Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 99


__ADS_3

Setelah Dani, Daniel dan juga Nathan selesai makan siang bersama, kini tiba saatnya kembali ke rumah.


“Mas Daniel, sekali lagi saya ucapkan terima kasih, atas semua yang mas lakukan ke saya....”


“Sama-sama Nathan..."


Daniel melirik ke arah Dani. Di lihatnya wanita yang berdiri di sampingnya melemparkan senyum kepada Nathan. Tak elak, keduanya saling tersenyum manis satu sama lain. Perih. Itulah rasa yang mengendap di hati Daniel. Bibirnya berusah tersenyum walau hatinya saat ini ingin sekali menangis.


“Saya duluan ke mobil, barangkali kalau ada yang mau kalian bicarakan empat mata..." Daniel sadar diri dalam situasi itu dan memilih memberi kesempatan kepada Dani dan juga Nathan berdua saja.


“Ehh mas Daniel...”


Paham dengan posisinya, Dani menjadi nggak enak kepada Daniel. Begitu juga dengan Nathan yang berusaha mencegah Daniel untuk meninggalkan mereka berdua, namun usaha Nathan gagal. Daniel menolak dan terus saja melangkah keluar dari restoran, dengan senyum simpulnya yang ia lemparkan kepada Dani dan juga Nathan.


“Nathan, kita kan sudah ketemu dan juga makan bareng, jujur, aku nggak enak sama mas Daniel. Bagaimana kalau aku pulang bareng dia saja, lagian aku masih istri sahnya, kamu mengerti kan dengan maksudku...” ucap Dani dengan sorot mata yang sangat di pahami sekali oleh Nathan.


“Jangan khawatir Ran, aku mengerti kok. Sekarang kamu buruan susul mas Daniel, sebelum ia keburu meninggalkan halaman parkiran...”


“Baiklah Nathan, terima kasih atas pengertianya. Aku pamit dulu....” ucap Dani tanpa di duga oleh Nathan, sebelum ia menyusul Daniel, ia meraih tangan Nathan dan mencium punggung telapak tanganya dan setelah itu berlari kecil keluar dari restoran.


Nathan hanya berdiri terpaku. Setelah apa yang baru saja di alaminya. Ia terbengong. Tak percaya kalau Dani habis mencium tanganya, layaknya istri yang mau pergi dan pamit kepada sang suami. Ia memegang tangan kananya menggunakan tangan kirinya. Sesaat ia tersenyum sendiri. Merasakan hangatnya dari bibir Dani yang begitu lembut menyentuh kulit tanganya.


Gadis itu sudah hilang dari pandanganya. Lalu ia sendiri bergegas pergi dari restoran tersebut.


“Mas Daniel...!!” teriak Dani saat berada tak jauh dari mobil Daniel. Hampir saja ia masuk ke dalam mobilnya, saat ia mendengar teriakan dari Dani, ia pun menoleh.


“Dani...? Kenapa sendirian..? Mana Nathan..?”


“Dani pulang bareng mas saja, Nathan mau balik ke hotel...”


Sesaat Daniel berfikir. Tapi langsung saja ia tersenyum.


“Kalau begitu, ayo buruan masuk, kenapa masih berdiri..?”


“Iya, mas...”


Dani buru-buru masuk setelah Daniel membukakan pintu untuknya.


“Awas ati-ati, palanya tar kejedot...” ucap Daniel yang melindungi kepala Dani saat masuk mobil dengan tanganya. Daniel sendiri buru-buru masuk dan segera melajukan mobilnya pelan, menuju arah rumah.


Setelah dari restauran, Nathan kembali ke hotel. Evan yang melihatnya, sangatlah heran. Ia melihat Nathan senyum-senyum sendiri, sambil melihat punggung telapak tanganya.


“Aaiiihh, kenapa tu anak senyum-senyum sendiri sich...?”


Karena penasaran, Evan keluar dari ruanganya dan menghampiri Nathan.


“Kamu nggak papa kan, Nathan..?”


Nathan berhenti memandang tanganya karena kaget Evan menyapanya.


“Saya baik-baik saja mas Evan, memangnya saya kenapa...?” jawab Nathan yang tak sadar kalau sejak tadi Evan memperhatikanya.


“Laaahh, sejak kamu tiba, aku perhatikan kamu senyum-senyum sendiri terus, habis dari mana sih..?”

__ADS_1


“Masa sih mas, perasaan Nathan biasa-biasa saja..”


“Itu kan perasaan kamu, orang lain yang liat beda lagi pendapatnya..”


“Emm, Nathan abis ketemu mas Daniel sama Rani mas...”


“Oooooooo pantesan, ini yang membuat kamu bahagia...? Yaaah kalau begitu saya nggak heran lagi, la wong abis ketemu sang putri..” ucap Evan sambil cengar-cengir banyol.


“Ahh, mas Evan jangan ledek Nathan dong..”


“Enggak ngeledek, saya malah ikut seneng. Jujur saya kasian sama kak Daniel, tapi saya juga dukung kamu sama kak Dani, karena kebahgaiaan Dani hanya sama kamu Nathan...” ujar Evan yang manggut-manggut sendiri.


