itu, Nathan menunggui Dani. Di pandangnya wajah Dani yang belum sadar dengan lekat. Dalam keadaan seperti itu, tangan Nathan reflek, seolah ada kekuatan yang membimbing tanganya untuk mengusap rambut Dani. Pelah dan penuh kelembutan, tangan Nathan membelainya.
Aku seperti orang gila jika melihat kamu sakit Andani, apalagi jika melihatmu menangis, entah apa yang akan terjadi padaku
BERSAMBUNG
__ADS_1