
Sudah hampir sepuluh hari, Dani berada di rumah sakit itu. Ia merasa bosan dan ingin cepat pulang. Selama itu pula, Risa lah yang selalu setia menemani hari-harinya berada di rumah sakit. Hari ini, keputusan dokter membuatnya begitu girang, karena ia di perbolehkan pulang dan di nyatakan sembuh. Keceriaan terlihat jelas di wajah gadis itu. Sebelum ia benar-benar meninggalkan ruanganya untuk segera pulang, ia menyempatkan pergi ke kamar sebelah, di mana Ken tengah menunggui Nathan yang tengah menjalani perawatan pasca operasi.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu di ketuk. Ken yang baru mengambilkan air putih untuk Nathan, segera bergegas membukanya.
“Non Dani? Ada perlu apa..?” tanya Ken dengan raut wajah heran yang melihat Dani berdiri di depan pintu kamar rawat Nathan.
“Emmm.., boleh aku panggil kamu dengan sebutan kakak..?” ucap Dani dengan senyum manisnya. Ken tersenyum, sedikit mengerutkan dahi, ada apa dengan gadis di hadapanya. Ia juga seneng kalau di panggil kakak, secara ia merindukan juga adik perempuanya yang telah lama meninggal.
“Boleh non Dani, silahkan..?”
“Yeeeyyy. Karena hari ini aku mau pulang, aku mau pamit sama kak Ken. Aku mau ucapin terima kasih karena kakak telah menjagaku sewaktu aku di rawat kemarin. Terima kasih atas semua kebaikan kakak...” Semua tingkah Dani yang polos, bahkan untuk gadis seusianya, sudah di katakan tidak layak untuk bertingkah seperti itu, seperti anak kecil saja.
Ken tertegun mendengar ucapan tulus dari gadis yang berdiri di hadapanya. Tatapan matanya begitu teduh. Tak ada maksud tersembunyi di balik sorot mata itu. Dengan perlahan Ken menjawab, “Sama-sama non Dani, saya juga seneng bisa di berikan kesempatan berbuat baik sama non..”
“Sungguh..? Berarti kapan-kapan, Dani boleh dong ketemu sama kak Ken, untuk sekedar minum es krim, tapi bersama mbak Risa juga sih...”
“Eh.., apa..? Bersama mbak Risa juga..?” tanya Ken yang seketika menjadi salah tingkah setelah mendengar nama Risa di sebutkan oleh Dani.
“Iya kak Ken, mbak Risa, asisten nenek aku, masak nggak tau..? Kan udah pernah ketemu juga kan..?” Wajah Ken memerah. Ia seperti orang bodoh saja. Dani mengerti dan ia hanya bermaksud menggoda Ken saja.
Nathan yang tengah berbaring, mendengar suara Dani yang berisik itu sempat mengangkat kepalanya yang tengah berbaring. Ia ingin melihat wajah gadis yang cerewet itu, yang telah mengganggu istirahatnya. Namun tidak bisa karena terhalang oleh tubuh ken yang berdiri dan menutupi tubuh gadis itu. Nathan kembali merebahkan kepalanya, dan berharap gadis itu segera pergi beranjak dari depan pintu kamarnya.
“Baiklah kak Ken, saya pulang dulu. Oh iya, boleh minta nomor telfon kak Ken..?” tanya Dani dengan penuh harap.
__ADS_1
“Tentu..” jawab Ken yang meminta handphone Dani, lalu memasukan nomornya.
“Terima kasih, dan sampai jumpa..” Dengan riang, Dani pergi meninggalkan Ken yang asih berdiri memandang kepergianya. Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman seiring dengan langkah kaki Dani yang ia rasa sudah tidak menampakan menanggung beban apa-apa lagi.
Kembali Ken masuk dan menutup pintu kamar tersebut.
“Siapa..?” tanya Nathan yang super singkat dan tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.
“Gadis yang telah menyelamatkan tuan saya..”
“Bawel banget..” imbuh Nathan.
“Tapi orangnya baik...”
“Oohh. Nomong-ngmong kapan saya bisa pulang..?”
“Katakan saja saya sudah sembuh, dan nggak perlu di rawat seperti ini lagi. Lagian lukanya juga udah kering..”
