
Samar-samar, karena silau cahaya lampu, Dani melihat Ken berdiri di depanya. Karena tak yakin dengan penglihatanya, kembali Dani mengucek kedua matanya.
“Kak Ken..?” seru Dani yang melihat Ken benar-benar yang berdiri di depanya.
“Kenapa nona tidur di sini?” tanya Ken dengam halus dan sopan.
“Dani ketiduran saat membaca buku ini..” jawab Dani sambil menunjukan sebuah buku yang ia pegang, dan kini ia letakan di meja, lalu membenarkan posisi duduknya.
“Anda di cari tuan, Non..”
“Maksudnya Papa..?”
“Iya non. Anda di ajak makan malam bersama...”
Ken masih berdiri di depan Dani dan menanti majikan mudanya beranjak dari tempat duduknya.
“Baiklah..”
Dani bangun dari duduknya. Lalu segera berjalan keluar dari ruangan itu dan di ikuti oleh Ken. Tuan Wijaya yang sudah menunggu di ruang tamu, melihat Ken dan Dani berjalan ke arahnya. Bibir lelaki itu tersenyum.
“Papa mencari Dani...?” tanya Dani dengan sopan.
“Duduklah Dani...” Dani mengikuti perintah papanya.
“Ke mana suami kamu?” tanya papa Wijaya. Dengan polosnya Dani menjawab.
“Emm, maaf pah, Dani ketiduran di ruang baca, dan tak tahu mas Daniel di mana..?”
“Ya sudah, nanti kalau kamu bertemu suami kamu, bilang kalau papa mau bicara denganya, sekarang kamu bersihkan badan kamu, papa tunggu untuk makan malam..” ucap tuan Wijaya yang tersenyum. Sebenarnya mertua Dani tau di mana suaminya. Beliau hanya mengecek saja, apakah Dani tau kalau ia pergi dengan wanita lain. Ternyata benar dugaan tuan Wijaya. Dan beliau menduga, kalau wanita yang ia lihat tadi adalah kekasih Daniel.
“Baik pah, Dani permisi dulu..”
Setelah membungkukan badan, Dani menuju kamarnya untuk segera mandi, karena ini adalah perintah papa mertuanya.
Di restoran
“Sayang, kita pulang sekarang yach? Aku nggak mau kalau sampai papa tau aku nggak ada di rumah..”
“Baiklah..”
Selesai makan malam, kedua sejoli itu pun segera pergi dari restoran tersebut. Setelah mengantar Anyelir ke salonya, Daniel segera meluncur ke rumah utama, rumah papanya.
Beberapa saat kemudian, mobil yang ia kendarai memasuki halaman rumah papanya.
__ADS_1
Rupanya, papa udah pulang.?
Gumam Daniel dalam hati ketika melihat mobil papanya telah menempati garasi mobilnya. Ia keluar dari mobil, dan dengan pelan ia memasuki rumah tersebut.
“Dari mana kamu Daniel..?”
“Dari ketemu klien pah..” jawab Daniel yang berjalan ke arah papanya.
“Ketemu klien..?”
“Iya, kenapa pah..?”
“Kamu nggak sedang berbohong kan?”
“Kenapa sih papa selalu ikut campur urusan Daniel..?” Tiba-tiba tanpa angin tanpa hujan, Daniel berani berteriak di depan papanya.
Plaaakkk
“Sejak kapan kamu berani berteriak di depan papa..!!” Spontan tuan Wijaya menampar pipi Daniel.
Akibat tamparan dari papanya, wajah Daniel hingga menghadap ke samping. Dani yang selesai mandi, dan bermaksud akan memenuhi undangan makan malam bersama papa mertuanya, mendadak menghentikan langkahnya ketika melihat suaminya di tampar oleh papa Wijaya. Kedua tanganya serta merta menutup mulutnya sendiri.
“Sejak kapann...!!?” tanya tuan Wijaya yang kini gantian berteriak. Nathan dan Ken datang bersamaan ke tempat di mana tuan Wijaya dan Daniel tengah beradu emosi.
“Karena papa tau mana gadis yang baik buat kamu dan mana yang tidak pantas buat kamu..!!”
“Syyyiiiiitttt...!!! Perlu papa tau, sampai kapan pun, Daniel tetap mencintai Anyelir, kekasih Daniel, dan sampai Daniel menghembuskan nafas terakhir, Daniel tak akan pernah mencintai gadis bodoh pilihan papa, menantu kesayangan papa itu..!! Itu sumpah serapah Daniel..!!”
Dani yang mendengar ucapan Daniel, perlahan mundur selangkah. Kedua kakinya melemas.
