
Nathan semakin berani menunjukan rasa cinta dan sayangnya kepada Dani. Tak pelak, kening Dani menjadi sasaran kecupan sayang Nathan. Begitu pula dengan Dani. Rasa cintanya kian hari kian mendalam kepada Nathan. Namun apakah sikap Dani akan berubah ketika tahu siapa Nathan sebenarnya. Status sosialnya yang bisa di katakan anak orang yang tajir melintir karena papanya pemilik sebuah perusahaan arloji yang sangat ternama.
“Malu ih, ayang...” sergah Dani usai Nathan mengecup keningnya.
“Coba bilang malu lagi, aku makin sering kecup kening kamu, yank...”
“Please ayang, ini rumah sakit, oke...?”
“Hehehe, iya. Takut amat sih..”
“Bukanya takut, tapi nggak enak aja. Secara aku kan baru aja berpisah dari mas Daniel, apa kata orang nanti kalau melihat kita seperti ini...”
“Iya. Aku akan jaga perasaan kamu kok..”
Nathan tersenyum. Hari kian larut. Malam semakin merayap. Karena perut sudah kenyang membuat Dani beberapa kali menguap.
“Sayaang, tidur saja. Kamu sudah ngantuk kan...?”
Dani tersenyum. Ia mengangguk seraya memposisikan tubuhnya untuk berbaring dengan benar. Sedangkan Nathan tetap duduk di sampingnya. Membelai rambut Dani dengan lembut. Usapan yang diberikan Nathan bagaikan sihir yang membuat Dani dalam sekejap memejamkan mata hingga terlelap dalam mimpi indah. Nyenyak sekali. Nathan menatap wajah cantik yang ada di hadapnya. Begitu polosnya saat tidur. Terlihat sekali kalau ia tiada beban saat ini.
“Aku tak menyangka Rani, kamu akan menjadi miliku. Dari awal pertemuan, aku hanya kasihan. Dari rasa kasihan kini berubah menjadi sayang dan cinta. Tuhan memanglah sangat sayang kepada hambanya. Terutama kepada kamu. Semoga kedepanya aku bisa selalu membahgiakan kamu. Tidur yang nyenyak dan mimpi indah ya, cuuupppp....”
Usai bergumam sendiri, Nathan mengecup kening Dani. Lalu ia sendiri merebahkan kepalanya di sammping Dani dengan posisi masih duduk. Dan akhirnya ia pun tertidur dengan tangan kanan menggenggam salah satu tangan Dani.
***
Pagi pun tiba. Langit tampak cerah sekali. Tiada sedikitpun awan hitam yang menutupinya. Burung berkicau dengan riangnya. Matahari bersinar dengan hngatnya. Seolah menggambarkan penyatuan dengan alam untuk menciptakan suasana yang indah di pagi itu.
“Haauuuss.....” gumam Daniel yang sudah sadar. Dari semalam ia memang belum sadarkan diri. Evan dan Ken yang menungguinya pun sempat khawatir. Namun hari ini keduanya tampak mengembangkan senyum kala melihat Daniel membuka matanya.
“Iya kak, kak Daniel haus...?” ujar Evan dan Ken langsung memberikan air mineral yang ada sedotanya kepada Evan. Dengan cekatan Ken menaikan ranjang listrik yang di tiduri oleh Daniel, agar memudahkan majikanya meneguk air.
“Ma..makasih, Ken...” ucap Daniel masih lemah.
“Sama-sama, mas Daniel...”
“Sekarang kakak minum dulu, ini...”
Dengan perlahan Evan membantu Daniel.
“Makasi Van...”
“Permisi...”
Suara lembut seorang suster terlihat memasuki kamar Daniel. Dengan senyum yang sangat ramah, ia menghampiri Daniel.
“Permisi mas, saya akan memeriksa pasien...”
“Ohh, silahkan sus...” ucap Evan yang mempersilahkan suster cantik yang bernama Tiara itu. Karena ada tanda nama di bajunya.
__ADS_1
“Sepertinya saya nggak asing dengan anda...” Tiba-tiba Daniel berujar dengan suara lemah.
“Benarkah..? Kalau boleh tau, apakah kita pernah saling bertemu sebelumnya...?” jawab suster Tiara.
“Kamu Tiara murid SMA Bangsa apa bukan...?” tanya Daniel dengan penasaran.
“Kok anda bisa tau...?” jawab suster Tiara dengan heran.
“Kita kan pernah satu kelas. Saya Danie. Kamu masih ingat..?”
“Apa...?” Suster Tiara terkejut.
“Ya Tuhan, kamu Daniel..? Maaf, karena pangling sekarang, jadi aku nggak ngenalin kamu...”
“Iya nggak papa. Kerja di sini...?”
“Yaa, begitulah kira-kira. Kamu sendiri, kerja di mana dan udah nikah belum...?”
“Aku nggak kerja...?”
“Laahh, nganggur dong...”
“Iya..” jawab Daniel memberikan kode kepada Evan karena berbohong. Evan hanya tersenyum selengekan melihat kakaknya sedang reunian dengan teman SMA nya.
“Sekarang aku akan memeriksa kondisi kamu dulu, maaf....”
