Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 104


__ADS_3

Cinta. Memang beda setiap orang cara mengekspresikanya. Tak jarang orang salah mengartikan tentang definisinya. Karena cinta, orang bisa bahagia. Namun banyak juga, karena cinta, bisa membuat orang menjadi gila. Begitu rumitnya dunia hanya karena sebuah rasa yang di namakan Cinta.


Malam hari, Nathan begitu sangat kebingungan. Berkali-kali ia menghubungi Dani, namun tak satu pun dari pesannya di balas oleh Dani. Panggilan yang ia lakukan berkali-kali juga tak ia jawab. Lengkap sudah kegelisahan Nathan. Berkali-kali ia mondar-mandir di ruang tamu di dalam rumah yang ia tempati. Gelisah dan cemas, itulah yang mendera hati Nathan saat ini.


Bahkan hampir seharian sesuap nasi pun tak masuk ke dalam perutnya. Hanya softdrink dan selembar roti tawar yang ia santap untuk sekedar mengisi perutnya.


“Kamu di mana si Ran? Kamu lagi apa, sedang apa dan sama siapa...?”


Itulah beberapa kalimat yang ia ucapkan sendiri dan berulang kali. Kedua matanya tak lepas pandangan dari layar handphonenya, kalau-kalau sang pujaan hati akan membalas.


Malam semakin larut. Sampai saat ini, tak ada kabar dari Dani. Nathan semakin panik di buatnya. Bagaikan ikan yang hampir mati karena kehabisan nafas. Di saat ia menemui jalan buntu, tiba-tiba sebuah fikiran muncul dalam benaknya.


“Ahh, coba aku cek pakai gps saja, siapa tau Rani masih menghidupkanya..” gumam Nathan dengan sangat bersemangat sekali. Buru-buru Nathan mengutak-atik handphonenya dengan sangat serius sekali. Semua harapanya akhirnya terkabul juga, sebuah senyuman terkembang di bibirnya, begitu lebar, seperti habis mendapat tetesan embun di pagi buta. Begitu sejuk dan membuat jiwanya damai.


Ya, Dani memang menghidupkan gps di handphonenya. Mungkin ia lupa mematikanya. Namun itu suatu kebetulan yang tak di rencanakan. Mungkin itulah sebagian kecil dari rencana Tuhan kepada Dani.


Namun ia mengerutkan dahinya, kala melihat lokasi yang muncul di layar handphonenya. Ia tak peecaya dengan lokasi yang di tunjukan ponselnya.


“Di mana ini? Kenapa jauh sekali. Sepertinya di luar kota..?” gumam Nathan yang kini mendaratkan pantatnya di atas sofa. Ia kembali mencoba menghubungi. Menelfon dan mengirim pesan. Namun sia-sia. Kecerobohan yang di lakukan Ramon. Mengapa ia membiarkan tas Dani tergeletak di bagasi mobil, saat ia menyekap Dani dan juga Daniel. Sedangkan handphone Daniel di bawa oleh Anyelir.


“Wah, ada yang nggak beres ini. Perasaanku mengatakan kalau terjadi sesuatu dengan Rani. Aku harus segera ke tempat ini. Sekarang juga. Apa aku harus minta bantuan mas Evan...?” Nathan berpikir sejenak.


“Ah, nggak ada salahnya juga aku meminta bantuan mas Evan, untuk jaga-jaga kalau terjadi sesuatu...”


Tanpa pikir panjang lagi, malam itu juga Nathan menelfon Evan. Ia tak peduli meski sudah jam 23.30 WIB. Ia tak menghiraukan bila di anggap mengganggu. Dani lah yang terpenting saat ini.


Sebuah dering telfon mendarat di ponsel Evan yang ia letakan di meja di samping tempat tidurnya. Hampir saja ia terlelap, kini kembali membuka kedua matanya lagi. Tanganya dengan pelan meraba dan segera meraih ponselnya. Dengan mata yang masih agak kabur penglihatanya, ia dapat membaca nama si penelfon.


“Nathan, ada apa ia menelfon malam-malam gini...” gumam Evan yang segera menyambungkan ponselnya.


“Hallo Nath, ada apa...?”

__ADS_1


“Mas Evan, maaf mas malam-malam ganggu. Gini mas, dari tadi Dani di hubungi ga da respon balik, tapi handphonenya aktif, saya takut terjadi sesuatu sama Dani..”


“Benarkah..? Emm, gini Nath, coba kamu hubungi nomornya mas Daniel juga, siapa tau mas Daniel mengetahuinya...”


“Baik mas, saya akan mencoba menghubunginya, kalau begitu saya tutup dulu mas..”


“Oke, Nath..”