Sebenci dan semarah itukah kamu kepadaku? Benarkah ucapan kamu barusan tadi mas Daniel?
Sakit tapi tak berdarah. Itulah yang saat ini Dani rasakan. Ia membalikan badan, dan dengan langkah gontai menuju kamarnya. Nathan yang melihat Dani seperti itu, ingin rasanya meminjamkan bahunya sebagai sandaran kepala gadis itu. Namun ia hanya bisa menatap punggung gadis itu yang melangkah pergi dari tempat tersebut.
Emosi kini tengah menguasai hati, jiwa dan fikiran Daniel. Setelah berkata demikian, Daniel beranjak dari hadapan papanya, dan melangkah menuju kamarnya.
“Berhenti..!!” teriak tuan Wijaya, namun Daniel tak menghiraukanya.
“Ahhhhh....!!” Suara tuan Wijaya yang terduduk dan memegangi dada sebelah kirinya.
“Minum dulu obatnya tuan..” ucap Ken yang berlari menghampiri tuanya, dan memberikan satu butir obat pereda rasa sakit kepada tuan Wijaya.
“Ahh, anak itu...!!?”
__ADS_1
“Sudah tuan, jangan fikirkan mas Daniel dulu, lebih baik tuan utamakan kesehatan tuan terlebih dahulu..” ucap Nathan yang kemudian membimbing tuan Wijaya ke kamarnya.
Braakkkkk
Daniel membuka pintu kamarnya dan kembali menutupnya dengan suara bantingan yang sangat keras. Ia melihat Dani tengah duduk termenung sambil mendekap kedua lututnya di atas tempat tidur.
“Kita kembali ke rumah sekarang..!” Teriak Daniel yang meluapkan emosinya kepada Dani.
“Jika itu mau mas, baiklah..” jawab Dani tanpa sedikit pun menatap wajh suaminya. Ia bergegas mengemas pakaianya ke dalam koper. Daniel menelfon Nathan dan memberi tahunya.
Setelah semua sudah terkemas, Dani mengikuti Daniel.
“Ken, tolong bilang sama papa, aku pulang..”
“Tapi apa nggak sebaiknya mas pamit terlebih dahulu..”
“Untuk sekarang, saya masih marah sama papa..”
“Baik mas, akan saya sampaikan..”
“Permisi kak Ken..” Pamit Dani dengan sedikit menundukan kepalanya, dan suara yang pelan.
“Silakan, Non..”
Daniel melangkah keluar rumah di ikuti Dani. Nathan sudah yang bersiap di depan mobil, segera membukakan pintu untuk kedua majikanya. Dan ia pun segera meluncur membawa keduanya pulang ke rumah kaca. Selama dalam perjalanan pulang, suasana hening tanpa ada suara atau pembicaraan sepatah kata pun, hingga mereka sampai di rumah kaca.
“Kenapa sih kamu membuat suasana jadi kayak gini?”
Tiba-tiba Daniel menghempaskan tubuh Dani dia atas sofa. Itu pun belum masuk ke kamar. Dan kejadian itu di lihat oleh Nathan.
Dani terdiam. Bahkan kata mengaduh sedikit pun tak keluar dari bibir gadis itu. Aneh memang.
”Kamu sengaja ya, biar aku sama papa jadi bertengkar..? Ooohhh...atau kamu mengincar harta papa, untuk kamu kuasai gadis serakah?” ucap Daniel lagi yang kini mencengkeram dagu istrinya itu.
“Cukupp..!!” teriak Dani yang menepis tangan Daniel, dan kini ia berdiri beradu pandang dengan mata Daniel.
“Baru saja kita menikah, itu pun masih dalam hitungan hari, selama itu juga, perlakuan mas membuat hati Dani sakit. Itu semakin membuat Dani tertarik untuk masuk ke dalam kehidupan mas Daniel..” ucap Dani dengan wajah yang di buat sesinis mungkin. Dalam hatinya, sebenarnya ia ingin menangis, namun karena puncak kejengkelanya kepada Daniel, membuat hati gadis itu bersikukuh mempertahankan rumah tangganya, dan ingin melihat Daniel bertekuk lutut, menjilat ludahnya sendiri.
“Berhenti...!!” teriak Daniel karena Dani meninggalkan dirinya menuju kamar. Namun Dani tak menhiraukan teriakan Daniel. Gadis itu terus melangkah.
“Aarrrrggggghhhhh....!!!”
Daniel menggeram sambil menendangkan kakinya ke tempat kosong.
__ADS_1
BERSAMBUNG