Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 79


__ADS_3

“Aaaaggghhhh...!!!” teriak Daniel dengan gusar dan meninggalkan Anyelir sendirian.


“Jangan pergi..!! Daniel..!!” seru Anyelir sambil melemparkan vas bunga ke arah Danil.


Daaaggggg


Vas tersebut mengenai punggung Daniel. Ia berhenti, meringis kesakitan. Sejenak ia menoleh ke arah Anyelir.


“Begini sifat asli kamu..?” ucap Daniel dan meneruskan langkahnya keluar dari kamar hotel pribadinya.


“Aaaaargggghhh...!!! Sialan kamu Daniel. Ingat aku akan melakukan sesuatu, agar kamu sadar sedang berhadapan dengan siapa..!! Aaaarrrrggghhh....!!!”


Pyaaaaarrrrrrr


Anyelir kembali melempar botol wine yang terletak di meja. Suara pecahan botol tersebut terdengar oleh Daniel dan ia menyuruh salah seorang pelayan hotel tersebut untuk membersihkan kamarnya. Kali ini, hati Daniel benar-benar di buat kacau balau oleh Dani dan Nathan. Ia berniat akan pulang ke rumah kaca dan memastikan Dani apakah pulang ke sana atau tidak. Baru kali ini ia di buat gelisah oleh seorang wanita, dan itu adalah istrinya sendiri.


Mobil yang di bawa oleh Daniel melaju dengan cepat. Seolah berlomba dengan angin, malam itu Daniel tak menghiraukan keadaan sekelilingnya. Ia menyalip mobil dan motor yang ia lalui. Emosi telah menguasai fikiranya. Hanya satu tujuanya, memberi pelajaran kepada Dani dan Nathan.


Tak lama setelah Daniel keluar dari hotelnya, Anyelir menyusul keluar dari hotel tersebut. Dengan penuh emosi, ia menyetir mobilnya dengan kencang.


Sementara itu, Nathan yang membawa Dani dengan taksi, menenangkan hati gadis itu, memberikan rasa nyaman yang sangat di butuhkan oleh Dani saat ini.


“Kamu baik-baik saja..?” tanya Nathan saat di dalam taksi. Dani mengangguk dengan pelan. Perutnya serasa agak kembung, karena air kolam yang tertelan.


“Sudah, jangan khawatir yach, aku akan selalu ada buat kamu, Rani..”


“Nathan, apakah tindakan aku tadi salah..?” gumam Dani dengan pelan. Nathan menatap wajah gadis yang berada di sampingnya. Ia tersenyum sembari jari-jemarinya mengusap rambut sebahu yang masih basah itu.


“Kamu nggak salah, tindakan kamu aku acungin jempol. Kamu wanit hebat dan pemberani. Tidak marah walau emosi sedang menguasai kamu, tidak terbawa arus yang bisa saja membuat kamu menjadi wanita yang kasar, seperti yang di lakukan oleh Anyelir. Jujur itu memang menyakitkan, tapi lebih sakit jika bertahan hanya untuk menjaga perasaan orang lain, dan ibaratnya, kamu memberikan pelangi kepada orang buta, sia-sia kan..?”


Dani tertegun mendengar ucapan Nathan. Ada benarnya juga perkataanya. Dani menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskanya dengan kasar.

__ADS_1


“Loh kita mau ke mana, Nathan..?” tanya Dani heran. Karena arah jalanya menuju rumah Daniel.


“Aku antar kamu ke rumah suami kamu, karena kamu masih menjadi istrinya, Ran..”


“Tapiii...” sahut Dani.


“Kamu yang tenang yah, Tuhan akan memberikan jalan, jika kita benar-benar di takdirkan akan bersama, walau kita tidak tahu jalan yang akan kita lewati nanti berliku atau bahkan mungkin akan sangat terjal. Jika kita bersabar, maka kita akan sampai pada tujuan kita, kamu mengerti kan, Ran..?”


“Iya, Nathan..” jawab Dani dan Nathan memeluknya dengan hangat, agar Dani tak terlalu kedinginan. Gadis itu diam, merasakan pelukan yang terasa begitu menenangkan hatinya. Serasa damai dan tak ingin lepas darinya.


Taksi yang membawa Dani dan Nathan akhirnya sampai di depan rumah Daniel. Dengan perlahan Nathan turun dan membukakan pintu untuk Dani. Gadis itu turun dengan hati-hati dan uluran tangan Nathan di sambutnya dengan senyum yang merekah.


Srriiitttttttt


Mobil yang di kendarai Daniel berhenti tepat di depan rumahnya dan tepat pula di samping taksi yang membawa Nathan dan juga Dani. Dengan wajah penuh emosi, karena melihat mereka berdua, ia turun dan membanting pintu mobilnya.


“Sudah puas kalian berduaan..!! Sekarang juga, masukkkk...!!” ucap Daniel menarik tangan Dani dengan kasar.


“Jangan kasar, bung..?” sergah Nathan menahan tangan Daniel, dan mencengkeramnya dengan kuat.


