Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 28


__ADS_3

Di dalam ruangan yang di sewa oleh Daniel, ia dan teman-temanya, tengah merayakan pesta. Entah itu pesta apa nggak jelas banget. Dalam suasana yang meriah itu, ia tampak sedikit kurang bahagia. Setelah kepergian Dani, Daniel menjadi tidak fokus. Saat di ajak ngobrol temanya atau saat barada di dekat Anyelir kekasihnya.


Daniel terlihat berdiri di dekat jendela, yang bisa langsung melihat pemandangan kota Phuket pada malam hari. Ia tengah memegang gelas berisi whine dan tangan kiri yang ia masukan ke dalam saku celananya. Sejauh mata memandang, ia di suguhi oleh hingar bingar suasana malam Phuket saat itu.


Kemana gadis itu pergi. Ahh.., kenapa gua jadi gelisah begini? Kenapa tib-tiba otak gua di penuhi oleh bayangan gadis itu? Apa aku tadi keterlaluan sama dia? Ayo Daniel, tepiskan fikiran kamu tentang dia, ada Anyelir di samping kamu.


“Sayang, kenapa? Kok dari tadi banyakan diem? Ini pesta kamu lo, jangan kecewakan teman-teman kamu..” ucap Anyelir yang membuyarkan lamunan Daniel di belakangnya.


“Ga papa kok sayang...” ucap Daniel yang tersenyum kepada Anyelir. Lalu kembali bergabung dengan teman-temanya.


Sementara itu, Dani masih duduk di halte bus di pinggir jalan bersama Nathan.


“Nathan, aku mau kembali ke hotel..” kata Dani yang sudah tak terdengar isak tangisnya lagi. Gadis itu sudah mulai tenang.


“Baik non, mari kita naik taksi saja, soalnya jarak hotel dari sini lumayan juga, saya takut kaki non Dani capek..” Dani mengangguk, menyetujui saran Nathan.


Nathan menyetop sebuah taksi. Ia mempersilakan Dani duduk di belakang. Dan ia sendiri duduk di depan di dekat sang supir. Sepanjang perjalanan, Dani menikmati pemandangan lalu lintas malam di Phuket.


Tak berapa lama, sampailah taksi yang di tumpangi Nathan dan Dani di hotel tempat mereka menginap. Dani segera keluar dan berjalan bersama Nathan memasuki hotel.


Dari mana saja dia, kenapa bisa jalan bersama Nathan?


Gumam Daniel saat Nathan dan Dani melintas di depan ruangan dan tertangkap oleh mata Daniel. Tak lepas kedua mata Daniel menatap Dani yang tak menghiraukanya yang masih berpesta dengan teman-temanya.


Kurang ajar, bukanya menemani suaminya pesta malah kelayapan sama pengawal gua.


Daniel menggenggam erat gelas yang tengah ia pegang. Rasa cemburu atau marah, ia tak dapat memastikanya. Kalau cemburu, karena apa coba? Barusan, ia telah mempermalukan istrinya sendiri di depan teman-temanya. Kalau marah, ia tak punya alasan. Kenapa? Wong ada istrinya saja ia bermesraan dengan kekasihnya.


Dani terus berjalan di ikuti oleh Nathan yang berada di belakanganya. Sedikitpun Dani tak menoleh ke arah Daniel. Ia terus berjalan menuju kamarnya.


“Nathan, terima kasih yach, telah menemani malam ini..”


“Sama-sama non, sebaiknya sekarang non istirahat, biar penat dan lelahnya hilang...”


“Baiklah, sekali lagi terima kasih..”

__ADS_1


Dani pun segera masuk dan menutup pintu. Begitu juga dengan Nathan yang masuk setelah Dani menghilang di balik pintu.


Dani merebahkan tubuhnya. Nyamaaan sekali rasanya, dan ia pun hampir saja memejamkan matanya, ketika mendengar suara pintu di ketuk. Dani bangun dan buru-buru membuka pintu kamarnya.


“Mas Daniel? Ada apa..?” jawab Dani yang melihat Daniel sudah berdiri di depan pintunya. Daniel tak menjawab. Ia memaksa untuk masuk dengan sedikit mendorong tubuh Dani agar menyingkir dari hadapanya.


“Mas daniel mau apa..?” tanya Dani bingung dan berusaha menghentikan langkah Daniel.


“Mau apa..? Coba ulangi sekali lagi?”


“Ma...mas Daniel mau apa di sini? Kenapa mas Daniel tiba-tiba jadi seperti ini?” Begitu mendengar pertanyaan Dani, Daniel menghampiri Dani yang berdiri di belakanganya. Perlahan memegang ujung rambut Dani yang terurai.


