
Nathan yang berada di kamar kontrakanya, merasa bergidig sendiri kalau ingat tingkah genit sang ibu pemilik kontrakan.
“Gua harus secepatnya nemuin si Daniel, lebih cepat bekerja akan lebih baik...” gumam Nathan dalam hati.
Nathan meraih handphone nya, lalu mulai memencet satu persatu nomor Daniel yang tertulis di kartu nama yang tengah ia pegang.
Tuuuuttt ttuuuuttt ttuuuuuttt
Daniel yang masih berada di dalam mobil bersama Ken, meraih ponselnya yang berada di saku bajunya.
“Nomor siapa ini...?” gumam Daniel lalu menyambungkanya.
“Hallooo...” Suara Daniel terdengar sangar.
“Ini Nathan.” jawab Nathan dengan singkat.
“Oh ya, Kenapa?”
“Mulai kapan saya bisa bekerja..?” Daniel tersenyum mendengar ucapan Nathan barusan.
“Besok juga bisa, langsung datang saja ke rumahku, nanti aku kirimkan alamatnya..”
“Baiklah...” jawab Nathan lalu segera menutup telfonya.
Nathan dan Daniel menutup telfon mereka.
“Jadi si Nathan kerja sama Mas Daniel..?” tanya Ken.
“Iya Ken. Aku butuh orang seperti dia.”
“Leganya dia bersedia menjadi pengawal pribadiku Ken. Entah kenapa, waktu melihat dia menolongku kemarin, hati kecilku berkata, aku cocok sama dia..” Tak henti senyuman terkembang di bibir Daniel.
“Tapi yang paling membuatku jengkel adalah acara nanti malam Ken. Andaikan saja yang menyelamatkan papa bukan gadis bodoh itu, huhhhh....!!” gumam Daniel dengan gusar.
“Gadis bodoh? Kenapa mas Daniel bisa menilainya seperti itu? Tak semua yang di lihat oleh mata telanjang itu sempurna..”
“Aku katakan bodoh, seandainya ia menyetujui lamaran papa. Soalnya aku sudah punya gadis pilihan sendiri, Ken.”
“Tapi menurut saya, gadis itu sangat baik, bahkan namanya saja mirip mas Daniel, bedanya cuma nggak pake el, Dani saja.”
“Mau Dani, Dono atau Danu kek, gua ga peduli, Ken.”
Hem, dasar tuan muda keras kepala
Batin Ken yang terus melajukan mobil Daniel yang tengah ia kemudikan.
__ADS_1
“Hoaahhhhemm....”
Dani menutup bibirnya, lalu menggeliat sejenak. Udara di kamarnya di rasa sangatlah membuat tubuhnya merasa gerah.
“Jam berapa sih..?” Sambil melihat layar handphone nya, untuk mengecek jam.
“Walah..walah...! Udah siang?” Pekik Dani karena ia sudah sangat kesiangan. Buru-buru ia bangun dan pergi ke kamar mandi. Rasa segar yang ia rasakan dari guyuran air kran, membuat badanya seakan memiliki semangat dan tenaga yang baru. Sambil bernyanyi, ia mulai mebersihkan badanya.
Selesai sudah, dan kini ia telah berpakaian rapi, dan tengah duduk di depan meja riasnya. Bayangan wajah yang beberapa hari lalu tampak sayu, kini berseri, secerah suasana hatinya. Tersenyum ia sambil mengaplikasikan moisturizer ke wajahnya. Wajah yang cantik alami, karena ia tak pernah sekalipun bermake up yang menor.
“Manis..” gumam Dani yang mengagumi wajahnya sendiri. Wajah tanpa perawatan, namun bertekstur lembab dan kenyal. Bahkan perwatan skin care pun tak pernah menyentuh kulit wajahnya. Ia berjalan keluar dan menghampiri bi Inah yang tengah sibuk memasak di dapur.
“Bi, nenek udah berangkat dari tadi?” tanya Dani sambil nyomot satu tempe goreng yang telah tersaji di atas meja makan.
“Iya non, udah dari jam 09.00 WIB tadi..”
“Kenapa tadi nenek ga bangunin Dani?”
“Mungkin nyonya kasian non, soalnya non Dani kan baru pulang dari rumah sakit, jadi harus banyak istirahat..”
“Ya enggak gitu juga bik. Ya udah, Dani mau makan, bibi masak apa.?”
