
“Ayo Van, kamu duduk sini..” Pinta tante Ema.
Semua sudah duduk di kursi masing-masing. Di hadapan mereka, semua hidangan sudah tersaji. Mulai dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup. Semua komplit, karena malam ini, tante Ema adalah tamu spesial di rumah itu.
Acara makan malam pun di mulai. Dengan di selingi obrolan ringan, tante Ema membuka pembicaraan.
“Tante gak nyangka, Daniel pintar memilih istri.” Puji tante Ema yang terlihat senang, kepada Dani.
“Ah, tante jangan berlebihan...” timpal Dani yang saat ini tersipu malu. Berbeda dengan Daniel, raut wajahnya tidak sebahagia Dani. Wajahnya masam.
“Van, kamu udah punya gadis pilihan belum? Kamu juga harus mencari pendamping hidup, jangan kalah sama kakak kamu..” Canda tante Ema.
“Emm, Evan mulai menyukai seseorang tante, orangnya pengertian, dan baik hati..”
Aneh. Saat Evan mengucapkan kata-katanya, pandangan matanya tertuju kepada Dani yang tengah makan hidangan pembukanya.
“Waahh, secepatnya saja kamu utarakan perasaan kamu sama dia, jangan sampai keduluan orang lain..” imbuh tante Ema.
Dani masih asik menyantap hidangan pembukanya.
Kenapa mata Evan tertuju kepada Dani. Mungkinkah diaaa.....? Ah kenapa dengan fikiranku ini. Jangan berprasangka dulu Ema.
Tante Ema segera menepis fikiran buruknya.
“Dani...?” Panggil papa mertuanya. Naas. Saat tuan Wijaya memanggilnya, Dani kaget. Bersamaan dengan itu, lidahnya tergigit dan ia menjerit pelan.
“Awww..” teriak Dani dengan pelan.
“Kamu nggak papa?” tanya tuan Wijaya yang melihat ekspresi Dani kesakitan. Dani menarik tisu. Karena ia merasakan amis di lidahnya. Benar saja, saat ia mengelap lidahnya dengan tisu tersebut, ada warna darah menempel di tisu tersebut.
“Darah...?” ujar Dani terkejut.
“Daniel, cepat kamu ambilkan obat di kotak p3k, Dani kesakitan..” Perintah tante Ema. Dengan terpaksa Daniel menurutinya, dan berdiri dari kursinya.
Bersamaan dengan itu, Evan juga beranjak dari tempat duduknya. Ia dengan langkah cepat pergi ke dapur yang dekat dengan ruang makan, dan mengambil satu balok kecil es batu yang di bungkus dengan sapu tanganya. Kemudian ia kembali.
“Kak Dani, gigitlah es batu ini, biar darahnya cepat membeku dan tak keluar lagi..” Evan berkata dengan jelas. Tampak sekali dari raut wajah Evan, kalau ia mengkhawatirkan istri kakaknya itu.
Daniel yang menyaksikan kejadian itu, dan berdiri di belakang Dani, terbengong. Ia tak menyangka respon Evan akan seperti itu.
Van.., kamu...?? Apa maksud dari sikap kamu ini..?
Gumam Daniel dalam hati.
__ADS_1
“I....iya, Van. Terima kasih..” jawab Dani yang juga kaget. Evan membalas senyuman kepadanya. Tuan Wijaya dan tante Ema terhenyak. Benarkah yang mereka saksikan. Sejuta fikiran kini memenuhi benak mereka.
Ya Tuhan, kenapa respon Evan seperti itu kepada Dani menantuku? Dia kan tahu kalau Dani adalah istri Daniel, kakaknya? Ah aku tidak boleh berburuk sangka.
Tuan Wijaya dan tante Ema saling berpandangan. Dari isyarat bahasa mata mereka, ada satu kesamaan pendapat yang sudah dapat mereka mengerti, tanpa saling membicarakan.
“Ini obatnya..!” ucap Daniel memecah kebengongan mereka.
“Udah, kak Daniel nggak usah repot-repot, luka kak Dani udah mampet kok....” jawab Evan seraya kembali ke kursinya.
“Ayo lanjutkan makan lagi..” ucap tuan Wijaya yang mencairkan suasana.
Dani dengan agak susah mengunyah makanan. Karena lidahnya kerasa agak sedikit perih. Sejak dari tadi, Evan terus memperhatikan Dani. Daniel yang mengetahui situasi itu, agak sedikit cemburu dengan Evan.
“Kak Dani, kalau memang sakit, jangan di paksakan menyantapnya.” Ucap Evan.
“Bibi...” Panggil Evan kepada bibi pembantunya. Seorang wanita setengah baya muncul dari dapur dan menghampiri Evan.
“Iya Den, ada apa memanggil bibi..?”
“Tolong buatkan non Dani bubur saja, karena lidahnya sakit, jadi ia tak bisa mengunyah makanan kasar..” Perintah Evan dan bibi mengiyakannya. Dani membelalakan matanya mendengar ucapan Evan barusan.
