
Mobil yang di kendarai Dani terlihat memasuki halaman sebuah rumah sakit, di mana papa mertuanya sedang di rawat. Perlahan ia turun setelah dengan benar memposisikan mobilnya di area parkiran. Dengan menggunakan baju yang senada dengan warna kulitnya serta tas selempang kecil, ia melenggang memasuki rumah sakit tersebut.
Seorang dokter muda tengah berjalan melewati sebuah koridor. Dengan stetoskop yang menggantung di leher, menambah kesan betapa cocok dan semakin menambah ketampanan sang dokter itu. Ia terlibat obrolan ringan dengan seorang suster yang berjalan bersamanya.
“Dani..!! Benarkah itu Dani, teman kuliahku dulu?” gumam sang dokter saat ia melihat Dani dari kejauhan. Ia memperhatikan Dani yang tengah berjalan ke arahnya. Karena ingin memastikan, apakah itu benar Dani temen kuliahnya dulu, ia memberanikan diri untuk menyapanya ketika Dani melewatinya.
“Dani...?”
Dani yang sedang fokus berjalan, tiba-tiba menghentikan langkahnya, mengikuti arah suara tersebut.
“Maaf, siapa ya..?” ucap Dani yang pangling dengan lelaki yang menyapanya.
“Benarkah ini Andani Maharani Putri?”
“Iya benar, tapi maaf, anda siapa..?” jawab Dani masih bingung kenapa lelaki yang berdiri di depanya ini bisa mengenalnya.
Lelaki itu tersenyum, lalu mengulurkan tanganya.
“Perkenalkan, Bima Arasya, teman kuliah kamu dulu, sekarang sudah ingat..?”
“Ya ampuunn, kamu Bima? Maaf, aku jadi pangling nih, soalnya beda banget sama yang dulu. Apa kabar..? Tapi bentar, ini kamu jadi dokter di sini..?”
“Yuuppzz, bener banget Dani. Kabar aku ya seperti yang kamu liat sekarang. Ngomong-ngomong kamu ada perlu apa di rumah sakit ini?”
“Ooh, saya mau jenguk papa mertua saya, lagi di rawat di sini..?”
“Oo, ceritanya kamu sudah nikah?”
“Iya, Bim. Kamu sendiri?”
“Siapa juga yang mau sama saya Dan, masih jomblo nih.., hehe..”
“Jangan begitu, mungkin belum saatnya aja. Jodoh kamu masih di jagain sama Tuhan..”
“Iya sih. Kalau boleh tau, mertua kamu sakit apa?”
“Sakit struk, Bim. Oh ya Bim, saya tinggal dulu ya, lain kali di sambung lagi..”
“Iya Dan, silakan..”
Dani meninggalkan Bima yang masih menatapnya dari belakang.
“Haduhhh, kenapa aku nggak minta nomor handphonenya..?” gumam dokter Bima sambil menepuk jidatnya. Lalu pergi ke ruang kerjanya.
Tok tok tok
__ADS_1
“Dani? Masuk sayang..” Tante Ema tersenyum menyambut Dani.
“Tante.., gimana keadaan papa..?”
“Sekarang lagi tidur, tadi sih sudah banyak makan.”
Dani mendekat kepada papa mertuanya. Di pandanginya wajah tua yang terlihat sangat lelah itu.
“Dan, gini.., seandainya papa kamu kita rawat di rumah saja kamu setuju nggak? Selain nanti kita membawa seorang susuter untuk merawat mas Wijaya, tante, kamu, Evan dan juga Daniel bisa mengawasinya..”
“Dani sih setuju saja tante, tapi tante udah ngomong belum sama mas Daniel dan Evan, kalau mereka setuju ya secepatnya saja kita bawa papa pulang..”
“Belum sih, tapi tante yakin, mereka akan setuju..”
Dani tersenyum. Ia melihat papa mertuanya sedang pulas sekali tidurnya. Ia tak tega membangunkanya. Dengan hati-hati, ia membenarkan posisi selimutnya, lalu duduk di sofa bersama tante Ema.
Sementara itu, Nathan dengan mantap hati mengarahkan motornya ke hotel tempat Evan bekerja. Setelah memarkirkan motornya, ia bergegas turun memasuki hotel tersebut menuju reseptionis.
“Permisi mbak, apa mas Evannya ada?” tanya Nathan kepada mbak resepsionisnya.
“Maaf mas, apakah anda sudah membuat janji?” jawab mbaknya dengan ramah.
“Belum sih mbak, tapi kata mas Evanya, sewaktu-waktu saya datang, saya langsung di surih menemuinya..”
“Kalau begitu, silakan tunggu dulu, saya akan konfirmasi dengan pak Evanya terlebih dahulu..”
“Benarkah anda saudara, Nathan?”
“Owh, benar sekali mbak..”
“Mari saya antar ke ruangan pak Evan..”
“Terima kasih, mbak..”
