Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 116


__ADS_3

👩 : “Makasi ayang.....”


Tiin Toonngg


Terdengar bel pintu berbunyi.


👩 : “Yank, aku tutup dulu telfonya yach, kayaknya mas Daniel udah jemput..”


👦 : “Baiklah, hati-hati ya kalau berangkat...”


👩 : “Siiiippppp.....”


Dani mematikan telfon dan buru-buru membuka pintu.


“Eh mas Daniel...?”


“Iya Dan, selamat sore, apakah kamu sudah siap...?”


“Kok mas bisa keluar dari rumah sakit...? Apakah sudah di perbolehkan sama dokternya..?”


“Tadi pas chat kamu, mas baru saja keluar dari rumah sakit, mas minta pulang saja, lagian udah sembuh juga...”


“Lah kok gitu...? Bukan mas Daniel kalau nggak ngeyel kaya gitu..” ucap Dani.


“Oh iya, mana nenek, aku mau pamit...”


Belum juga Dani menjawab dan membalikan badan, nenek Eliza sudah muncul dari dalam.


“Rupanya ada nak Daniel to, ayo masuk dulu silahkan duduk nak Daniel...”


“Nenek...?” Daniel berjalan pelan ke arah nenek. Lalu mencium tangan nenek Eliza.


“Saya ke sini mau minta ijin sama nenek kok. Bolehkan Dani saya ajak keluar sebentar nek..?”


“Ohh, boleh nak Daniel, silahkan saja...?”


“Terima kasih, Nek. Kalau begitu saya pamit dulu..”


“Iya nak Daniel...” Kembali Daniel mencium tangan nenek Eliza. Lalu di ikuti Dani yang juga pamit kepada neneknya.


“Kalian hati-hati ya...?”


“Iya nek...” jawab keduanya bebarengan.


Dani membantu Daniel berjalan. Karena lukanya masih belum kering betul, ia harus hati-hati kalau bergerak ataupun berjalan.


“Loh kak Ken, kenapa nggak masuk tadi...?” sapa Dani kaget melihat Ken yang membawa mobil Daniel, dan berdiri di samping pintu mobil.


“Di luar udaranya lebih enak non, lagian mas Danielnya juga cuma bentar. Silahkan..” jawab Ken dengan senyum ramahnya sambil membukakan pintu untuk mereka berdua.


“Terima kasih, Ken..” ucap Daniel.


Sedangkan Dani tersenyum dan mengangguk lalu mengikuti Daniel masuk ke dalam mobil. Dengan segera Ken menutup pintu mobil kembali, lalu duduk di belakang setir. Perlahan mobil itu melaju dengan pelan. Menyusuri sepanjang jalan, dari gang sampai jalan besar. Karena hari menjelang petang, terlihatlah pemandangan indah di sepanjang jalanan kota. Lampu-lampu hias sebagian sudah di nyalakan, menambah indah suasana petang itu. Gedung-gedung tinggi nan megah yang di juluki pencakar langit terlihat seperti lampion, dengan gemerlap lampu ruangan yang menyala. Di tambah hari itu sangat cerah karena langit sedikitpun tak di hiasi awan kelabu.


“Mas, kita mau ke mana...?” tanya Dani memecah keheningan.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita ke restauran di dekat taman kota, suasananya sangat indah, kamu belum pernah ke sana kan..?”


“Belum sih, karena tidak ada yang mengajak Dani ke sana...” jawab Dani yang secara tidak langsung mengenai Daniel.


“Iya iya, maaf.., selama ini mas belum pernah mengajak kamu ke sana..”


“Eehh, bu..bukan itu maksud Dani mas, salah ya Dani jawabnya...?” ucap Dani dengan wajah memelas sambil garuk-garuk kepala.


“Dasar gadis polos. Mas tau kok, ucapan kamu itu nggak bermaksud ngatain aku, mas becanda, hehe...”


“Iiiihhhh, bikin Dani serba salah deh tadi...” ucapan Dani di sertai cubitan di paha Daniel. Hal itu membuatnya spontan kaget dan mengaduh manja.


“Aduhhh sakit kan....?” bisik Daniel sambil mengelus pahanya sendiri.


“Biarin..!! Siapa suruh berprasangka buruk, huuuhhh!!” Dani manyun sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela.


“Halah-halah, kok malah jadi manyun sihh, maaf maaf, please...?” Daniel menghiba.


“Satu kosong..!! Hahaha.....”


“Huuuuu, dasar ya, gadis badung...”


“Biarin, weeeekkkkk...!!”


Keduanya bercanda sambil tertawa kecil di dalam mobil. Ken yang mendengar dan menyaksikan semuanya, serasa menjadi obat nyamuk. Namun ia ikut merasakan setiap adegan yang ia dengar. Kalau tertawa ya ikutan ketawa.


Sayang sekali, pernikahan kalian hanya seumur jagung. Andai saja takdir berkata lain, pasti semuanya akan baik-baik saja.


Ken menyetir sambil bergumam dalam hati. Jujur, dalam hati kecilnya, ia ingin melihat Dani dan Daniel menjadi pasangan yang bahagia, dan memberikan cucu kepada pak Wijaya.


Dengan pelan mereka bertiga masuk. Daniel memegang tangan Dani dengan lembut.


“Eh, mas Daniel..” bisik Dani karena kaget


“Gak papa, jangan berfikiran yang macem-macem deh. Aku tau batasanya, aku juga tau perasaan Nathan. Anggap saja sekarang aku sahabat kamu, oke..? Jangan negatif thiking Andani Maharani Putri...” sergah Daniel tersenyum simpul dan berjalan pelan memasuki restoran.


