Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 34


__ADS_3

“Siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Aku paling tidak suka di ganggu saat membaca seperti ini..!” ucap Daniel yang melepas kaca matanya dan berdiri tepat di depan Dani.


“Maaf mas, aku hanyaa....”


Belum selesai Dani menjelaskan perkataanya, Daniel sudah melangkah pergi meninggalkanya.


“Aku hanya ingin tanya, mas Daniel udah makan apa belum...?” gumamnya lirih.


Dani hanya menghela nafas dalam-dalam. Pandanganya kini fokus pada beberapa rak yang terbuat dari kayu jati dan berisi buku serta di tata dengan rapi sekali. Perlahan Dani berjalan mendekati rak buku dan melihat-lihat deretan buku tersebut. Dani menghentikan langkahnya, tepat di depan sebuah buku yang menyita perhatianya, lalu ia pun mengambil buku tersebut yang berjudul 'Kidung Puspa Lara'


Ia mengambil buku tersebut dan membawanya. Dani duduk disebuah sofa malas yang ada di ruang baca tersebut. Kemudian ia mulai membaca buku yang menceritakan kisah hidup gadis yatim piatu dengan semua kegigihanya meraih impian dan cita-citanya. Dari mulai kisah penderitaanya sampai ia menemukan kebahagiaan sejatinya.


Dengan antusias, Dani membaca buku tersebut. Dari bab pertama yang ia baca, ia sudah tertarik dengan kisahnya. Semakin lama, Dani mulai terhanyut dengan alur cerita yang menurutnya sangat lah bagus dan tersusun sangat rapi itu.


“Hallo yank, makan di luar yuk...?” Ajak Daniel ketika handphonenya terhubung dengan handphone Anyelir.


“Bukanya kamu sama istri kamu?” ucap Anyelir dengan sinis.


“Malas aku berada di dekatnya. Aku jemput kamu sekarang..”


“Em.., baiklah, aku tunggu. Sekarang aku berada di salon..”


“Oke..”


Setelah menutup telefonya, Daniel segera ganti baju dan kini sudah berpakaian rapi. Baru juga tadi pagi ketemu, sore ini Daniel akan bertemu denganya lagi.


“Mas Daniel mau ke mana..?” tanya Nathan.


“Keluar sebentar..”


“Saya akan mengawal mas Daniel..” ucap Nathan lagi.


“Tak perlu Nathan, kali ini aku sendiri saja.” ucap Daniel yang terlihat buru-buru. Baru beberapa langkah ia di depan Nathan, Daniel berhenti dan mendekati pengawalnya itu.


“Nathan, aku mau keluar bersama Anyelir, tolong nanti kalau gadis kampungan itu bertanya, jawab saja nggak tahu di mana keberadaanku. Oke...?” ucap Daniel pelan di dekat telinga Nathan.


“Baiklah, Mas..”


Daniel tersenyum, karena percaya kalau Nathan selalu mendukung dan ada di belakangnya.


Daniel tak lagi menghiraukan Dani yang berada di rumah itu, walaupun itu hari pertamanya di rumah papanya. Bergegas ia keluar dan mengendarai mobilnya. Melajukanya dengan cepat, karena ingin segera menjemput Anyelir, kekasihnya.


Kasihan non Dani, semoga hati kamu selalu kuat non..


Nathan menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah majikan mudanya. Ia sendiri bergegas beranjak dari tempat itu, dan memiih berjalan berkeliling rumah papa majikan mudanya itu.


***

__ADS_1


Tepat pukul 17.00 WIB, mobil Daniel berhenti di depan salon Anyelir. Ia segera turun, dan sebelumnya ia merapikan rambutnya terlebih dahulu. Sambil bersiul kecil, ia berjalan memasuki salon yang sudah tutup itu.


Tok tok tok


“Yaaa.., bentar..”


Terdengar sahutan Anyelir dari dalam salonya.


Cuuupppp


Sebuah kecupan mendarat di bibir Anyelir ketika ia membuka pintu.


“Iiiihhhh, gak sabaran amat..?” seru Anyelir dengan manja yang kini berada dalam pelukan Daniel.


“Karena kamu membuatku begitu tergila-gila sayang. Sudah lama kita berpacara, selama itu pula papa tidak tahu, dan aku tak pernah bosan dengan kamu...”


“Emmm, sungguh...?” jawab Anyelir.


“Sumpah..”


“Maacih chayank, cup cup cup..”


Kecupan Anyelir mendarat secara bertubi-tubi di pipi dan jidat Daniel. Lelaki itu semakin gemas saja kepada kekasihnya. Ia tak menghiraukan Dani, istrinya yang tengah berada di rumah papanya.


