Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 121


__ADS_3

Dua minggu kemudian


Terhitung sudah dua minggu, sejak Nathan melamar Dani. Hari ini, giliran keluarga Nathan mengundang nenek dan juga Dani ke rumah, untuk membicarakan pernikahan keduanya.


Sore itu, Dani terlihat sibuk menyiapkan baju yang akan di pakaiannya nanti saat ke rumah Nathan. Dress warna putih motif bunga-bunga menjadi pilihannya, dari semua pakaian yang ia keluarkan dari almarinya.


Beberapa hantaran juga sudah di siapkan sejak siang bersama neneknya yang akan ia bawa sebagai oleh-oleh nantinya. Di bantu oleh mbak Risa, nenek dan juga Dani menyiapkan semua.


“Cantik...” ucap Dani saat ia mencoba memakai baju yang akan di pakainya nanti. Ia tersenyum melihat pantulan dirinya di depan cermin. Sejenak memutar ke kiri dan ke kanan. Setelah merasa pas, ia kembali melepaskan lalu meletakanya di sebuah gantungan baju.


Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 17.30 WIB. Dani segera memeriksa kembali hantaran yang akan di bawa nanti.


“Semuanya sudah siap, yang ini, yang itu...” gumamnya sambil mengecek satu persatu.


“Apakah semua sudah siap dan beres, Dan...?” tanya nenek yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Sudah nek, tinggal kitanya yang harus siap-siap...” jawab Dani.


“Kalau begitu, kamu cepetan siap-siap, jangan sampai keluarga Nathan menunggu lama...”


“Iya nek...”


Setelah berkata seperti itu, Dani segera menuju ke kamarnya. Pertama ia mandi terlebih dahulu. Selesai mandi, ia memoles wajahnya seperti biasa, make up yang natural dengan rambut di gerai sebahu.


“Akhirnya, Tuhan telah mendengar doa-doaku, kini aku telah menemukan orang yang tepat, Terima kasih Tuhan...” gumam Dani dan memejamkan matanya sebentar. Poles demi poles make up yang ia pakai telah menempel di wajahnya dengan sempurna. Kini tinggal memakai baju yang telah ia siapkan tadi. Ia kagum dengan dirinya sendiri. Walaupun tanpa make up dan baju yang mahal, ia tetap kelihatan cantik dan menarik. Sebagai sentuhan akhir untuk menyempurnakan penampilanya, ia memakai sepatu flat yang ada manik-manik dan sangat berkilau jika terkena sinar lampu. Tak lupa hand bag sebagai pelengkapnya.


Selama dua minggu itu juga, setelah Daniel mengetahui kalau Dani mantan istrinya telah di lamar oleh Nathan, ia tak lagi menghubungi Dani. Telefon saja tidak, apalagi sekedar saling berkirim pesan. Seolah ia ingin menjauh dari kehidupan Dani.



Berangkatlah Dani beserta nenek dan juga mbak Risa ke rumah Nathan. Beruntungnya, Risa bisa stir mobil, jadi nggak perlu sopir untuk mengantar mereka, karena Risa yang mengemudikanya.


Beberapa menit setelah menyusuri jalan raya, dan melewati beberapa lampu merah, akhirnya sampailah mereka di rumah Nathan. Rumah yang begitu besar dan sangat megah bentuknya itu, dikelilingi oleh pagar yang sangat kokoh dan tinggi.


Seorang satpam membukakan pintu pagar dengan tombol otomatis tanpa bertanya terlebih dahulu, karena sudah tau siapa tamu yang akan datang.


“Mari non, nenek, nona, saya antar ke dalam...?” kata pak satpam mempersilahkan ketiganya setelah memarkirkan dan turun dari mobil.


“Terima kasih pak...” jawab Dani dengan sopan.

__ADS_1


Pak satpam berjalan di depan di ikuti Dani, nenek dan juga Risa.


“Baru pertama Dani ke rumah Nathan nek, rumahnya sangat besar sekali...” gumam Dani yang menyapukan pandangannya ke seluruh sudut rumah itu.


“Iya, nenek juga kaget, sekaligus kagum. Nenek jadi minder Dani, keluarga kita tidak sebanding dengan keluarga Nathan...” ucap nenek yang memegang tangan Dani.


“Nenek jangan khawatir, Nathan dan mama papanya bukan orang yang memandang status sosial nek...” kata Dani membuat tenang hati nenek. Ketiganya bersama pak satpam berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan yang begitu besar. Ruang tamu dengan beberapa kelompok kursi dan semua terbuat dari kayu yang mahal serta ornamen-ornamen yang berasal dari beberapa negara.


“Selamat malam nyonya Eliza, Dani, dan nona Risa...” sapa nyonya Felix dengan sangat ramah dan hangatnya.


“Selamat malam nyonya Felix....” balas nenek yang kemudian memeluk calon besanya.


“Malam tante...?” sapa Dani.


“Kok tante, panggil mama dong...” ucap nyonya Felix yang melirik manja ke arah Dani.


“Eh..., i.... iya mama...” jawab Dani gugup.


“Nah gitu dong sayang, kan kamu calon anak mama...”


