Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 117


__ADS_3

Daniel menghentikan ucapanya. Ia merasa bimbang dengan perasaannya. Waktu di rumah sakit dan sedang di rawat oleh suster Tiara, yang tak lain adalah cinta pertamanya, ia merasa bunga bermekaran dan berseri-seri dalam hatinya. Namun beberapa menit yang lalu, saat tak sengaja bercanda dan tertawa bersama Dani mantan istrinya, perasaannya kepada Tiara yang baru saja mulai muncul, seolah kembali di telan oleh senyum dan tawa Dani. Benar-benar lenyap begitu saja. Ia menyadari bahwa sampai saat ini Dani telah menguasai hati dan fkiranya, namun semua itu sudah tidak diperbolehkan, karena baru kemarin ia berpisah denganya.


Dan, andai kau tau, saat ini hati mas sedang sakit, sakiiiit yang sangat luar biasa. Mas terlalu sombong, hingga mas lupa diri. Karena nafsu setan mas menjadi hilang arah. Mas tidak menyadari kalau di hadapan mas ini adalah bidadari tak bersayap yang di kirim Tuhan untuk melengkapi hidup mas. Rasanya mas ingin menangis di pelukan mama. Mas harus mengadu kepada siapa. Nyesek sekali rasanya.


“Hellooo..., mas...” ucap Dani sambil melambaikan tangan kananya di depan wajah Daniel yang sedang melamun. Daniel yang tadinya tenggelam dalam lamunanya, sangat terkejut dan buru-buru menyadarinya.


“Ehhhh..., emmm iya iya Dani, kenapa...?” jawab Daniel dengan gugup.


“Mas kenapa sih, kok sampai bengong gitu? Mikirin Tiara ya...? Cieeee....?” goda Dani tersenyum meledek.


“Aaahhh, apaaan..., enggak kali...?”


“Ketangkap basah nih. Mas Daniel suka banget ya sama dia...?”


“Itu dia Dan, mas masih bingung dengan perasaan mas...”


“Jangan bingun mas, santai saja. Jika memang jodoh, walaupun jalanya terjal dan penuh liku, pasti akan bersatu. Sebaliknya, jika bukan jodoh, walaupun sedekat urat nadi, pasti juga akan terpisah, iya kan..?”


“Bener apa katamu Dan, tumben kamu pinter...?” ujar Daniel yang semakin suka melihat senyum, canda dan tawa Dani.


“Permisi, ini pesananya...” kata seorang pelayan yang mendorong meja kecil dan penuh dengan hidangan. Lalu meletakan di meja Daniel dengan pelan dan sopan.


“Silahkan menikmati...”


“Terima kasih...” ucap Dani ramah.


“Ayo Dan, kita ngobrol sambil makan..”


“Iya mas...”


Mereka mulai ngobrol sambil berbincang. Begitu asyik. Dari ngomongin soal Tiara hingga akhirnya balik lagi ngomongin saat awal Daniel di jodohkan denganya.


“Laaahh, kenapa mas Daniel jadi ngomongin tentang kita...?”


“Eeehhh, maaf Dan, mas jadi ngelantur...”


“Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Nathan...?” tanya Daniel tiba-tiba.


“Kalau di beri kelancaran, dalam waktu dekat ini, Nathan akan melamar Dani mas, mas Daniel doakan ya, supya semua berjalan dengan lancar tanpa halangan suatu apapun..”


Sumpah. Mendengar hal itu dari bibir Dani, ada sedikit kekecewaan di hati Daniel. Waktu tak bisa di putar kembali. Kesempatan Daniel sudah hilang. Ia telah menyia-nyiakan seseorang yang begitu baik. Dan kini ia hanya bisa meratapi nasibnya.


“Iya, mas doain, semua berjalan lancar...”


Tak terasa, saking asyiknya ngobrol, hari sudah menunjukan pukul 21.00 WIB.


“Mas, ayo kita pulang sekarang...?”


Daniel melihat jam tanganya.


“Oh iya, ayo....”


Keduanya berdiri. Ken sangat sigap. Ia berdiri dan langsung mendekat kepada Dani dan Daniel.


“Mau pulang sekarang mas...?” tanya Ken dengan sopan.

__ADS_1


“Iya Ken...”


Dani dan Daniel berjalan di ikuti Ken dari belakang. Setelah membayar, mereka segera menuju mobil.


“Ahhh, udah siap, ayo kita berangkat sekarang...?” ujar Dani yang selesai menyandarkan punggungnya di jok mobil belakang.


“Iya non....” jawab Ken di iringi laju mobil yang pelan.


Mobil berjalan pelan menembus ramai dan padatnya lalu lintas. Kadang mereka berhenti beberapa detik, karena di paksa oleh lampu merah. Tidak butuh waktu yang lama, mereka sampai di rumah Dani. Daniel segera turun, begitu juga dengan Dani dan Ken yang membukakan pintu untuk keduanya.


“Dan, makasih ya, udah mau menemani mas malam ini, walau curhatan mas mungkin bikin kamu bosan mendengarnya.”


“Mas Daniel jangan berkata seperti itu, Dani malah seneng bisa menemani mas dan mendengarkan curhatan mas Daniel...”


“Ya sudah, mas pamit dulu, sekali lagi terima kasih, Dan..”


“Sama-sama mas, mas nggak mau masuk dulu dan pamitan kepada nenek..?”


“Emmm, mas langsung saja, lagian udah malam, takutnya kalau nenek udah tidur dan ganggu...”