“Dani masih terbengong mendengar ucapan Daniel. Namun ia segera tersenyum karena tau maksud ucapan mantan suaminya.


Di dalam restoran, mereka di sambut oleh seorang pelayan. Kelihatan sekali orang itu sangat hormat kepada Daniel. Lalu mengantarkan Daniel ke lantai paling atas dengan menggunakan lift. Sesaat mereka menunggu pintu lift terbuka, lalu masuklah mereka dan beberapa detik kemudian keluar dari lift karena sudah sampai di lantai tiga, lantai paling atas.


Sang pelayan mengantar mereka ke sebuah meja yang sudah tertata sangat rapi, dan terkesan romantis. Berada paling pinggir dan dapat melihat pemandangan suasana kota saat malam hari. Ternyata tempat itu banyak di kunjungi pasangan muda yang melakukan dinner dan ngobrol.


“Maaf Ken, kali ini aku pesankan tempat sendiri buat kamu, tuh di sana...” ucap Daniel sambi menunjuk sebuah meja tak jauh dari tempat ia duduk.


“Baiklah mas Daniel, saya mengerti. Silahkan menikmati dinner kalian...” ucap Ken dengan sopan lalu sedikit menundukan kepala sebelum akhirnya ia pamit menuju mejanya.


Di lain tempat, Nathan sedikit gelisah. Sejak Dani pamit denganya, rasanya ia merasakan sedikit keresahan. Emang sih dengan mantan suaminya, namun rasanya kayak jalan sama cowok yang baru ia kenal.


“Dani udah nyampe belum ya, kanapa ia belum kasih kabar sih..” gumam Nathan yang duduk di tepi ranjang sambil memelototi layar ponselnya.


Sebentar-sebentar ia terlihat berdiri, berjalan mondar-mandir, lalu duduk lagi. Benar-benar gelisah nih cowok satu.


Akhirnya ia menghempaskan tubuhnya dan rebahan dengan posisi terlentang. Pandanganya tertuju pada langit-langit kamar. Saat ini seluruh benaknya penuh terisi dengan dugaan yang tidak-tidak.


“Apakah kamu sedang tertawa bersama mas Daniel, Ran..? Apakah aku tak terlintas dalam fikiran kamu sehingga kamu lupa kasih kabar walaupun cuma sebait kata, kalau kamu udah sampai..”

__ADS_1


“Aaaaahhhh, aku bisa apa..” kembali Nathan merubah posisi rebahanya. Kali ini ini dengan posisi tengkurap dan membenamkan kepalanya di antara letak dua bantal.


Di Restoran


“Oh iya mas, bentar ya, aku mau kasih kabar ke Nathan dulu...”


“Iya Dan, silahkan..”


Dengan segera, Dani mengetik di layar ponselnya.


Tiiiiiiiinnng


Satu pesan masuk ke ponsel Nathan. Ia yang sejak tadi gelisah menunggu kabar dari Dani, segera meraih ponselnya. Bagaikan menang undian, ia senang sekali ketika nama Dani muncul di layar ponselnya. Dan buru-buru ia membukanya.


👩 : “Yank, aku udah nyampe nih...”


👦 : “Iya sayank. Kenapa lama sekali sih yank, kasih kabarnya...?”


👩 : “Iya maaf yank...”


👦 : “Tau nggak, aku nungguin dari tadi...”


👩 : “Iya maaf, aku yang salah kok..”


👦 : “Udah-udah, jangan sedih, aku cuma becanda yank, hehe...”


👩 : “Iiiihhhh, sebelll banget...”


👦 : “Gemes deh kalau gini, apalagi kalau berhadapan sama orangnya langsung...”


👩 : “Ya udah yank, aku tutup dulu ya, ga enak sama mas Danielnya...”


👦 : “Oke sayank...”


Nathan lega sekali. Akhirnya ia bisa mandi setelah menerima kabar dari sang ayang tercinta. Dengan siulan kecil, ia buru-buru menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Suara gemericik air yang keluar melaui shower, mulai menghiasi heningnya suasana kamar mandi, dan Nathan mulai membersihkan tubuhnya.


Sementara di restoran, Daniel mulai perbincangan yang hangat dan akrab dengan Dani.


“Dan, maaf ya aku mengganggu waktu kamu..”


“Ah gak papa mas, memangnya ada apa mas, kok Dani jadi penasaran...”


“Kamu tau suster Tiara kan Dan, yang ngerawat mas waktu di rumah sakit...?”


Dani mengerutkan dahi dan mengingatnya.


“Ohhh, iya mas, Dani ingat mas, kenapa memangnya...?”


“Menurutmu, dia orangnya bagaimana...?”


“Dani belum mengenalnya secara dekat, jadi ya belum bisa kasih pendapat, mas. Emmm kalau boleh tau, dia siapa, mas...?”


Daniel menghela nafas, lalu membuang pandangan ke pemandangan jalanan kota yang sangatlah menakjubkan. Sesaat ia diam, lalu kembali menatap Dani.


“Dia adalah cinta pertama mas waktu dulu di bangku SMA, Dan. Setelah sekian lama nggak bertemu, dan tak ada kabar, sekarang Tuhan mempertemukan kami kembali. Mas juga nggak tau, apakah ini takdir atau bukan, yang jelas, sekarang maaaass.....”

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2