
Tuan Wijaya menyodorkan dua lembar tiket di hadapan Daniel. Terlihat di kertas itu, tulisan tempat tujuanya. Phuket, Thailand.
“Tiket...? Tiket apa ini pah..?”
“Ya, ini tiket bulan madu ke Phuket, hadiah pernikahan kalian dari papa. Papa harap, kalian akan segera memberikan cucu buat papa..”
Apa-apaan ini. Cucu..? Jangan kan bercinta denganya, menyentuhnya saja Daniel enggan pah.
Daniel memutar otak. Ia berinisiatif mengajak Nathan juga, untuk berlibur ke Phuket.
“Paah, Daniel ingin mengajak Nathan juga. Daniel tidak ingin ke sana sendirian tanpa pengawal. Papa tidak keberatan kan..?”
“Boleh. Sebagai anak dari Wijaya grup, kamu perlu pengawalan. Oke, papa akan siapkan satu tiket lagi untuk pergi ke Phuket..”
“Terima kasih pa..”
“Bagaimana dengan kamu Dani? Apa kamu setuju?”
Dani yang dari tadi hanya diam dan mendengarkan perbincangan antara ayah dan anak itu, tidak berani menyela. Bahkan ketika ia di tanya calon ayah mertuanya, ia menjawabnya dengan gugup.
“I...iya tu.., Eh..papa.., Dani setuju..”
“Baiklah, Daniel.., kamu yang pegang tiket ini. Kalau kamu ingin mengajak Dani berkeliling hotel ini, silakan, papa akan sangat senang sekali...”
“Maaf pah, Dani begitu sibuk hari ini, Daniel akan segera mengantarnya kembali ke toko..”
Dasar pembohong. Padahal aku nggak sibuk. Tapi ya sudahlah, aku juga tak ingin berlama-lama bersama kamu.
“Iya pah, benar sekali apa yang di katakan mas Daniel, hari ini toko ramai sekali, saya tak enak kalau meninggalkan nenek sendirian di toko..„
“Begitu rupanya. Ya sudah, sampaikan salam saya kepada nenek kamu, dan hati-hati di jalan. Daniel, papa titip Dani, jaga dia baik-baik, jangan sampai kenapa-kenapa..”
“Baik pah..”
Keduanya berjalan keluar setelah berpamitan dengan tuan Wijaya. Setiap detik yang Daniel lalui bersama Dani, ia merasa seperti seribu tahun menjalaninya, jenuh dan membosankan. Saat mereka sampai di depan hotel, rupanya Nathan sudah menunggunya.
“Eits..!!! Kamu mau ke mana..?” sergah Daniel yang melihat Dani akan memasuki mobilnya.
__ADS_1
“Ya masuklah. Kamu yang jemput, kamu juga yang harus anter..”
“Tidak ada ceritanya. Kamu naik taksi..!!” sahut Danil yang mendahului Dani memasuki mobilnya.
“Kamu sungguh akan melakukan ini padaku..?” Dengan nada sedikit pelan Dani bertanya. Daniel kembali keluar, dan berbisik di telinga Dani.
“Ini belum seberapa. Karena kamu ngotot menerima lamaran papa, inilah resiko yang harus kamu tangging. Mengerti...!!” Daniel masuk ke mobilnya.
“Nathan, jalan..!!”
“Nunggu nona Dani mas..”
“Alaahhhh..!! Dia biar naik taksi, biar nggak manja terus!!”
“Tapi mas, masak di suruh naik taksi?”
“Kenapa kamu yang rewel..? Kamu cukup diam dan menjalankan apa yang saya katakan, mengerti..?”
Hem, mentang-mentang jadi anak pemilik Wijaya grup, seenaknya sendiri. Yah, gua kan cuma bawahan, cukup diam dan menjalankan.
Nathan hanya bisa melaksanakan perintah majikan mudanya. Walau sebenarnya ia sedikit kasian kepada Dani, namun itu hanya sebatas rasa kasian saja dalam hati. Dengan pelan ia melajukan mobilnya, meninggalkan Dani yang berdiri terpaku menatap mobil itu yang semakin lama semakin menjauh dan kini hilang dari pandanganya.
“Kamu harus kuat Dani, demi melihat senyum di wajah nenek kamu. Semangat..!!” Sambil berjalan ke pinggiran jalan raya untuk menyetop taksi, ia menyemangati dirinya sendiri. Tak lama taksi pun datang dan ia segera meluncur menuju tokonya.
