Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 54


__ADS_3

“Stoppp...!! Kamu duduk dulu yang tenang..”


Tuan Wijaya menyuruh tante Ema berhenti dari mondar-mandirnya. Dengan patuh, tante Ema duduk, dan menyandarkan tubuhnya di depan kakaknya, Wijaya permana.


“Tarik nafas dalam-dalam, dan buang secara perlahan..”


Lagi-lagi tante Ema mengikuti perintah kakaknya. Ia menarik nafas beberapa kali dan membuangnya secara perlahan. Lama-kelamaan, ia mulai sedikit tenang.


“Nah, sekarang katakan, apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa datang-datang panik dan membuat kakakmu ini bingung sekaligus penasaran..?” ucap tuan Wijaya.


Tante Ema terdiam. Sejenak mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan, lebih tepatnya mengingat memory yang telah puluhan tahun terkubur, kini secara tidak langsung muncul kembali. Dalam waktu dan situasi yang benar-benar membuat tante Ema sangat sulit. Apalagi kalau kakaknya tau, tante Ema tak dapat membayangkan, alangkah syocknyanya tuan Wijaya, kalau ia mengatakanya.


“Ema, cepat katakan, ada apa?” Desak tuan Wijaya lagi.


“Baiklah mas, Ema akan katakan. Mas ingat kejadian silam di jalan cendrawasih..?” ujar tante Ema membuat kakaknya membelalakan mata.


“Kenapa kamu membicarakan hal itu lagi, Ema..? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mengungkit, atau mengingatnya?”


Wajah tuan Wijya memerah, karena adiknya mengungkit kejadian yang tak ingin ia ingat lagi dan ia lupakan.


“Itu dia mas, Ema juga tak ingin mengingatnya, atau membicarakanya, tapi Tuhan menakdirkan lain. Secara tidak sengaja, Ema di ingatkan oleh seseorang, dan itu adalah ibu korban kecelakaan tabrak lari yang kita lakukan dulu mas. Ema menyesal, kenapa waktu itu kita tidak langsung menolong mereka, sekarang rasa bersalah dan berdosa akan terus menghantui Ema, apalagi mas Wijaya..”


“Maksud kamu?”


“Mas akan selalu di hantui perasaan bersalah dan berdosa kepada anak korban kecelakaan itu, karena mas juga mengenalnya, bahkan menjadi keluarga kita..”


“Mas bener-bener tidak mengerti, apa maksud kamu? Menjadi keluarga kita? Siapa...?” Spontan tuan Wijaya berdiri dari duduknya.


“Anak dari korban kecelakaan itu tak lain adalah menantu mas Wijaya, Dani mas..”ucap tante Ema.


Tuan Wijaya menatap tante Ema dengan mulut menganga. Ia tak percaya dengan apa yang barusan di katakan tante Ema. Seketika tubuh tuan Wijaya lemas dan lunglai. Ia terduduk di kursi kembali. Seakan tiada tenaga, bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun, ia tak mampu, dan tak tahu harus bagaimana, dan berbuat apa.


“Dani..? Benarkah kamu anak dari korban kecelakaan yang tak sengaja aku tabrak waktu itu, nak..?” gumam tuan Wijaya lirih.


“Sekarang kita harus bagaimana mas, Ema bingung, Ema tak sanggup kalau bertemu dan menatapanya, hati Ema merasa bersalah, dan sakit rasanya.”

__ADS_1


Kedua kakak beradik itu masing-masing tenggelam dan hanyut dengan perasaan bersalah mereka. Dani, yang telah menyelamatkan nyawa tuan Wijaya, adalah anak yang telah mereka buat menjadi yatim piatu.


Tuhan.., situasi macam apa ini.


Gumam tuan Wijaya dalam hati. Sesaat, suasana hening. Baik tuan Wijaya dan tante Ema, masing-masing terdiam.


“Apakah ini takdir dari Tuhan, atau hukuman untuk kita karena telah berbuat salah?” Ucapan Tuan Wijaya memecah keheningan sejenak itu.


“Mungkin ini hukuman, mas. Ema...Ema....” Tak melanjutkan kata-katanya, karena air mata telah membanjiri kedua kelopak mata tante Ema.


“Tenanglah, jangan menangis, Ema..” Tuan Wijaya berdiri dan menghampiri adiknya untuk kemudian memeluknya.


“Bagaimana mungkin Ema bisa tenang mas? Kalau Dani tau dan dia akan melaporkan kita ke polisi? Ema nggak mau kalau di penjara? Ema nggak mau mas..?”