“Sebaiknya tunggu keputusan dari dokter saja, karena dia yang lebih tau gimana-gimananya...” ucap Ken dengan tenang dan sedikit senyuman menghiasi bibirnya.
Nathan sudah merasa bosan. Ia ingin segera keluar dan mencari pekerjaan di luar sana. Karena ia hidup dengan ngontrak sebuah kamar sepetak dan itu perlu uang untuk membayar sewanya.
Beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki mendekati kamar rawat Nathan. Rupanya dokter yang menanganinya datang bersama seorang suster. Sesaat mengecek kondisi Nathan lalu mengatakan bahwa besok pasien sudah boleh pulang. Mendengar itu, Nathan seperti burung yang bebas dari sangkarnya. Ia ingin segera cepat menghirup udara bebas dan tidak berbau obt-obatan rumah sakit.
Setelah kepergian dokter, Ken terlihat menelfon seseorang, dan tak lain adalah Daniel.
__ADS_1
“Mas Daniel, baru saja dokter yang merawat Nathan mengatakan kalau besok ia sudah boleh pulang..”
“Ok Ken, besok aku akan pergi le rumah sakit untuk menyelesaikan administrasinya dan mengucapkan terima kasih kepada Nathan..”
“Baiklah mas..” jawab Ken lalu menutup telfonya.
****
“Nenekk....!” teriak Dani yang baru saja memasuki toko roti dan langsung memeluk neneknya. Sontak saja, wanita yang usianya setengah abad lebih itu terkejut melihat cucu satu-satunya memberikan kejutan untuknya.
“Dani sayang, cucu nenek..” ucap nenek Eliza yang menyambut cucunya dan memeluknya dengan erat nan hangat. Betapa keduanya rindu akan hari-hari yang penuh dengan canda dan tawa.
“Kangen banget sama suasana toko, sama mbak-mbaknya, mas-masnya, dan aroma yang keluar dari roti yang baru di panggang, uhhhh..sungguh Dani sangat merindukanya...” Setelah melepas kangen dengan sang nenek, semua karyawan di toko roti itu menyambut dan memberi selamat kepada Dani karena kesembuhanya dan kepulanganya.
Hari itu menjadi momen paling menyenangkan bagi Dani. Rasanya sesuatu banget bisa menghirup dan menghembuskan nafas dengan bebas, tanpa bau suasana rumah sakit. Hari itu juga, Nenek Eliza merayakan kesembuhan Dani dengan membagikan semua roti di tokonya kepada anak yatim piatu, sebagai bentuk rasa syukurnya, dan berbagi kebahagiaan kepada sesama.
Semua yang menerima mengucapkan terima kasih dan mendoakan yang terbaik untuk Dani.
“Terima kasih kaka, semoga kakak bahagia selalu dan suatu saat kakak akan bertemu pngeran berkuda putih..” ucap seorang anak kecil yang bermata sipit dan bernama Zidan. Hati Dani bagai di ketuk.
Seperti ini kah rasanya berbagi kebahagiaan? Alangkah indah hidup ini jika ada rasa saling mengasihi dan menyayangi kepada sesama
Gumam Dani dalam hati, dan kini kedua kelopak matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang di sebut air mata. Suatu bentuk kesederhanaan namun penuh makna keistimewaan di dalamnya. Ia segera mengusap air matanya, dan kembali membagikan roti.
Acara membagikan roti usai sudah. Para karyawan bersemangat sekali membersihkan dan membereskan toko, karena besok mereka akan berjuang membuat roti yang baru lagi. Tentunya mereka harus bekerja dengan keras, karena semua stok roti sudah ludes.
__ADS_1
Nenek Eliza dan Dani pulang ke rumah, setelah membantu membereskan dan membersihkan toko dan karena capek juga. Walaupun Dani dan nenek Eliza yang memiliki toko, dan bisa saja Dani berongkang-ongkang untuk tidak membantu pekerjaan di tokonya, tetapi itu tidak berlaku baginya. Ia lebih senang dan bahagia bila bisa meringankan beban mereka. Dengan demikian bisa membuat hubungan Dani dengan karyawanya menjadi lebih akrab dan seperti keluarga sendiri. Tak jarang tawa dan canda mewarnai hari-hari Dani beserta karyawan di tokonya.
BERSAMBUNG