“Kita berangkat sekarang...?” ucap Daniel dan di sambut anggukan oleh Anyelir. keduanya segera berangkat menuju sebuah restoran yang selalu menjadi favourite keduanya, sebuah restoran bergaya Perancis.


Sementara di ruang baca, rupanya Dani ketiduran, dengan posisi buku berada di atas dadanya. Gadis itu sangat lelap sekali. Mungkin karena capek. Dan tak ada yang tau kalau ia berada di ruang baca sendirian.


“Siapakah wanita itu?” tanya tuan Wijaya lagi sebelum Ken sempat menjawab pertanyaan pertamanya.


“Benar sekali tuan, itu mas Daniel. Saya kurang tahu siapa dia, Tuan..?” jawab Ken.


Itu kan wanita yang di rumah sakit kemarin. Apakaaaah...


“Bisa-bisanya ia makan malam dengan wanita lain selain Dani, semesra itu pula..” imbuh tuan Wijaya yang terlihat sangat marah sekali.


“Apa perlu kita menyapa mas Daniel tuan..?” ucap Ken.


“Tak perlu, kita pulang saja..”


Ken mengangguk tanda mengerti. Ia pun mengiringi langkah tuanya, keluar dari restoran tersebut. Tuan Wijaya segera memasuki mobil mewahnya, setelah Ken membukakan pintu untuknya. Mobil itu segera membawa sang tuan kembali pulang ke istananya.


“Di mana Dani..?” tanya tuan Wijaya begitu ia turun dari mobil dan memasuki rumahnya, dan bertanya kepada kepala pelayan di rumah itu, bi Sena.


“Dari tadi saya tidak melihat nona muda tuan, mungkin keluar bersama mas Daniel...” jawab bi Sena.


“Bi Sena, tolong kamu panggilkan nona Dani di kamarnya.”

__ADS_1


“Baik, Tuan..”


Bi sena segera melangkah menuju kamar Daniel, melaksanakan perintah tuan Wijaya.


Tok tok tok


“Non Dani, Non..?”


Berulang kali bi Sena mengetuk dan memanggil nama majikan mudanya, namun tak ada sahutan. Kembali bergegas bi Sena menghadap tuan Wijaya.


“Maaf tuan, non Dani tak ada di kamarnya.”


“Ya sudah, bi Sena kembali ke dapur saja, siapkan makan malam.”


“Baik, Tuan..”


Bi Sena kembali ke dapur, untuk menyiapkan makan malam sesuai perintah tuan Wijaya.


“Ken, coba kamu telefon Dani, di mana sekarang ia berada..” Ken mengangguk lalu mengambil ponselnya. Usaha ken sama dengan bi Sena. Nihil. Sang nona muda tak mengangkat telefonya. Ken teringat, sore tadi ia mengantarkan Dani ke ruang baca, dan ia berinisiatif pergi ke sana untuk memastikan keberadaan Dani.


“Tuan, saya ke ruang baca dulu, terakhir tadi, saya mengantar non Dani pergi ke sana untuk menyusul mas Daniel...” ucap Ken.


“Ruang baca..?”


“Benar, Tuan..” Sedikit mengernyitkan kening.


“Kalau begitu, saya juga akan ke sana..”


“Mari..?”


Ken dan tuan Wijaya bergegas pergi ke ruang baca. Begitu gelap suasana di dalamnya. Ken menyalakan lampu setelah masuk ke dalam.


Ken menggeleng-gelengkan kepala melihat sesosok gadis yang tengah lelap tertidur di sofa dengan sebuah buku menutupi dadanya, dan meskipun dalam keadaan gelap, sedikitpun ia tak terusik.


“Lihatlah tuan, benar dugaan saya..”


Tuan Wijaya tersenyum, melihat Dani yang tengah tertidur.


“Tolong kamu bangunkan dia Ken, pastinya dia belum makan malam, saya akan keluar..”


“Baiklah, Tuan..”


Sebelum Ken membangunkan Dani, terlebih dahulu tuan Wijaya keluar dari ruang baca tersebut. Ken pun segera membangunkan majikan mudanya yang tengah meringkuk dengan sangat nyamanya.


“Non, non Dani..?” Panggil Ken berulang kali tanpa mengguncang badan Dani.


“Emmhhhh....”

__ADS_1


Dani menggeliat, karena seperti mendengar sebuah suara memangilnya, perlahan ia membuka matanya.


BERSAMBUNG


__ADS_2