Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 27


__ADS_3

Liburan yang di harapkan akan bahagia, ternyata bertolak belakang dengan apa yang di inginkan. Semua sikap Daniel kepada Dani, membuat gadis itu selalu saja menggenangkan bulir-bulir bening di kekopak matanya.


Tanpa Dani ketahui, Daniel mengundang teman-teman dekatnya ke Phuket, di hotel tempat ia dan Dani menginap.


“Nanti malam kita makan bersama yach, kamu dandan style kamu saja, ada kejutan kecil buat kamu..” ucap Daniel dengan manis saat Daniel nyamperin Dani di kamarnya.


“Kejutan kecil...? Sungguh...?” sahut Dani dengan wajah berbinar. Ia hampir saja melonjak dari tempat tidurnya karena kegirangan.


“Terima kasih mas Daniel...” imbuh Dani kemudian.


“Biasa saja, gak usah terlalu girang seperti itu...”


Dengan lagak sok banget dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya, Daniel berdiri di depan Dani. Hampir saja Dani memeluk Daniel, namun ia sadar, suami yang berdiri di depanya tak menunjukan respon apapun kepadanya. Bahkan sekedar memeluk basa-basi saja tidak.


“Ya sudah, aku keluar dulu, kamu lanjutin saja kerjaan kamu...”


“Iya mas Daniel..”


Daniel membalikan badan untuk keluar dari kamar Dani. Bibirnya tersenyum nyinyir melihat tingkah Dani tadi.


Haha...dasar cewek kampung.


“Emmm.., kira-kira apa ya kejutan dari mas Daniel? ternyata dia baik juga. Aku saja yang berpikir jelek kepadanya..” ucap Dani pelan.


Hari itu Dani merasa bahagia. Ia menduga dan sampai berpikir agak jauh tentang kejutan kecil yang di katakan oleh Daniel tadi. Ia sampai mondar-mandir, berkali-kali memutar badanya di depan cermin yang ada di kamar hotelnya, dan tersenyum sendiri. Itu baru ucapan yang keluar dari mulut Daniel saja sudah membuat Dani senang bukan main.


****


Malam pun tiba. Kini saatnya Dani akan menghadiri pesta kejutan untuknya. Dengan memakai celana jeans agak longgar, dengan hodie berwarna pink pastel dan rambut yang di kuncir bun, membuat wajahnya semakin imut dan inocent saja. Dengan memakai sepatu sneaker casual untuk cewek membuat penampilanya semakin perfect.


Tak lupa memoles wajahnya tipis dan kini penampilanya menampakan ia seperti masih umur belasan tahun saja.


“Emm, sempurna...” gumam Dani dan tersenyum sendiri.

__ADS_1


Tuuuuuttttt tuuuuuuuttt


Dani meraih ponselnya yang berdering. Ia tersenyum melihat nama yang menelfonya.


“Halo mas Daniel...”


“Saya sudah menunggu kamu, kenapa lama sekali..?”


“Maaf mas Daniel, iya saya akan segera ke sana..”


“Cepatlah, aku tunggu..” jawab Daniel lalu menutup telfonya.


“Hmm, sudah nggak sabar saja, baru juga jam 19.45 WIB..”


Dani buru-buru keluar dari kamarnya. Ia sekilas melihat pintu kamar Nathan. Ingin rasanya ia mengatakan berita gembira ini kepadanya, namun ia urungkan. Dani berjalan dengan langkah ringan menuju tempat yang di katakan oleh Daniel. Sebuah ruangan yang di sewa di hotel tersebut, khusus untuk acara pribadinya.


Sampailah kaki Dani di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namun banyak tamu di sana. Semua berpakaian rapi dan elegant. Ia menghentikan langkahnya. Menatap ke sekeliling mencari orang yang menyuruhnya datang.


“Dani..”


“Teman-teman, perkenalkan dia istriku, Andani Maharani Putri..” ucap Daniel tiba-tiba saat ia berada di tengah para tamu undangan.


“Gak salah Daniel..?” celetuk seorang cowok yang berdiri di depan Daniel.


“Dia istri pilihan papa. Kalau pilihanku tetap yang ini...” jawab Daniel yang meraih tangan Anyelir dan menariknya untuk berdiri di sampingnya.


“Mas Daniel..”


Suraa lirih dan berdiri terpaku di hadapanya.