Setelah Nathan menutup telefonya dengan Evan, ia buru-buru mencari nomor Daniel dan langsung menghubunginya. Sekali dua kali, hanya tulalit. Ia mencoba beberapa kali lagi namun jawaban tetap sama. Nomor Daniel tak dapat di hubungi. Kini, kepanikan Nathan semakin menjadi. Tak sabar rasanya, ia segera menelfon Evan lagi.


“Hallo mas Evan, mas Daniel juga tak dapat di hubungi. Perasaan saya nggak enak, firasat saya mengatakan kalau telah terjadi sesuatu dengan mereka..” ucap Nathan tanpa babibu setelah tersambung dengan Evan.


“Tenang Nathan, saya tau perasaan kamu. Aku samperin kamu sekarang juga, dan kita langsung menuju ke sana, oke...?”


“Baiklah mas, saya tunggu..”


Keduanya segera menutup telefon. Evan segera bersiap dan mempersiapkan segala sesuatu kalau-kalau terjadi apa-apa. Dengan tak mengeluarkan suara berisik ia keluar dari kamar dan berjalan menuju garasi. Saat itu rumahnya sudah sepi, karena semua penghuni sudah tidur di kamar masing-masing.


“Kita berangkat sekarang..”


“Iya mas, lebih cepat lebih baik, saya takut terjadi apa-apa dengan mereka...”


Mobil segera meluncur ke lokasi yang di tunjukan oleh gps. Nathan jelas sekali terlihat cemas. Evan paham akan hal itu. Ia segera mempercepat laju mobilnya. Karena malam sudah larut, tidak ada halangan untuk dia ngebut. Selain agak sepi, kendaraan yang berlalu lalang juga tak seramai saat siang hari. Detik demi detik berlalu. Menit demi menit sudah di lewati. Akirnya setelah 2 jam, sampai juga mereka di tempat penyekapan Dani dan Daniel.


“Nath, kok ini seperti rumah yang lama tidak di huni....?” ucap Evan yang heran, karena sesampainya di tempat tersebut, dari luar tampak sebuah rumah dengan pagar yang di tumbuhi dengan lumut. Tampak horor sekali dari luar. Seeprti tak ada kehidupan di sana.


“Tapi gps ini, menunjukan lokasinya tepat di sini mas. Ini coba mas Evan liat...”


Nathan menunjukan layar handphonenya kepada Evan.


“Benar juga. Terus kenapa kak Dani di sini. Sebaiknya kita periksa sekelilingnya dulu, siapa tau kita dapat petunjuk..”

__ADS_1


“Baik, mas..”


Keduanya segera berjalan dengan hati-hati memeriksa rumah yang besar yang terletak di pinggir jalan itu. Rumah itu agak jauh dari pemukiman penduduk. Kalau terawat, rumah itu sebenarnya sangat megah, namun karena tidak di tempati, jadi tidak terurus. Evan dan Nathan menelusuri setiap sudut yang berada di luar rumah itu. Namun mereka tak menemukan apa-apa.


“Hmm, kita sudah mengelilingi sudut rumah ini, namun kita tak dapat petunjuk apa-apa. Sekarang kita harus bagaimana, Nath..?”


“Aku juga bingung, mas..” jawab Nathan yang memegang dahinya.


Di saat mereka tengah berfikir, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara bantingan benda yang mereka sangat yakin kalau itu terbuat dari kaca.


“Kamu dengar, Nath..?” ucap Evan yang memandang Nathan.


“Iya mas, saya dengar. Sebaiknya kita masuk ke balik pagar dengan menelusup..”


“Tapi kalau ada orang yang liat dan kita di kira maling bagaimana, Nath...?”


“Kita masuk lewat samping saja, kan tidak ada orang yang liat, dan mobil kita taruh di situ juga, sekilas saya liat ada tanah datar di situ tadi..”


“Ok, kita bergerak sekarang..!”


Keduanya saling mengangguk, lalu masuk kedalam mobil untuk memarkirkan di samping rumah. Dengan keahlian memanjat, Nathan dengan mudah melewati pintu pagar. Begitu juga dengan Evan, ia segera menyusul Nathan untuk melompati pagar tersebut. Keduanya mengendap masuk, berjalan dengan hati-hati menuju rumah tersebut.


“Sepertinya sepi sekali, apa mungkin ada orang di dalam, Nath..?” bisik Evan kepada Nathan.


“Daya juga nggak tau mas, tapi kita harus selidiki, mungkin saja non Dani berada di dalam..”


“Nggak usah panggil non lagi aja kali, toh saya juga udah tau kok...”


“Eehhh...i...iya mas Evan...” jawab Nathan agak malu-malu kucing. Suasana rumah sepi. Belum ada tanda-tanda yang membuat keduanya curiga. Namun mereka kekeh memeriksa sekeliling rumah tersebut.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2