Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 76


__ADS_3

“ Kenapa Tuhan menciptakan rasa penyesalan, agar kita tahu bahwa semua hal itu tak dapat di ulang kembali...”


***


Pagi itu jadilah Nathan sarapan di dalam mobil. Sambil memasang handset di telinga, mendengarkan lagu-lagu slow, ia menyantap sandwitchnya. Sesekali matanya terpejam menikmati alunan musik dan rasa makanan yang sedang kunyah.


Beberapa saat kemudian, sampailah Nathan di Beverly Hil's hotel tempat ia bekerja sekarang. Setelah pak Min menghentikan mobilnya, Nathan bergegas turun dan masuk.


“Selamat pagi...?”


Itulah kata sapaan yang sangat ramah setiap kali Nathan berjumpa dengan staf atau karyawan lain. Sungguh kekeluargaan sekali. Nathan terus melangkah menuju ruang kerjanya. Ia harus melewati 2 lantai untuk sampai ke sana, dan harus melalui lift.


Setibanya di ruang kerjanya, Nathan meletakan tas kerjanya, lalu menyalakan laptopnya.


***


Tanpa Nathan sadari, sepasang mata menatapnya. Dari bibirnya tersungging sebuah senyuman.


Saya memang nggak salah menilai kamu, Nathan. Kamu orang yang sangat bertanggung jawab sekali. Semoga hotel ini akan maju dan semakin sukses ke depanya.


Ternyata Evan sudah sampai sejak tadi, tanpa Nathan ketahui. Setelah memperhatikan Nathan beberapa saat, Evan masuk ke ruang kerjanya.


“Selamat pagi, pak Evan..?” sapa Laras dengan agak genitnya.


“Pagi juga Laras. Oh ya, jadwal hari ini apa..?”


“Bentar pak..”


Laras berjalan menuju meja kerjanya. Lalu mengambil sebuah buku besar, dan kembali menuju ke dekat Evan. Ia sengaja berdiri di samping Evan, lalu agak membungkukan badanya. Hari itu, ia memakai pakaian dengan belahan dadaa agak kelihatan. Maksud hati Laras akan menggoyahkan iman Evan. Namun sepertinya Evan tak menggubrisnya.


“Ini pak, nanti malam ada undangan di acara ulang tahun direktur Amazone Hotel, kakak anda sendiri..” ucap Laras yang membungkukan badanya agak lama, dengan tujuan supaya Evan melihat belahan dadanya.


“Benarkah? Cuma itu saja..?” tanya Evan yang sedikit pun tak memperhatikan Laras. Sebenarnya Evan tau, namun ia tak mau melihatnya.


“Iya, pak Evan..” jawab Laras dengan raut wajah yang kecewa, lalu menegakan posisi badanya kembali, dan berdiri dengan sempurna.


“Saya permisi, pak..?” ucap Laras lagi lalu membalikan badanya.


“Laras..?” Panggil Evan ketika sekertarisnya itu baru dua langkah meninggalkanya.


“Iya, pak..”


“Kemarilah..”


Laras membalikan badanya dengan wajah berbinar. Dalam fikiranya, Evan akan mengatakan sesuatu yang membuat hatinya bahagia.


“Laras, sebelumnya maaf, terpakasa saya harus mengatakan ini.”


“I..iya pak, ada apa pak..?” tanya Laras dengan wajah agak panik, karena ekspresi wajah Evan sangat serius.


“Begini, sebenarnya kurang sopan saja kalau saya berterus terang dan to the point sama kamu. Tapi supaya kedepanya tidak terjadi hal-hal yang tak di inginkan dan kesalah pahaman, saya harus menyampaikanya sama kamu..”


“Memangnya ada apa, pak Evan..?”


“Maaf Laras, kejadian seperti ini, saya harap tidak kamu ulangi lagi. Kedepanya, kalau saat kerja, saya harap kamu memakai pakaian yang tertutup. Selain sopan, untuk menjaga citra dan nama baik hotel ini. Saya harap, kamu jangan tersinggung, ini juga demi kebaikan kamu. ” ucap Evan dengan halus dan pelan. Di nasehati seperti itu, Laras seperti mendapat tamparan, ia merasa malu sekali, namun ia mengambil sisi positifnya.


“Maafkan saya pak, lain kali akan lebih saya perhatikan lagi. Dan untuk hari ini, adalah kesalahan saya, saya harap pak Evan tidak membenci saya..”


Evan tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya. Dengan perlahan menghampiri Laras dan menepuk bahunya.


“Sebagai atasan, mana mungkin saya marah sama kamu. Saya hanya menasehati kamu, dan semua karyawan yang melakukan kesalahan, baik yang sengaja atau tidak. Karena saya sayang kalian semua, di sini semua adalah keluarga bagi saya..”

__ADS_1


“Terima kasih pak Evan, sungguh anda seorang pemimpin yang sangat bijaksana, saya salut sama bapak, dan sekali lagi maafkan saya pak..”


“Iya Laras..”


“Pak Evan, saya mohon ijin pulang sebentar bolehkan..?”


“Untuk..?”