“Aku memang nggak ada hak, lagi pula dia masih istri kamu, tapi kalau kamu masih berbuat kasar kepadanya, maka aku tak akan tinggal diam, karena apa, karena aku mencintainya. Gadis yang kamu sia-siakan sebagai istri kamu, adalah orang yang sangat aku cintai dan dia adalah ratu di hatiku..”


Ucapan Nathan semakin membuat wajah dan telinga Daniel memerah. Dengan kasar ia menghempaskan tangan Nathan dan akan memukulnya. Namun dengan kilat, Nathan menagkisnya dengan memegang pergelangan tangan Daniel.


“Sekarang kamu tidak bisa berbuat seenknya, aku bukan lagi pengawal kamu Daniel Permana Wijaya. Kalau tahu begini, mungkin saat itu aku biarkan saja kamu di tusuk oleh preman itu, karena kamu orang yang tak tahu diri...!!” bentak Nathan dan melotot kepada Daniel.


“Jangan kamu ungkit soal itu. Oke, aku akan bayar semua yang kamu lakukan kepada saya sebagai balas budi, dan setelah itu, aku akan menunjukan kepada kamu bagaimana seorang Daniel akan memberi pelajaran..!!!”


“Jangan menganggap segala sesuatu bisa di ganti dengan uang. Sungguh takabur sekali kamu. Kamu belum merasakan bagaimana rasanya di bawah. Tapi aku berdoa, supaya kamu tak merasakanya..!!”


“Aaahhh, omong kosong. Cepat Enyah dari sini, atau aku akan panggil security..”

__ADS_1


“Tak perlu kamu melakukanya, aku juga muak berlama-lama di hadapan kamu. Rani, aku pulang dulu, jaga diri baik-baik..” ucap Nathan dan di angguki kepala oleh Dani.


“Aahh, persetan..!!! Ayo masukk...!! Nih jas kamu..!!” Ajak Daniel yang melempar jas Nathan ke mukanya, lalu menarik tangan Dani dengan kasar, membuat gadis itu sedikit berlari mengikuti irama tarikan tangan Daniel.


“Arrrgghhh...!!! Awas saja kamu Daniel, aku akan segera membawa Dani dari sisi kamu..!!” ucap Nathan dan ia memutuskan pergi dari tempat itu setelah Dani menghilang dari pandanganya. Daniel terus menarik tangan Dani ke kamar. Bi Marta yang melihat semua itu, mengurungkan niatnya yang akan menyapa kedua majikan mudanya itu.


“Kenapa lagi sih non? Semoga saja nggak terjadi hal-hal yang tak di inginkan..” gumam bi Marta dengan sedih.


Daniel menghempaskan tubuh Dani begitu ia berada di kamar. Dani merasakan pusing di kepalanya, karena air yang masuk ke dalam perutnya belum juga keluar. Ia bangun dan berjalan dengan tertatih menuju kamar mandi.


“Mau kemana kamu..!!” Bentak Daniel dan tak di hiraukan oleh Dani. Ia terus saja berjalan, hingga membuat Daniel emosi.


Kembali ia menarik tangan Dani dengan kasar, hingga membuatnya jatuh terjerembab di lantai. Gadis itu tak bergerak. Ia meringkuk terdiam di tempatnya.


“Bangun.!! Jangan berlagak pingsan..!!” teriak Daniel dengan salah satu kaki mengguncang tubuh Dani. Namun ia tetap diam, tak bergeming sama sekali, membuat Daniel semakin merasa panik.


“Dani, kenapa kamu? Bangun Dani, bangun..!!” teriak Daniel dan mengguncang tubuh gadis itu. Karena beberapa kali guncangan ia tak bangun juga, akhirnya ia membopongnya ke tempat tidur dan berlari memanggil bi Marta.


“Bik..!! Bibiiiikkk...!!!” teriak Daniel memanggil bi Marta. Mendengar tuanya memanggil, bi Marta segera berlari ke sumber suara dengan tergopoh-gopoh.


“Iya mas Daniel, ada apa memanggil bibi..?” jawab bi Marta terengah-engah.


“Sini cepat bi...!!” Bi Marta menuju tempat sesuai arahan lambaian tangan Daniel. Dan bibi terkejut melihat Dani yang tergeletak di ranjang dengan baju yang masih basah.


“Non Dani..? Kenapa lagi dengan non Dani, mas...?” ucap bi Marta yang berlari ke arah Dani.


“Cepat tolong ganti bajunya bik, dengan baju yang lebih hangat.” Perintah Daniel dan ia segera membalikan badanya. Dengan cekatan bi Marta mengganti baju Dani.


“Mas, baju non Dani udah saya ganti, saya akan membuatkan wedang jahe untuk non Dani..”


“Iya bik, terima kasih..” ucap Daniel lalu mendekati Dani setelah bibi pergi.

__ADS_1


Daniel menatap wajah Dani. Ada rasa menyesal dan bersalah menyelimuti hatinya, dan membuatnya merasa sedih.


BERSAMBUNG


__ADS_2