
Kini tinggalah Daniel sendirian menunggu operasi Nathan. Sudah Setengah jam Ia duduk di kursi besi yang ada di depan ruang operasi tersebut. Sesekali ia memeriksa ponselnya, berharap apakah sudah ada pesan dari Anyelir yang masuk.
Ia begitu mengkhawatirkan kekasihnya, yang pulang sendirian ke resort tempat ia menginap.
Tiiiiiiinnnggg
Daniel sayang, aku sudah sampai, baru aja aku masuk ke kamar.
Daniel merasa lega, sesudah membaca pesan dari anyelir.
Ok sayang, tunggu aku ya, tar kalau operasinya selesai, aku akan segera kembali.
Balas Daniel.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah sakit tersebut. Seorang Laki-laki turun dan segera berlari untuk membukakan pintu untuk sang tuan. Dialah pak Wawan, supir pribadi tuan Wijaya.
Setelah sang tuan keluar dan berjalan memasuki rumah sakit tersebut, pak Wawan segera menjalankan mobilnya kembali, untuk menuju area parkiran di rumah sakit tersebut.
Dari arah yang berlawanan, Ken terlihat berjalan setengah berlari menjemput Tuanya, setelah pak Wawan mengirim pesan singkat kepadanya.
“Tuan, anda sudah sampai? Mari saya antar ke kamar nona Dani..” ucap Ken dengan sopan dan sedikit membungkukan badan.
Tuan Wijaya mengangguk. Kini langkah kaki mereka beriringan menuju kamar di mana Dani masih terbaring.
“Tuan, mas Daniel juga sedang berada di rumah sakit ini..” ucap Ken saat dalam perjalanan menuju ruangan Dani. Tuan Wijaya menghentikan langkahnya mendengar ucapan Ken.
“Di rumah sakit ini? Sedang apa dia?” Agak kaget mendengar ucapan Ken.
“Apakah perlu saya panggil mas Daniel untuk menghadap tuan?”
“Apakah dia lama disini?”
“Sepertinya begitu tuan. Karena dia sedang menunggu seseorang di depan ruang operasi..”
“Operasi? Seseorang..?”
Kening tuan Wijaya berkerut. Rasa penasaran kini mengganggu fikiranya. Namun, segera teringat Dani lebih penting dari pada mengetahui semua yang di lakukan Daniel, putranya.
“Nanti saja dulu, kita ke kamar Dani dahulu..”
Keduanya kembali berjalan ke ruangan Dani. Dengan perlahan, sesampainya di depan pintu kamar Dani, Ken membukakan pintu tersebut.
__ADS_1
"Silahkan masuk tuan.." Ken dengan hormat menunggu tuanya masuk terlebih dahulu, baru kemudian ia sendiri masuk mengiringinya.
Dani yang tengah berbaring, terkejut melihat Ken yang datang bersama tuan Wijaya.
Ken bersama siapa?
Tuan wijaya tetsenyum kepada Dani.
“Sebaiknya nona baringan saja, kondisi anda masih lemah...” ucap Ken yang melihat Dani berusaha bangun.
“Apa kabar, Nak..?”
“Tuan yang waktu itu...?”
“Benar sekali. Saya senang melihat kamu sekarang sudah pulih dan berangsur membaik..”
“Terima kasih, Tuan.."
“Di mana papa sama mama kamu, Nak?” tanya tuan Wijaya karena ia tak melihat papa atau mama Dani menungguinya. Yang ia tau hanya neneknya saja. Pertanyaan tuan Wijaya mengingatkan kembali, bagaiamana ia telah kehilangan mama sama papanya. Hatinya kembali sakit. Memori dan kenangan bersama orang tuanya harus kembali merobek hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca. Sadar dengan siapa ia sedang berbicara, Dani mengusapnya, dan segera menjawabnya.
“Papa dan mama sudah lama meninggalkan saya sejak saya berusia 15 tahun dan hanya tinggal bersama nenek saya tuan. Tuhan rindu dan memanggilnya duluan..” jawab Dani dengan memaksakan senyumnya.
“Oh, maaf Nak, saya tidak tahu. Maafkan pertanyaan saya yang tak sengaja membuatmu teringat dengan mereka..”
