
Ken, kamu yang bukan anaku saja bisa bersedih sampai seperti itu, sedangkan anak kandungku, mungkin akan senang melihat saya sakit seperti ini
Gumam tuan Wijaya namun hanya dalam hati saja. Ingin rasanya berucap, namun tak bisa ia lakukan. Kini air mata mulai menggenang di kedua kelopak mata lelaki yang usianya sudah di bilang menginjak enam puluhan itu. Tak elak lagi, meleleh dan jatuh membasahi pipinya.
“Tuan, kenapa menangis? Kalau tuan seperti ini, hati Ken semakin bertambah sedih..?”
Ken mengusap air mata tuan Wijaya, menyembunyikan kesedihanya sendiri dan berusaha menghibur tuanya. Namun air mata tuan Wijaya terus saja mengalir, melihat perlakuan Ken kepadanya.
Tok tok tok
Ken menoleh ke arah pintu dan melihat tante Ema serta kedua putra majikanya telah datang.
“Nyonya, mas Evan, mas Daniel...” ucap Ken spontan berdiri dan sedikit membungkukan badan. Evan dan tante Ema tersenyum kepada Ken, sedangkan Daniel, hanya diam saja.
“Bagaimana Ken, mas Wijaya udah makan..?” tanya tante Ema yang menghampiri kakaknya seraya tersenyum.
“Ini baru saya suapi nyonya, lumayan banyak, tuan makan buburnya..”
“Syukurlah Ken, saya senang mendengarnya...” sahut Evan menimpali.
“Apa kabar papa hari ini? Evan seneng, melihat papa mau makan bubur, itu tandanya papa semangat untuk sembuh..”
Tangan Evan mengelus rambut tuan Wijaya dengan penuh kasih sayang.
Evan, terima kasih nak, perhatian kamu sudah cukup membuat papa bahagia dan semangat untuk segera sembuh
Kedua mata tuan Wijaya kembali berkedip. Mengisyaratkan jawaban atas semua perkataan yang terlontar dari putranya. Sedangkan Daniel, ia tidak langsung mendekat, ia merebahkan tubuhnya di sofa.
“Ken, kamu pulang saja, gantian saya yang menjaga mas Wijaya di sini..”
“Baiklah nyonya, saya permisi dulu kalau begitu..”
“Tuan, saya pulang dulu, nanti malam saya ke sini lagi..” Lagi-lagi tuan Wijaya mengedipkan mata menjawab perkataan Ken.
__ADS_1
Setelah berpamitan kepada semua, Ken segera keluar dan bergegas pulang. Pandangan mata tuan Wijaya mengarah kepada Daniel. Ia terlihat sedang mencari-cari seseorang.
Di mana Dani menantuku, kenapa dia nggak ikut ke sini?
“Dani nggak ikut pah. Tau, kelayapan ke mana tuh orang!”
“Kak Dani masih sibuk di rumah pah, jadi dia ke sini belakangan..” Evan menatap Daniel dengan tatapan penuh arti. Sedangkan Daniel melengos tak mau bertatap mata dengan adiknya.
“Evan, Daniel, kalian mau berangkat ke kantor jam berapa?”
“Bentar lagi tante, Evan masih mau di sini..”
Daniel beranjak dari duduknya, mendekat kepada papanya.
“Paahh, Daniel ke kantor dulu, papa jangan lupa makan, jangan lupa minum obat, supaya cepat sembuh..” Tangan Daniel memegang tangan papanya. Ada rasa haru yang di rasakan tuan Wijaya, Evan dan juga tante Ema. Ternyata seorang Daniel juga masih mempunyai rasa kepedulian kepada papanya walaupun seringkali berdebat hingga sampai bertengkar.
Tuan Wijaya kembali mengedipkan kedua matanya. Yang lebih membuat mereka haru lagi, sebelum Daniel berangkat ke kantor, ia sempatkan mengecup kening papanya, membuat tuan Wijaya menagis.
Ternyata kamu tak seburuk yang papa pikirkan nak.
“Iya Daniel, tante akan menjaga papa kamu.”
Tak berapa lama Daniel berangkat ke kantor, lalu di susul dengan Evan yang juga segera berangkat ke kantornya. Kini tinggalah tante Ema seorang diri menunggui kakaknya.
“Mas, bagaimana kalau mas di rawat di rumah saja, di sini tempatnya kurang nyaman untuk proses kesembuhan mas. Kalau di rumah, Ema bisa 24 jam mengawasi mas Wijaya, anak-anak termasuk juga Ken..” tutur tante Ema.
Tuan wijaya belum memberi kode. Seperti sedang memikirkan perkataan tante Ema. Sesaat kemudian, kedua mata tuan Wijaya mengedip, tanda ia menyetujuinya. Tante Ema tersenyum, dan berniat akan mengatakanya kepada Evan dan Daniel.
