
Hari makin larut malam. Daniel masih ingin berlama-lama nongkrong di tempat itu. Udara malam tidak membuatnya bosan untuk sekedar menghirupnya.
Ken dengan setia menemani tuan mudanya. Ada rasa kasihan menghinggapi relung hatinya. Namun mau bagaimana, ia tak tahu, harus membantu dengan cara apa agar tuan mudanya tersenyum kembali.
Hembusan nafas yang agk kasar keluar dari mulut Daniel. Beberapa kali terdengar di telinga Ken.
“Ken....?” Daniel memanggil lagi, namun kedua matanya tak beralih dari bintang di langit sana.
“Iya mas, kenapa....?”
“Kapan aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahagia di cintai seseorang dan mencintai seseorang...”
“Sabar mas. Ada kalanya, Tuhan memberikan cobaan, agar umatnya selalu ingat akan keagunganya. Bahagia itu sederhana mas, jika kita bisa ikhlas dan selalu bisa bersyukur, itulah kebahagiaan dan nikmat yang sesungguhnya.”
Kata-kata Ken mendorong Daniel mengalihkan perhatianya. Yang tadinya fokus melihat bintang, kini beralih menatap Ken. Lelaki yang umurnya sedikit di atasnya itu, berkata dengan bijaksananya dan sangat dewasa.
“Aku sadar, mungkin selama ini aku kurang bisa bersyukur dengan sesuatu yang aku dapat.”
“Naahh, itu salah satu penyebabnya, mas..”
“Salah satu kesalahan terbesarku adalah menyia-nyiakan mantan istri aku Ken, bahkan aku sering kali membuatnya menangis, dan bahkan tak jarang membuatnya terluka. Kini, saat aku mendengar ia akan di lamar oleh Nathan, hatiku rasanya sakit Ken, sakit sekali...”
Ken mendekati Daniel. Merangkulnya dan menepuk bahunya pelan. Berusaha menenangkan majikanya. Beberapa kali Daniel mengusap matanya.
“Penyesalan memang datang di akhir mas. Mungkin setelah mereka pergi atau tak di samping kita, barulah kita menyadarinya. Seperti yang mas alami sekarang. Memang berat, menahan sakit di hati dari pada sakit gigi, tapi itu sudah konsekwensi yang harus mas tanggung atas apa yang mas perbuat kemarin-kemarin.”
“Iya Ken, kemarin-kemarin, saat ia masih menjadi istriku, aku membuatnya sakit hati, hingga air matanya selalu menetes. Tanpa aku sangka, Nathanlah yang selalu mengusap air matanya, sungguh sangat bodoh sekali aku, Ken..”
Kembali Ken menepuk bahu Daniel. Lelaki itu manggut-manggut. Mengerti dengan semua apa yang di rasakan Daniel.
“Aku kangen mama Ken, kangen mencurahkan semua isi hati dan fikiranku kepadanya, ingin sekali tidur di pangkuanya. Andai mama masih ada, mungkin aku tak seberantakan seperti sekarang ini, Ken..”
“Mas Daniel, jangan menyerah, tetap semangat. Mas Daniel masih muda. Anggap saja kejadian kemarin sebagai pengalaman yang sangat berharga. Itu sebagai pengingat, besok-besok jangan mengulang kesalahan yang sama. Sekarang mas baru merasakan sakitnya kan...? Mungkin dulu non Dani merasakan lebih dari apa yang mas rasakan sekarang. Bukan maksud membela non Dani, namun saya tau mas...”
“Benar apa katamu, Ken. Intinya, saya harus ikhlas dan dapat menerima semuanya dengan lapang. Hemmmhhh..., baiklah saya akan melakukanya Ken.”
Ken mengacungkan dua jempol tanganya kepada Daniel.
“Bagus. Ken akan selalu mendukung mas Daniel. Naaahh gitu, baru ini mas Daniel yang Ken kenal...”
“Hati aku sedikit lega, terima kasih ya atas nasehatnya. Sangat berharga sekali..”
“Sama-sama mas, besok-besok kalau mau cerita apa-apa, Ken siap mendengarkan kok..”
“Iya, ayo kita pulang sekarang, udah malam...”
__ADS_1
Ken mengangguk, lalu membantu Daniel beranjak dari tempat itu. Meninggalkan hiruk pikuk dan keramaian tempat itu.
Di kediaman Felix Carrington
Suara mobil terdengar memasuki garasi. Tak berapa lama, turunlah lelaki paruh baya yang tak lain adalah tuan Felix, papanya Nathan.
Seorang wanita menyambutnya. Ia adalah nyonya Felix, mamanya Nathan.
“Papa udah pulang...? Kok sampai larut begini paahh...?” pertanyaan wajib yang selalu terlontar jika suaminya pulang larut. Tuan felix memberikan tasnya kepada istrinya. Lalu duduk di ruang tengah sambil mengendorkan dasinya.
“Tadi ada meeting dadakan mah. Ada klien papa dari Canada yang ingin segera menyelesaikan proyek yang di kerjakan bersama perusahaan papa, jadi ya mau nggak mau harus menuruti, soalnya dia klien bisnis yang sangat royal...”
“Ooohhh, begitu rupanya. Papa sudah makan...?”
“Sudah mah, tadi bersama klien juga. Maafkan papa mah, nggak bisa menemani mama makan malam hari ini...” kata tuan Felix yang berdiri dari tempat duduknya.
“Gak papa pah, ada Juna yang menemani mama makan malam kok...”