****
Hari pernikahan
Segala persiapan untuk acara pernikahan Dani dan Daniel sudah siap. Dari mulai tempat, dekorasi, cattering dan lainya sudah di persiapkan tuan Wijaya sedetail mungkim. Kini saatnya ia akan mengucapkan janji suci sehidup semati. Janji di hadapan Tuhan yang menurutnya sangat sakral.
Acara resepsi pernikahan Dani dan Daniel, yang di langsungkan di hotel milik Wjaya grub, diadakan secara besar-besaran dan mewah. Banyak tamu undangan dari kelas atas yang menghadiri pesta tersebut. Dari kalangan menengah pun tak kalah banyak juga yang di undang. Suasana sangat meriah sekali.Namun kemeriahan suasana pesta itu, tak semeriah hati kedua mempelai yang malah merasakan sebaliknya. Jutaan umat di luar sana banyak yang mendambakan kata menikah dengan orang yang di cintai, tapi di sini, beda kondisi. Daniel yang sudah memakai jas putih, sangat rapi dan terlihat sangat tampan itu, tengah menelfon seseorang.
“Kamu beneran akan menikah dengan gadis itu?” suara Anye yang menjawab telfon dari kekasihnya.
“Iya Anye sayang, lebih tepatnya aku anggap nikah kontrak saja. Bila saatnya tiba, aku akan ceraikan dia.”
“Pokoknya aku nggak rela..!”
__ADS_1
“Anye sayang, sabar yach, besok kita akan liburan bersama..”
“Tapi kamu sama gadis itu kan..?”
“Hahaha..., kamu cemburu?”
“Namanya juga kekasihmu, ya iyalah aku cemburu..”
“Tenang sayang, memang benar aku berangkatnya sama dia, tapi honeymoon nya sama kamu, aku sudah pesan tiket buat kamu kok...”
“Benarkah? Oh.., love u Daniel sayang...”
“Tadi kayanya ada yang marah? Sekarang udah berubah nih suasana hatinya?”
“Kamu sih bikin aku uring-uringan saja. Aku kangen di manjain kamu sayang, kangen bermain sampai kita berkeringat, dan melayang-layang...”
“Sabar dong, tinggal satu hari lagi kok, oke...? Dan sebaiknya kamu datang ke sini sayang...”
“Datang ke situ? Baiklah...” Dan telefon keduanya segera terputus, karena seseorang memanggil Daniel untuk keluar kamar.
Di dalam kamarnya, Dani tengah di dandani oleh perias yang di khusus di datangkan oleh tuan Wijaya untuk merias dirinya. Memang segala sesuatunya tuan Wijaya lah yang menyiapkan. Dani mau pun neneknya, tidak di ijinkan mengeluarkan biaya sepeserpun dalam acara pernikahan itu.
Gaun putih dengan lengan sebatas bawah bahu, dengan bawahan yang memanjang ke belakang dan bertabur berlian kecil, sangat anggun di kenakan oleh Dani. Gadis yang semula hanya terlihat biasa saja, kini bak putri mahkota setelah di make up oleh sang juru rias, yang lewat tanganya yang terampil itu, kini ia terlihat sangat berbeda.
“Mbak, benarkah ini saya...?” tanya Dani setelah ia melihat bayangan dirinya di cermin. Karena saat di rias tadi, Dani membelakangi cermin.
“Benar nona, ini anda. Anda begitu cantik dan membuat pangling.” jawab sang perias dengan jujur.
Cekkleeekkk
Suara pintu di buka, dan nenek Eliza serta Risa sang asisten, masuk untuk melihat Dani. Ia terkesiap. Ia melihat Dani seperti almarhumah ibunya yang sudah meninggal, anak perempuan nenek Eliza.
“Sungguh cantik sekali kamu cucuku. Nenek sampai tidak percaya kalau ini benar-benar kamu..” ucap Nenek Eliza yang berdiri di belakang Dani, menatap bayanganya di cermin dan memegang bahunya.
“Benar-benar seperti putri mahkota..” imbuh Risa yang tersenyum melihatnya.
“Terima kasih nenek, mbak Risa..” jawab Dani dengan senyumanya dan sedikit rasa senang.
__ADS_1
BERSAMBUNG