Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 100


__ADS_3

Rupanya ucapan Anyelir bukan sekedar omong kosong belaka. Ia tak main-main. Sebuah rencana telah ia susun dengan rapinya dengan temanya yang bernama Ramon. Sebuah rencana yang akan di tujukan kepada Dani. Ya, kepada Dani.


Gila. Memang sungguh sangat gila si Anyelir. Karena cintanya kepada Daniel yang begitu gila dan sangat terobsesi, dan sebaliknya, cinta Daniel telah memudar kepadanya, ia menyalahkan semuanya kepada Dani, dan ia sangatlah dendam kepadanya. Walaupun itu bukanlah salah Dani sepenuhnya, itu di karenakan sikap dan sifatnya yang membuat Daniel menjauh dan bahkan kini jarang mau menerima telfon dan di ajak ketemuan denganya. Hal itu membuatnya semakin gelap mata saja, dan melihat Dani sebagai musuh besarnya.


***


Pagi yang cerah. Pagi ini, Daniel tak masuk kerja, karena hari ini sidang terakhir perceraianya dengan Dani. Pukul 10.00 WIB, Daniel sudah bersiap-siap dengan kemeja putih dan celana warna hitam. Sungguh sangatlah tampan sekali. Setelah mematut diri, menyisir rambut dan tak lupa menyemprotkan sedikit parfum, dengan aroma yang sangat khas sekali, ia beranjak dari depan cermin yang sedari tadi dengan setia memantulkan bayangan tegap badanya yang sispack.


Dengan memantapkan hati, ia berjalan keluar dari kamarnya.


“Mas Daniel...?” ucap Dani yang juga keluar dari kamarnya.


“Pagi Dan, bagaiamana.., sudah siap..?” Dengan tersenyum Daniel balas menyapa Dani sambil menutup pintu kamarnya.


“Emm, iya mas. Mas juga udah siap..?” Senyum yang indah menghiasi bibir Dani.


“Seperti yang kamu lihat. Kita sarapan dulu...?” Ajak Daniel dan di iyakan oleh Dani. Keduanya berjalan bersama menuju ruang makan. Dari dapur, bi Marta menatap keduanya dengan sedih. Kenapa majikan mudanya harus berpisah, sedangkan bi Marta mulai suka melihat keduanya sering tertawa bersama.


“Bi, kenapa bengong...?” Sapaan Dani membuyarkan lamunan bi Marta.


“Eh, enngg..enggak papa non. Non sama mas Daniel silakan duduk, bibi udah siapin sarapan buat non dan mas Daniel..”


“Terima kasih bi...” jawab Daniel dengan sopan.


Keduanya segera duduk di kursi masing-masing.


“Dani, kamu mau makan apa, biar saya yang ambilkan...”


“Eh, enggak usah mas, biar Dani ambil sendiri. Atau mas mau Dani ambilkan..?”


“Enggak Dani, untuk yang terakhir kalinya, biar saya mengambilkan makanan buat kamu..”


“Maaas, jangan berkata begitu, jangan buat hati Dani tambah sedih, walaupun kalau nanti kita sudah berpisah, Dani akan tetap menjaga silaturahmi dengan mas, mas nggak keberatan kan..?”


“Tentu saja tidak, mas malah seneng banget..”


“Kalau begitu, biar Dani yang ambilin sarapan buat mas, okey...”

__ADS_1


Daniel mengangguk dan dengan cekatan Dani berdiri dari tempat duduknya, mengambilkan pancake untuk Daniel, menuangkan susu ke dalam gelas Daniel.


“Ayo mas, segera sarapan...”


Suasana hening ketika keduanya menikmati pancake masing-masing.


Dani, aku masih tak percaya, kalau hari ini status kita akan segera berganti dengan sebutan mantan. Sesungguhnya, aku tak sanggup harus berpisah denganmu Dan, sungguh aku tak sanggup. Tapi jika melihat kesedihanmu, aku lebih sakit dan tak sanggup lagi. Ini memang jalan yang harus aku tempuh, takdir dari Tuhan, dan aku rela.


Batin Daniel menggumam sendiri. Sambil melihat wajah Dani yang tengah asik menikmati pancakenya. Ia tak sadar kalau sedari tadi Daniel fokus kepadanya dan bukan kepada makananya. Bi Marta yang juga melihat keduanya dari dapur, meneteskan air mata sendiri. Walaupun sikap Daniel yang kemarin-kemarin tidak baik sama Dani, entah mengapa melihat Daniel saat ini hatinya ikut merasakan sakit. Secara bi Marta sudah bertahun-tahun ikut dengan Daniel dan sudah paham betul dengan wataknya. Ia tak tega, melihatnya terluka lagi seperti saat Daniel kehilangan mamanya dulu.


Krriiiiiiiiiinnng krriiiiiiiiinngggg


Dering telefon rumah yang ada di ruang tengah mengejutkan bi Marta. Bi Marta buru-buru mengangkatnya.


“Iya, halloo...”


“Pagi bi, apakah Daniel sudah ke pengadilan...?”


“Nyonya Ema, belum nyonya, mas Daniel sama non Dani masih sarapan, paling bentar lagi berangkatnya nyonya...”