“Ooh.., kalau begitu ya sudah, mas Daniel hati-hati, sampai rumah lagsung istirahat yach, jaga kesehatan dan jangan lupa makan..”


“Iya Dani, pesan kamu akan selalu mas ingat, kami pamit dulu, dan pamitkan juga sama nenek besok...”


“Ssiiiip mas Daniel. Ooh ya, kak Ken nyetirnya ati-ati ya, jangan ngebut, hehe...”


“Siap non Dani...”


Keduanya segera beranjak meninggalkan rumah Dani. Mobil perlahan melaju dengan pelan. Dani memandang mobil mantan suaminya hingga hilang dari jangkauan penglihatanya. Ia membalikan badan dan membuka pintu pagar yang sengaja tidak di kunci. Ia membunyikan bel pintu. Sesaat terdengar langkah tertatih mendekati pintu.


“Dani, kamu sendirian..? Mana nak Daniel...?”


“Ooh iya nek, tadi mas Daniel langsung pulang, karena mau pamit sama nenek takut ganggu kalau-kalau nenek sudah tidur, ee..ternyata belum tidur, masih nungguin Dani, hehe...”


“Mana bisa nenek tidur kalau cucu nenek belum pulang, ayo masuk, ganti baju terus istirahat...”


“Oke nenek, cuuuppppp....” jawab Dani dan mengecup pipi neneknya yang sudah keriput.


Nenek Eliza menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya. Setelah menutup pintu Dani langsung pamit kepada neneknya.


“Dani langsung ke kamar ya nek, mau istirahat...”


“Iya sayang, selamat istirahat dan selamat tidur...”


“Iya nenek, met tidur juga....”


Dani dan nenek bergegas menuju kamar masing-masing. Sesampai di kamarnya, Dani langsung cuci tangan kaki dan membersihkan wajahnya.


“Aaaahhh, rasanya nyaman banget setelah cuci muka. Saatnya sleeping beauty....” gumam Dani yang merebahkan tubuhnya di ranjang.


Di raihnya handphone yang sejak tadi belum ia buka, dan ia letakan di meja.


“Wah ada tiga pesan dari Nathan rupanya. Waduh ada panggilan juga darinya...” gumam Dani agak panik.


Tak berapa lama, handphone Dani bergetar karena ada panggilan masuk dari Nathan. Cepat-cepat Dani segera menyambungkanya.

__ADS_1


👩 : “Iya hallo yank, ada apa...?”


👦 : “Kamu udah pulang yank...?”


👩 : “Sudah kok, baru saja masuk kamar dan selesai cuci muka. Oh iya maaf yank, tadi aku gak denger kamu kirim pesan dan memanggil, soalnya handphone aku silent, karena baterainya tinggal 30%, kamu nggak marah kan...?”


👦 : “Mana mungkin aku marah sama kamu, kan ada alasanya kamu nggak bales chat aku. Ya sudah, cepat bobok, udah malem, tentu kamu capek...”


👩 : “Eemmhhh, iya yank, aku bobok dulu, good nite....”


👦 : “Good nite, have a nice dream...”


👩 : “Have a nice dream to...”


👦 : “Kamu matiin gi telfonya....”


👩 : “Emm baiklah, aku matiin yach...”


Dani mematikan telfon sesuai perintah Nathan. Keduanya sudah saling merasa lega, karena sudah mendengar kabar dan suara satu sama lain.


Semantara itu, Daniel masih dalam perjalanan menuju rumah papanya. Di tengah perjalanan, ia meminta Ken untuk berhenti di jalan. Tepatnya di area bundaran kota yang terdapat air mancurnya dan banyak anak muda nongkrong untuk sekedar menikmati indahnya pemandangan kota dan juga ada yang berbincang-bincang.


“Mas Daniel mau ngapain di sini...?” tanya Ken heran.


“Kita duduk-duduk dulu Ken. Percaya nggak, aku belum pernah nongkrong di sini...”


Ken hampir tertawa. Tapi ia menutup mulutnya terlebih dahulu. Takut tuan mudanya tersinggung.


“Emmhh, baiklah. Jika mas Daniel ingin nongkrong di sini, saya akan temani mas..”


Daniel mengangguk. Kemudian berjalan ke bundaran setelah memarkir mobil di pinggiran bersama Ken. Keduanya duduk di pinggir air mancur menghadap ke jalan raya.


Daniel menghela nafas. Menghirup dalam-dalam kemudian menghembuskanya secara perlahan.


Pandanganya menerawang menatap bintang yang bertaburan di langit.


“Ken.....?”


“Iya mas, kenapa....?”


“Apakah Tuhan sudah membenciku...”


“Eeehh, mas Daniel ngomong apa sih...? Nggak boleh gitu mas, Tuhan menyayangi semua umatnya, tapi dengan cara yang berbeda tiap masing-masing hambanya...”


“Enggak Ken, aku merasa Tuhan sangat membenci aku...”


“Maaas, sebenarnya ada apa, cerita saja sama Ken, siapa tau Ken bisa bantu...”


Ken menolehkan pandanganya yang tadinya ikut menatap bintang di langit, kini menatap Daniel. Ia sangat kaget saat menatap majikannya. Ia melihat ada air mata yang mengalir di pipi Daniel. Ken sigap sekali. Ia meminjamkan sapu tanganya kepada majikan mudanya.


“Terima kasih, Ken...”


Ken mengangguk. Sesaat keduanya diam. Tenggelam dalam tebakan yang sudah memenuhi fikiran mereka. Keduanya kembali menengadahkan kepala menatap bintang di langit. Ada rasa yang sulit di ungkapkan dan sangat menyesakan dada.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2