Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 101


__ADS_3

Sidang perceraian usai sudah setelah pak hakim mengetok palunya tiga kali. Selesai. Hubungan yang di sebut suami istri antara Daniel dan Dani usai sudah. Cerita dan semua kenangan yang terjadi di antara mereka, kini hanyalah sebagai bingkisan kalbu, sebagai penghias kisah manis dalam hidup masing-masing.


Tubuh Daniel tak bertenaga untuk berdiri dari tempat duduknya. Sejenak Daniel menundukan kepalanya, namun sesaat kemudian ia menoleh ke arah Dani. Antara Daniel dan Dani saling menatap. Kedua mata saling beradu pandang satu sama lain. Ada guratan kesedihan yang terlihat di wajah Daniel, dan itu tanpa Daniel mengatakan, Dani tahu betul.


Terlintas dalam benak Daniel, bagaiamana pertama ia berkenalan dengan Dani, awal mula menikah hingga ia hidup bersama denganya. Teringat ia tak pernah memperlakukan Dani dengan baik. Nasi sudah menjadi bubur dan waktu tak bisa di putar kembali. Bahkan kesempatan tak mau berpihak kepadanya. Penyesalan yang tak bertepi.


Perlahan Dani bangkit dari tempat duduknya, dan menghampiri Daniel yang masih diam di tempatnya.


“Maaass.....”


Daniel tersenyum manis kepada Dani.


“Apakah mas akan duduk di sini terus...?”


Mendengar ucapan Dani, Daniel hanya menggelengkan kepala. Kemudian berdiri dan kini berdiri tepat di hadapan Dani.


“Sekarang kita sudah resmi bercerai. Maafkan semua kesalahan yang telah mas lakukan kepada kamu selama ini Dan, baik yang sengaja maupun yang tak sengaja mas lakukan...”


“Tidak ada yang perlu di maafkan mas, mas nggak ada salah kok sama Dani, sebaliknya, Dani minta maaf karena mulai sekarang Dani tak bisa di samping mas lagi, untuk ke depanya, Dani doain, semoga mas akan segera mendapatkan pengganti Dani, tentunya yang lebih baik dari Dani, dan bisa mengurus mas dengan baik...”


“Dan, bolehkah mas memeluk kamu untuk yang terakhir kali walau hanya sebentar saja...?” ucapan Daniel terdengar begitu perih di hati Dani. Walau dulu sering berbuat jahat kepadanya, entah kenapa, sekarang lelaki yang berstatus mantan suaminya itu begitu sangat menyedihkan, hingga membuatnya merasa iba. Dengan merentangkan kedua tanganya, Dani memberikan kesempatan kepada Daniel. Tanpa menunggu lagi, Daniel memeluk Dani begitu eratnya. Sesak di dadanya kian bertambah, dan akhirnya turunlah bulir-bulir air mata dari kedua kelopak matanya yang terpejam.


Dani meraskan getaran dari tubuh Daniel yang tengah memeluknya. Kesedihanya sangat jelas terasa. Perlahan ia menepuk punggung Daniel dengan pelan, walau ia sendiri menahan kesedihanya.


Dari jauh, tuan Wijaya, tante Ema dan Evan, juga meraskan hal yang sama. Melihat dua orang yang sangat mereka kasihi dan sayangi, kini telah berpisah.


Sesaat suasana hening. Pak hakim, pak jaksa dan pengacara masing-masing sudah meninggalkan ruangan itu. Hanya mereka berdua dan tentunya papa, tante dan adik Daniel yang masih berada di situ.


“Mass, jangan sedih begini. Kita masih bisa bertemu untuk menjalin silaturahmi...”


Perlahan Daniel melepaskan pelukanya sambil menghapus air matanya sendiri. Di selingi anggukan, ia berusaha menampakan senyumnya.


“Iya Dani...”

__ADS_1


Saat membalikan badanya, Dani terkejut melihat papa mertuanya, tante Ema dan Evan yang rupanya menunggui sidang perceraianya.


“Papa...?” tutur Dani secara pelan. Teringat kembali ia dengan pengakuan papa mertuanya. Agak berat ketika ia akan melangkahkan kakinya berjalan.


“Papa, tante, Evan..?” ucap Daniel tak kalah terkejutnya. Daniel paham dengan ekspresi wajah Dani.


“Dan...? Kamu tidak apa-apa..? Kalau kamu tak ingin menyapa papa, tidak apa-apa kamu abaikan saja beliau...”


Dani terdiam. Sesaat ia berfikir. Dalam benaknya, terlintas sebuah fikiran. Daniel sudah menduga kalau Dani tidak akan menyapa papanya, dan akan mengabaikanya. Namun rupanya tebakan Daniel meleset. Dani melangkah mendekati papa mertuanya, dan di ikuti Daniel dari belakang.


“Om....?” ucapan Dani membuat semua mebelalakan mata.


“A..apa yang baru saja kamu ucapkan nak..?” ujar tuan Wijaya dengan bibir gemetar. Tak percaya kalau Dani akan mengubah panggilan kepadanya.