“Baiklah bi, makasih bi. Oh iya bi, jangan bilang kalau yang nelfon saya ya...?” pinta tante Ema.


“Ya sudah, saya tutup bi...”


“Iya nyonya...”


Bibi dan tante Ema barengan menutup telefon. Lalu kembali berjalan menuju dapur, tempat ternyamanya sehari-hari untuk menyiapkan hidangan favourite kedua majikanya, atau bahkan berkreasi menyajikan menu barunya.


“Bi tolong nanti di bereskan ya, soalnya Dani terburu-buru..” kata Dani yang beranjak dari duduknya.


“Baik non. Non sama mas Daniel ati-ati ya...?” ucap bi Marta seperti berkata kepada anaknya sendiri.


“Iya bi..” jawab Dani.


Daniel hanya tersenyum. Namun si bibi dapat merasakan arti dari senyuman majikan mudanya itu.


Bibi tau mas, mas Daniel sedang tidak baik-baik saja. Walaupun bibi hanya pembatu, tetapi bibi sudah sangat mengenal mas Daniel. Hati mas Daniel saat ini sedang sedih, walaupun bibir mas Daniel berusaha tersenyum. Semoga Tuhan selalu bersama mas Daniel, aamiin.

__ADS_1


Melihat kedua majikanya menghilang dari pandangan, bibi segera melanjutkan pekerjaanya.


“Ramon, bagus atas informasi yang kamu berikan. Kamu tau kan apa tugas kamu, dan saya harap semuanya berjalan dengan mulus tanpa ada hambatan, oke..!!”


Suara percakapan Anyelir dan Ramon lewat telefon. Saat ini Anyelir berada di salonya. Dengan wajah yang berekspresi menyeringai, sambil menghisap sebatang rokok dan mondar-mandir di ruangan yang masih sepi. Karena memang hari itu ia tak membuka salonya.


“Lu percaya sama gua, tapi elu juga harus jamin kalau sampai masalah ini sampai tercium aparat kepolisian, lu harus tanggung hidup gua..”


“Apa sih yang nggak bisa Anyelir selesaikan. Cuma kali ini saja gue butuh bantuan lo, kalau sendirian, mana bisa gue. Pokoknya lu tenang aja..!” sergah Anyelir.


“Oke, gua akan standby di pengadilan sekarang, tungguin di tempat yang udah lu bilang..!”


“Ok..!!”


Tak lama keduanya mengakhiri telefon. Anyelir segera mematikan rokoknya, dan masuk ke dalam mengambil tas serta kunci mobilnya.


“Mbak Anye, hari ini salon nggak buka...?” tanya seorang pelanggan yang sudah berdiri di depan salon Anyelir, saat ia membuka pintunya.


“Eh ibu, maaf.., untuk seminggu ke depan salon tutup dulu, ada kepentingan keluarga, sekali lagi maaf ibu..” jawab Anyelir dengan sopanya. Sikapnya sangat bertolak belakang sekali. Ibarat dua sisi mata uang.


“Yaaach, padahal jauh-jauh ibu datang ke sini. Kalau salon yang lain, ibu nggak sreg. Ya udah deh, seminggu lagi ibu datang ke sini ya..” ucap ibu tersebut yang semula raut wajahnya muram kini berubah jadi ceria lagi.


“Iya ibu, Anye tunggu ya, sekali lagi maaf...?”


“Iya mbak Anye, ibu permisi dulu..”


“Silakan...“


Setelah ibu pelanggan salon itu pergi dan hilang dari pandanganya, Anyelir buru-buru masuk ke dalam mobilnya, dan dengan cepat meluncur menuju sebuah tempat. Perlahan namun pasti, mobilnya melaju meninggalkan kota tempat ia tinggal.


Sementara Ramon, sudah standby di dalam mobil yang ia parkirkan tepat di seberang pengadilan tempat Dani dan Daniel akan menjalani sidang terakhir mereka.


“Anye.., Anye.., lu memang wanita yang ambisius. Sebenarnya gua ogah ngebantu, tapi karena gua cinta ama lo Nye dan lu nya ngga peka. Tak apalah, suatu saat pasti lo nyadar...”


Dani dan Daniel tiba di pengadilan tepat pukul 11.00 WIB. Keduanya segera memasuki pengadilan begitu turun dari mobil mereka. Ruang sidang adalah tujuan mereka. Dan benar saja, ketika mereka memasuki ruang sidang, ada dua orang pengacara yang sudah menunggu mereka untuk menemani mereka saat jalanya sidang. Tak lama pak hakim dan pak jaksa memasuki ruangan. Sidang segera di mulai. Tanpa mereka sadari, Pak Wijaya dan tante Ema, serta Evan menunggui jalanya sidang di belakang mereka.


Hampir setengah jam lebih sidang berlangsung. Akhirnya ketok palu hakim berbunyi 3 kali.

__ADS_1


“Dan dengan ini, saya nyatakan saudara Andani Maharani Putri dan saudara Daniel Permana Wijaya telah resmi bercerai...” kata pak Hakim dengan jelas dan seksama.


BERSAMBUNG


__ADS_2