Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 52


__ADS_3

“Mari non, saya antar ke kamar..?” ujar Nathan yang saat ini tak memikirkan resiko dengan tindakan yang ia lakukan.


“Saya sendiri saja, saya masih bisa kok..”


“Please, kali ini non jangan membantah ya..?”


Dani terdiam, dan menurut dengan apa yang di ucapkan Nathan. Sesampainya di kamar Dani, Nathan segera mengambil kotak p3k dan pintu kamar Dani tetap di biarkan terbuka.


“Maaf, non diam sebentar yah..?” ujar Nathan dan mulai melepas perban Dani dengan pelan, karena tak ingin gadis di hadapanya merasakan sakit. Perlahan, perban itu terlepas, dan kini nampaklah luka yang belum mengering, kembali terbuka dan mengeluarkan darah segar.


“Sssshhh..” Desis Dani menahan perih, saat Nathan mengoleskan cairan anti bakteri.


“Huuufffff....” Nathan meniup pelan luka Dani yang ia olesi cairan tersebut, membuat Dani bengong dengan tindakan yang di lakukan Nathan.


Kriing kring kring


Suara handphone Daniel berdering dengan nyaring. Lelaki yang saat ini sedang bersandar di ranjangnya itu segera meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di sampingnya, karena ia lemparkan dengan sembarangan saat masuk kamar tadi.


“Nenek Eliza..?” gumam Daniel mengerutkan dahinya.


Daniel segera mengangkatnya.


“Hallo nek, apa kabar?” jawab Daniel dengan suara di buat selembut mungkin.


“Kabar nenek baik dan sehat cucu mantu, bagaimana dengan kamu dan Dani? Sehat dan baik saja kan?” tanya nenek Eliza bahagia yang terdengar dari suaranya.


“Baik dan sehat nek, ada apa nenek menelfon Daniel..?”


“Dari tadi nenek menghubungi hanphone Dani tapi tak di angkatnya. Nenek cuma kangen, lama Dani nggak ke sini, kalau kalian nggak keberatan, kalian sempatkan menengok nenek yach, nenek akan sangat senang sekali..” tutur nenek Eliza.


Menginap..? Haduhhh, gawat ini..?


“Nenek akan ajak kalian ke rumah nenek yang ada di pedesaan, pasti kalian akan menyukai suasananya..”


“Baiklah nek, nanti Daniel akan beritahukan kepada Dani..”


“Baiklah, kalau begitu, terima kasih nak Daniel..”


“Sama-sama nenek...” ucap Daniel lalu menutup telfonya setelah nenek menutupnya.


Daniel bingung dengan situasi saat ini. Mana luka di tangan Dani belum sembuh, bagaimana kalau nanti neneknya menayakan, kenapa, karena apa tangan Dani terluka, Daniel bingung memikirkan hal itu. Alasan yang tepat untuk menjawabnya.


Ia kembali melihat Dani, dan ternyata sudah tidak ada di tempatnya.


“Kemana mereka..??”


Daniel turun, dan mencari keberadaan Dani. Ia langsung saja menuju ke kamarnya. Dan benar saja, saat ia sampai di depan kamar istrinya, ia melihat Nathan berjalan keluar dari kamar Dani.

__ADS_1


“Nathan?” ucap Daniel.


“Mas Daniel..?” jawab Nathan.


“Ngapain kamu di sini..?”


Haa, ini kesempatanku untuk sedikit membuat kamu naik darah, atau malah sebaliknya, kamu nggak akan peduli dengan Dani, Daniel Permana Wijaya.


“Oh, sebelumnya maf mas, baru saja saya mengganti perban non Dani, karena tadi saya melihatnya sedikit kesakitan, karena lukanya berdarah lagi, sepertinya akibat di tekan, dan tadi pas waktu saya tanyain, non Dani nggak menjawabnya, mas. Maaf kalau saya lancang..”


Memang kamu sangat lancang, dan itu membuatku semakin marah kepada gadis bodoh itu.


"Oh, begitukah? Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih karena telah mengganti perban istri saya. Sekarang saya mau melihatnya, permisi..”


“Oh, silakan mas..” ucap Nathan yang memberi jalan kepada Daniel.


Segera saja langkah Daniel memasuki kamar Dani tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


“Mas Daniel..? Ada apa datang kemari?” Pertanyaan Dani membuat Daniel mengerutkan dahinya.


“Apa aku di larang masuk ke mari? Kamu tahu kan siapa aku..?”


“Tadi nenek kamu menelfonku, katanya beliau kangen, dan menelfon kamu berkali-kali nggak kamu angkat..”


“Benarkah?” ucap Dani yang buru-buru mengambil ponselnya, yang sedari tadi ia cas. Dan benar saja, setelah menyalakan ponselnya, muncul banyak panggilan dari neneknya.


“Terus, nenek bilang apa lagi, mas..?” tanya Dani kemudian.