“Kamu istriku, wajar dong kalau akau mau tidur sama kamu malam ini..” Dani membelalakan kedua matanya. Terkejut ia mendengar ucapan Daniel, suaminya.


Apa..? Mau tidur sama aku? Enggak..!! Aku nggak mau kesucianku aku berikan sama kamu mas, walau aku istri kamu. Maaf, aku nggak sudi karena kamu telah tidur dengan wanita lain selain aku.


“Maaf mas, aku tidak bersedia...!” jawab Dani dengan tegas, dan kini ia tak merasa gugup atau gemetaran lagi saat berbicara dan kedua mata mereka saling bertatapan.


“Apa katamu? Kamu tidak mau?” ucap Daniel yang mencengkeram bahu Dani begitu erat.


“Enggak..!! Pokoknya malam ini kamu harus tidur sama aku..!!” Bentak Daniel membuat Dani semakin besar keinginanya untuk menolak Daniel.


Dani mendorong tubuh Daniel dengan sekuat tenaga, hingga ia terhuyung beberapa langakah ke belakang.


“Kamu berani mendorong saya..?” ucap Daniel yang hampir saja jatuh.


“Maaf, karena mas Daniel menyakiti saya..!”


“Sini kamu!!” Daniel memegang erat tangan Dani, dan membawanya ke ranjang. Ia membanting tubuh Dani sehingga membuat gadis itu terhempas dengan kasar. Dani yang tegeletak di ranjang segera bangun.


“Tolong keluar dari kamar saya, Mas..!”


“Kalau saya nggak mau bagaimana...?”


“Baiklah, saya yang akan keluar..” ucap Dani yang melangkah dan berniat akan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


“Berhenti..!!” teriak Daniel dengan keras dan seketika membuat Dani menghentikan langkahnya.


“Berani kamu selangkah saja keluar dari kamar ini, aku akan membuat kamu lebih menderita lagi...!!” Ancam Daniel dan hal itu sedikit membuat nyali Dani menciut.


Daniel melangkah mendekati Dani. Ia mendekatinya. Tiba-tiba, dengan kasar, Daniel merobek lengan baju yang di kenakan Dani.


“Mas Daniel...!!” teriak Dani sambil menutup lenganya. Dengan sengaja, Daniel menyentuh lengan yang putih bersih nan mulus milik Dani. Membuat Dani ketakutan dan mundur. Daniel terus saja membuat Dani terpojok di tembok dan menguncinya dengan kedua tanganya yang ia tempelkan di dinding. Kini posisi mereka berhadapan dengan jarak wajah begitu dekatnya.


“Kalau di lihat dari dekat, kamu boleh juga Andani Maharani Putri..” ucap Daniel yang mengatup dagu Dani.


“To..tolong jangan begini, Mas..?” Daniel tak menghiraukan ucapan Dani. Ia sangat bergairah sekali melihat bibir Dani yang mungil dan berwarna merah merona itu. Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Dani.


“Jangan mas, jangaaaannn......!” teriak Dani lalu spontan berjongkok dan menutup wajahnya. Ia terisak mendapat perlakuan seperti itu dari Daniel.


“Dasar cewek kampung!! Begitu saja nangis...!” umpat Daniel.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu menyelamatkan Dani.


“Huhhhh..!!! Siapa lagi ini. Ganggu saja..!!”


Daniel menghentikan aksinya. Ia meninggalkan Dani yang masih terisak duduk bersandar di tembok dan membuka pintu.


“Nathan..? Ada apa...?” tanya Daniel. Sekilas Nathan yang berdiri di depan pintu melihat Dani terduduk di lantai dan bersandar itu tengah menangis.


“Mas Daniel, anda mendapat telefon dari papa mas Daniel, katanya dari tadi ponsel mas di hubungi berkali-kali tidak di angkat..”


“Ponselku ketinggalan di kamar. Baiklah, aku akan menjawabnya..” Daniel pun keluar dan menuju kamarnya tanpa menutup kembali pintu kamar Daniel. Nathan memberanikan diri masuk ke kamar nona mudanya dan menghampirinya. Ia pun melepas jaketnya dan seraya menutupkan di lengan majikan mudanya itu.


“Nathan..?” ucap Dani kaget dan mendongakan kepalanya.


“Maaf kalau saya lancang. Silahkan nona istirahat. Mas Daniel sudah pergi, dan nona jangan takut yach...?”


BERSAMBUNH

__ADS_1


__ADS_2