Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 25


__ADS_3

Hal itu membuat Dani tersentak dan spontan tubuhnya bergetar. Ada sedikit rasa takut menyelimuti dirinya. Baru pertama kali seumur hidupnya ia di bentak oleh orang asing.


“I....iya...”


Dani mengambil piring. Mengisinya dengan sedikit nasi dan lauk. Perlahan sesuap demi sesuap, makanan itu masuk ke mulutnya. Entah sengaja atau tidak, Daniel mengumbar adegan di depan Dani.


“Coba buka mulut sayang...” Pinta Daniel kepada Anyelir yang menyodorkan sesuap makanan kepadanya. Dan dengan senang hati, Anyelir membuka mulutnya, menerima suapan dari Daniel.


Dani hanya diam. Tertunduk sambil mengunyah makananya dan mendengar semua ucapan yang membuat telinganya risih.


Tuhan, kuatkanlah aku. Hari pertama di rumah suami yang seharusnya menjadi surga, malah neraka yang aku rasakan. Semoga aku tetap sabar menjalani semua takdirmu.


Bibi yang melihat semuanya, merasa geram sendiri. Hingga ia melemparkan sampah yang ia buang di halaman belakang dengan agak keras. Nathan yang baru saja keluar dari kamarnya, merasa kaget dengan tingkah si bibi.


“Bi Marta? Kenapa pagi-pagi udah uring-uringan..?” tanya Nathan yang membawa koper di tanganya.


“Itu, mas Daniel, kelewatan banget sama non Dani..” ucap bibi menunjuk ke arah ruang makan.


“Nggak salah tuh bi..?” imbuh Nathan.


“Makanya bibi jadi geram, huhhhh..., kalau bibi yang jadi non Dani, udah dari kemarin bibi bejek-bejek..”


“Sabar bi, sabar. Ya sudah, Nathan mau menghadap mas Daniel dulu, permisi bibi..”


“Iya...”


Nathan berjalan sambil menyeret kopernya menghampiri Daniel.


“Mas Daniel, saya sudah siap..” ucap Nathan yang sudah berdiri di depan Daniel.


“Hmm, kalau begitu sekalian saja kamu duduk dulu, makan pagi bersama..”


“Tapi Mas...” jawab Nathan agak ragu.


“Sudah.., duduk saja..!”


“Baik mas Daniel..”


Dengan agak ragu, Nathan mengikuti perintah majikan lelakinya.


Kenapa si bodoh ini menyuruhku duduk bersama di sini? Sungguh nggak punya akhlak, jelas-jelas ada bininya, ngajak perempuan lain makan bersama, mesra-mesraan lagi, kalau gua yang jadi non Dani, udah gua cakar muka keduanya.


Dalam hati, Nathan geram sendiri. Melihat Dani hanya tertunduk dan diam saja, membuat Nathan semakin bertambah jengkel kepada Daniel. Namun ia hanyalah pengawal. Yang di gaji, dan tidur saja di rumah Daniel. Hanya bisa kasihan kepada Dani.

__ADS_1


“Nathan, cepat kamu ambil nasi, sebentar lagi kita akan berangkat..”


“Dani..!! Kamu ambilkan piring buat Nathan..!!”


Dani tersentak mendengar ucapan Daniel.


“Tap..tapii.., aku istri kamu..”


“Cepat lakukan saja, jangan pernah membantah perintahku...!”


Dani berdiri dan berjalan untuk mengambilkan piring buat Nathan.


Kenapa kamu tega sekali membentaku di depan kekasihmu dan juga pengawalmu? Apa tidak ada sedikitpun rasa di hatimu untuku?


“Tidak non, berhenti..!” Suaran Nathan menghentikan Dani.


“Maaf mas Daniel, biar saya ambil sendiri, jika anda bersikeras menyuruh non Dani, saya tidak berkenan untuk duduk dan makan pagi bersama anda..” ucap Nathan yang membuat Daniel menyetujuinya. Nathan yang berdiri, menghampiri Dani. Gadis itu masih berdiri membelakangi semuanya. Tanganya menyeka air matanya yang tak tahan lagi membasahi pipinya.


“Non Dani, maaf.., sebaiknya anda kembali duduk, saya akan mengambil piring saya sendiri..”


Dani tak menjawab. Bibirnya gemetar menahan gemuruh di dadanya yang semakin membuatnya sesak.


“Aku..., aku..permisi mau ke kamar mandi..” ucap Dani sambil berjalan agak cepat meninggalkan ruang makan dan Nathan yang masih berdiri. Ia tahu apa yang tengah di rasakan nona mudanya.