“Kamu panggil papa dengan sebutan om..?” imbuh tuan Wijaya lagi.


Dani tertunduk. Dengan mata yang kini berkaca-kaca dan mulai menggenang di pelupuk matanya.


“Nak, papa mohon, jangan panggil papa dengan sebutan itu, itu akan membuat hati papa semakin perih nak. Di sini, di tempat ini juga, papa akan bilang sama kamu, kalau kamu boleh melaporkan papa kepada pihak yang berwajib, atas dosa-dosa papa di masa lalu kepada orang tua kamu, papa ikhlas jika harus menghabiskan sisa umur papa di dalam penjara nak..”


“Iya nak, kamu boleh melaporkan papa...” ucap tuan Wijaya memperjelas kata-katanya.


Tak kuasa Dani berlari ke arah papa mertuanya dan memeluknya.


“Papa...” Dalam pelukan papa mertuanya, Dani menangis. Tangisnya terdengar sesenggukan.


“Dani nggak akan melaporkan papa...” Di sela tangisnya ia berkata.


Tuan Wijaya memeluk Dani seperti memeluk putrinya sendiri. Dengan pelan dan penuh kasih sayang, ia membelai rambut Dani.


“Tidak nak, papa bersalah, kamu berhak melaporkan papa..” Tanpa berkata, Dani hanya menggelengkan kepalanya. Lalu ia melepaskan pelukanya.


“Dani tak akan melakukan hal itu pah, tante. Dani memaafkan semuanya. Dani tak ingin membuat hati papa sedih dan juga tante Ema. Dani sudah menganggap papa sebagai papa kandung Dani sendiri, karena dalam diri papa, Dani mendapatkan figur seorang papa, yang selama ini tidak Dani dapatkan..”

__ADS_1


Mendengar hal itu, tante Ema spontan memeluk Dani, mendekapnya erat sekali, dan menumpahkan keharuanya.


“Sungguh mulia sekali hati kamu Dani. Sungguh, maafkanlah tante yang sudah bersalah ini...” Keduanya saling terisak. Daniel dan juga Evan tak luput dari moment keharuan itu. Keduanya sebisa mungkin menahan air mata mereka agar tidak menetes dengan mengedipkan mata masing-masing beberapa kali.


“Tante, papa, Dani, udah..., mari kita pulang...” ucap Daniel memecah moment haru itu.


“Iya. Dani.., biarkan Daniel mengantarkan kamu...” ujar tuan Wijaya.


“Emm, enggak paah, Dani mau pulang sendiri saja. Kalau di anterin mas Daniel, Dani takut akan semakin menambah kesedihan di hati mas Daniel...”


“Tidak apa-apa Dan. Mas tidak akan sedih, justru mas akan sangat senang sekali..”


“Iya kak Dani, biarkan kak Daniel mengantarkan kak Dani..”


Setelah di bujuk oleh semuanya, akhirnya Dani mau di antarkan oleh Daniel pulang ke rumah neneknya.


Mereka berjalan meninggalkan ruang sidang dan menuju parkiran.


“Daniel, kamu ati-ati ya anterin putri papa..? Jangan ngebut bawa mobilnya..?” ucap tuan Wijaya sebelum masuk ke dalam mobilnya.


“Iya, bener ucapan papa kamu, ati-ati ya Dan...? Tante pulang dulu..” kilah tante Ema lalu berpelukan dan cipika-cipiki dengan Dani.


“Tante, papa, Evan, ati-ati juga...” balas Dani sembari tersenyum.


Evan hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada Dani. Lalu ketiganya masuk ke dalam mobil yang di setiri oleh Evan. Tak lama kemudaian, mobil melaju dan menghilang dari pandangan keduanya. Dan keduanya kini memasuki mobil Daniel.


“Ohhh, itu rupanya mereka sudah keluar..” gumam Ramon pelan. Ia buru-buru tancap gas untuk mengikuti mobil yang di bawa oleh Daniel. Ia terus mengikuti mobil tersebut. Daniel tak sadar kalau ia sedang di buntuti oleh Ramon.


“Dan, mas sangat berterima kasih sekali sama kamu, kamu sudah sangat baik kepada keluarga mas. Mas sangat malu kepada kamu, dan tak tau harus bagaimana...” ucap Daniel di perjalanan menuju rumah nenek Eliza.


“Mas, udahlah, Dani sudah ikhlas dan memaafkan semuanya. Intinya cuma satu, Dani ingin kedamaian dan hidup tenang, itu saja mas...”


Setelah Dani berkata demikian, mendadak Daniel menginjak rem dengan mendadak, hingga membuat Dani kejedot kaca mobil.

__ADS_1


“Awwww....!!!” teriak Dani yang meringis kesakitan. Rupanya ada mobil yang mendadak menghalangi mobil Daniel, Mobil itu tak lain dan tak bukan adalah mobil milik Ramon, teman Anyelir.


BERSAMBUNG.


__ADS_2