“Iya sih mas. Tapi kembali pada perasaan masing-masing lagi. Sebenarnya saya merasa sangat bersalah, secara tak sengaja telah hadir di tengah-tengah mereka...”


“Kamu nggak salah. Ini memang sudah takdir kalian bertiga harus begini. Jalanidan nikmati setiap prosesnya saja seperti air mengalir dan suatu saat akan sampai pada muara kebahagiaan masing-masing...”


“Terima kasih mas Evan, saya tak dapat berkata apa-apa lagi..”


Semangat yachhh...?” ucap Evan lagi lalu beranjak ke ruanganya setelah Nathan menjawab dengan anggukan kepala.


***


Sesampai di rumah kaca, Dani turun di ikuti oleh Daniel. Hari yang begitu melelahkan bagi Dani. Begitu juga sama halnya yang di rasakan oleh Daniel. Ia sangat lelah, dan ingin segera mendaratkan tubuhnya di kasur kesayanganya yang super duper empuk.


Setelah masuk rumah, karena tak sabar lagi kehausan, Dani langsung saja menuju dapur untuk mengambil air putih di dalam kulkas. Satu gelas penuh ia menuang dan dalam sekejap sudah habis ia teguk membasahi kerongkonganya yang kering kerontang.


Sementara Daniel, ia langsung masuk menuju kamarnya untuk ganti baju. Saat ini gerah yang ia rasakan, hingga ia hanya memakai kaus dan celana pendek saja. Saat ia keluar dari kamarnya, ia berpapasan dengan Dani yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


“Eh mas Daniel, mau aku buatin minuman yang seger-seger...?”


“Mau bukti..? Oke.., mas silakan tunggu bentar ya, Dani mau ganti baju dulu...”


“Okelah kalau begitu, mas tunggu di teras samping yach...?”


“Ssiiiipppp....”


Dani buru-buru masuk dan Daniel sendiri bergegas menuju teras samping sambil tersenyum sendiri, karena ia begitu senang akan di buatkan minuman segar oleh Dani.


Selesai ganti baju, seduai dengan janji Dani, ia membuatkan Daniel minuman segar.


“Lagi buat apa non..?” tanya bi Marta ketika melihat Dani mengeluarkan timun suri dan sirup dari lemari es.


“Oh ini bik, Dani mau buatin mas Daniel es mentimun...”


“Ooooo....” Bi Marta membulatkan bibirnya sambil manggut-manggut lalu tersenyum.


Dengan cekatan, Dani menyerut mentimun, meletakanya ke dalam gelas saji. Lalu menuangkan es batu, sirup rasa melon dan di kasih air. Supaya lebih sempurna, ia memberi beberapa tetes perasan jeruk nipis, dan yang terakhir ia menaburkan selasih.


“Selesai sudah, saatnya memberikan kepada mas Daniel...”


“Bi, Dani permisi dulu ya..?”


“Ow, iya iya Non..”

__ADS_1


Dani penuh percaya diri membawa minuman buatanya kepada Daniel.


“Mas Daniel, kelamaan ya..?”


“Ah enggak kok, mana minumanya..?”


“Taraaaa..., ini dia minuman hasil karya maha dahsyat dari Dani, silakan di coba, semoga suka...”


Dengan hati-hati, Dani mendekatkan nampan yang ia bawa ke Daniel, dan Daniel mengambilnya sendiri. Sesaat ia memperhatikan gelas yang berisi penuh minuman berwarna hijau-hijau muda tersebut.


“Emmm keliatanya sangat enak..”


“Jangan cuma diliatin, coba saja mas...”


Daniel segera mengambil es, dan menyeruputnya.


Sruuuuuttttttttt


Terdengar sangat nikmat sekali Daniel meneguk es buatan Dani. Gadis itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


“Aaahhhhb, kenapa rasanya bisa sesegar ini. Kamu memang pandai Dan...”


“Benarkah..? Itu resep dari almarhum mama Dani dulu mas...”


“Ooo..., begitu..?”


Langsung saja es buatan Dani habis dalam sekejap.


“Daan...” ucap Daniel tertahan.


“Iyaaa.., kenapa...?”


“Tentang papaaaa.....”


“Tolong mas, jangan bahas itu dulu, Dani lagi ga pengen membahasnya...”


“Maaf, mas hanyaaaa......”


“Tolong mas....”


“Baiklah, maafkan mas, Dan...?”


“Dani ingin istirahat, rasanya capek sekali, Dani ingin tidur siang...”


“Baiklah, silahkan Dani...”


Dani segera beranjak dari duduknya meninggalkan Daniel dan bergegas menuju kamarnya. Sementara Daniel masih duduk di tempatnya. menikmati angin spoi-spoi yang berhembus siang itu.


“Deal....!!” ucap Anyelir di iringi tawanya yang menyeringai bersama temanya yang bernama Ramon.


“Gila lu Nye, lu beneran...?” ucap Ramon tak percaya.


“Kapan sih seorang Anyelir main-main..? Kamu sudah tau tugas kamu kan..? Aku harap kamu tidak mengecewakan aku...”

__ADS_1


“Baiklah, serahkan saja semuanya ke gua...”


BERSAMBUNG


__ADS_2