Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 85


__ADS_3

Dani telah di pindahkan ke ruang rawat setelah operasi selesai dan tentunya berjalan lancar. Seorang lelaki tengah duduk menungguinya dengan raut wajah penuh cemas, karena ia belum sadar juga setelah 1,5 jam terbaring dan hanya diam, dengan jarum dan selang infus menancap di tangan kirinya. Lelaki itu tak lain adalah Nathan. Sedangkan Evan, ia baru keluar membeli sesuatu untuk sekadar mengisi perutnya, yang sejak tadi belum terisi apa-apa. Tangan Dani yang di genggam Nathan, perlahan mulai bergerak pelan, namun pasti.


“Rani..?” Ucapan Nathan belum sepenuhnya di respon oleh Dani. Nathan begitu terkesiap melihat jari Dani yang bergerak-gerak. Dengan perlahan, Dani mencoba mengumpulkan energinya untuk membuka kedua matanya dan bisa berbicara dengan Nathan.


“Na....” ucap Dani setelah ia dengan sempurna membuka matanya, dan melihat wajah Nathan tersenyum di hadapanya. Dengan kedua tanganya masih menggenggam tangan kanan Dani.


“Ssssttt..., jangan banyak berbicara dulu, kamu istirahat saja. Melihatmu sudah sadar, aku sudah cukup merasa bahagia dan sangat lega.”


“Nathan, aku haus..”


“Maaf Rani, tapi kamu harus bisa buang angin dahulu, baru boleh makan atau minum, sabar dulu yach..?”


Dani mengangguk mendengar ucapan Nathan. Gadis itu tersenyum tipis kepada Nathan.


“Nathan, terima kasih kamu telah membawaku ke sini..” ucap Dani dengan pelan. Perlahan Nathan membelai rambut Dani dengan lembut. Menyibakan helai yang menutupi kening gadis itu.


“Iya, sama-sama. Sebaiknya kamu buat miring aja Ran, ke kiri boleh, atau ke kanan juga boleh, agar kamu secepatnya bisa buang angin. Aku kasian sama kamu yang udah kehausan.”


“Tapi aku malu kalau pas buang anginya ada kamu. Kamu bisa keluar dulu, please ya, Nathan.?” Dani berkata dengan pelan.


“Hmm, baiklah Rani ku, aku ke luar dulu. Kamu nggak papa aku tinggal sendirian?”


Dani mengangguk. Tak ketinggalan senyum manis menghiasi bibirnya. Dan Nathan menuruti apa mau gadis yang telah menjadi pujaan hatinya itu. Nathan berjalan keluar dari kamar Dani. Dengan inisiatifnya, ia pergi ke kantin rumah sakit tersebut. Sambil menunggu Dani bisa buang angin, ia ingin mencarikanya air minum dan sesuatu yang bisa di makanya.


Sepeninggal Nathan, Dani mencoba memiringkan badanya ke kiri, sebab bagian perut yang di operasi adalah bagian yang kanan. Dengan hati-hati, ia berhasil miring ke kiri, walau sedikit dengan menahan sakit. Lima menit, sepuluh menit dia menunggu angin perut yang belum juga keluar.


Tok tok tok


Suara pintu yang di ketuk, mengagetkan Dani. Ia menoleh ke arah pintu, dan melihat Daniel sudah masuk dan berdiri tepat di depan pintu kamar rawatnya.

__ADS_1


“Ma...mas Daniel..?” ujar Dani pelan. Daniel melangkah pelan mendekati istrinya yang tengah berbaring miring.


“Bagaimana kondisi kamu, Dani?” ucap Daniel yang sudah berdiri di samping Dani, dan berniat akan duduk di sebelahnya.


“Dani mohon, mas keluar dari kamar Dani..” ucap Dani seperti menahan sesuatu.


“Kenapa? Sebenci itukah kamu kepadaku? Aku benar-benar ingin minta maaf kepadamu Dani, aku bersalah telaahhhh..”


“Please mas Daniel, Dani mohon mas keluar..” ucap Dani yang terlihat sudah tak tahan menahan sesuatu. Kini leringat membasahi kening Dani.


“Kenapa sih? Kamu nggak ingin melihaaa...” Daniel tak meneruskan ucapanya. Hidungnya seperti mencium sesuatu, dan itu aroma khas yang ia sangat kenal sekali.


“Bau kentut? Dani.....ka..kamuu...” ujar Daniel yang menutup lubang hidungnya dengan telapak tangan kananya.


“Ma....maaf mas, Dani nggak bisa nahan, kan tadi udah Dani bilangin ke mas supaya keluar, karena Dani ingin buang angin, sekarang mas keluar saja..” Wajah Dani terlihat malu sekali.


“Nggak papa kok, walaupun kamu mau kentut sebau apa pun, mas nggak akan marah sama kamu, wajar kalau abis operasi harus bisa kentut dulu...”


