
“Evan..? Kapan kamu kembali..?” tanya Daniel yang kaget karena adiknya sudah kembali. Situasi yang sangat Daniel benci. Berjumpa dengan adiknya, Evan.
“Anda....??” ucap Dani tak kalah kagetnya. Sebab, pria yang bertabrakan denganya di gramedia ternyata adalah adik dari Daniel, suaminya, yang berarti dia adalah adik iparnya.
“Evan kembali tadi siang kak. Sungguh suatu kebetulan, ini tentunya kak Dani, istri kak Daniel, yang secara tak sengaja bertemu di gramedia tadi..”
“Apa kabar kak Daniel...? Lama kita tidak bertemu?” ucap Evan yang maju menghampiri kakaknya dan memeluk Daniel.
“Baik...” jawab Daniel singkat.
“Kak Daniel belum juga berubah, masih sinis kepada Evan..” Bisik Evan di telinga Daniel, lalu melepaskan pelukanya.
“Apa kabar kakak ipar? Senang sekali bisa bertemu kakak ipar, dan maaf, saat pernikahan kakak, saya tidak bisa pulang untuk menghadirinya..” ucap Evan yang menjabat tangan Dani.
“Senang juga bisa bertemu dengan kamu Evan, tidak papa kok...” jawab Dani yang menjabat tangan Evan sambil tersenyum.
“Karena kalian sudah saling bertemu, sekarang kita makan malam bersama, papa sudah merindukan momen seperti ini, berkumpul bersama, dan terlebih sekarang ada menantu papa...” ucap tuan Wijaya yang membuat Dani tersenyum.
Semua segera mengikuti langkah tuan Wijaya ke meja makan. Dani duduk di sebelah Daniel, dan tepat di hadapan Evan. Acara makan malam pun di mulai.
“Mas mau aku ambilin apa..?” tanya Dani dengan pelan.
“Capcay sayur saja..” Dani mengambilkan apa yang di mau Daniel.
“Evan, karena kamu sudah pulang, kini saatnya papa akan mempercayakan Amazone Hotel kepada kamu. Sedangkan kamu Daniel, mengelola Beverly Hill's hotel, papa harap kamu bisa memegang kepercayaan yang papa berikan ke kamu. Sudah waktunya papa undur diri dari dunia bisnis yang membuat papa lelah..”
“Jika itu kemauan papa, baiklah.., Evan akan mengemban amanah yang papa berikan..”
“Kenapa Amazone di berikan kepada Evan? Harusnya dia yang Beverly saja paah..”
“Kamu jangan membantah keputusan papa, lebih baik kamu menurut saja..”
“Enggak bisa gitu dong pah..! Daniel kan anak sulung papa. Pokoknya Daniel mau yang Amazone, titik...!!”
Tuan Wijaya menjadi gusar, karena Daniel tidak terima dengan keputusan yang ia buat.
“Daniel, jangan memancing emosi papa lagi..!!”
“Sudah pah, biar Evan yang pegang Beverly, memang seharusnya kak Daniel yang Amazon.”
“Tapi Van...?”
__ADS_1
“Paahh, Evan sayang sama papa, Evan nggak mau papa mikir yang macem-macem, Evan mau papa menjaga kesehatan papa, jangan sampai penyakit jantung papa kambuh lagi. Evan sudah kehilangan mama, Evan nggak mau kehilangan papa..”
Daniel yang mendengar ucapan Evan menatapnya sinis.
Pinter banget lo cari muka di depan papa. Dasar anak pungut...!! Harusnya lo tau posisi lo di rumah ini.
Daniel mengumpat dalam hatinya. Ia tambah benci saja dengan kedatangan adiknya yang secara tiba-tiba itu.
Evan memang bukan anak kandung tuan Wijaya. Ia adalah anak dari sahabatnya yang meninggal karena kecelakaan. Dan kedua orang tua Evan menitipkanya kepada tuan Wijaya, sejak ia masih bayi dan tuan Wijaya mengangkatnya sebagai anak. Seiring dengan berjalanya waktu, Daniel semakin cemburu dengan Evan, sebab mama dan papanya sangat menyayangi Evan. Karena anak itu begitu sopan dan ramah kepada semua orang dan tumbuh menjadi pemuda yang tampan.
“Kak Daniel, Evan mau kok bertukar posisi, kak Daniel pegang Amazone, dan Evan pegang Beverly, setuju..?” ucap Evan di depan tuan Wijaya.
“Oke..!! Papa liat sendiri kan? Evan yang menyerahkan sendiri tanpa pemaksaan..” ucap Daniel.
“Terserah kamu Van, jika memang itu sudah keputusan kamu, papa tidak bisa menolaknya. Dan untuk kamu Daniel, papa percayakan hotel Amazone kepada kamu...”