Tangis tante Ema semakin menjadi. Namun dengan tenang, tuan Wijaya berusaha menenangkanya, walau keadaan hatinya sendiri tak kalah kacau balaunya dengan tante Ema.


“Kamu yang tenang ya? Kamu nggak sendirian kok, mas juga berbuat salah. Jika memang itu sudah takdir dan kehendak dari Tuhan, kita bisa berbuat apa? Hanya bisa pasrah dengan keadaan dan menerimanya dengan lapang..”


Tante Ema masih terisak dipelukan kakaknya. Untuk beberapa saat kemudian, hati wanita itu sedikit tenang, karena di relung sanubarinya, ia sudah bisa menerima kata ikhlas. Tuan Wijaya membimbing adiknya untuk kembali duduk.


“Sebaiknya kamu istirahat saja, menenangkan fikiran supaya bisa berfikir dengan jernih, oke?” ucap tuan Wijaya yang menepuk pelan bahu tante Ema.


“Baiklah mas, saya permisi..”


Tante Ema berdiri dan berlalu pergi dari ruangan itu, meninggalkan tuan Wijaya seorag diri.


“Ken..?”


“Iya, tuan..?” Ken yang dari tadi siaga di depan ruangan tuan Wijaya segera masuk. Namun ia tak bisa mendengar percakapan kedua kakak beradik tersebut, karena ruang kerja tuan Wijaya kedap suara. Dengan sopan ia berdiri di depan tuanya.


“Ken, ada tugas untuk kamu.”


“Kalau boleh tahu, tugas apa, dan saya harus bagaimana, tuan?”


“Tolong kamu hubungi Ferdian, saya ingin bertemu dan bicara empat mata besok..”

__ADS_1


“Baik, tuan..” Setelah membungkukan badan, Ken keluar dari ruangan itu dan melaksanakan perintah tuan Wijaya, sedangkan ia sendiri pergi ke kamarnya untuk istirahat, mengistirahatkan tubuh tuanya yang mulai tak bersahabat dengan keadaan, seiring bertambahnya usia yang semakin menua.


Sementara Daniel, saat ini ia merasa gelisah. Beberapa kali ia mondar-mandir di kamarnya dengan dahi sedikit mengerut.


“Sebaiknya aku susul saja ke rumah nenek, enak saja kalian, bermain di belakangku..” Daniel terus bergumam sendiri.


“Tapi tunggu dulu? Kenapa aku nyusul gadis bodoh itu? Ah bodo amat! Mau berdua kek, mau enggak kek terserah! Aku nggak peduli..!” gumamnya lagi.


“Tapiiii..., ahh aku susul saja, bukan karena gadis bodoh itu, udah lama juga aku nggak liburan ke desa, walau sebenarnya aku nggak suka alam pedesan, tapi gak papa lah..” Fikiranya berubah lagi.


Tak menunggu lama-lama, ia segera mengemas beberapa pakaian dan memasukanya ke dalam tas ransel. Tak ketinggalan peralatan mandi ia masukan juga. Sebelum ia pergi menyusul Dani, terlebih dahulu ia menghubungi sekertarisnya.


“Clara, dua hari kedepan saya tak bisa datang ke kantor, tolong kamu handle semua urusan dulu ya..?” ucap Daniel via telefon.


“Baiklah pak Daniel, saya mengerti..” jawab Calara dengan sopan.


Daniel segera menutup telfonya, dan buru-buru keluar menggendong tas ransel di punggungnya.


“Mas Daniel mau ke mana?” gumam bibi yang heran melihat Daniel berjalan tergesa-gesa.


Daniel mengeluarkan mobil dari garasinya. Setelah menyalakan mesin, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Dani, sebaiknya kita pulang ke rumah saja. Mumpung masih siang, nenek mau ajak kamu ke rumah nenek yang ada di pedesaan, sudah lama nenek nggak ke sana.” ujar nenek Eliza.


“Waaahh, Dani setuju banget nek, sekalian kita liburan di sana. Nathan, kamu juga ikut yah, biar tau suasana pedesaan kaya gimana.” Gayung pun bersambut. Itu yang di harapkan Nathan.


“Iya non..”


Senengnya bisa bersama kamu Andani Putri..hehe


Wajah Nathan berbinar karena bisa bersama dengan gadis yang ia sukai. Terlebih di alam pedesaan, menambah hati Nathan semakin syahdu mendayu.


Karena rencana nenek mau langsung berangkat, toko di percayakan kepada Risa, asisten nenek. Segera saja nenek, Dani dan juga Nathan pergi ke rumah untuk menyiapkan segala sesuatunya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2