Kedua calon mantu dan mertua itu saling memeluk. Seperti anak kandung saja. Nyonya Felix memeluk lalu mencium kening Dani dengan hangatnya. Dani bahagia. Ia seperti menemukan figur seorang mama setelah sekian lama tak merasakan kasih sayang dari mama kandungnya yang sudah lama tiada.


“Apa mau berdiri dan berpelukan terus nih...?” kata tuan Felix yang muncul bersama Nathan.


“Na.., Da....” ucap keduanya berbarengan.


“Hadeeehhh, calon pengantin salah tingkah nih...” sahut tuan Felix meledek Nathan dan juga Dani, membuat keduanya tersipu malu.


“Ahhh papa apaan sih...?”


“Mari, Dani, nenek dan Risa silahkan duduk...” nyonya rumah mempersilahkan.


Kedua keluarga tersebut mengobrol dengan akrab, dan agak serius. Membicarakan tentang hari pernikahan Nathan dan juga Dani. Di keluarga Nathan adalah yang pertama kalinya mengadakan pesta pernikahan, sedangkan di keluarga Dani untuk yang kedua kalinya.


“Bagaiman, apakah nyonya setuju jika pernikahan mereka di langsungkan bulan depan..” tanya tuan Felix.


“Saya sih terserah saja, bagaimana baiknya...” jawab nenek.


“Bagaimana dengan kalian, Nathan dan juga Dani...?”

__ADS_1


Keduanya saling bertatapan. Mengatakan dengan bahasa isyarat mata.


“Kami setuju saja pah, lebih cepat lebih baik...”


Nathan sudah tidak sabar rupanya. Ia ingin segera mengikat janji suci bersama Dani, cewek yang sangat ia cintai, semenjak ia menolong Dani di Phuket. Sejak itu, ada benih-benih cinta yang mulai bersemi di hatinya. Karena profesinya sebagai pengawal Daniel, membuat cintanya tumbuh dan semakin lama semakin membesar. Hingga akhirnya takdir Tuhan menuntunya menuju jalan untuk bersatu dengan sang pujaan hati.


“Baiklah nyonya Eliza, kita sepakat pernikahan mereka diadakan bulan depan...”ucap tuan Felix.


Nenek Eliza mengangguk. Kembali Nathan dan juga Dani saling berpandangan. Semua yang berada di ruangan itu mengangguk. Setelah berbicara serius, dan sudah mencapai keputusan yang bulat, kini mereka akan makan malam bersama.


“Mari nyonya, Dani dan Risa, silahkan di cicipi makananya.” ucap nyonya Felix mempersilahkan keluarga calon besanya.


Semuanya kini sudah duduk mengelilingi meja makan yang sangat besar dan di penuhi aneka hidangan. Mulai dari makanan pembuka hingga penutup terhidang diatas meja itu, tertata rapi dan sangat menggoda selera. Di saat semua sedang asik makan, dan sesekali bercanda, semua yang ada di ruang makan itu di kejutkan oleh seseorang.


“Selamat malam...?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul di ruangan itu. Seorang lelaki muda yang memakai sweater dan berkaca mata itu berdiri dengan senyum yang begitu menawan. Di tangannya masih memegang gagang koper.


“Edward? Kapan datang?” kata Nathan lalu berdiri dan langsung memeluk adiknya.


Edward Felix Bramasta. Adik kandung Nathan yang kuliah di luar negri. Saat ini kuliahnya sudah selesai dengan gelar NBA. Dan sebentar lagi, ia akan di percaya oleh papanya untuk mengurus cabang perusahaan keluarga Felix yang berada di luar negri.


“Maaf Jun, mama sama papa tidak bilang sama kamu, kami ingin memberi surprise juga sama kamu..” ucap nyonya Felix .


“Juna bahagia sekaligus kecewa mah, kenapa nggak ngabarin, kalau tau mau dateng, kan Juna bisa jemput...”


Kedua kakak beradik itu masih saling memeluk dan menepuk punggung satu sama lain. Sudah hampir 5 tahun Edward hidup di London, karena mengejar gelar NBA nya. Kini setelah selesai, ia kembali pulang untuk melepas kangen hidup di negara sendiri.


Edward gantian memeluk mama dan papanya.


“Edward, kenalkan ini calon kakak ipar kamu..." Edward memandang Dani, tersenyum lalu mengulurkan tangan. Dani menyambutnya dengan senang hati. Keduanya saling berkenalan.


“Akhirnya seorang kak Juna bisa takhluk kepada kak Dani....” kata Edward yang melirik ke arah Nathan.


“Apaaan siii...” jawab Nathan sambil melirik ke arah Dani. Gadis itu tersenyum dan menundukan kepala.


“Baiklah, sekarang kita mulai makan malamnya, Edward, ayo kamu duduk....” ucap tuan Felix setelah acara pengenalan putra keduanya.


Suasana sangat hangat dan kekeluargaan. Nathan duduk berhadapan dengan Dani.


“Ini puding kacang merahnya, ayo Dan di cicipi, buatan mama sendiri loh...” Nyonya Felix menyodorkan puding kacang merah ke arah Dani. Namun dengan cepat, Nathan nengambilnya.

__ADS_1


“Maaf mah, Dani alergi dengan kacang merah, dia tak bisa memakanya...”


BERSAMBUNG


__ADS_2