Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 41


__ADS_3

Fikiran Dani buntu. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Mau minta tolong kepada orang yang lewat, takut orang tersebut akan berbuat nekat kepadanya.


Tuhan, tolonglah Dani. Hanya kepada-Mu Dani memohon pertolongan. Dani tak tau lagi harus meminta pertolongan kepada siapa.


Tuhan mendengar jeritan hati Dani. Saat ia berdiri, melangkah dengan tertatih, karena kakinya lecet dan lelaki tersebut berjalan di dekatnya, sebuah motor berhenti tepat di samping Dani dan lelaki tersebut.


Dani terkejut saat si pengendara itu melepaskan helmnya dan ternyata itu adalah Nathan.


“Kamu mau bawa kemana nona ini..?” ucap Nathan yang sudah turun dari motornya.


“Jangan macam-macam! Atau nona ini akan terluka..?” jawab Lelaki itu yang kini menyandra Dani. Orang-orang yang kebetulan lewat, sangat ketakutan melihat insiden tersebut.


“Sedikit saja nona itu terluka, kamu akan merasakan akibatnya..!!” ucap Nathan memperingatkan.


“Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan saya!! Atau teman saya akan menghajar kamu!!”


Nathan tak mempedulikan ucapan lelaki tersebut. Saat ia menoleh kesamping, teman lelaki itu melangkah maju dan mengarahkan bogemnya kepada Nathan. Dengan gesit, Nathan menghindari serangan lelaki tersebut dan melawanya dengan tangan kosong.


Buggh...bugghh..bugghhh


Suara bogem Nathan mengenai lelaki itu dan akhirnya lelaki itu dapat di lumpuhkan olehnya. Sesaat Nathan menoleh kepada lelaki yang menyandera Dani. Ia melihat nona mudanya begitu ketakutan yang di kalungi sebuah pisau kecil. Nathan perlahan maju mendekatinya.


“Jangan mendekat..!! Atau nona ini akan terluka..!!”


Nathan tak peduli dengan ancaman lelaki tersebut. Ia terus maju mendekati Dani dan lelaki itu.


“Sudah aku bilang jangan mendekat...!!”


“Aaawwhh...” Rintih Dani ketika pisau itu sedikit menggores lehernya.


Melihat Dani merintih kesakitan, secepat kilat Nathan mengarahkan tendanganya tepat di lengan lelaki itu. Tak ayal lagi, lelaki itu jatuh tersungkur dan lepaslah Dani dari cengkeramanya. Pisau yang ia pegang pun terjatuh. Beberapa orang yang menyaksikan berinisiatif menelfon polisi. Nathan menghajar lelaki itu tanpa ampun, karena telah melukai Dani.


Aaaggghhhhh


Teriak lelaki itu dan akhirnya roboh di tempat. Di saat bersamaan, polisi pun datang dan meringkus kedua lelaki tersebut.


“Terima kasih saudara telah membantu kami menangkap dua penjahat sindikat perdagangan wanita ini. Sekali lagi terima kasih saya ucapkan atas nama kepolisian kepada saudara Nathan.” ucap salah seorang polisi dan menjabat tangan Nathan, untuk kemudian mereka segera membawa kedua lelaki itu ke kantor polisi. Bebrapa orang yang masih menyaksikan di tempat itu bertepuk tangan, dan Nathan dengan sopan membungkukan badan sambil tersenyum. Mereka pun segera pergi dari tempat itu.


Dani yang masih berdiri dan sedikit takut, segera di hampiri oleh Nathan.

__ADS_1


“Jangan takut lagi non, saya ada di sini..” Nathan berusaha menenangkan Dani.


“Aku takut..”


Tau majikan mudanya masih syok, Nathan dengan spontan memeluknya. Mendekapnya dengan erat, dan tak ingin ia lepaskan.


“Non Dani sekarang aman, Nathan akan selalu ada untuk melindungi non Dani..” tutur Nathan dan gadis muda yang tak lain adalah majikanya itu menangis, menumpahkan semua rasa takutnya di dada Nathan. Dani terisak dalam pelukan pengawal suaminya. Ia masih syock dengan kejadian barusan. Sudah kedua kalinya Nathan menolongnya. Tak sadar, Nathan yang memeluk Dani, kini dengan sendirinya, tanganya membelai kepala gadis itu, untuk membuatnya tenang.


“Sekarang kita pulang yach..?” Ajak Nathan dan Dani mengangguk.


Nathan melihat leher Dani sedikit mengeluarkan darah. Ia mengambil syal yang ia pakai dan memakaikanya di leher majikanya. Dan saat berjalan, Dani sedikit pincang, ia melihat betis nona mudanya terluka.