“Tak apa tuan..”
“Sekarang, di mana nenek kamu? Saya ingin sekali berbicara dengan beliau..”
“Sejak saya sadar tadi, saya belum berjumpa dengan nenek, saya merindukanya.., tuan apakah anda tidak keberatan untuk menolong saya?”
“Katakan saja Nak, saya akan membantu kamu..”
Dengan penuh semangat dan sorot mata berbinar, karena sangat senang mendengar perkataan tuan Wijaya, Dani segera mengatakan apa permintaanya.
“Saya ingin bertemu nenek tuan, bisakah anda membawa nenek saya kemari..?” ucap Dani yang membuat tuan Wijaya tersenyum seraya menoleh Ken.
Ken mengerti akan isyarat tuan Wijaya. Ia pun segera pamit, dan akan menjemput seseorang.
“Anda mau ke mana..?” tanya Dani yang melihat Ken membungkukan badan kepada tuanya, dan nyaris membalikan badan.
“Maaf nona, saya mau keluar sebentar,. Anda di sini bersama tuan Wijaya dulu. Nggak lama kok, saya akan kembali lagi..”
__ADS_1
“Tapiiii....”
“Jangan khawatir, Tuan orang baik kok..”
Dani dengan wajah malu, mencoba tersenyum. Ken tau saja apa yang ada di dalam fikiranya. Setelah Ken, meyakinkanya dengan jawabanya barusan.
“Nak, bolehkah saya bertanya lagi..?” ucap tuan Wijaya memulai pembicaraan setelah Ken pergi. Dani mengangguk. Tuan Wijaya memakluminya, karena kondisi Dani yang masih lemah.
“Kamu masih kuliah?”
“Saya bekerja mengurus toko roti peninggalan almarhum orang tua saya bersama nenek..”
“Toko roti..?” Dani mengangguk.
“Masih muda tapi kamu sudah bekerja, menapa kamu nggak mencari kerja di kantoran, saja Nak..?”
“Mandiri itu lebih banyak tantangan, dan saya suka itu.."
Satu poin plus yang membuat seorang Tuan Wijaya kagum kepada Dani.
Kamu gadis yang tepat untuk mendapingi Daniel anak saya untuk mengurus peruahaan yang akan saya wariskan kepadanya.
Jawaban Dani membuat tuan Wijaya semakin yakin, bahwa ia tidak salah akan menjodohkan Dani dengan putranya Daniel. Dani seorang yang gigih. Menolong orang lain tanpa pamrih. Sungguh telah membuat hati tuan Wijaya kagum dan salut sama dia.
“Nenek...?” sapa Ken yang hampir saja sampai di depan pintu rumah sakit. Namun ia melihat nenek Eliza lebih dahulu memasuki rumah sakit tersebut, berjalan pelan dengan asistenya.Risa.
“Nak Ken..? Mau ke mana?” tanya nenek Eliza dengan senyum dari bibir yang mulai mengerut. Sedangkan Risa yang berada di samping nenek, tersenyum manis dan hormat ke arah Ken, membuat jantungnya sedikit berdegup. Namun segera di tepiskanya, dan segera menghampiri mereka.
“Kebetulan sekali Nek, tadinya saya mau jemput nenek, taunya nenek sudah sampai di sini..” ucap Ken membungkukan sedikit kepalanya dan bermaksud memberi salam kepada Risa, asisten nenek Eliza.
“Mari nek, saya antar ke kamar non Dani..”
“Apakah cucu saya masih di ruang ICU, Nak?”
“Oh, tidak Nek. Nona Dani sudah di pindahkan di kamar rawat, karena kondisinya sudah berangsur membaik..”
“Yerima kasih Tuhan...” ucap nenek Eliza penuh dengan rasa bahagia.
Ken mengantar mereka ke kamar di mana saat ini Dani dan Tuan wijaya sedang ngobrol berdua. Dani tak tahu kalau orang yang sedang duduk di hadapanya, adalah orang yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya. Begitu juga dengan tuan Wijaya, sama tak tahunya seperti Dani.
BERSAMBUNG
__ADS_1