Ini situasi apa sih? Jangan buat aku bingung seperti ini dong mas Daniel, Evan.., please..
“Enggak kak Dani, turuti saja perkataan Evan, oke..?” Tuan Wijaya dan tante Ema semakin bingung di buatnya. Mereka berada di situasi yang sangat mebingungkan.
“Eheemmm...!!! Makananya nggak enak..!!!” seru Daniel yang membuat Dani menghentikan mengunyahnya.
“Kita pulang saja..!” ucap Daniel yang berdiri dari tempat duduknya.
“Papa bilang duduk..!!” ucap tuan Wijaya tegas.
“Maaf pah, Daniel nggak nafsu lagi untuk makan..”
“Papa bilang duduk..!! Hormati tante Ema sedikit!!”
Dengan terpaksa, Daniel kembali duduk. Dengan hati yang dongkol, ia kembali melanjutkan makanya, walau sebenarnya ia sedang cemburu, namun ia tak akan pernah mengungkapkanya, karena gengsi.
“Daniel, bagaimana kerjaan kamu? Apa kamu menikmatinya..?” tanya tante Ema yang mengalihkan topik pembicaranya. Sedangkan Evan, ia kembali asik menikmati hidanganya.
"Sangat tante, malah Daniel sangat menyukainya..”
“Syukurlah kalau begitu. Kamu harus tunjukan, kalau kamu mampu membuat Amazone Hotel menjadi hotel yang jauh lebih baik di atas hotel-hotel lain. Seperti papa kamu, sekarang namanya menjadi legenda di kalangan pebisnis hotel..” Daniel melirik papanya.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, kapan nih kamu sama Dani akan memberikan cucu untuk papa kamu?” celetuk tante Ema lagi.
Dani spontan tersedak. Lagi-lagi dengan cepat, Evan menyodorkan satu gelas air putih kepadanya.
“Hati-hati kak Dani..?” ucap Evan. Dani dengan terpaksa menerimanya.
“Kenapa sih, sampai kesedak?” ucap Daniel sambil melotot ke arah Dani. Dani menjadi serba salah.
"Ayo kita pulang saja..!”
Karena tak ingin menambah suasana menjadi lebih tak enak, Dani mengangguk menuruti ucapan Daniel.
“Papa, tante, Evan, maaf.., kami mau pamit dulu, lain kali, Dani akan mengundang kalian semua, makan malam di rumah mas Daniel..” ucap Dani dengan sopan.
“Baiklah Dani, nggak papa, kamu turuti saja apa kata suami kamu..”kata papa Wijaya.
“Iya, kami akan senang hati kok memenuhi undangan kamu..” timpal tante Ema.
“Pah, tante, kami pamit dulu..” ucap Danie yang mengacuhkan Evan. Di acuhkan seperti itu, Evan tidak menanggapinya, karena ia sudah terbiasa dengan hal itu.
“Baiklah, kalian hati-hati..”
“Iya, pah. Mari tante, Van..?”
“Iya Dani..”
“Iya kak Dani, kak Daniel..”
Daniel segera berjalan meninggalkan ruang makan. Ia bergegas keluar buru-buru berjalan ke arah mobilnya.
“Loh mas Daniel, udah selesai ya..?” tanya Ken, namun tak ada jawab dari anak majikanya itu. Nathan yang tengah duduk bersama Ken, dan menikmati secangkir kopi, buru-buru mengikuti majikan mudanya.
“Silakan masuk mas Daniel..” ucap Nathan yang sudah berada di dekat mobil Daniel, karena tadi ia berlari kecil begitu Daniel melangkah mendekati mobilnya. Begantian dengan Dani, Nathan juga membukakan pintu untuk nona muda yang di sukainya itu.
“Cepat kita pergi dari sini..!” Suara Daniel membuat Dani bergidig. Biasanya ia mendengar bentakan yang keras dari Daniel, namun kali ini, ia di buat takut karenanya. Nathan yang sudah siap di belakang setir mobil, segera melajukan mobil tersebut. Sepanjang perjalanan, suasana hening. Semuanya diam tanpa kata. Daniel masih sibuk menahan amarah dan jengkelnya. Apalagi yang membuat jengkel adalah adik angkatnya, Evan.
Mobil pun sampai di rumah Daniel. Kali ini, ia membuka sendiri pintu mobilnya, begitu juga dengan Dani. Seperti biasa, Daniel melangkah duluan, di ikuti oleh Dani di belakangnya. Perlahan mulai memasuki rumah mereka.
Daniel menghentikan langkahnya di ruang tamu. Dani yang di belakangnya, ikut menghentikan langkahnya.
“Apa selain mengincar harta papa, kamu juga berfikir untuk menggoda Evan?” ucap Daniel yang kini menghadap Dani dengan sorot mata yang tajam. Begitu mendengar perkataan Daniel, dada Dani serasa bergemuruh, hingga naik ke ubun-ubun.
BERSAMBUNG
__ADS_1