“Sungguh..?” pekik Dani dengan wajah yang berbinar.


“Begitu girangnya..” ujar Daniel nyinyir.


“Mas, bolehkan aku ke rumah nenek, nginep satu malam saja gak papa kok..?” Dani berucap dan sangat menghiba, dan dengan gerak refleks, memegang lengan Daniel. Tingkahnya benar-benar polos, seperti gadis kecil yang menginginkan sesuatu.


Hmm, gadis bodoh ini kenapa membuat hatiku semakin teraduk-aduk. Tadi sempat membuatku marah dan cemburu, sekarang hatiku tambah merasa aneh begini, saat tanganya memegang lenganku.


Daniel benar-benar, tak tahu dengan perasaanya. Dani sungguh membuatnya salah tingkah dan serba salah. Di antara beribu rasa benci yang memenuhi relung hatinya, kini timbul molekul kecil dan itu pun tak seberapa, yang mampu membentuk rasa yang mungkin saat ini belum bisa ia jabarkan, namun itu bisa membuat hatinya tak karuan.


“Iya, iya boleh..” jawab Daniel melepas tangan Dani dengan paksa.


“Terima kasih mas Daniel, aku ke rumah nenek sekarang boleh..?”


“ Iya, cepat sana, kamu siap-siap..”


“Mas Daniel mau ikut..?” tanya Dani lagi.


“Enggak. Kamu saja, biar di anterin Nathan..” jawab Daniel dan berlalu pergi dari kamar Dani.

__ADS_1


“Ya udahlah, ga papa aku di anter Nathan, yang penting aku bisa jumpa dengan nenek.”


“Tapi bagaimana kalau nenek tanya?Kenapa mas Daniel nggak ikut dan kenapa dengan tanganku? Ah, itu dipikir belakangan, yang penting sekarang aku bersiap-siap mengemas pakaian dulu..”


Hati Dani begitu senang, saking senangnya, ia tak lagi merasakan luka di tanganya yang masih terasa sakit.


“Nathan..” seru Daniel yang menghampiri pengawal pribadinya yang tengah melakukan olah raga angkat barbel di halaman samping.


“Oh, iya mas Daniel..” Nathan meletakan barbelnya.


“Nanti tolong antar Dani ke rumah neneknya, aku nggak bisa ikut untuk menemaninya..”


“ Baiklah mas Daniel, saya dengan senang hati akan mengantarkanya..” Daniel mengangguk, lalu kembali bergegas ke kamarnya.


Kalau urusan menemani kamu mah Nathan siap selalu non.


Gumam Nathan dalam hati, dan senyum-senyum sendiri. Daniel sempat melihat senyum Nathan sebelum ia memasuki rumahnya.


Waduhh, harusnya aku ikut, menemani gadis bodoh itu. Huuuuhhhh...!!!


Daniel menyesal telah mengucapkan kata tidak ikut, tapi mau meralatnya kembali ia malu dan gengsi.


Siang itu, berangkatlah Nathan mengantar Dani pergi ke rumah neneknya. Sepanjang perjalanan wajah Dani berbinar. Kali ini, ia duduk di sebelah Nathan dan berada di depan. Sambil melihat-lihat ramainya arus lalu lintas siang itu. Ia tak langsung menuju ke rumah, namun langsung ke toko terlebih dahulu, karena pasti neneknya berada di sana.


Setibanya di toko, Dani langsung keluar dari mobil dan di ikuti oleh Nathan.


“Neneekkk....” seru Dani yang berlari dan menghambur ke pelukan neneknya yang selesai melayani pembeli.


“Loh, itu bukanya Dani..?” gumam seorang perempuan yang tengah asik memilih-milih roti dan tanpa sengaja melihat Dani. Ia pun berjalan pelan mendekati Dani.


“Nenek apa kabar? Dani kangen sekali dengan nenek..” ucap Dani yang memeluk erat nenek Eliza karena saking kangenya.


“Cucu nenek, apa kabarnya kamu nak, lama kamu nggak nengokin nenek, hemm, cucu nenek yang nakal...” Nenek menyentil hiding Dani setelah melepas pelukanya.


“Maafin Dani nek. Sekarang Dani udah ke sini kan..?”


“Dani..?” Suara yang tak asing di telinga Dani membuatnya menoleh ke belakang.


“Tante Ema....?” seru Dani yang menbulatkan matanya.


“Apa kabar tante..?” sapa Dani dan memeluk tante Ema.


“Baik sayang, di mana suami kamu..?” tanya tante Ema yang mencari keberadaan Daniel.


“Emmmm, mas Daniel nggak bisa ikut, soalnya ada rapat penting dengan klien, tante.”


“Ooo, begitu..?”

__ADS_1


“Tante, perkenalkan, ini nenek Dani, dan ini tante Ema, tantenya mas Daniel nek..”


BERSAMBUNG


__ADS_2