“Baiklah..” jawab Daniel sambil memasukan sesendok makanan ke mulutnya.
“Dani, bagaimana? Apa papa sudah akan menjadi kakek..?” tanya tuan Wijaya kepada menantunya.
“Em, anu paah...” Dani belum sempat melanjutkanya, tiba-tiba Daniel main potong saja.
“Kami sengaja menundanya..!” sahut Daniel.
“Apa maksud papa..!!?” jawab Daniel agak emosi.
“Sudah kak Daniel, Evan baru pulang. Bisa nggak kak Daniel menjaga perasaan Evan dan menghormati papa..!!”
Kali ini Evan sudah tidak bisa menahan Emosi. Ia tak sanggup melihat papanya di katai dengan suara kasar oleh kakaknya.
“Diam kamu..!! Karena kamu bukan anggota keluarga Wijaya..!!”
Plaaaakkkkk
Spontan tuan wijaya menampar Daniel. Karena amarah yang sudah di ubun-ubun, tuan Wijaya beranjak dari duduknya dan melayangkan tamparan kepada Daniel yang berada di sampingnya.
“Papa menampar anak kandung papa demi anak angkat papa..!!?”
“Tutup mulut kamu..!!! Papa rela kehilangan seribu anak kandung papa demi anak angkat seperti dia. Bagi papa, Evan lebih dari sekedar anak kandung..!! Harusnya kamu belajar dari dia. Sikap dan tingkah laku kamu berbeda jauh dengan kelurga Wijaya. Entah apa yang ada dalam benak kamu, sampai papa sendiri tak mengenali kamu..!! Kamu berubah, mana Daniel yang papa kenal dahulu..?”
“Papa..., maafkanlah atas sikap mas Daniel, maafkan atas kelancanganya, Dani mewakili memohon maaf kepada papa..”
__ADS_1
“Diam kamu..!! Siapa suruh kamu bicara..!!”
“Mas Daniel...?” kata Dani dengan pelan.
“Ayo pulang...!” Daniel tanpa pamit langsung pergi meninggalkan ruang makan.
“Papa, Evan, Dani permisi pulang dulu..” ucap Dani membungkukan badanya.
“Iya Dani, kamu yang sabar yach, menjadi istrinya..?” Pesan tuan Wijaya.
“Baik pah.”
“Hati-hati di jalan kak Dani...”
“Iya, Van..” Setelah pamitan, Dani segera keluar mengejar Daniel yang lebih dulu keluar. Ia menghampiri mobil Daniel yang sudah berada di luar gerbang pintu pagar rumah papa Wijaya.
“Mas Daniel, tunggu..? Mas Daniel...?” Teriak Dani yang melihat mobil Daniel meluncur tanpa menunggunya. Dani terus berlari mengejar mobil Daniel yang melaju dengan kencang. Lelah kaki Dani mengejar mobil Daniel. Ia pun berjalan kaki. Karena betisnya terasa sakit, ia melepaskan high heelsnya.
Orang-orang yang melihatnya malam itu heran, ada juga yang tertawa sambil berbisik kepada temanya.
“Ssshhhhh..., perih sekali...” Desah Dani yang duduk di trotoar dan melihat betisnya yang sedikit berdarah.
“Barang bagus tuh...?”
Ucapan seorang lelaki yang duduk di dalam mobil yang terpakir tak jauh dari tempat Dani duduk.
“Mana...?” tanya temanya yang tengah asyik bermain ponsel dan mengalihkan pandanganya kepada Dani.
“Itu tuh, gadis yang pakai baju putih, yang duduk di pinggir jalan..”
“Woiiisss, gemoy banget tuh cewek. Wajahnya ngegemesin, kita deketin saja...”
Kedua lelaki muda yang berada di dalam mobil tersebut segera turun dan mendekati Dani. Biar orang-orang yang melihat mereka tak curiga, salah satu dari mereka pura-pura menanyakan alamat kepada Dani.
“Maaf nona, saya mau tanya alamat ini...?” ucap lelaki yang duduk di sebelah Dani. Sedangkan yang satunya mengawasi situasi.
“Jangan berteriak, dan jangan melawan..!!Sebaiknya kamu ikut dengan saya..!!” sebelum Dani sempat menjawab pertanyaan yang pertama, nyalinya menciut dengan ucapan yang ia dengar barusa. Wajah Dani menjadi pucat pasi, karena orang tersebut menodongkan sesuatu di pinggang Dani, seperti benda tajam.
“A...aa...anda siapa..?” tanya Dani ketakutan..
“Jangan banyak bertanya, cepat berdiri dan masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu...” ucap lelaki tersebut dan menunjuk mobil yang berwarna hitam dan terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.
__ADS_1
BERSAMBUNG