“Minumlah ini terlebih dahulu non, bibi akan siapin makanan kesukaan non Dani, rendang jengkol..” ucap bibi yang menyodorkan segelas jus alpukat sesuai pesan nenek Eliza tadi.
“Rendang jengkol? Bibi udah buat? Waaahh....., bibi baik banget deh, syukaaaa banget. Di rumah sakit mah masakanya nggak enak, hambar semua, kangen sama masakan bibi...” Dani tersenyum girang seperti anak kecil.
“Uhhhmmm, enak sekali bik. Pokoknya juara..” ucap Dani di sela makanya.
Bi Inah tersenyum senang jika majikan kecilnya udah mulai ngomong begitu. Tiada lebih yang bisa membuat hati bik Inah senang, selain mendengar pujian tentang masakan yang di buatnya.
“Selesai sudah. Makasih bibik.., Dani mau ke toko dulu..”
“Iya non, ati-ati..”
Dani tersenyum membalas jawaban bibi. Ia berjalan menuju ke garasi dimana mobilnya terparkir dengan manis. Sejenak ia memanaskan mobilnya sebentar. Baru melajukan menuju toko.
Udara siang itu sangatlah panas sekali. Karena terik matahari yang panasnya seakan membakar seluruh isi permukaan bumi. Gerah, itulah yang di rasakan setiap orang yang berada di luar rumah yang sedang melakukan aktifitasnya.
Tak berapa lama sampailah Dani di depan toko roti miliknya. Bergegas ia masuk.
“Siang mbak Dani..?” sapa salah seorang karyawanya.
“Siang mbak Meta...” balas Dani dengan senyum ramahnya.
“Kenapa kemari sayang? Seharusnya kamu di rumah saja untuk istirahat, kamu kan baru sembuh dari sakit..?”
__ADS_1
“Nenek, aku paling ga bisa berdiam diri di rumah. Enakan di sini, ada kesibukan dan bisa bercanda dan tertawa sama nenek dan yang lainya..„
“Hem.....” jawab nenek Eliza tersenyum saat Dani memeluknya dengan manja. Ia pun duduk di meja kasir. Menggantikan nenek, agar beliau beristirahat sebentar.
Begitulah hari-hari Dani. Mulai saat ini akan berjalan seperti hari-hari kemarin. Sibuk di toko tentunya. Hal itulah yang membuat Dani bersemangat menjalani kehidupanya.
Detik berjalan berganti menit. Menit berlalu di gantikan oleh jam. Jam segera beranjak menggantikan hari. Sore telah tiba. Saatnya toko tutup, dan semua karyawan pulang. Begitu juga dengan Dani dan nenek Eliza. Setelah membantu membereskan toko, keduanya bersiap akan pulang.
“Emm mbak Risa, kemari deh..” Pinta Dani dengan tersenyum.
“Iya non Dani, kenapa..?”
“Duduk dulu mbak, Dani mau bicara nih..”
“Kapan-kapan temeni Dani minum ice cream dong.?”
“Minum ice cream?”
“Iya, ice cream.”
“Boleh. Asal gratis lo ya..?” Canda Risa.
“Itu pasti. Dani yang bayarin deh...” jawab Dani mengacungkan jempolnya.
Mbak Risa nggak tau saja kalau besok minum ice creamnya sama kak Ken, hihihi...
“Kenapa Dani senyum-senyum sendiri? Hayo pasti ada apa-apa ini?”
“Eh, nggak mbak Risa, jangan buruk sangka dong? Dani cuma seneng aja bisa minum ice cream sama mbak..”
“Hm gitu ya?” Dani mengangguk.
Perbincangan itu berakhir dan masing-masing segera pulang. Dani bersama nenek dan Risa sendiri. Semua karyawan juga sudah pulang.
_
_
Daniel terlihat di rumah utama, rumah papanya. Malam ini, ia akan menjadi anak lelaki yang penurut. Walau sebenarnya itu hanya di luarnya saja, tetapi di dalam hatinya penuh dengan rencana jahat.
“Daniel, kamu sudah siap?” tanya tuan Wjaya.
Dengan terpaksa Daniel menjawab. “Udah pah. Berangkat sekarang..?”
Dan berangkatlah Daniel dan tuan Wijaya menuju rumah nenek Eliza.
__ADS_1
BERSAMBUNG