“Ya, kenapa..?” jawab Daniel sok manis, benar-benar bikin eneg. Yang lebih bikin emosi, tangan Daniel melingkar di pinggang Anyelir. Dani melihat dengan perasaan tak karuan. Di permalukan di depan teman-teman Daniel. Rasanya dunia tengah menertawakanya. Tak sanggup kedua kakinya menopang tubuhnya. Seperti lemas tak berdaya.


“Ini siapa Daniel..?” tanya salah seorang teman Daniel yang bernama Arthur.

__ADS_1


“Istri pilihan papaku...”


“Oh, cantik...” ucap Arthur.


Tatapan mata Daniel begitu meremehkan Dani. Dapat di bayangkan perasaan Dani saat itu. Malu semalu-malunya. Perlahan Daniel melepaskan tanganya dari pinggang Anyelir, berjalan mendekati Dani yang berdiri mematung.


“Kamu sudah paham kan? Posisi kamu bagaimana? Jangan harap kamu menjadi tuan putri di keluarga Wijaya. Memang kamu istri aku, tapi itu hanyalah hitam di atas putih, hatiku tidak akan pernah bisa menyukai apalagi mencintai kamu, Andani Maharani Putri...” ucap Nathan pelan di telinga Dani, namun begitu ngena di hatinya. Bagaikan di tampar wajahnya, Dani perlahan mundur selangkah dan berhenti. Berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh. Ia berteguh hati dan beeusaha tersenyum, lalu mendongakan kepalanya menatap Daniel.


“Baiklah tuan Daniel Wijaya yang terhormat. Memang benar, kalau saya, Andani Maharani Putri adalah istri pilihan papa kamu. Bila saya boleh memilih, saya tidak akan menerima lamaran papa kamu. Tapi saya mencoba memikirkan perasaan beliau. Saya kira anda adalah orang yang baik, orang yang realistis, tapi kenyataanya sangat jauh dari apa yang saya kpikirkan. Saya sadar, saya tidak pantas berada di sisi anda, karena saya beda jauh dengan anda tuan Daniel Wijaya...” Sejenak Dani terdiam. Kini keberanianya sedikit demi sedikit mulai muncul.


Semua pandangan teman-teman Daniel tertuju kepada Dani, termasuk Daniel dan Anyelir. Mereka tidak menyangka Dani akan berani mengucapkan kata seperti itu.


“Kepada semua tamu undangan tuan Daniel Wijaya, maaf kalau kenyamanan berpesta kalian semua sedikit terganggu, untuk itu silahkan lanjutkan acara pesta kalian, sekali lagi saya ucapkan maaf atas keributan kecil ini, yang di sebabkan oleh saya...” ucap Dani dan ia akhiri dengan membungkukan sedikit badanya kepada para tamu, yaitu teman-teman Daniel dan Anyelir.


Sebagian tamu ada yang kagum dengan sikap Dani dan tak sedikit juga yang tak suka denganya dan sepaham dengan Daniel. Dani perlahan berjalan melangkah meninggalkan ruangan itu, yang sebelumnya menatap Daniel dan Anyelir penuh arti.


Dani terus berjalan hingga keluar dari hotel itu. Ia berjalan tak tentu arah. Menelusuri jalan yang sangat asing baginya. Hingga ia berhenti di pinghir jalan dan duduk di halte bus yang sepi.


Ia duduk menyandarkan tubuhnya. Menatap sekelilingnya dan membuang jauh pandanganya ke depan. Tak dapat ia tahan lagi, bulir-bulir bening mulai jatuh membasahi pipinya.


Tuhan, aku lelah.


Ucapan singkat Dani, sebagai ungkapan pengaduan kepada Tuhan. Dani sangat kaget bukan kepalang, tiba-tiba ada seseorang yang memberikan sapu tangan kepadanya.


“Hapuslah ari mata nona..”


Dani menolehkan kepalanya, ia melihat Nathan, pengawal suaminya ssudah duduk di sampingnya.


“Nathan..? Ka...kamu...?”


“Maaf nona, kalau saya lancang. Tadi sewaktu nona berbicara kepada mas Daniel di hotel, saya juga ada di sana, tapi non tidak tahu. Waktu non keluar, saya berinisiatif mengikuti non, takut non kenapa-kenapa, karena non sangat buta arah di negara ini. Sekali lagi maaf non kalau saya lancang..”


Dani menyeka air matanya dengan sapu tangan yang di berikan Nathan dan berusaha tersenyum. Kali ini, ia menahan air matanya agar tidak jatuh lagi dan terlihat oleh Nathan. Karena ia malu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2