“Ganti baju pak..”


“Gak usah repot bolak-balik, kamu tunggu bentar..”


Terlihat Evan sedang memencet nomor di handphoneya.


“Hallo, tolong kirimkan baju batik sekarang juga ke Beverly Hil's hotel, atas nama pak Evan. Oh ya, satu set atasan dan bawahan untuk cewek dengan zise XL ya, warna apa saja..”


Rupanya Evan memesan baju batik untuk Laras, sekertarisnya. Ia ingin yang terbaik untuk karyawanya.


“Silakan lanjutkan kembali kerjaan kamu Laras, dan kamu nggak usah ijin pulang..”


“Baik, pak Evan..”


Laras kembali ke mejanya. Evan sendiri mengutak-atik laptopnya.


Kenapa aku sampai lupa kalau hari ini hari ulang tahun kak Daniel. Apa tante Ema tau juga? Ah, sebaiknya aku tanya tante Ema saja..


Tuuuuuuttttt ttuuuuutttt


Handphone Evan masih menyambungkan.


“Iya Van, kenapa?” sahut tante Ema.


“Ini hari Rabu, kenapa Van..?”


Rupanya tante Ema nggak tau dan nggak di undang. Ah sebaiknya aku diam saja, biar kak Daniel sendiri yang ngasih tau.


“Hallo Van, kenapa malah diam..?”


“Ahh, ga papa kok, tante. Ya sudah, Evan cuma lupa saja, maaf ganggu tante..”


“Iya, Van.”


Aneh, kenapa anak ini tanya hari?


Gumam tante Ema dalam hati. Kembali ia menekuni majalah yang ia baca. Dani sedang berada di dalam kamarnya. Gadis itu rupanya sedang menelefon neneknya.


“Nenek, Dani kangen..”


“Kemari saja, atau nenek yang ke situ?”


“Besok saja Dani yang ke sana, Nek..”


“Terserah kamu saja, Dani.”


“Tapi..., nggak usahlah sayang, besok nenek yang ke rumah kamu saja..”


“Jangan nek, tar nenek kecapekan..”


“Enggak, kan ada mbak Risa yang menemani nenek ke sana. Lagian ke sananya naik mobil kok, enggak jalan kaki..”


“Hehehe, ah nenek bisa saja. Kalau sudah begini, Dani gak bisa apa-apa..?”

__ADS_1


“Suami kamu udah berangkat kerja?”


“Sudah dari tadi Nek..”


“Ya sudah, Baik-baik ya kamu di rumah suami kamu. Jangan membantahnya, jadilah istri yang baik cucuku..” Mendengar perkataan neneknya, Dani terdiam.


*Istri yang baik? Nenek nggak tau saja giman kelakuan mas Daniel. Maafkan Dani nek, hati Dani sudah berpindah ke orang lain. Sama sekali Dani tidak respect lagi kepada suami Dani, sekali lagi maafkan Dani nek, mungkin suatu hari nanti, Dani akan jujur dan mengatakanya kepada nenek atau papa Wijaya*.


“Dani sayang, kamu masih di situ, Nak..?”


“Owh, iya nek, Dani masih dengerin kok...”


“Ya sudah, nenek mau lanjutin kerjaan nenek dulu ya? Owh iya, sampai lupa, gimana kabarnya papa kamu, Nak..?”


“Kemarin papa di bawa pulang nek, di rawat di rumah, ini Dani lagi nginep di rumah papa..”


“Syukurlah, nenek berdoa supaya papa kamu cepat di beri kesembuhan yach..”


“Terima kasih, nek. Ya sudah, nenek lanjutin aja kerjaan nenek, okay..?”


“Iya cucuku sayang, nenek sayang kamu..”


“Dani juga nek...”


Setelah itu, keduanya menutup telefon masing-masing. Nenek melanjutkan kerjaanya di toko. Sedangnkan Dani sendiri, ia memikirkan bagaimana nanti malam.


Apakah aku harus memberi hadiah kepada mas Daniel..? Tapi kan dia kaya, mana mungkin hadiah kecil dariku di terima.


Tuuuuuutttt tuuuutttttt


“Halloo Nathan..?”


“Lagi apa, Ran..?”


“Mmm, lagi di kamar, bingung aku, Nathan..”


“Bingung kenapa?”


“Nanti malem kan aku di suruh datang di acara ultahnya mas Daniel, mau datang tapi bawa kado apa..?”


Kenapa hatiku cemburu begini? Rasanya sakit sekali.


“Nathan..?”


“Iya, aku denger kok. Ya..., datang saja, kan dia masih suami kamu juga, nggak sopan kalau mengabaikan undangan orang..”


“Males banget sebenarnya. Tapi ya udahlah, aku ikutin apa kata kamu. Nathan, jangan lupa makan yach..?”


“Iya Rani. Kamu juga yach...?”


“Iya, Nathan..”


“Ya sudah, aku lanjutin kerja dulu. Kalau udah denger suara kamu, hati ini udah lega..”


“Jangan gombal ahh..”


“Beneran, suer deh.”


“Percaya...” jawab Dani.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2