“Nenek..., Dani ingin pulang..., hiks..hiks..hiks...”


Dani meluapkan segala sesak di dadanya dengan menumpahkan air matanya. Sementara Nathan, ia yang tengah mengambil piring, sengaja mengulur waktu, untuk menunggu nona mudanya keluar dari kamar mandi.


“Nathan, sedang apa? Kok celangak celinguk begitu?” sapa bibi yang baru saja masuk ke dapur, karena abis belanja.


“Ambil piring bi...”


Tak lama kemudian, Dani keluar dari kamar mandi. Ia terlihat biasa, seperti tidak terjadi apa-apa.


“Ngapain lama di kamar mandi? Tidur?” ucap Daniel yang berdiri menghalangi langkah Dani.


“Sebaiknya kita berangkat sekarang saja mas, takut terlambat..” sergah Nathan yang ingin melindungi nona mudanya agar tak kena ocehan konyol dari sang suami.


“Baiklah, hai kamu gadis muna, tolong bawain koper Anyelir, mengerti?”


Dani menatap Daniel dan Anyelir begitu kecut. Sangat benci, namun ia tak berani untuk melawan Daniel. Mengingat baru satu hari ia menjadi istri Daniel Wijaya. Dengan terpaksa ia membawa koper Anyelir. Namun baru saja ia akan mengangkat koper tersebut, sebuah tangan menahan koper itu.


“Biar saya saja non..” ucap Nathan dan mengedipkan kedua matanya tanda hormat.

__ADS_1


Dani mengangguk tanda setuju. Di dalam mobil, Dani duduk di depan bersama Nathan, sedangkan Daniel di belakang bersama Anyelir. Suasana hening. Dani melemparkan pandanganya menatap keluar jendela.


Cuuupppp


Suara kecupan jelas terdengar di telinga Dani. Entah apa yang di lakukan kedua insan yang tak berakhlak itu. Ia tak mau menatap ke belakang. Ia hanya bisa menggigit bibirnya sendiri.


Tak berapa lama, sampailah mereka di bandara. Daniel segera menelfon pak Wawan untuk mengambil mobilnya. Tak lama setelah menunggu beberapa saat, kini tiba saatnya untuk terbang ke Phuket, Thailand.


Karena baru pertama kali ini naik pesawat, Dani terlihat sangat takut. Sedang Daniel tak mempedulikanya. Ia malah asyik dengan Anyelir duduk di depanya. Di sebelahnya ada Nathan yang sengaja di ajak bertukar tempat oleh Daniel.


“Non Dani, jangan panik..” ucap Nathan tersenyum kepada Dani.


Dani mengangguk dan berusaha menghalau rasa takutnya berada di ketinggian. Kedua tangan Dani begitu erat sekali mencengkeram pinggiran kursi di pesawat itu. Hingga akhirnya sampai juga mereka di Phuket.


Rupanya tuan Wijaya telah menyewakan kamar untuk Daniel berbulan madu. Di sebuah hotel yang berada di pinggir pantai dengan pemandangan langsung melihat ke arah laut.


“Indahnya....” gumam Dani tanpa sadar setelah ia sampai di kamar yang telah di sewa oleh tuan Wijaya.


“Kamu tidur di kamar sebelah, ini kamarku bersama Anyelir..”


“Tapi Daniel, aku istri kamu, kenapa kamu malah satu kamar dengan Anyelir?”


“Itu urusanku, bukan urusan kamu. Aku mau tidur sama siapa pun itu terserah aku, kamu nggak berhak ikut campur..”


“Kamuuu.....!!” Teriak Dani spontan.


“Apa? Kamu nggak terima..? Haaahh...!??”


Tangan Dani mengepal. Ingin rasanya melayangkan tamparan di wajah suaminya. Namun ia urungkan. ' Jadilah istri yang penurut '.


Lagi-lagi itulah kata yang terngiang di telinga Dani.


Sabar Dani. Akan tiba masanya Daniel akan bertekuk lutut menyesali semuanya, dan pada saat itu semuanya sudah terlambat.


Dani keluar dari kamar itu membawa kopernya menuju kamar sebelah. Saat di depan pintu, ia berpapasan dengan Anyelir.


“Dani? Mau ke mana?” tanya Anyelir yang terkesan mengejeknya.


“Bukan urusan kamu...!” jawab Dani dan meninggalkan Anyelir. Wanita itu tersenyum nyinyir melihat Dani pergi.


“Daniel sayang....” ucap Anyelir sambil memeluk kekasihnya dari belakang.


“Ehmm, rupanya ada yang sudah tidak sabar yach?” jawab Daniel membalikan badanya menghadap Anyelir.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2