
Setelah peristiwa yang menimpa Dani, dan itu sekaligus membuat Daniel menjadi berubah sikap, suasana rumah tuan Wijaya kini semakin hangat. Tak terdengar lagi suara teriakan atau tarikan urat leher yang membuat suasana rumah menjadi tegang. Juga hubungan Evan dan Daniel semakin membaik. Ia tak lagi terlihat berdebat dengan Evan. Tante Ema sangat bersyukur melihat kedua keponakanya akur seperti itu. Selain tak punya anak, tante Ema menganggap Daniel dan Evan seperti anak kandungnya sendiri.
Malam itu, Dani memakai pakaian yang tidak terlalu formal, namun juga tidak terlalu santai. Sangat pas sekali dengan momen makan malam bersama keluarga.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Mebuat Dani menoleh ke sumber suara. Dengan pelan ia berjalan, untuk membuka pintu kamar Daniel.
“Mas Daniel..?” ujar Dani yang selesai bermake-up.
Busyeeett, kenapa kamu cantik sekali Dani..? Oh Tuhan, tolonglah aku, kenapa hatiku jadi berdegup kencang seperti ini?
Daniel terdiam. Ia terbengong melihat wajah Dani yang cantik alami walau tanpa polesan menor menghiasi wajahnya. Sungguh, membuatnya terpesona. Baru kali ini hatinya berdebar, seperti ABG yang pertama kali mengalami falling in love.
Cethatt cethuuttt
“Mas.....?”
Dani menyadarkan kebengongan Daniel dengan menggoyangkan tanganya di depan wajah Daniel.
“Ehhh, Dani...”
“Kenapa mas? Ada yang aneh ya dengan wajah Dani..?”
Pertanyaan itu justru semakin membuat Daniel salah tingkah. Daniel mengalami nervous. Dengan buru-buru, ia mengajak Dani segera ke ruang makan dan membalikan badanya.
“Ayo cepat ke ruang makan, yang lain udah menunggu..” ucap Daniel sedikit grogi lalu ngeloyor pergi dari hadapan Dani dan mendahuluinya.
“Kenapa ya dengan mas daniel? Aneh sekali tingkahnya..” gumam Dani sambil mengangkat kedua bahunya, lalu menutup pintu dan segera mengekori Daniel ke ruang makan.
Di ruang makan, terlihat tante Ema, papa Wijaya dan tentunya Evan sudah duduk dengan tenang menunggu Dani dan juga Daniel. Ketiganya tersenyum melihat Dani dan juga Daniel berjalan beriringan menghampiri mereke.
“Malam pah, tante...?” sapa Dani yang bergantian mencium keduanya.
“Malam sayang, ayo kamu segera duduk..” ujar tante Ema.
“Nah, karena kalian udah berkumpul, mari kita mulai acara makan malamnya..” imbuh tante Ema lagi.
“Tunggu bentar tante, ada tamu spesial yang sedang Daniel tunggu..” ujar Daniel yang membuat Dani heran. Begitu juga dengan tante Ema dan Evan.
“Emang kakak ngundang siapa lagi..?”
__ADS_1
“Ada deh, nanti kalian juga tau..”
Tak lama setelah Daniel berkata demikian, bel pintu berbunyi. Si bibi muncul dari dapur dan akan membuka pintu. Namun Daniel segera mencegahnya.
“Bibi, biar Daniel saja yang membukanya..”
Si bibi mengangguk dan kembali ke dapur untuk melanjutkan kembali kerjaanya. Sedangkan Daniel, segera menuju pintu untuk membukanya.
“Siapa sih Van, yang di undang mas Daniel..?” tanya Dani yang agak celingukan dan mengarahkan pandanganya ke kamar tamu, namun tak berhasil karena terhalang oleh tirai gorden yang menutupi pintu dan itu menjadi sekat antara ruang tamu dan ruang tengah.
“Evan juga nggak tahu kak Dani, kak Daniel rupanya bikin surprise dan sekaligus tanda tanya kepada kita semua..”
“Selamat malam, mas Daniel..?” sapa seseorang itu.
“Malam, mari masuk..!” ucap Daniel yang tersenyum ramah.
“Saya nggak telat kan..?”
“Oh enggaak, acaranya belum di mulai kok..”
Daniel dan sang tamu spesial segera masuk dan menuju ruang makan. Betapa terkejutnya Dani dan Evan ketika melihat tamu spesial Daniel sudah datang.
“Nathan..? Rupanya ini tamu spesial yang di undang kak Daniel..?”
“Iya, dia adalah Nathan, sekertaris pribadi kamu. Maaf, kakak nggak bilang sama kamu dulu..”
“Ahh, nggak papa kok, malah Evan sangat senang sekali..”
“Mari Nathan, silahkan duduk..”
“Iya makasih mas Daniel. Selamat malam om, tante...?” ucap Nathan sebelum ia mendaratkan pantatnya di kursi yang di geserkan oleh Daniel. Sesaat kedua mata Nathan dan Dani saling beradu pandang. Ada senyum terkembang walau tipis di kedua sudut bibir keduanya. Daniel yang mengetahui hal itu, dan sangat paham, tersenyum penuh arti kepada Evan. Dan Evan membalas senyuman kakaknya dengan satu kedipan mata.
“Bentar, saya akan panggil satu orang lagi..” ucap Daniel yang beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam. Tak lama kemudian, Daniel muncul bersama Ken, asisten pribadi tuan Wijaya.
“Mas..mas Daniel mau ngapain sih..?” ucap Ken dengan heran, karena Daniel memaksanya dan sedikit menarik tanganya untuk mengikuti langkahnya.
“Udah, kamu nurut aja Ken, kamu duduk di sini, kita makan malam bareng. Jarang lo aku ajak kamu makan bareng, jadi jangan sia-siain kesempatan langka ini, hehe...”
“Tap...tapi mas...” seru Ken dan sedikit agak menolak.
“Ssssttt...!! Duduk..!!! Jangan berisik ya, apalagi membantah, aku akan denda kamu, mau..??” Semua yang melihat tingkah Daniel tersenyum di buatnya. Terlebih lagi tuan Wijaya, ia semakin hari semakin senang melihat perubahan sikap Daniel. Setelah mendengar ucapan majikan mudanya, Ken hanya bisa menurut. Dengan manis, ia duduk di sebelah Nathan. Acara makan malam segera di mulai.
__ADS_1
Semua segera mengisi piring masing-masing dengan hidangan yang sudah di sediakan dan tentunya yang ingin di makan. Di sela acara makan itu, yang tak lain adalah ungkapan sebagai rasa syukur Daniel, karena Dani udah sembuh, dan udah boleh pulang.
Satu persatu, piring yang berisi hidangan yang di sajikan di atas meja mulai kosong. Semua makan dengan lahap karena memang masakan yang di buat oleh bibi dan juga tante Ema, sangatlah lezat. Acara makan malam tersebut di warnai dengan obrolan ringan. Mulai dari saling bertanya tentang pekerjaan, hingga hal yang paling lucu menjadi bahan perbincangan mereka. Tak jarang tawa kecil menghiasi kehangatan suasana makan malam tersebut.
Kini, pandangan mata Dani tertuju pada sebuah hidangan yang membuatnya tertarik. Karena dari warna dan juga penyajianya sangatlah menarik dan unik menurutnya. Sebuah hidangan pudding yang di sajikan di piring kecil dengan saus vla bagaikan lahar gunung api yang meleleh. Karena ingin mencobanya, Dani meminta tolong Daniel untuk mengambilkanya, karena letak puding tersebut tepat berada di depan Daniel.
“Mas boleh minta tolong...?” tanya Dani dengan sopan.
“Iya Dan, kamu mau apa..?” jawab Daniel dengan sangat lembutnya. Nathan yang melihat hal itu, timbul sedikit rasa cemburunya.
Inikah maksud mas Daniel mengundangku makan malam di rumah papanya. Untuk membuat hatiku merasa cemburu? Oh, aku tak boleh terpancing oleh emosiku sendiri, harus positif thinking.
Nathan tersenyum untuk menyamarkan ekspresi wajahnya karena sedkit kecemburuan yang tengah menggelayutinya.
“Dani mau makan puding itu, tolong ambilkan, mas..”
“Baiklah..”
Dengan pelan, Daniel mengambil, lalu memberikanya kepada Dani. Dengan senang hati Dani menerimanya, lalu bersiap akan menyendoknya. Daniel juga mempersilahkan Nathan dan juga Ken untuk mencicipinya.
“Arrrgghhhhh....!!” teriak Dani tertahan. Ia terlihat memegangi tenggorokanya. Wajahnya memerah, seperti udang yang di rebus. Sontak semua pandangan mata tertuju kepadanya.
“Kenapa kamu Dani..?” teriak Daniel histeris. Ia menyangga badan Dani, dan memegang wajahnya. Sedangkan Dani hanya bisa diam, meringis menahan sakit.
“Raaann...” pekik Nathan pelan, namun terus menghilang. Karena ia segera sadar, tengah berada di mana.
“Kamu kenapa Dani...?”
Daniel tak mendapat jawaban juga. Semua panik.
“Evan, cepat telefon dokter Haris, suruh ke rumah papa, cepaattt...!!!”
“Baik kak...!!”
Evan segera menelfon dokter keluarga Wijaya. Sedangkan Daniel, segera mengangkat tubuh Dani dan membopongnya ke kamar. Tante Ema segera mengikuti Daniel ke kamarnya.
Sedangkan Nathan, ia tak mengikuti Daniel. Dengan cemas, ia menunggu di ruang tamu. Duduk tak enak, berdiri pun ia di barengi mondar-mandir. Sesekali ia memegang kepalanya sendiri, itulah kebiasaan Nathan jika ia sedang panik.
“Dani sayang, kamu kenapa....?” ucap Daniel tanpa sadar memanggil Dani dengan sayang. Wajahnya tak kalah panik melihat keadaan Dani.
BERSAMBUNG
__ADS_1