Sementara itu, Nathan yang di perbolehkan pulang hari itu, ia terlihat berdiri di depan kasir, melunasi semua biaya perawatanya. Sedangkan Dani menunggunya di kursi antrian.
“Ayo kita pulang..” ucap Nathan tersenyum kepada Dani. Dengan senyum manis pula, Dani menyambut ajakan Nathan. Karena tidak mempunyai mobil, mereka menyetop taksi di depan rumah sakit tersebut.
“Nathan, kamu mau pulang ke mana..?” tanya Dani saat mereka berada di dalam taksi.
__ADS_1
“Emm, saya masih bingung, mau balik ke rumah mas Daniel, saya sudah di pecat. Ya sudah lah Rani, saya mau ngemas pakaian dan mau ambil motor dulu, tentang bagaimana nanti, di pikir belakangan saja.” Nathan terlihat bahagia. Bagaimana tidak, kini ia sudah menyatakan perasaanya kepada majikanya itu, dan di sambut hangat olehnya. Saking tidak bisa menahan kebahagiaan, Nathan sampai menggenggam tangan Dani begitu erat, hingga membuat gadis itu tersipu malu. Hanya dengan menggenggam tanganya saja sudah membuat hati Nathan senang.
Taksipun sampai di rumah Daniel. Nathan dan Dani turun lalu segera masuk. Tak menyia-nyiakan waktu, Nathan langsung mengemas pakaianya dan pamit kepada semua yang ada di rumah itu.
“Loh, Nathan.., mau ke mana?” Dengan bingung, bi Marta bertanya kepada Nathan, saat melihatnya menggendong tas punggung.
“Loh, wajah kamu juga memar? Ini ada apa sih sebenarnya?” tanya bi Marta lagi.
Nathan hanya tersenyum, lalu berkata, ” Bi, Nathan pamit yach, Nathan mau cari kerja di tempat lain, dan tentunya lebih baik dari pekerjaan Nathan yang sekarang, agar Nathan bisa ngebahagiain gadis yang Nathan cintai bi, Nathan pamit dan mohon restu dari bibi..” Walau Nathan berkata kepada bi Marta, namun pandangan mata Nathan tertuju kepada Dani yang berdiri di belakang bi Marta.
“Iya Nathan, bibi restuin, semoga kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik, dan tentunya bisa membahagiakan gadis yang kamu cintai..”
“Terima kasih bi..” Nathan memeluk bi Marta.
“Non Dani, Nathan pamit dulu, semoga non Dani tidak bersedih lagi, dan selalu tetap ceria non..”
Sebenarnya bibi tau, gadis yang di maksud Nathan adalah non Dani, tapi bi Marta pura-pura saja. Saat menjabat tangan Dani, Nathan mengedipkan satu matanya, membuat Dani kaget dan membelalakan matanya. Tapi agar tak ketahuan bi Marta, Dani segera bersikap biasa lagi.
Akhirnya Nathan pergi dari rumah itu. Ia mengendarai motornya tak tentu arah. Motor yang ia lajukan dengan kencang akhirnya berhenti di sebuah pinggiran taman yang berada di kota itu. Dengan menyulut sebatang rokok, dan soft drink, ia berfikir keras. Langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Asap rokok mengepul dan membaur di udara, seiring isapan dan kepulan yang ia hembuskan. Sesekali ia menarik nafas dan menghembuskanya dengan berat.
“Baiklah Rani, demi kamu aku rela melakukan apa pun..”
Roman-romanya, Nathan seperti mendapatkan jalan. Dengan wajah berseri, ia membuang puntung rokok dan kaleng sofdrinknya ke dalam tong sampah. Lalu segera melesat meninggalkan taman tersebut.
Di rumah Daniel, Dani sudah bersiap-siap dan rapi. Rupanya ia akan pergi ke rumah sakit untuk menengok papa mertuanya.
“Bibi, Dani ke rumah sakit dulu, mau nengokin papa, nanti kalau mas Daniel nyari, bilang saja saya di rumah sakit. Oh ya bi, nanti malam, tolong masakin ayam kalasan ya, soalnya Dani lagi pengen makan itu..”
“Baik non, bibi siap melaksanakan..”
Layaknya seperti teman saja, Dani dan bi Marta begitu akrabnya, hingga seperti tak ada celah di antara mereka berdua, terlihat sangat akrab sekali.
Dani segera berangkat setelah pamit kepada bi Marta. Dengan mengendarai mobil milik Daniel, ia meluncur ke rumah sakit. Karena Daniel mempunyai dua mobil, tanpa meminta ijin kepada pemiliknya, ia langsung melajukanya dengan pelan. Melesat menembus padatnya arus lalu lintas yang sangat ramai. Sesekali ia tersenyum sendiri, saat ingat kebersamaanya bersama Nathan. Membuatnya bahagia.
__ADS_1
BERSAMBUNG