Nathan berjalan di belakang mbak resepsionisnya. Ia terkagum kala melewati jalan yang menuju ruangan Evan. Begitu elegant hotel tersebut. Banyak pula pengunjung yang mendatangi hotel tersebut, untuk sekadar menginapa, atau untuk liburan. Karena fadilitas yang di sajikan di hotel tersebut begitu lengkap dan sesuai dengan selera yang di minati para pengunjungnya. Kepuasan dan kenyamanan yang menjadi keutamaan Beverly Hils hotel.
Tok tok tok
Sang resepsionis mengetuk sebuah pintu dengan aksen yang sangat mewah itu.
“Masuk..”
Terdengar suara dari dalam. Itulah suara Evan, begitu khas, berwibawa dan terkesan tegas. Sang resepsionis membukakan pintu, dan mempersilakan Nathan untuk masuk. Sedangkan ia sendiri, setelah membungkuk hormat kepada Evan, kembali ke meja kerjanya.
“Nathan...? Mari silahkan masuk..” Sambut Evan yang berdiri dari kursinya dan mempersilakan Nathan duduk di ruang kerjanya.
__ADS_1
“Terima kasih, mas Evan..” Nathan mendaratkan pantatnya di sofa yang besar dan sangat empuk yang berada di dalam ruang kerja Evan.
“Bagaimana Nathan? Kamu ingin bekerja di hotel saya ini?”
“Iya mas, itu pun kalau mas Evan mengijinkan..”
“Baiklah Nathan, kamu akan saya terima bekerja di hotel saya. Tapi tidak sebagai bodyguard, melainkan sebagai sekertaris pribadi saya, bagaimana, kamu setuju?”
“Sekertaris..?” Nathan terkejut.
“Iya, sekertaris. Aku tau, kamu orang yang pintar dan juga berbakat. Alangkah baiknya jika ilmu yang kamu pelajari selama kamu kuliah, kamu terapkan di hotel saya ini, jangan lah kamu sia-siakan masa muda kamu saat ini, menyesal di kemudian hari tak akan berguna..”
“Baiklah mas Evan, saya setuju...” ucap Nathan dengan wajah berbinar. Begitu juga dengan Evan. Keduanya saling berjabat tangan tanda kesepakatan bekerja sama.
“Mas Evan, kapan saya mulai bekerja...?”
“Sekarang juga..”
“Apa mas? Nggak salah dengar saya?”
“Enggak Nathan. Ini kunci mobil, dan kamu otomatis mendapat fasilitas sebuah rumah sebagai tempat tinggal kamu..”
Nathan di buat kembali tercengang dengan semua fasilitas yang di berikan oleh Evan. Ia merasa aneh saja. Baru akan mulai bekerja, tapi sudah mendapat perlakuan yan istimewa seperti itu.
“Mas Evan nggak salah kan..?” Nathan kembali bertanya dengan heran. Ia seakan tak percaya, dengan semua yang ia dengar.
“Enggak lah. Pokoknya, kamu tunjukan saja kemampuan kamu membangun hotel ini bersama saya, dan kita akan bekerja sama membuktikan kalau Beverly Hils ini akan menjadi hotel yang namanya bisa terkenal di seluruh dunia, oke...?”
“Baiklah mas Evan...” Keduanya berjabat tangan dan hari itu juga, Evan mulai bekerja. Ia di tempatkan di sebuah ruangan dengan tembok dari kaca, sehingga dapat langsung memandang ruangan Evan.
“Nah, ini ruang kerja kamu Nathan, dari sini kamu bisa langsung melihat ruangan saya, dan dari jendela itu, kamu bisa menikmati pemandangan di luar sana..”
“Terima kasih mas Evan, sekali lagi saya ucapkan..”
Hari itu juga, Evan segera membeei tahu kerjaan yang harus di kerjakan oleh Nathan. Untungnya Nathan orang yang cepat tanggap, jadi ia tau apa yang harus di lakukanya, karena kuliahnya dulu mengambil jurusan perhotelan, jadi nggak sulit-sulit amat untuk segera menguasainya. Tak lupa, Evan memberikan satu setelan jas secara cuma-cuma kepada Nathan. Semakin membuatnya seperti seorang CEO muda saja. Karena ketampananya semakin membuat lengkap dan sempurna penampilanya.
“Karena kamu sudah faham dengan tugas dan kerja kamu, aku tinggal ke ruangan saya..”
“Oh iya mas Evan, silakan..”
Evan pergi meninggalkan ruang kerja Nathan yang baru. Ia pergi ke ruang kerjanya sendiri. Sedangkan Nathan kini mulai fokus dengan laptop yang ada di depannya dan mulai fokus memantenginya.
Sebaiknya aku kirim pesan pada Rani saja, mengabarkan beeita gembira ini, kalau aku di terima kerja di hotel mas Evan.
Evan tersenyum lebar. Ia meeaih ponselnya dan mulai mengetik untuk mengirim pesan kepada Rani, gadis pujaan hatinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG