Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 111


__ADS_3

Dani yang di ajak ke rumah Nathan terkejut. Gadis itu mengerjapkan matanya. Berusaha menyadarkan dirinya kalau rumah di hadapanya bukan rumah neneknya.


“Ayang, ini rumah siapa..?” tanya Dani yang masih bingung sambil mengusap matanya.


“Rumah dinas aku...”


“Loohh kok....?”


“Sebelum aku antar kamu pulang, ada baiknya kamu membersihkan diri kamu dulu yank, aku nggak mau nenek khawatir saat melihat kamu..” Dani termenung. Ia sedikit memikirkan apa yang di ucapkan oleh Nathan. Ada benarnya juga sih, kalau ia pulang dengan keadaan seperti sekarang, neneknya pasti khawatir, dan bertanya ini dan itu.


“Emm, baiklah. Ide bagus juga. Tapi ngomong-ngomong rumah dinas kamu bagus banget Nath, nggak kaya rumah fasilitas kebanyakan...?”


“Nggak tau tuh mas Evan. Dia kan yang ngasih semua ini, termasuk mobil ini juga...”


“Memang sangat baik sekali adik iparku itu. Sayang, dia belum pernah sekalipun mengenalkan pacarnya.”


“Mungkin dia masih ingin mengejar kariernya yank, ingin sukses dulu.”


“Maybe.”


“Ya udah, ayo turun yank, takutnya nenek sudah menunggu kamu dengan cemas...”


“Laahh, tapi aku gak punya baju ganti, gimana dong...?”


Nathan tak menghiraukan ucapan Dani. Dia langsung turun dari mobil. Dani bengong melihat tingkah Nathan.


“Ayo turun...?” seru Nathan seraya membukakan pintu mobil buat Dani.


“Tap..tapi Nath, akuuu....”


“Awwwww.....”


Belum sempat Dani meneruskan ucapanya, Nathan dengan cepat membopongnya. Membawanya masuk ke dalam rumah.


“Ayaang iiiiiihhhh, turunin nggak...? Aku bisa jalan sendiri..”


“Ssssttt, diam dulu Ran, aku nggak akan turunin kamu. Susah payah aku membopong kamu, masa harus di turunin, hehe...”


“Hmmm, mulai deh...”


Dengan hangat, Nathan mengecup kening Dani sambil berjalan memasuki rumahnya. Rasanya, hati Dani sangat bahagia. Karena selama ia bersama Daniel tak pernah ia merasakan hal seperti ini. Belum sembuh dari rasa heranya, Dani di buat terpana oleh suasana rumah Nathan. Mulai saat ia masuk ke ruang tamu. Walaupun tidak terlalu besar, namun tata letak ruangan dan ornamenya begitu rapi. Bahkan bisa di katakan sangat pas. Dani kagum, walaupun Nathan masih lajang, namun ia mengutamakan kebersihan dan kerapian.


“Yank, turunin napa..? Aku bisa jalan sendiri..”


“Hemm, baiklah...”

__ADS_1


Nathan menurunkan Dani. Gadis itu perlahan berjalan pelan. Menyapukan pandanganya ke seluruh ruang tamu. Ia memandang lukisan yang menghiasi dinding ruang tamu Nathan. Ada beberapa sih, yang tergantung di sana, dan salah satunya menyita perhatianya. Dengan seksama ia menatapnya dari jarak dekat. Mencoba menembuskan fikiranya dan memahami lukisan itu. Tak sia-sia ia menangkap makna lukisan yang gambarnya samar dan mengarah tak jelas tersebut.


“Ini seperti foto aku waktu liburan di Phuket dulu...” celetuk Dani yang tak lepas pandangan dari lukisan tersebut.


Nathan tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis memandang gadisnya yang masih fokus terhadap lukisan tersebut. Lukisan yang sangat berharga baginya, di bandingkan lukisan lain. Perlahan ia mendekati Dani, dan tanpa di duga Dani, Nathan memeluknya dari belakang.


“Benar sekali Ran, itu adalah gambar lukisan kamu. Maaf aku sudah lancang dan tak minta ijin dulu sama kamu..”


Dani terpaku. Ia terdiam dalam pelukan Nathan. Namun ia segera menjawab kata-kata Nathan dengan senyumnya, sebelum bicara.


“Iya gak papa. Aku sangat tersanjung sekali di cintai olehmu, Nathan...” Nathan tersenyum.


“Ya sudah, ayo cepat kamu mandi, abis itu aku antar pulang...” Dani mengangguk. Nathan menggandeng tangan kekasihnya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya.


“Ini kamar kamu yank...?” ucap Dani dengan penuh kekaguman ketika melihat kamar Nathan.


“Benar sekali nyonya Nathan...” jawab Nathan yang membuat Dani menoleh ke arahnya.


“Iiihhhh....” jawaban Dani di sertai cubitan manjanya ke pinggang Nathan.


“Awww, kenapa..?”


“Kamu sih ngeledekin aku terus...” timpal Dani sambil pura-pura sewot. Namun kedua matanya segera menangkap beberapa foto dirinya yang terbingkai indah dalam figura cantik. Foto yang sengaja di simpan Nathan sebagai pelepas rindu jika tak sempat bertemu dengan Dani.