“Oohh, anak itu masih di sini..?”
“Masih pah, katanya malam ini mau tidur di sini. Sekarang pasti sudah pules di kamarnya. Sebaiknya papa mandi dulu, mama siapkan air hangat..”
Tuan Felix mengangguk. Bersama istrinya, ia melangkah menuju kamar. Dengan romantisnya berjalan sambil merangkul bahu istrinya. Bahu yang sudah puluhan tahun menjadi sandaranya saat ia sedang suka maupun berduka.
Nyonya Felix meletakan tas kerja suaminya dan memasuki kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Setelah siap, tuan Felix segera mandi. Sedangkan istrinya menyiapkan secangkir teh hangat.
“Paahh, tadi Juna bicara sama mama, soal Dani...”
“Iya maah, sebelum ke rumah, tadi Juna nyamperin papa di kantor..”
“Mama sih setuju. Bagaimana dengan papa...?”
“Papa sih setuju mah. Papa nggak ingin memaksakan kehendak, apalagi sama anak sendiri...”
“Apa papa juga sudah tau, tentang status Dani...?”
“Maksudnya...?”
Tuan Felix agak bingung, namun juga penasaran akan ucapan istrinya. Ia membenarkan posisi duduknya. Kini punggungnya agak tegap menghadap istrinya.
“Emmmm, maksud mama, tadi Juna mengatakan kalau status Dani adalah mantan istri dari anak Permana Wijaya, apakah papa sudah di kasih tau sama Juna...?”
“Eemmhh..!! Belum mah. Anak itu gak ngmong sama papa..”
Tuan Felix terdiam. Kata-kata istrinya ia fikirkan sejenak. Kaget pastilah. Kalau syock, sepertinya enggakk. Tuan Felix menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan dengan pelan.
__ADS_1
“Papa sih terserah Juna. Kalau itu membuatnya bahagia, kita bisa apa mah. Hanya restu yang bisa kita berikan, dan satu lagi, kita nggak usah cari tau tentang Dani. Tentang bagaimana ia bisa menjadi mantan istri anak Permana Wijaya...” nyonya Felix mengangguk mendengar perintah suaminya.
“Uuuuhhhh, mama bangga sama papa...” ucap nyonya Felix spontan memeluk suaminya. Sungguh beruntung sekali Dani, mendapatkan calon suami dan calon mertua seperti mereka.
“Ngomong-ngomong, kapan kita ke rumah Dani pah, soalnya tadi Juna kelihatanya udah nggak sabar mau melamar Dani..”
“Terserah mama, papa sih ngikut saja..”
“Baiklah, papa terima beres saja, besok mama akan urus semuanya...”
“Papa percaya sama mama, karena mama is the best...”
“Oke pah, sekarang kita istirahat saja, papa pasti capek...”
Tuan felix mengiyakan ucapan istrinya. Berdua mereka beristirahat malam itu. Karena nyonya Felix pandai mengambil hati suaminya, alhasil suaminya selalu mengiyakan semua ucapanya yang begitu bijak.
***
Pagi menyapa dengan ceria. Sinar matahari pagi menyembul melewati celah dedaunan dan menembus ranting-ranting pepohonan. Burung berkicau riang. Terbang bebas kesana kemari, sebebas alam yang menjadi rumah mereka.
Seorang gadis menggeliat karena tidurnya terusik oleh cahaya matahari yang menyengat lembut wajahnya.
“Emmmmffff....!! Huaahhhheemm...!!”
Dani bangun dan menggeliatkan badanya ke kanan dan ke kiri. Sebenarnya matanya masih belum mau terbuka. Bau bantal dan selimut seolah kembali menyihirnya, dan memaksa tubuhnya untuk rebahan lagi. Ia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya.
“Udah jam 08.00 WIB, hemmmmfff...” gumamnya lalu memiringkan badanya ke kanan dan kembali malas-malasan.
Tiinngggggggg
Satu pesan suara masuk ke ponselnya. Dani segera meraih benda pipih berukuran 6,5 inchi itu. Dari layar, ia sudah dapat melihat siapa yang mengirim pesan suara tersebut. Dengan tersenyum, ia segera membukanya.
👦 : “Pagi sayank, bagaimana tidurnya..? Nyenyak kah....? Kalau kamu buka pesan dariku ini, mungkin aku sudah berangkat ke kantor. Oh iya, nanti malam, aku sama mama papa mau ke rumah kamu, kamu siap-siap yach..? Ya sudah, kalau kamu sudah bangun, cepetan mandi dan jangan lupa bantuin nenek jaga toko kuenya, oke...? Yang selalu mencintai kamu, Nathan.
Dani tersenyum. Ia menjadi bersemangat setelah membaca pesan dari kekasihnya. Saking bahagianya, ia sampai guling-guling di kasur.
“Aaahh, aku harus kasih tau nenek, biar bisa bersiap-siap...” ucap Dani yang beranjak dari tempat tidur, lalu keluar kamar untuk menemui neneknya.
“Nek, neneekk...” suara Dani terdengar begitu senang.
“Iya sayang, kenapa...? Kok pagi-pagi udah seneng aja cucunya nenek...?”
Dani dengan cepat memeluk neneknya. Nenek Eliza semakin heran di buatnya. Apakah gerangan yang membuat cucunya sebahagia ini.
“Nenek, Dani sangat bahagiaaaaa banget. karenaaaa...... ” Dani terdiam.
__ADS_1
BERSAMBUNG