“Kenapa malu?” Daniel mendekat. Perlahan membenarkan letak kursi dan duduk di sebelah Dani. Ia menghela nafas. Antara perasaan ragu dan tak yakin, ia menatap wajah Dani yang penuh dengan keringat. Perlahan Daniel mengambil sapu tanganya, dan dengan lembut mengusap keringat Dani.


“Ma...mas...Daniel...”


“Kamu jangan takut. Mas nggak akan jahat lagi sama kamu. Mas hanya ingin berbuat baik walaupun itu hanya sekedar mengelap keringat kamu, dan tak ada harganya di mata kamu, namun itu sangat tulus mas lakukan sama kamu.”


Ini mas Daniel kenapa? Ah, aku nggak boleh berfikir buruk dulu, harus positif thinking.


Dani hanya diam, ketika Daniel mengeringkan keringatnya. Kini benak Dani di penuhi sejuta pertanyaan dan penuh dengan teka-teki. Setelah selesai mengeringkan keringat Dani, Daniel tersenyum, menatap wajah manis istrinya, Dani. Sebelum ia berkata kepada Dani, ia menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskanya secara pelan.


“Dani, mas bener-bener minta maaf, dari lubuk hati mas yang paling dalam, mas minta maaf kalau selama ini sudah menyakitimu, membuatmu menderita lahir dan batin. Sekarang mas sadar, dan bisa merasakan sakit yang selama ini kamu rasakan. Mas akan melepaskanmu, karena mas tau, kebahagiaan kamu bukan ada pada mas.”

__ADS_1


Dani tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Daniel barusan. Ia mengira Daniel udah kesambet. Dani masih linglung. Ia hanya bengong sambil melihat Daniel.


“Benarkah yang mas Daniel ucapkan? Mas tidak sedang berbohong kan?”


Secara refleks, tangan Daniel mengusap kepala Dani. Dani bisa merasakan ketulusanya.


“Tidak Dani. Mas sungguh-sungguh. Bila dengan melepaskanmu membuatmu bahagia, mas rela kok. Asal kamu bahagia dengan lelaki yang menjadi pilihan hatimu. Dan mas akan bahagia bila kamu bahagia.”


Tak sanggup mendengar lagi ucapan Daniel, Dani terisak. Bulir-bulir air mata membasahi pipinya. Entah mengapa, ia tak berdaya saat Daniel mengucapkan kata-kata itu. Hatinya serasa sesak. Pelan namun sangat mendalam. Lelaki yang selalu kasar dan galak, kini berubah seperti seekor harimau yang hilang galaknya.


“Kenapa menangis? Seharusnya kamu bahagi, Dani. Kamu nggak akan menderita lagi, dan setelah papa sembuh, mas akan bicara dengan papa kok, kamu jangan khawatir yach..?” ucap Daniel yang kini mengusap air mata Dani yang membasahi pipinya.


Dani tak tau lagi. Haruskah ia bahagia atau bersedih. Tapi kenyataanya, Daniel telah mengatakan yang sejak dulu ingin ia dengarkan dari bibir lelaki itu.


“Dani, mas bahagia, walaupun sebenarnya di hati mas sedikit tak rela. Tapi demi kebahagiaan kamu, mas akan melakukanya. Maafkan juga sikap dan tindakan Anyelir kepadamu, yang waktu itu berani menampar kamu di hadapan mas. Kamu tau, hati mas sakit dan lebih bodohnya lagi, mas tak melakukan apa-apa untuk kamu, mas bener-bener minta maaf, Dani..” Hati Dani semakin trenyuh mendengar ucapan Daniel. Ia semakin sesenggukan. Tanpa di sadari keduanya, Evan telah berdiri di depan pintu kamar Dani. Ia melihat dan menyaksikan semuanya.


Kak Daniel, Evan bangga sama kakak. Kakak telah menjadi lelaki hebat di mata Evan, terima kasih kak Daniel.


Evan tak masuk. Ia sengaja menahan langkahnya, dan melihat dari luar melalui kaca yang menjadi bagian dari pintu tersebut. Dan, tanpa Evan sadari, Nathan juga berdiri di belakangnya. Karena penasaran, pas ia kembali dari kantin, ia juga menyaksikan apa yang membuat Evan sampai berdiri terpaku seperti itu.


“Dani maafkan mas Daniel dan Anyelir kok..” jawab Dani di sela isak tangisnya.


“Dsni, bolehkah mas minta satu permintaan..?”


“Aa....apa mas..?”


“Bolehkah mas memelukmu sebentar..?”


Pertanyaan Daniel semakin membuat hati Dani seperti bergemuruh. Kini permintaan ijin Daniel yang membuat Dani semakin terharu. Dani mengangguk. Dengan perlahan, Daniel menaikan bed dan kini posisi Dani duduk bersandar di ranjang. Dengan lembut, Daniel memeluk Dani.

__ADS_1


Senyaman inikah aku memelukmu Dani? Aku menyesal telah menyia-nyiakanmu. Namun semua sudah terlambat. Aku akan bahagia, jika melihatmu bahagia.


BERSAMBUNG


__ADS_2