Lagi-lagi perlahan Dani melangkah mendekati figura yang menempel di dinding.


“Maaf, aku memang lancang, tapi semua itu karena aku sangat sayang dan cinta sama kamu, Rani. Kalau kamu mau marah, nggak papa, aku akan menerimanya...”


“Aku nggak marah, aku malah merasa sangat beruntung di cintai olehmu. Terimakasih kau tlah mencintaiku, walaupun kamu tau statusku bagaimana..” ucap Dani lalu menghambur ke dalam pelukan Nathan. Keduanya saling berpelukan. Tiada sepatah kata yang keluar dari mulut masing-masing. Hanya saling memeluk dengan erat sebagai ungkapan kebahagiaan mereka. Beberapa saat kemudian, Dani melepaskan pelukanya.


“Aku mandi dulu yach, kalau terus seperti ini, kapan aku mandi dan pulangnya..”


Karena ingin menggoda gadisnya, Nathan sengaja menarik Dani kembali ke dalam dekapanya.


“Biarkan seperti ini dulu, aku nggak mau sedikitpun berpisah dari kamu, walau hanya sedetik..”


“Laah, katanya tadi aku di suruh mandi, terus mau anterin aku pulang..?”


“Iya, tapi bentar lagi Rani sayang, aku masih ingin memeluk kamu, hehe...”


“Ah enggak ah, tar malah aku nggak pulang-pulang lagi. Please..., biarkan aku mandi yach...?” ucap Dani dengan ekspresi wajah yang memelas, namun sangat manja.


“Iiihh, kalau sudah begini, aku paling gak tega...” kilah Nathan yang melepaskan Dani sambil menjentik hidung gadis itu. Dani segera masuk ke kamar mandi. Nathan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lalu ia keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan Dani sesuatu.


“Selamat siang, maaf saya mau memeriksa kondisi pasien sebelum dokter memeriksanya lebih detail...” sapa suster Tiara yang masuk dengan senyum ramahnya yang sangat khas.

__ADS_1


“Ohh, silakan sus...” jawab Ken yang berdiri dari sofa.


“Tiara..?”


“Siang pak Daniel, maaf saya akan memeriksa kondisi bapak...” kata suster Tiara sambil tersenyum.


“Aduh kenapa panggil pak sih, kan belum tua amat...”


“Maunya di panggil apa dong...” Ucapan suster Tiara membuat Ken menahan tawanya.


“Maklum sus, tuan muda saya ini kekanak-kanakan, manjanya minta ampun..” sahut Ken sambil meledek Daniel dengan menjulurkan lidahnya.


“Keeeeennn, awas ya...!!” hardik Daniel yang mendelik kepada Ken.


“Tuh kan, suster bisa lihat sendiri, bagaiamana tuan muda saya...?”


Suster Tiara hanya tersenyum, sambil mengecek kondisi Daniel. Tak lupa ia mengecek infus Daniel juga.


“Emm, sudah selesai. Bentar lagi dokter akan kesini. Saya permisi dulu.”


“Tiara tunggu, ehh maksud aku, suster Tiara...”


“Ya kenapa pak Daniel..?” jawab suster Tiara sebelum ia benar-benar membalikan badanya.


“Emmm, bolehkah aku mengirim pesan kepadamu...?”


“Boleh kok pak Daniel, silahkan...” jawab suster Tiara yang membuat kedua manik mata Daniel berbinar.


“Terima kasih...” jawab Daniel dan suster Tiara segera keluar.


“Iyeeeeeessss....!!” teriak Daniel spontan setelah suster tiara tak nampak lagi punggungnya.


“Pandangan pertama awal aku berjumpa....yessss...!!!” ucap Ken yang spontan di lempar bantal oleh Daniel.


“Bisa diem gak Ken, dari tadi kok ngeledek mulu...?”


“Tapi seneng kan. Mas Daniel tu gak bisa bohong loh, di lihat dari matanya, jelas sekali berbinar-binar, dari urat wajah, nampak sekali kalau berseri-seri..” ucap Ken bak peramal yang mendekat ke arah Daniel sambil memusatkan pandanganya di sekitar wajah Daniel.


“Aaa...apa..? Benarkah...?” kilah Daniel yang menelan mentah-mentah ramalan Ken. Padahal Ken hanya asal ngomong saja. Hal itu membuat wajah Daniel seketika merah merona.


“Aaahhh, udah-udah, jangan ngacau kamu Ken. Sana kamu makan dulu, dari tadi belum makan kan..? Aku gak mau, gara-gara nungguin aku kamu jadi sakit..”


“Tapi gak papa kan, Ken tinggal makan dulu mas..?” ledek Ken lagi.


“Iya, gak papa. Aku bisa jalan sendiri kalau mau ke kamar mandi..”

__ADS_1


“Owwh, iya deh kalau begitu. Lagian kalau ada apa-apa kan bisa pencet bel emergency, dan si suster itu tuh yang aaa...” belum sempat Ken meneruskan ucapanya, Daniel kembali mengangkat bantal dan akan di lemparkan. Namun Ken segera berlari keluar sambil tertawa.


BERSAMBUNG


__ADS_2