“Non diam sebentar..?” Dani berhenti dan diam di tempat. Apa yang di lakukan Nathan membuat matanya terbelalak.


“Na..Nathan..? Apa yang kamu lakukan..?”


“Non diam saja.” jawab Nathan yang melepaskan jaketnya dan mengenakanya di tubuh Dani, lalu membopong dan membawanya di atas motor yang ia kendarai tadi. Dani segera memposisikan duduknya. Nathan segera naik ke atas motor, dan kini posisi Dani membonceng di belakang.


“Kenapa nggak jalan, Nathan..?” tanya Dani heran.


“Bagaimana Nathan bisa jalan, kalau non Dani belum berpegangan..” Benar saja, tangan Dani belum berpegangan.


“Tapi aku nggak tau harus berpegangan di mana..?” ucap Dani yang merasa canggung, karena ia belum pernah naik motor dan kemana-mana selalu naik mobil.


Nathan tersenyum membelakangi Dani. Tanpa di duga oleh Dani, Nathan meraih kedua tangan majikan mudanya dan ia lingkarkan di perutnya.


“Na...Nathan...?” ucap Dani gugup.


“Ga papa non, anggap saja sekarang non berpegangan pada sahabat non. Lagian kita sudah berjanji untuk bersahabat kan..?”


“Baiklah..” jawab Dani. Tanpa menggunakan helm, Dani membonceng dan berpegangan di perut Nathan. Perlahan Nathan melajukan motornya. Menembus malam yang hingar bingar dengan riuh dan ramainya lalu lintas di jalan saat itu.


Maaf non, saya telah berbohong kepada non. Sebenarnya Nathan mulai menyukai non Dani. Entah karena takdir atau bukan, Tuhan selalu mengirim Nathan buat nolongin non. Mulai saat ini, Nathan akan selalu ada buat non.


Hati Nathan serasa damai, di peluk oleh gadis yang mulai ia sukai. Mungkin memang salah ia mencintai majikanya, tapi di mana salahnya, saat seseorang di hampiri sebuah rasa yang di sebut cinta. Sedangkan rasa cinta dan kasih sayang adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan kepada umatnya.


Kenapa hatiku damai dan nyaman sekali memeluk perut kamu Nathan? Tuhan, jika Dani salah karena berpegangan kepadanya, maafkanlah. Dani butuh perlindungan sesaat di saat suami Dani menyia-nyiakan kehadiran dan keberadaan Dani.


Dani menikmati setiap pemandangan yang ia lihat di jalan. Nathan melajukan motornya dengan pelan, karena ia tak ingin Dani kedinginan karena angin malam.

__ADS_1


Akhirnya sampailah mereka di rumah Daniel. Nathan membantu Dani turun dari motornya.


“Terima kasih Nathan..” ucap Dani lalu melepas jaket dan memberikanya kepada Nathan.


“Itulah gunanya sahabat, Non..” jawab Nathan tersenyum dan menerima jaket itu. Dani berjalan memasuki rumah dan Nathan memarkirkan motornya.


Setelah memastikan majikanya masuk, Nathan memasuki rumah lewat pintu samping dan tembus ke dapur.


“Dari mana kamu Nathan..?” tanya bi Marta yang berada di dapur.


“Ambil motor, bi..” jawab Nathan tersenyum, lalu menuju kamarnya.


“Dari mana kamu..!?” tanya Daniel yang duduk di ruang tamu dan melihat Dani. Dani tak menjawab. Ia terus saja melangkah.


“Kamu tuli..!?” kata Daniel yang kini menghalangi jalan Dani.


“Minggir mas, aku nggak mau berdebat dengan mas..!!”


“Aku tanya dari mana..!!?”


“Sekarang ganti Dani yang bertanya, kenapa mas Daniel ninggalin Dani..? Kenapa..?”


“Aku tidak ingin semobil sama kamu..!!”


“Cuma itu jawabanya..? Dengar mas, mulai saat ini, kita urus urusan masing-masing..!”


“Berani ya kamu ngatur-atur aku..? Sekarang cepat kamu siapkan air hangat, aku mau mandi..!? Cepat..!”


Bentakan Daniel membuat jantung Dani berdetak kencang dan nyalinya menciut. Dani berjalan dengan tertatih menaiki tangga menuju kamar Daniel. Daniel yang melihat Dani berjalan tertatih, tak peduli dengan apa yang baru saja di alami oleh istrinya.


“Ada apa sih bi, kok seperti suara mas Daniel berteriak..?”


“Itu, mas Daniel lagi membentak non Dani..”


Lagi-lagi kamu menyakiti non Dani mas Daniel.


Gumam Nathan dalam hati. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2