Perlahan Tiara memeriksa Daniel, teman SMA nya dulu. Dengan sangat detail sekali ia mengecek kondisi Daniel terutama bagian tubuhnya yang terluka. Setelah beberapa saat kemudian selesai sudah tugasnya.
“Benarkah..? Syukurlah kalau begitu. Yaach gak bisa sering ketemu kamu dong..” Di saat ia sedang sakitpun masih sempat becanda dengan suster Tiara, teman sekolahnya dulu.
“Yaahh, masih bisa. Kan sekarang jaman canggih. Apa-apa lewat telefon, bener nggak..?”
“Iya, sih. Tiara, kalau boleh tau, berapa nomor handphone kamu...”
“Ow boleh saja. Nih silakan di catet.” Tiara mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Lalu menunjukan nomornya kepada Daniel.
“Van, tolongin kakak dong, catat nomor teman kakak ini.”
“Owwwh, adek kamu ya...?” ujar Tiara memandang Evan.
“Evan..” ucap Evan sambil tersenyum dan sedikit menganggukan kepala, namun tidak berjabat tangan.
“Tiara...” balas Tiara tak kalah ramah dan sopanya.
Evan segera menyimpan nomor Tiara. Setelah selesai, Tiara pamit keluar dari kamar. Entah kenapa, baru sekali bertemu saja, hati Daniel merasa nyaman, bertemu dengan teman semasa SMA nya itu. Tiara. Gadis manis yang sempat ia taksir dulu, namun Daniel belum sempat menyatakanya. Takut. Ya, karena rasa takut. Takut di tolak dan ia akan sangat malu sekali, dan akhirnya kini di pertemukan kembali oleh takdir.
“Ehhhhhheeemmm..!!!”
Evan berdehem dan itu membuat Daniel terkejut.
__ADS_1
“Ken, rupanya ada yang lagi bahagia nih..” seru Evan sambil melirik kepada Ken.
“Apaan sih...”
“Biarkan saja mas, asalkan dia bahagia...”
“Cieeeeeeeee, asek asekk...”
“Awas ya kalian berdua..!! Tar kalau aku udah sembuh, aku jitak kalian berdua...”
“Bener nih mau jitak..?”
“Lihat aja nanti...!!”
“Aduh, Van.., tolongin kakak dong, kakak mau ke kamar mandi nih, tiba-tiba saja HIV...?”
“Hhaaaahhh..!! Apa itu kak..? Penyakit yang berbahaya itu...?”
“Bukan dodol..! Hasrat Ingin Vivis...” jawab Daniel dengan sewotnya. Evan tersenyum melihat kakaknya sewot. Udah lama sekaki rasanya ia tak mengganggu dan meledek Daniel. Rasanya udah berabad-abad ia terlibat konflik denganya. Ken dan Evan segera membantu Daniel memapahnya ke kamar mandi.
Sementara di kantor polisi, Anye tengah meringkuk di dalam sel tahanan wanita. Di dalam ruangan yang berukuran tidak terlalu besar itu, ia meringkuk sendirian. Ia kaget mendengar pintu jeruji besi terbuka.
“Nona, ada yang mau jenguk anda, mari saya antar..”
“Siapa pak...?” tanya Anye penasaran.
“Kedua orang tua anda...” jawab pak olisi. Dengan tangan di borgol, Anye keluar di kawal oleh polisi itu.
“Papa, mama....?” ucap Anye, lalu di peluk oleh mamanya.
“Mengapa kamu bisa senekat ini, sayang...” suara mama Anye yang memeluk putrinya. Setelah beberapa saat keduanya duduk berhadapan. Begitu juga dengan papa Anye. Ia menatap putrinya sedih. Anak gadis yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, kini telah menjadi penghuni lapas wanita.
“Papa, mama, maafin Anye, karena cinta telah membutakan Anye, tolong keluarin Anye dari sini pah, mah...?”
“Iya sayang, sabar yach, papa akan keluarkan kamu dari sini...” jawab mama Anyelir menenangkan.
“Tidak..!! Papa tidak akan mengeluarkan kamu. Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan. Papa tidak mendidik kamu untuk jadi kriminal seperti ini. Kamu harus menjalani hukuman yang akan di berikan sesuai dengan kesalahan yang kamu lakukan.”
“Tapi paah....?” Mama Anyelir berusaha membela putrinya.
“Tidak mah. Papa ingin Anyelir menyadari kesalahanya. Biar dia tahu, besok lusa dan seterusnya apabila bertindak akan ia pikirkan dahulu..”
Mama Anyelir hanya bisa menangis mendengar ucapan suaminya. Anyelir terdiam. Kata-kata papanya memanglah benar. Ia tak akan merengek lagi kepada papanya untuk mengeluarkanya dari sel. Ia akan bertanggung jawab atas semua yang telah ia lakukan.
“Maaf, jam kunjung sudah habis..” ucap pak polisi yang menjaga Anyelir.
“Iya pak terima kasih sudah di ingatkan. Ma, mari kita sudahi. Anye anaku, ketahuilah, semua ini papa lakukan karena papa sayang sama kamu. Papa ingin kamu menjadi orang yang benar, dan kelk kamu kamu akan menemukan orang yang tepat. Kamu mengeeti kan, nak...”
Anyelir mengangguk, lalu memeluk kedua orang tuanya sebelum mereka peegi dari tempat itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG